"Kau hanyalah sebatas istri pengganti!"
Clara Lyman terpaksa mengubur keinginannya karena paksaan dari orang tuanya untuk menggantikan sang kakak yang kabur dari pernikahan.
Calon kakak iparnya, Keenan Gibson, merasa ditipu dengan keluarga Clara!
Namun, karena pesta pernikahan sudah di depan mata dan tidak ingin mempermalukan keluarga, Clara dan Keenan akhirnya memutuskan menikah.
Setelah menikah, perlakuan Keenan dingin pada Clara. Namun, Clara tak gentar untuk membuat sang suami menerima dirinya. Masalah kian rumit ketika kakak Clara datang kembali dan ingin merebut Keenan. Di samping itu, benih-benih cinta sudah muncul di hati Clara pada Keenan.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Clara? Akankah Clara memperjuangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackCat61, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Tidur Bersama
“Ihh, aku bisa membersihkannya sendiri tau,” keluh Clara yang mengusap bibirnya.
Agler mengacak-acak rambut Clara. “Makanya jangan kayak anak kecil makannya,” timpal Agler
“Agler, jangan mengacak rambutku. Jadi berantakan tau,” protes Clara yang ingin memukul Agler, namun pria itu sudah menghindar duluan.
Agler menjulurkan lidahnya pada Clara.
“Wlee, kalau bisa sini pukul aku!” sorak Agler yang malah meledek Clara.
“Hei! Sini kau!” sorak Clara balik yang langsung mengejar Agler.
Akhirnya keduanya saling kejar-kejaran di dalam rumah. Tentu saja hal itu masih dilihat oleh Keenan yang merasakan dadanya semakin panas saja.
Keenan menghela napas kasar. “Untuk apa juga aku peduli dengannya? Bagus bukan kalau dia menjauh dariku,” gumam Keenan seraya masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan dua orang di bawah itu masih saling kejar-kejaran hingga Clara berhenti berlari karena ia sudah kelelahan.
“Berhentilah! Aku udah benar-benar capek saat ini,” tutur Clara
Agler berjalan mendekati Clara yang terengah-engah dengan peluh yang terlihat di keningnya. Ia mengambil sapu tangan di saku jaketnya dan mengelap keringat itu. Clara kembali terkesiap dengan perlakuan dari Agler yang tiba-tiba.
“Ehm, aku mau ke kamar dulu yah. Ini sudah malam. Selamat malam,” ucap Clara seraya berlalu dari hadapan Agler.
Melihat hal itu membuat Agler terkekeh pelan.
“Apakah Clara salah tingkah yah?” gumam Agler
Clara berlari menaiki tangga dan berhenti tepat di depan kamar Keenan. Ia menetralkan degup jantungnya.
“Apa aku harus masuk ke dalam yah? Kak Keenan kan enggak mau satu kamar denganku. Terus, aku harus bagaimana? Kalau aku tidur di kamar lain, Mama Maya dan yang lainnya pasti akan curiga. Duhh, pusing aku jadi mikirnya,” keluh Clara yang menggigit jarinya seraya berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan.
Hingga sebuah suara membuatnya terkejut.
“Clara?”
Clara segera berbalik dan melihat Mama Maya yang berada di belakangnya. Mama Maya berjalan mendekati Clara.
“Mama Maya, belum tidur?” tanya Clara yang berusaha menghilangkan kegugupannya.
“Harusnya Mama yang tanya soal itu. Kenapa kamu belum tidur?” tanya Maya balik.
Clara memikirkan jawaban yang paling sesuai. Hingga saat ia ingin berucap, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan memperluas sosok Keenan di sana.
“Kenapa kau lama sekali ke dapurnya?” tanya Keenan tiba-tiba.
Clara jadi kebingungan karena Keenan yang tiba-tiba mengatakan hal itu.
“Oh, jadi kamu ke dapur. Ya udah, kamu sekarang masuk kamar. Kasihan suamimu ini yang sudah menunggu lama. Mama dan yang lainnya enggak akan menguping kok. Kamu bisa berteriak sekerasnya. Enggak akan ada denger kok,” jelas Maya
Clara mengeryitkan dahinya. “Maksud Mama?” tanya Clara dengan wajah yang kebingungan.
Keenan yang mengerti maksud dari perkataan Mamanya itu, langsung menarik tangan Clara untuk masuk ke dalam kamar.
“Ayo masuk!” ucap Keenan
“Eh?! Tapi ... selamat malam Mama!”
Maya terkekeh pelan melihat hal itu.
“Anakku ternyata bisa malu juga ternyata. Mainlah dengan bahagia!” teriak Maya seraya berlalu dari kamar Keenan.
Sedangkan di dalam kamar, Keenan masih memegang tangan Clara dengan wajahnya yang nampak memerah samar.
