"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERIBU SATU CARA SANG CEGIL
Matahari pagi kembali menyengat kompleks universitas, tetapi bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi, atmosfer di koridor lantai tiga tetap terasa seperti di dalam lemari es. Pak Arga Dirgantara baru saja keluar dari ruang dosen. Langkah kaki panjangnya yang dibalut sepatu pantofel mengkilap terdengar tegas beritme, senada dengan wajahnya yang kaku tanpa riak emosi. Kemeja biru dongker yang disetrika rapi melekat pas di tubuh tegapnya, menyembunyikan dada bidang dan perut sixpack yang semalam hampir saja terlibat dalam skandal ranjang akibat bayangan gadis gila.
Arga memijat pelipisnya sejenak. Efek mandi air dingin semalam dan kurang tidur karena menolak Keysha di ranjang masih menyisakan pening di kepalanya. Namun, kedamaian paginya tidak berlangsung lama. Baru saja ia berbelok di koridor dekat mading utama, sebuah aroma parfum manis vanila dan buah beri yang sangat ia kenali mendadak menyeruak ke indra penciumannya.
"Pagi, Pak Arga ganteng!"
Arga menghentikan langkahnya. Di depannya, Queen sudah berdiri menghalangi jalan dengan kedua tangan yang disembunyikan di balik punggung. Hari ini, gadis berusia 20 tahun itu memakai rok denim mini yang memamerkan kaki jenjangnya yang mulus, dipadukan dengan sweater rajut oversized berwarna merah muda yang sengaja diturunkan di satu sisi bahu, mengekspos tulang selangka dan tali tanktop hitamnya yang kontras dengan kulit putihnya. Wajah baby face-nya mendongak, menatap Arga dengan binar mata bulat yang sama sekali tidak menunjukkan rasa jera akibat penolakan kejam kemarin siang.
Arga menarik napas dalam-dalam, menatap mahasiswanya itu dengan tatapan sedingin es. "Minggir, Queen. Saya ada kelas di ruang 3B."
"Gak mau sebelum Bapak terima ini," ucap Queen bar-bar. Ia memajukan tubuhnya, mengikis jarak hingga aroma tubuhnya semakin mengacaukan fokus Arga. Tangan yang semalam ia sembunyikan di balik punggung kini terjulur ke depan, menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna pastel dengan stiker berbentuk hati di atasnya.
"Apa ini?" tanya Arga, suaranya datar dan ketat.
"Sarapan cinta dari Queen," jawabnya dengan nada manja yang sangat centil. "Aku tahu Pak Arga semalam kurang tidur dan kelihatan suntuk banget pagi ini. Makanya aku bangun jam lima subuh buat masakin nasi goreng spesial ini. Tenang, gak aku kasih racun kok, cuman aku kasih pelet biar Bapak beralih dari istri palsu Bapak itu ke aku."
Ucapan frontal Queen tentang 'istri palsu' membuat rahang Arga mengetat. Ia melirik sekilas ke sekeliling koridor. Beberapa mahasiswa yang lewat mulai memperlambat langkah mereka, berbisik-bisik menyaksikan adegan berani di mana anak pemilik yayasan sedang menghadang sang dosen killer.
"Saya sudah sarapan. Dan simpan semua bualan kekanak-kanakanmu itu, Queen. Kembali ke kelasmu sekarang," usir Arga dingin, mencoba melangkah melewati tubuh Queen.
Namun, Queen adalah gadis cegil sejati. Dengan gerakan secepat kilat, ia sengaja menggeser tubuh seksinya, membuat dadanya yang padat berisi sempat menyenggol lengan kekar Arga dengan sengaja. "Bapak bohong ya? Jakun Bapak naik turun terus tuh dari tadi setiap lihat aku. Kalau Bapak gak mau terima bekalnya di sini, gimana kalau aku anterin langsung ke ruang kerja CEO Bapak nanti siang? Aku tahu loh alamat kantor Dirgantara Group," goda Queen, sengaja mengedipkan sebelah matanya yang manis.
