Setelah menyandang gelar sebagai seorang istri. Rima memutuskan berhenti berkarir agar bisa fokus mengurus suami dan anaknya. Dengan sepenuh hati Rima menyayangi mertua seperti menyayangi ibu kandungnya sendiri. Namun, bukannya kasih sayang dan kebahagiaan yang Rima dapatkan tetapi pengkhianatan dari kedua orang tersebut.
Dengan perasaan hancur, Rima berusaha bangkit dan membalas pengkhianatan suaminya. Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan diri lebih baik dari para pengkhianat. Hingga perlahan Rima bangkit dari keterpurukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inikah Akhirnya?
14
"Kalian menjijikan! Sangat menjijikan!"
Suaraku terdengar lantang. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Rasa sakit hati ini membuat aku mengabaikan Susan yang mungkin bisa mendengar teriakan ibunya.
"Ri-Rima... Ka-kamu di situ?"
Bang Rama tampak terkejut sekali melihatku. Bicaranya terbata dengan kelopak mata terbiak lebar. Sementara perempuan itu masih bisa bersikap biasa seolah tidak melakukan kesalahan.
"A-apa yang kamu dengar tidak sepenuhnya benar, Sayang. A-aku bisa jelaskan semuanya," ucap bang Rama ketika menyadari aku menatapnya penuh dengan kecewa.
"Aku nggak tuli dan aku nggak buta. Bahkan, ini bukan kali pertama aku melihat kalian berduaan seperti ini. Kamu mau jelaskan apa lagi?"
Aku menghempaskan lembaran foto yang aku ambil di balik gaun malamku. Lembaran-lembaran foto itu berserak diantara kami. Bang Rama dan Citra terdiam melihatnya.
"Nggak perlu banyak bicara, karena bukti ini sudah menjelaskan semuanya. Tega kamu khianati pernikahan kita, Bang! Apa kurangnya aku selama ini?"
Aku memukul dada yang terasa sesak. Aku ingin mencoba untuk kuat, tapi melihat mata bang Rama membuat hati ini terasa ditusuk seribu jarum. Sakit... sekali hingga aku menangis di hadapannya. Manusiawi, bukan?
Perempuan mana yang tidak akan menangis bila disakiti?
"Sayang, dengarkan penjelasan ab--
"Stop!" Aku mengangkat satu tangan meminta pria itu tidak mendekatiku. Jarak kami berada sangat dekat, tapi seperti ada benteng kokoh yang menghalangi.
"Aku udah pernah bertanya dan aku menunggu jawaban berharap abang jujur pada saat itu. Tapi, apa? Hanya kebohongan yang aku dapatkan. Bagaimana bisa abang berniat menyentuhku setelah tidur di hotel dengan wanita tidak tahu diri ini?"
"Mbak jangan sembarangan bicara ya!" Citra tidak terima aku menunjuknya. "Aku juga punya harga diri, Mbak. Dan semua ini bukan salahku. Perselingkuhan kami tidak akan terjadi kalau Mbak pintar menjaga suami. Lihat, seperti apa penampilan mbak selama ini dan bagaimana bisa mbak berharap mas Rama tidak tergoda dengan aku? Sadar, Mbak! Itu nggak akan mungkin."
Citra menudingku dengan angkuh. Dia seolah bangga sudah berhasil merebut suamiku.
Aku tidak bisa tinggal diam. Kuhapus air mata ini lalu mendekati wanita sialan ini.
"Aku dan dirimu memang tidak setara dan tidak bisa dibandingkan, Citra. Setidaknya sebagai wanita aku tidak melakukan hal rendah dengan menggoda dan tidur dengan suami orang. Sudah berapa banyak kau membuka pakaianmu di depan suami orang? Sudah berapa banyak wanita yang menjadi korbanmu? Aku yakin bang Rama bukan satu-satunya laki-laki yang kamu goda!"
"Mbak jangan asal bicara, ya!" Citra tersulut emosi.
"Kenapa? Bukankah kau memang perempuan seperti itu? Apa kau akan marah kalau aku memanggilmu pe lacur?"
"Rima!!!" Suara ibu menginterupsi. Wanita separuh baya itu berdiri diantara aku dan Citra. Lalu menampar pipiku tanpa bisa aku hindari. "Beraninya kamu menyebutkan sebagai pelacur!" serunya membela Citra.
Pipiku terasa panas karena tamparan dari wanita yang seharusnya membela dan melindingiku.
"Ibu, sudah. Kenapa ibu menampar Rima?"
Bang Rama merangkulku namun segera aku menepisnya. "Jauhkan tangan kotormu dariku, aku nggak sudi disentuh sama laki-laki brengsek seperti kamu!"
"Rima, tolong maafkan abang," ujarnya dengan suara lirih dan wajah memelas.