“Apa yang dikatakan Mama tadi? Aku enggak ngerti,” sahut Clara
Keenan langsung melihat ke arah Clara yang seperti menunggu jawaban darinya.
Apa wanita ini tak mengerti dengan apa yang Mama katakan tadi? Mama mengisyaratkan untuk kami melakukan hubungan ‘itu’. Mama ini! Kenapa aku jadi malah teringat dengan malam itu?! Akhh! ~ batin Keenan
“Kau jangan terlalu memikirkannya. Mama hanya ingin kita bisa tidur dengan baik saja,” jawab Keenan
Clara mengangguk paham. Ia baru teringat kalau dirinya ada di kamar Keenan saat ini. Padahal sedari tadi ia tak ingin masuk ke sini.
“Ehm, a-aku akan tidur di sofa saja. Kau bisa tidur di ranjang,” cicit Clara seraya berjalan ke arah sofa.
Tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Keenan hingga menatap ke arah pria itu.
“Apa kau menyukai Agler?” tanya Keenan tiba-tiba.
Clara sedikit melebarkan matanya mendengar pertanyaan itu. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?” tanya Clara balik.
“Jawab saja,” ujar Keenan
“Tentu saja tidak! Aku hanya menganggap Agler seperti saudara aja. Dia kan adik iparku saat ini,” jelas Clara
Keenan mengangguk paham. Entah kenapa saat mendengar jawaban itu membuatnya jadi merasa lega. “Tapi, sikapmu menunjukkan kalau kau menyukainya,” timpal Keenan
“Aku tak menyukainya! Lagian jika itu benar, ada masalah denganmu kah? Kita sudah janji untuk tak saling mengurusi urusan pribadi bukan?” balas Clara
Keenan tertegun dengan perkataan Clara. Perkataan Clara memang benar. Dirinya lah yang lebih dulu membuat batasan.
Clara melihat Keenan yang hanya terdiam saja.
“Apa kau cemburu?” tanya Clara
Sontak Keenan melebarkan matanya atas apa yang ditanyakan oleh istrinya itu. “Apa?! Cemburu?! Cih, kau terlalu memandang tinggi dirimu. Aku mengatakan ini karena aku enggak mau adikku itu memiliki hubungan dengan seorang pengganti,” sarkas Keenan
Clara tertegun mendengar apa yang dikatakan Keenan. Ia sudah tahu jika Keenan mana mungkin bisa cemburu dengannya.
“Ya udah, kalau gitu kau jangan mengurusi apa yang aku lakukan,” ujar Clara seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Keenan menghela napas kasar. “Kenapa aku malah menanyakan hal itu sih?! Wanita itu jadi berpikir aku menyukainya kan. Dasar!” keluh Keenan yang mengusak rambutnya.
“Ya ampun! Aku kan tak membawa baju ke sini. Terus aku harus pake apa yah?” gumam Clara sehabis ia membersihkan tubuhnya itu.
Clara berjalan mondar-mandir di kamar mandi memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Sedangkan di luar kamar mandi, terlihat Keenan yang sedang fokus pada buku yang ia baca.
“Kenapa wanita itu belum keluar juga dari kamar mandi? Apa dia pingsan?” gumam Keenan
Ia melepas kaca mata baca yang ia kenakan dan menaruh buku di atas meja. Ia berjalan menghampiri kamar mandi. Ia mengetuk pintu kamar mandi itu.
“Hei, apa kau mati? Kenapa kau belum keluar juga dari kamar mandi?” panggil Keenan
Clara di dalam kamar mandi terkesiap dengan ketukan dan suara dari Keenan. Ia mengumpat di dalam hatinya saat pria itu malah mendoakannya mati.
“A-Aku tak bawa baju ganti. Jadi aku tak bisa keluar!” jawab Clara dengan teriakan.
Keenan menghela napas kasar. “Kenapa enggak bilang dari tadi sih?! Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkan baju ganti untukmu!” balas Keenan
Tak lama kemudian, Keenan kembali dengan baju di tangannya. Ia mengetuk pintu kamar mandi itu kembali.
“Bukalah! Aku membawakanmu baju ganti,” ucap Keenan
Pintu kamar mandi itu terbuka sedikit dan hanya memperlihatkan tangan Clara. “Mana?”
Keenan memberikan baju itu dan pintu kamar mandi kembali tertutup. Setelah memberikan baju ganti itu, Keenan berjalan untuk duduk di atas ranjang. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Clara di sana.
Keenan tiba-tiba terpaku dengan Clara yang baru saja keluar dengan hoodie yang ia berikan tadi. Hoodie itu menutupi hanya sampai sebatas setengah paha wanita itu. Keenan langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah yang memerah samar.
“Aku telah salah memberikan hoodie itu padanya,” gumam Keenan
“Hoodie ini kebesaran denganku. Tapi ini sangat nyaman. Makasih,” ucap Clara dengan senyum lebar.