Arga menghentikan langkahnya, menunduk untuk menatap Queen tepat di manik matanya dengan intimidasi penuh. "Queen, jika kamu tidak menyingkir dalam hitungan ketiga, saya akan memastikan nilai nol di kuis kemarin berubah menjadi nilai E mutlak untuk satu semester ini."
"Satu..." Arga mulai menghitung, suaranya berat dan menekan.
Queen justru memajukan wajah manisnya, menantang tatapan tajam sang dosen dengan senyuman nakal. "Nilai E gak masalah, Pak. Asalkan di luar kelas, Bapak kasih aku nilai A+ untuk urusan di atas ranjang."
"Dua..." Arga mengabaikan godaan tersebut, meskipun di dalam dadanya, jantungnya berdegup kencang karena keliaran kata-kata gadis di depannya. Bayangan ciuman panas di meja dosen semalam hampir saja merusak benteng pertahanannya lagi.
"Oke, oke! Aku mengalah hari ini!" seru Queen sambil mengangkat kedua tangannya, tertawa renyah melihat wajah Arga yang semakin menggelap menahan amarah atau mungkin menahan gairah. Queen melangkah mundur satu langkah, memberikan jalan bagi Arga. "Tapi bekal ini tetap buat Bapak. Kalau Bapak buang, aku bakal datang ke kelas Bapak jam kedua nanti dan duduk langsung di pangkuan Bapak di depan anak-anak. Aku gak main-main, Pak."
Arga tidak menjawab. Dengan wajah ketat dan dingin yang dipaksakan, ia menyambar kotak bekal itu dari tangan Queen dengan gerakan kasar, lalu melangkah lebar meninggalkan gadis itu tanpa menoleh lagi.
Di belakangnya, Queen bersedekap dada, memperhatikan punggung tegap sang dosen dengan senyum kemenangan yang merekah indah. "Baru ditolak seribu kali, masih ada seribu satu cara lagi, Pak Arga," gumam Queen dengan sifat bar-bar khasnya yang tak kenal urat malu.
Satu jam kemudian, kelas 3B baru saja usai. Arga berjalan kembali menuju ruang dosen melewati area koridor terbuka yang terhubung langsung dengan taman tengah kampus. Kepalanya terasa semakin panas karena bayangan Queen yang terus-menerus mengganggu konsentrasinya selama mengajar tadi.
Saat melewati barisan loker mahasiswa, Arga mendadak menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah kerumunan kecil. Di sana, Queen sedang berdiri dikelilingi oleh tiga orang mahasiswa laki-laki dari jurusan manajemen yang terkenal kaya dan tampan. Salah satu dari mereka mencoba memberikan seikat bunga mawar merah pada Queen, sementara yang lain sibuk memuji bentuk tubuhnya yang seksi bak gitar spanyol itu.
"Ayolah, Queen, malam ini kita hangout bareng. Gue bawa mobil baru gue," ajak salah satu pria itu dengan nada memamerkan kekayaannya.
Queen yang menyadari kehadiran Arga di ujung koridor dari sudut matanya, langsung mengubah taktik penyerangannya. Gadis cegil itu dengan sengaja tertawa manja, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh sang dosen killer.
"Aduh, maaf ya, Cowok-cowok ganteng... Aku gak tertarik sama daun muda yang cuma bisa pamer mobil dari duit bokapnya," ucap Queen dengan suara lantang yang terdengar renyah. Ia sengaja melangkah maju, membelakangi kerumunan pria itu dan berjalan tepat ke arah Arga yang sedang berjalan berlawanan arah.
Begitu jarak mereka dekat, Queen dengan sengaja memperlambat langkahnya. Saat tubuh mereka berpapasan di koridor yang agak sempit itu, Queen sengaja mengibaskan rambut bergelombangnya yang harum vanila tepat di depan wajah Arga, lalu dengan gerakan sensual yang sangat cepat, ujung jemari lentiknya sengaja mengusap pinggang tegap Arga di balik kemeja kerja pria itu.
Deg!
