Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Tunggal
Kalimat Senja tentu saja membuat dokter Martin merasa malu, dia merasa tertampar ketika Senja secara tidak langsung mengatainya bodoh dalam menangani pasien. Padahal dia adalah salah satu dokter unggulan di rumah sakit itu.
"Begitu ya, lantas menurutmu mengapa pasien ini tidak juga sadarkan diri?" tanya Dokter Martin yang kini menghadap ke arah Senja. Tatapannya menantang, menuntut gadis itu mempertanggungjawabkan ucapannya.
"Satu kehormatan jika Anda mengizinkan saya untuk memeriksa pasien," ucap Senja dengan santai.
Semua orang yang berada di ruangan operasi itu menatap tajam kepada Senja. Ada yang mencibir bahkan ada juga yang menganggap dirinya cari mati. Namun, jika dokter Martin memberikan tempatnya maka jelas bahwa nyawa tuan Stanfield akan melayang di tangan wanita itu.
Namun, harga diri dokter Martin yang sudah terluka atas omongan Senja, segera mundur, mempersilakan Senja mengambil tempatnya.
Senja meneliti luka yang terdapat di belakang kepala tuan Stanfield, lalu meminta Tari, salah satu perawat yang ikut membantu mendekat padanya.
"Saat aku minta peralatan yang aku sebutkan, segera memberikannya ya," ucap Senja antara sadar dan tidak Tari hanya bisa mengangguk.
Husna berdiri di sudut ruangan melihat apa yang dilakukan Senja, dalam hatinya di tertawa puas keinginannya tercapai. Kali ini Senja akan tamat! Dia akan masuk penjara karena sudah melakukan percobaan pembunuhan terhadap tuan Stanfield.
"Kenapa kamu kok bisa begitu tenang? Bagaimana ini, kalau nanti sampai tuan Stanfield meninggal? Kita yang ada dalam ruangan ini akan dipersalahkan oleh anaknya," ucap dokter Martin yang juga sudah berada di samping dokter Husna.
"Anda tidak usah khawatir dokter, kita akan melempar semua kesalahan itu kepada Senja. Lagi pula tuan Stanfield memang sudah tidak akan bisa selamat lagi, lukanya parah. Kita sudah melakukan operasi yang pertama dan dia juga tidak sadarkan diri jawab," dokter Husna.
"Tapi saya yang sebagai penanggung jawab di sini, pasti nanti saya yang akan dituntut karena sudah mengizinkannya melakukan operasi terhadap tuan Stanfield," ucap dokter Martin.
"Tenang saja aku sudah memikirkan jalan keluarnya. Kita katakan saja bahwa Dinda memaksa untuk menangani tuan Stanfield karena pada saat menangani cucunya kemarin dia sudah berhasil. Kita sebagai dokter yang bekerja di rumah sakit keluarganya tidak bisa berbuat apa-apa karena dia adalah anak pemilik rumah sakit menjawab," Husna enteng.
Sebenarnya alasan itu tidak mungkin bisa diterima oleh keluarga tuan Stanfield, terlebih dia sudah diberi mandat oleh rumah sakit untuk menjadi kepala tim dokter yang menangani pria itu, tidak mungkin mahasiswa kedokteran bisa mengaturnya di ruang operasi yang notabene adalah zona otoriternya.
Tapi Dokter Martin yang sudah kalah malu terhadap Senja dan kehilangan muka di depan rekan sejawatnya terpaksa mengikuti rencana Husna.
Dari CCTV yang tersambung ke layar monitor, Dinda terperanjat melihat adiknya yang menangani tuan Stanfield. Memang rencana mereka untuk mencelakai gadis itu tapi dengan langsung menjadi pembunuh tuan Stanfield juga bukan bagian dari rencana mereka sebelumnya.
Dinda dan Husna hanya merencanakan bahwa jika operasi itu gagal maka mereka bisa membuat alibi bahwa Senja lah yang melakukan kesalahan dengan memberikan suntikan dengan dosis yang salah, tidak menurut pada perintah yang sudah diberikan dokter kepadanya.