Keenan menganggukkan kepalanya pelan.
Clara berjalan ke sisi sofa, namun langkahnya terhenti kala suara Keenan terdengar.
“Kau mau ngapain di sana?” tanya Keenan
Clara menoleh pada Keenan. “Aku mau tidur lah,” jawab Clara
Keenan menghela napas kasar. “Apa kau mau Mama mengetahui yang sebenarnya?” tanya Keenan balik.
“Tapi, pintu terkunci. Bagaimana caranya Mama Maya bisa tau nanti?” tanya Clara balik dengan wajah bingung.
“Apa kau pikir Mama enggak punya kunci cadangan? Mama tetap bisa masuk ke kamar ini,” jawab Keenan
Clara terkejut mendengar hal itu. “Te-Terus apa yang harus kita lakukan?” tanya Clara yang nampak khawatir.
“Hanya ada satu cara. Kau tidur di ranjang bersamaku,” jawab Keenan
Clara tertegun karena hal itu. “Apa kau tak apa-apa jika aku tidur denganmu?” tanya Clara hati-hati.
“Untuk apa aku menyuruhmu untuk tidur di sini jika aku tak mau? Ayo sini!” keluh Keenan
Dengan perlahan Clara berjalan mendekati ranjang. Tapi karena tak hati-hati berjalan, tiba-tiba kaki Clara menabrak kaki kursi meja rias.
“Auh!” teriak Clara
Dengan cepat Keenan mendekati Clara yang berjongkok sambil memegangi kakinya yang terantuk itu.
“Ada apa? Apa yang terjadi padamu?” tanya Keenan dengan wajah yang nampak khawatir.
“Kakiku terantuk dengan kursi. Auhh! Ini sangat sakit!” keluh Clara
Keenan segera menggendong Clara ala bridal style dan mendudukkannya di atas ranjang.
“Ini sangat sakit!” keluh Clara dengan air mata yang keluar.
Melihat Clara yang menangis membuat Keenan jadi tak tega. “Tunggu sebentar yah. Aku akan mengambil obat dulu. Sabar yah,” ucap Keenan seraya berlari mengambil kotak obat.
Setelah mendapatkan kotak obat itu, Keenan berjongkok di depan Clara. Dengan perlahan ia mengangkat kaki Clara yang terluka.
“Sakit!”
“Iyah, aku tau. Aku akan mengobatinya,” ucap Keenan
Ia melihat jempol kaki Clara yang sedikit berdarah.
“Sabar yah. Ini akan sedikit sakit. Sabar yah,” ucap Keenan yang mulai mengobati kaki Clara.
“Ahh! Kak Keenan sakit! Pelan-pelan dong!” teriak Clara
“Sabar Clara! Ini emang sakit, tapi enggak akan lama kok. Aku akan pelan-pelan yah,” jawab Keenan yang mengobati dengan pelan kaki itu.
“Pelan-pelan!” protes Clara
“Iyah, ini aku pelan-pelan tau. Aku akan melakukan perlahan okey,” timpal Keenan
Sungguh, seumur hidupnya tak pernah melakukan hal seperti ini. Kecuali orang tuanya sendiri, ia tak akan pernah mau menyentuh kaki orang lain. Tapi saat ini Clara mematahkan semua itu. Clara menjadi orang pertama yang membuatnya harus membuang gengsinya itu.
“Nah, udah selesai. Bagaimana rasanya? Apa masih sakit?” tanya Keenan
Clara menggelengkan kepalanya pelan. “Udah enggak sakit. Ma-Makasih,” jawab Clara
“Jangan menangis lagi yah,” timpal Keenan yang mengusap dengan pelan air mata pada wajah Clara.
Clara tertegun dengan perlakuan Keenan yang tiba-tiba menjadi lembut padanya. Apakah ini mimpi? Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan dirinya. Ia sangat senang jika Keenan bersikap lembut padanya.
“Ayo, kita tidur,” celetuk Keenan
Clara berbaring di ranjang. Saat Keenan ingin membalikkan tubuhnya, Clara membuka suara.
“Bisakah kau memelukku?” pinta Clara
Keenan langsung membalikkan tubuhnya dan melihat Clara yang menundukkan wajahnya. Keenan menarik tangan Clara dan langsung memeluk erat. Clara cukup tertegun dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Pelukan itu sangat hangat.
“Tidurlah”
“He’em!”
Clara menyamankan dirinya di pelukan Keenan. Bisakah ia mengatakan jika ini adalah malam yang sangat indah untuknya?
Keenan tak tahu apa yang ia lakukan saat ini. Ia merasa saat ini ia tak seperti biasanya. Ia mengikuti semua yang diinginkan Clara. Tapi, saat ini entah mengapa malah nyaman-nyaman saja memeluk Clara. Hingga tanpa sadar senyum terbit di wajahnya.