Arga menegang, langkah kakinya sempat tersendat selama satu detik. Sentuhan tak kasat mata di pinggiran koridor kampus itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang langsung membakar gairah kelelakiannya.
Arga menoleh, menatap Queen dengan pandangan membunuh yang sangat dingin. "Queen, apa yang kamu lakukan?!" desis Arga dengan suara bariton yang ditekan serendah mungkin agar tidak memancing perhatian mahasiswa lain.
Queen berhenti, berbalik menghadap Arga dengan wajah baby face-nya yang menampilkan ekspresi polos tanpa dosa, seolah-olah ia tidak baru saja melakukan pelecehan seksual ringan pada dosennya sendiri.
"Eh, maaf, Pak Arga... Sengaja," jawab Queen dengan nada bar-bar yang teramat santai. Ia melirik ke arah tiga mahasiswa yang tadi mengejarnya, lalu kembali menatap Arga dengan binar nakal. "Habisnya, daripada aku dilirik sama cowok-cowok brondong gak berpengalaman itu, aku lebih milih disentuh sama dosen matang usia tiga puluh tahun yang kalau nyium bisa bikin lutut aku lemas."
"Kamu—" Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Napasnya mulai memburu, ngos-ngosan menahan amarah sekaligus gairah liar yang dipancing secara terang-terangan oleh mahasiswanya sendiri di tempat umum. Sifat cegil Queen benar-benar berada di luar batas kewarasan yang bisa dihadapi oleh logika kaku Arga.
"Kenapa, Pak? Mau hukum aku lagi?" tantang Queen, memajukan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Matanya menatap lekat-lekat pada bibir kokoh Arga yang semalam sempat menginvasi pikirannya. "Pukul saja aku pakai nilai nol lagi, Pak. Gak mempan. Selama jantung Bapak masih berdegup sekencang ini tiap dekat aku, aku gak akan pernah berhenti ngejar Bapak."
Di ujung koridor, Alya dan Karin yang sedang memperhatikan dari balik pilar mading hanya bisa menepuk jidat mereka masing-masing.
"Sahabat lo bener-bener gak waras, Al. Dia nekat banget ngegoda bokap kedua kita di kampus," bisik Karin dengan wajah ngeri sekaligus kagum atas keberanian Queen.
Alya justru tersenyum miring, menatap punggung kakaknya yang kini terlihat sangat kaku dan tegang. "Biarin aja, Rin. Justru umpan gila kayak Queen yang bisa bikin dinding es Kak Arga hancur berkeping-keping. Lo lihat aja tuh tangannya Kak Arga, udah gemeteran nahan nafsu."
Arga yang menyadari situasi mulai tidak kondusif dan harga dirinya sebagai dosen taruhan di ujung tanduk, langsung menarik kembali perisai esnya dengan paksa. Ia memundurkan tubuhnya, memberikan jarak yang aman dari jangkauan tubuh seksi Queen.
"Masuk ke kelasmu sekarang, Queen. Jangan biarkan saya menggunakan otoritas saya untuk mengeluarkanmu dari universitas ini secara tidak hormat," ucap Arga, suaranya kembali berubah menjadi sedingin es batu, kaku, dan tanpa bantahan sedikit pun.
Arga berbalik dengan cepat, melangkah lebar membelah koridor menuju ruang dosen dengan langkah kaki yang tergesa-gesa—bukan karena takut, melainkan karena ia harus segera menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya yang hampir habis dikuras oleh keliaran gadis berusia 20 tahun itu.
Queen hanya berdiri di tempatnya, menatap kepergian Arga dengan tawa kecil yang terdengar sangat seksi dan manja. Meskipun ditolak untuk kesekian kalinya hari ini, ia tahu dari kilatan mata gelap Arga yang sempat menggelap tadi... bahwa ciuman brutal mereka semalam dan penolakannya di kelas telah meninggalkan bekas yang teramat dalam di otak sang dosen killer. Permainan seribu satu cara ini masih sangat panjang, dan Queen tidak akan berhenti sampai sang dosen dingin itu berlutut di bawah pesona gitar spanyolnya.