"Cuih!!!" Aku meludah sembarang arah. Bibir ini ingin memaki dan mengutuk priaku ini, tapi aku tidak mau hati ini terasa sakit karenanya.
"Kamu bahkan bermain gila di rumah ini ketika aku dan anakmu terlelap. Di mana pikiranmu itu?" Aku menuding bahu Rama sekuat tenaga. Bang Rama tertunduk dalam tanpa mau melihatku. "Tega kamu...bahkan, aku menemukan pengaman bekas pakai kalian. Di mana pikiranmu!!!"
"Rima, tolong maafkan abang." Mata bang Rama memerah, bahkan aku bisa melihat sudut matanya basah. "Abang khilaf...," ucapnya lirih.
"Kenapa kamu harus minta maaf sama Rima? Udahlah, sekalian selesaikan semuanya di sini. Kamu ceraikan saja dia!" Ibu menjauhkan bang Rama dariku. Wajahnya tampak jijik melihatku.
Aku tersenyum miris melihatnya. "Ya, aku sadar sudah tidak ada tempat untuk aku di rumah ini. Ibu jangan khawatir ... menantu yang sering ibu banding-bandingkan dengan orang dan menantu yang tidak ibu harapkan ini akan pergi dari rumah ini. Mungkin, kasih sayang ku terlalu mubazir bila aku berikan kepada ibu yang hanya selalu melihat kekuranganku!"
"Kamu bicara apa Rima? Kamu nggak boleh pergi dari sini!" ucap Bang Rama.
"Untuk apa aku ada di sini? Aku bukan patung yang bisa kalian bodohi! Cukup sudah, Bang. Aku tahu aku bukan wanita sempurna yang selalu bisa menyenangkan abang, tapi seharusnya abang menegur dan menasehati aku ketika aku melakukan kesalahan. Bukan berarti hanya karena aku tidak menarik lagi abang bisa bermain dengan perempuan nggak tau diri ini!" sentakku lagi.
"Silahkan kalau Mbak Rima mau pergi. Tapi, jangan bicara sembarangan tentang aku!" ujar Citra lagi. Dia besar kepala karena mendapatkan dukungan ibu.
"Diam Citra! Jangan memperkeruh suasana!" Bang Rama membentak Citra. Lalu mendekati aku. Mata dan wajahnya tamampak menyesal. "Semua bisa dibicarakan baik-baik."
Aku menggeleng keras. "Hati ini terlalu sakit. Bukan cuma aku yang kamu khianati. Tapi, Susan... anak kita. Anak kandungmu sendiri. Kamu cinta pertama untuknya, tapi kamu juga yang pertama khianati Susan. Kamu gila, Bang!"
Bang Rama mengusap wajah gusar, matanya memerah. "Demi Susan, tolong jangan pergi."
"Justru, demi Susan aku harus pergi. Aku masih bisa menolerir kebohongan, tapi aku nggak bisa menerima pengkhianatan bahkan kamu sudah tidur dengan wanita lain. Susan akan bersedih bila melihat ibunya tertekan di rumah ini."
"Nggak, Rima. Kita bisa mulai dari awal. Tolong, kasih aku kesempatan satu kali ini." Bang Rama menakupkan telapak tangannya memohon padaku.
"Nggak bisa gitu, Mas!" Citra meraih tangan bang Rama. "Kita sudah berhubungan sejauh ini jadi mas nggak bisa tetap sama dia. Harusnya Mas pilih aku seperti janji mas selama ini."
"Udahlah, Rama. Biarkan dia pergi. Ceraikan aja dia!" seru ibu dengan lantang.
Aku sekilas memejamkan mata hinga bulir bening menetes lagi. Rasanya aku tidak sanggup berdiri lagi. Kutatap mata bang Rama yang sedari tadi melihatku.
"Aku mencintaimu, Bang ... sangat. Aku sangat tulus mengabdikan diri ini untuk menjadi istrimu. Semua aku utamakuan agar kamu bahagia. Tapi, mengapa pengkhianatan yang aku dapatkan? Sebagai istri aku menerima dan menutupi semua kekurangan suamiku. Harusnya kamu juga begitu."
Aku menghapus air mata dengan kasar. Malam ini bagaikan mimpi buruk di hidupku. Tidak kusangka rumah tangga yang telah kami bina akan berakhir juga.
"Hatiku, seperti gelas yang kamu banting hingga pecah. Bagaimana bisa kamu kembalikan utuh seperti semula?"
"Rima, ak-aku...."
"Aku nggak akan pernah minta kamu memilih dan mempertahankan aku, sebab aku sendiri yang akan mengurus perceraian kita." Aku bicara sambil menahan tangisan yang rasanya ingin aku keluarkan.
Bersambung.....
Sambil nunggu update, mampir ke sini, ya. Maacih