Alexander pria yang dingin dan sangat susah untuk di sentuh. Dan semenjak meninggalnya sang istri, Alexander tidak lagi membuka hati untuk siapapun. Karena hati dan cintanya juga ikut mati dengan istri tercintanya.
Dan karena satu insiden membuat Alex terpaksa menikahi wanita yang bernama Kartika.
Mampukah Kartika meluluhkan hati Alex, atau malah sebaliknya?
"Cinta? Bagiku hanya ada satu cinta untuk satu wanita saja."
"Cinta? Bagiku, selama kau bisa membuat orang bahagia maka itulah yang di sebut cinta." Kartika Wijaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
"Pertama. Karena aku akan menikah dengan daddy mu yang dingin itu. Kedua karena aku akan menjadi ibu yang mungkin tidak akan baik untuk kau dan juga Mora dan ketiga, maaf karena persahabatan kita mungkin akan berlanjut hingga......."
"Kau sengaja mendekatiku karena tahu aku anaknya Alex? Pria yang kaya raya?" Tanya Molki, memotong ucapan Kartika.
"Tidak. Serius! Aku tidak tahu kalau kau anak Alex sih pria dingin itu." Jawab Kartika sambil berjalan di samping Molki.
Molki menaikkan satu alisnya saat mendengar jawaban dari Kartika.
"Dingin?" Tanya Molki.
"Ya kau benar, Alex itu dingin dan juga be*go."
Kartika dengan cepat menutup mulutnya saat mengucapkan kata terakhir hingga Molki menggelengkan kepalanya. Molki benar-benar tidak habis pikir dengan wanita yang berada di sampingnya ini. Wanita yang kenapa mau menikah dengan orang tuanya jika tahu orang tuanya seperti yang ia katakan tadi.
"Lalu kenapa kau ingin menikahi dia? Harta?" Tebak Molki sambil tersenyum sinis. Karena bagi Molki semua wanita pasti akan mau menjadi ibu sambungnya karena daddynya memiliki segalanya hingga siapa pun pasti akan rela mengantri demi mendapatkan gelar nyonya Alexander.
"Karna aku ingin menjaga kalian. Kau dan juga Mora tentunya."
Jawaban Kartika membuat Molki benar-benar syok. Mungkin kah wanita di sampingnya ini berkata serius? Atau malah sebaliknya? Hanya akting agar bisa mendapatkan simpatik dari Molki dan juga Mora. Lalu kalau memang dia akting, kenapa harus berkata seperti itu tengan daddynya.
Plaakkkkk. Kartika memukul pundak Molki.
"Tidak usah tegang seperti itu. Ayo sini aku antar kau ke tempat yang bagus." Ajak Kartika sambil menarik tangan Molki.
Mora kini merasa gelisah karena sejak tadi sang kakak belum juga kembali.
"Oma, dimana kak Molki?" Tanya Mora yang sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.
"Tidak usah khawatir. Pasti Kartika menjaga Molki dengan baik." Jawab Ayuning. "Jadi nikmatilah selagi kita berada di luar." Timpalnya kemudian sambil memegang tangan Mora dan berjalan di dalam mall.
"Mora. Apa kau suka dengan Kartika?" Tanya Ayuning setelah cukup lama mengajak Mora berjalan jalan.
"Suka oma. Karena sepertinya dia baik. Buktinya dia mau membantuku memotong daging tadi."
"Kau mau menerimanya menjadi ibu sambungmu?" Tanya Ayuning membuat Mora terdiam.
Entah apa yang Mora pikirnya yang jelas dia cukup lama terdiam hingga membuat Ayuning berkata.
"Tidak usah di jawab."
"Aku menerima apa pun keputusan oran tuaku, baik itu oma atau pun daddyku." Jawab Mora membuat Ayuning bangga dengan cucunya.
Ayuning tidak menyangkah jika sang cucu yang masih saja duduk di bangku SD ini sudah memiliki pemikiran yang sangat luas, seperti pemikiran orang dewasa.
••••••
"Makam bunda." batin Molki saat ia turun dari taxi.
"Ayo, ikut denganku." Ajak Kartika sambil menarik lengan Molki.
"Aku tahu, kau pasti sedang bertanya-tanya kan, siapa aku sebenarnya? Dan kenapa aku kembawa mu kesini?" ucap Kartika.
"Tapi yang harus kau tahu. Aku memang sejak awal tidak mengenal siap kamu dan siapa orang tuamu. Dan yang kemudian kamu harus tahu, jika aku tulus dengan mu dan juga dengan adikmu yang lucu itu. Tapi kalau dengan daddy mu. Yang ada aku hanya ingin menjitak kepalanya."
Molki terus saja tersenyum tipis mendengar Kartika yang terus saja berbicara bagai kereta yang tidak ada hentinya.
"Kau tahu Molki, aku heran kenapa bisa yah dulu aku bisa suka dengan pria dingin itu.. Hahah tapi itu dulu, sekarang mah ngak lagi."
"rumah yang tadinya gelap, kini menjadi terang kembali. suasana yang tadinya sunyi, kini kembali diisi suara obrolan, candaan dan tak jarang terdengar tawa riang. hingga akhirnya beberapa jam kemudian kembali terdengar sunyi. tak terasa waktu bergulir, matahari kembali menampakkan diri di ufuk timur. kegiatan manusia kembali nampak di lingkungan rumah itu. termasuk truk sampah yang rutin singgah mengambil sampah dari rumah itu. ketika sang awak truk turun untuk memindahkan sampah dari dekat pagar rumah, beberapa serpihan kertas coklat jatuh dari tong sampah yang dibawa sang awak truk. ya, serpihan kertas sampul coklat yang berisi surat gugatan cerai yang kini sudah koyak hancur tak bersisa. hanya menyisakan kenangan di secuil tempat di sudut hati. untuk menjadi pelajaran menatap masa depan yang bahagia. TAMAT.