"Aku pernah suka pada orang yang tak mencintaiku, tapi dari situ aku tahu bahwa aku benar-benar mencintainya dengan tulus tanpa mengharapkan apapun"
Pangeran RaViandra Bramasta, pria 25 tahun yang akhirnya di pertemukan lagi dengan cinta pertamanya semasa SMA.
Seringnya ia di tolak akhirnya membuat ia mundur dan menghilang begitu saja hingga takdir tak sengaja membawa gadis itu lagi ke hadapannya.
Tapi semua tak lagi sama, saat rasa nyaman dan ketergantungan mulai tumbuh mereka harus di sadarkan dengan kenyataan jika status salah satunya sudah berbeda.
Ada hati yang harus di jaga saat masa lalu berharap menjadi masa depan.
Mampukah mereka bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal denganmu..
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pria pilihan?
Siapa yang akan di pilih Senja sedang ia saja masih ragu untuk melabuhkan hatinya meski getaran itu terus ada saat bersama.
Ia bukan lagi seorang remaja, melainkan wanita dewasa yang seharusnya siap untuk menikah di usianya yang sekarang ini, mengingat ada sebagian temannya justru sudah punya satu anak bahkan ada yang hampir dua, sedangkan Putri bungsu Biantara masih saja betah menyendiri seumur hidupnya yang nyaris sempurna.
Jujur, semenjak tahu Pangeran akan kembali ke luar negeri waktu yang terlewati begitu berat bagi Senja. Baru kali ini ia merasakan rasa sulit untuk rela melepas sesuatu dalam hidupnya.
Harinya yang dulu selalu aman terkendali karna tentu ada campur tangan Papih dan Appa kini terasa berantakan saat hadirnya Pangeran.
Senja yang baru tahu rasanya Rindu tentu tak semudah dulu melewati waktu tanpa sosok pria tersebut.
"Masih sering bertemu Pangeran?" tanya Mimih Cahaya tiba-tiba.
"Terakhir saat makan siang, kami tak sengaja bertemu di Resto, Mih."
"Apa kabar dia? baik kan, tapi?"
Senja hanya mengangguk, ia pun berharap demikian karna belum lagi berjumpa padahal sudah 3 hari berlalu. Hanya bertukar pesan dan sesekali mengobrol di telepon saja yang keduanya lakukan. Pangeran sama sekali tak pernah punya inisiatif mengajak bertemu apalagi datang ke rumahnya. Dah Senja tak tahu kenapa.
"Hubungan kalian apa?"
"Hanya teman, Mih. Kenapa?" tanya balik Senja.
"Tak apa, Mimih pikir lebih dari itu. Sepertinya Pangeran masih menyukaimu, Sayang," ujar Nyonya Biantara sambil mengusap pipi anak bungsunya tersebut.
"Benarkan? aku harap begitu," jawab Senja dengan kekehan kecil.
Wanita manapun pasti terpesona melihat Pangeran, tak ada yang tak suka termasuk Senja kini. Tapi benarkah perasaan pria itu masih punya rasa yang sama untuknya meski sudah 7 tahun berlalu?
.
.
.
Apa yang selama ini di khayalkan Senja jadi kenyataan. Pangeran datang ke rumahnya untuk menjemput karna mereka akan makan malam bersama di luar.
Semua baju sudah sangat berantakan karna ia coba satu persatu dan ini adalah satu hal konyol yang baru ia lakukan seumur hidupnya.
"Sudah, Sen. Pangeran sudah menunggumu di bawah," kata Mimih yang ikut pusing.
"Tunggu sebentar. Bilang Kak Awan untuk menemaninya."
Mimih Cahaya hanya bisa membuang napas kasar tentang tingkah laku putrinya sekarang.
Tak perlu di minta, Awan memang sejak tadi menemani Pangeran di teras depan. Ia enggan masuk karna di pikir Senja tak akan selama ini.
"Lo balik ke Luar Negeri?" tanya Awan setelah ia menyesap minumannya.
"Iya, akhir bulan ini."
"Owh, gue kira lo urus perusahaan yang disini," ujar Awan masih pura pura tak tahu.
Pangeran hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Menurut Awan, pria di sampingnya itu kini jauh lebih dewasa tak pecicilan seperti saat SMA. Namun jika di perhatikan memang ada yang lain dari tatapan Pangeran yang seolah ada beban disana.
"Maaf, aku membuatmu menunggu lama," ujar Senja yang datang mendadak, sontak kedua pria itupun langsung menoleh.
"Tak apa, aku juga masih ngobrol sama Awan," jawab Pangeran, ia bangun sambil memperhatikan Senja yang nampak sangat cantik. Debaran itupun muncul lagi seperti ia baru jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Pergilah, tapi jangan pulang terlalu malam," pesan Awan sembari melengos pergi. Sedangkan keduanya hanya tersenyum simpul.
.
.
Selama perjalanan Senja dan Pangeran mengobrol banyak hal, ia sengaja memilih rute yang jauh agar bisa lebih lama dengan Senja.
"Ku pikir, kita tak akan sampai ke sini," ujar Senja yang takjub dengan pemandangan di depannya.
"Maaf, ini terlalu jauh ya?"
"Tak apa, semua terbayar dengan suasananya."
Ya, mereka memang ada di sebuah resto atas bukit yang seolah gemintang begitu mudah di jangkau. Semua terlalu indah jika hanya di nikmati oleh sepasang insan manusia yang tak terikat apapun seperti Senja dan Pangeran.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Pangeran.
.
.
.
Ya, aku suka... aku suka di mana pun itu asal dengan mu..
yg ada nanti nasibnya seperti ndot😁
beh.... cari penyakit Lo Ran👻😂
dih.... Daddy Andra
udh gede nih 😆😆😆😆😆😆😆😆