Tapi dengan membuat adiknya itu menjadi orang yang berperan utama mengoperasi pasien VIP mereka tentu saja ikut membuat pihak rumah sakit berada dalam masalah terlebih kalau sampai diendus oleh awak media.
15 menit pertama mereka mencemooh Senja yang tampak lamban bergerak seolah bingung harus memulai dari mana. Dokter Martin sudah tersenyum mengejek dari tempatnya berada gini.
Namun, menit ke-20 justru mereka yang dibuat pucat. Senja dengan gesit melakukan operasi tunggal yang hanya dibantu beberapa perawat senior yang ada di ruangan itu dan satu orang dokter yang ikut membantunya.
***
"Sebenarnya apa yang terjadi di ruangan operasi itu? mengapa operasi itu bisa dikuasai oleh Dinda?" tanya Dinda meradang saat Husna dan dokter Martin dipanggil ke ruangannya.
Mereka belum tahu apakah operasi yang dilakukan Senja berhasil atau tidak, karena sampai detik ini, dua jam setelah operasi tuan Stanfield belum juga sadarkan diri.
"Aku tersinggung atas ucapannya yang mengatakan bahwa diagnosa ku keliru mengenai keadaan tuan Stanfield, aku tersinggung lantas menyuruh dia yang melakukan operasi itu," terang Martin membela diri. Padahal dia tidak sadar pembelaannya seperti anak kecil yang ribut dengan temannya yang lain saat memperebutkan sebuah permen.
"Sudahlah, Ja. Untuk apa kita memusingkan hal itu, semua sudah terjadi! Hanya kita yang tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu kan? kalau nanti terjadi apa-apa pada tuan Stanfield, kita harus sepakat mengatakannya bahwa operasinya sudah berhasil namun, Senja menyuntikkan obat dengan dosis 0,5 mg lebih banyak dari yang disuruh oleh dokter," ucap Husna menganggap itu bukanlah masalah yang berat bagi mereka. Seperti niat di awal, semua kesalahan yang terjadi di ruang operasi harus ditangguhkan kepada Senja.
Dinda mengangguk setuju dia juga tidak tahu apakah alasan ini akan berhasil terlebih terhadap anak tuan Stanfield, Edward Stanfield yang begitu pemarah dan juga tempramen. Dia takut ancaman pria itu menjadi nyata membakar rumah sakit ini, kalau sampai terjadi hal buruk pada ayahnya
"Bagaimana operasinya?" sambut Tina ketika melihat Senja mendekati mereka.
"Aku sangat lelah, ingin pulang ke mess dan beristirahat. Kalian masih di sini?" tanya Senja dengan wajah yang begitu letih. 11 jam dia berada di ruang operasi dengan pembukaan drama-drama yang tidak penting dari para dokter yang juga menyita waktunya. Namun, akhirnya Senja bisa bernapas lega, operasi itu berhasil dengan baik, dia juga yakin bahwa tuan Stanfield akan siuman besok pagi.
Saat Senja tidur dengan nyenyak nya di mess, kegaduhan terjadi di rumah sakit. Tuan Stanfield yang sudah dipindahkan kembali ke ruangan rawat inapnya belum juga sadarkan diri sementara keluarga besarnya, lebih tepatnya putra tunggalnya itu justru memaksa ingin diterangkan hasil operasi itu secara detail dan kemungkinan apa yang terjadi kepada ayahnya.
Tidak ada yang bisa menjelaskan kepada Edward karena bukan mereka yang melakukan operasi. Namun, saat mencari Senja, tak seorangpun mengetahui di mana keberadaan wanita itu hingga Dinda menjadi panik.
"Kenapa kalian diam? katakan bagaimana keadaan ayah saya? Ini sudah operasi ketiga dan ayah saya belum sadarkan diri. Saya ingatkan kembali jika terjadi sesuatu yang buruk kepada ayah saya, maka kalian semua akan saya pecat dan rumah sakit ini akan saya tutup!" Ancam Edward penuh amarah.
"Anda sabar dulu tuan Edward, memang berbeda-beda cepat lambat pasien siuman pasca operasi," jawab dokter Martin yang merasa ketakutan.
"Baiklah kalau begitu, saya ingin tahu apa yang terjadi ruang operasi!"