Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Bab 8
Lusi tidak tahu berapa lama ia pingsan.
Yang ia tahu, saat membuka mata, ia tidak lagi berada di ruangan pesta.
Ia berada di kamar hotel. Kamar yang berbeda. Lebih kecil. Lebarannya cuma tiga kali empat meter seukuran kamar kost-nya sendiri. Dindingnya krem kusam dengan noda-noda yang tidak ingin ia ketahui asalnya. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan aneh di setiap sudut.
Ia terbaring di atas kasur. Telanjang.
Kepalanya sakit luar biasa. Seperti ada palu godam yang dipukulkan berulang-ulang di pelipisnya. Ia mencoba bergerak, tapi setiap ototnya terasa mati rasa. Tangannya gemetar saat ia menyentuh tubuhnya sendiri, mencoba memahami apa yang terjadi.
Dan kemudian ia merasakannya.
Rasa sakit. Rasa perih. Di bagian paling intim tubuhnya.
Air mata mulai mengalir sebelum ia sempat berpikir.
"Apa yang..." Suaranya serak. Hampir tidak keluar. "Apa yang terjadi?"
Ia memaksakan diri untuk duduk. Selimut tipis yang menutupi tubuhnya terjatuh. Dan sekarang ia bisa melihat semuanya. Bekas-bekas merah di lengannya. Bekas gigitan di bahunya. Lebam di pahanya.
Astaghfirullah...
Dan di sampingnya, Irawan sedang duduk di kursi. Masih berpakaian rapi. Menatapnya dengan senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Pagi, Lus."
"Wan... apa yang... apa yang terjadi?" Suara Lusi serak. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa aku... kenapa bajuku..."
"Hhhh, tenang. Lo cuma pingsan. Mungkin kecapean."
"Tapi tubuhku sakit... Wan, kenapa kamu…" Lusi mencoba bangkit, tapi rasa sakit di antara kedua pahanya membuat ia tersentak. "Astaghfirullah... Wan... apa yang kamu lakukan padaku?!"
Air matanya pecah. Semuanya seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Ia ingat sparkling juice. Ia ingat kepalanya pusing. Ia ingat semuanya menjadi gelap.
Irawan hanya mengangkat bahu. "Kita pacaran. Itu hal yang wajar."
"TAPI AKU NGGAK SADAR! KAMU... KAMU NGGAK BILANG APA-APA! KAMU... KAMU NGGAK MINTA IZIN!"
"Ah, ribet banget sih lo." Irawan berdiri. Memasukkan ponselnya ke saku. "Udah ya, gue pergi dulu. Lo mandi sana, nanti checkout sebelum jam dua belas."
"IRAWAN!"
Tapi Irawan sudah berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Menoleh. Dan memberikan senyum terakhir senyum yang akan menghantui Lusi selama dua tahun ke depan.
"Oh iya, Lus. Makasih ya buat malam ini. Temen-temen gue pada bilang, lo..."
Ia berhenti. Tersenyum lebih lebar.
"...luar biasa."
Pintu tertutup.
Dan Lusi terjatuh ke lantai, telanjang, menangis, sendirian.
Beberapa saat kemudian…
Ponsel Lusi bergetar. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal. Video. Disertai caption singkat.
"Ini kenang-kenangan buat kamu, Lus. Jangan lupa tonton sampe abis ya. XOXO.”
Dan ia melihat videonya.
Video berdurasi delapan menit dua puluh tiga detik. Thumbnail-nya adalah wajahnya sendiri wajahnya yang tidak sadarkan diri, dengan mulut setengah terbuka.
Jemarinya bergetar hebat saat ia menekan tombol play.
Adegan pertama: Irawan di atas tubuhnya. Mengendus-endus seperti anjing, Tertawa. Melihat ke kamera. "Ini dia, bro. Pacar gue sendiri. Lumayan kan?".
Adegan kedua: Dimas. "Gantian, gantian! Gue duluan!"
Adegan ketiga: Rendy. "Wah, ini nih yang gue tunggu-tunggu dari semester lalu!"
Adegan keempat: Bayu. Tidak bicara. Hanya tersenyum. Senyum tipis yang sama yang ia berikan di perpustakaan. Senyum yang sekarang Lusi mengerti artinya.
Adegan terakhir: Irawan lagi. Menghadap kamera. Lesung pipinya muncul. Senyumnya lebar. Dan ia berkata, dengan nada suara yang akan menghantui Lusi seumur hidupnya:
"Thanks ya, Lus. Lo udah jadi pacar yang baik. Oh iya, ini hadiah perpisahan. Karena gue... udah bosen sama lo."
Dan ia menyaksikan semuanya. Adegan demi adegan. Wajah demi wajah. Tubuhnya yang tidak berdaya. Empat laki-laki yang bergantian menyetub\*hinya. Dan suara di latar belakang yang tertawa-tawa.
Wajah-wajah itu: Irawan. Dimas. Rendy. Bayu.
Lusi tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
Katanya, ia menjerit. Begitu kerasnya sampai tamu di kamar sebelah memanggil keamanan hotel. Katanya, ia mencoba melompat dari jendela. Katanya, ia memukuli kepalanya sendiri ke dinding sampai berdarah.
Tapi ia tidak ingat.
Yang ia ingat hanyalah duduk di lantai kamar mandi hotel itu telanjang, basah kuyup, menggigil dan menatap bayangannya sendiri di cermin yang retak.
Air matanya sudah habis. Tinggal kemarahan yang tersisa. Kemarahan yang dingin. Kemarahan yang pekat. Kemarahan yang akan membawanya, ke sebuah ritual tengah malam di kamar kostnya.
Tapi di tengah kemarahan itu, satu pikiran muncul di benaknya.
Kakek Buyut.
Ya. Ia akan pulang. Ia akan menemui Ki Sarowang Prawangsa. Dan ia akan menceritakan semuanya.
Irawan tidak tahu. Dimas tidak tahu. Rendy dan Bayu tidak tahu.
Mereka baru saja menghancurkan hidup seorang gadis yang kakek buyutnya adalah dukun paling sakti di tanah Jawa.
di tanah Jawa, setiap perbuatan ada balasannya.
Dan di matanya, ada kilau keemasan yang tidak wajar. Kilau yang sama yang dimiliki oleh lelaki tua di lereng Gunung Lawu.
Kilau yang merupakan awal dari kebangkitan.
Tiga hari kemudian. Terminal Bus Bungurasih Pukul 05.30 pagi.
Lusi berdiri di depan loket bus jurusan Karanganyar. Ia hanya membawa satu ransel kecil isinya cuma beberapa potong baju, dompet, dan buku tua bersampul kulit yang selama ini tersimpan di dasar lemarinya.
Wajahnya pucat. Matanya sembab. Bibirnya pecah-pecah. Ia tidak tidur selama tiga hari. Setiap kali memejamkan mata, video itu terputar lagi. Setiap kali mencoba makan, ia muntah.
"Lo udah jadi pacar yang baik."
"Gue udah bosen sama lo."
Kata-kata itu seperti paku yang ditancapkan di dalam tengkoraknya.
"Bus Karanganyar, jurusan Tawangmangu. Segera berangkat!"
Lusi naik ke dalam bus. Duduk di kursi paling belakang. Menyenderkan kepalanya ke jendela yang dingin. Di luar, matahari mulai terbit, menciptakan warna jingga di langit timur.
Tapi Lusi tidak melihat keindahan itu.
Ia hanya menatap ponselnya. Layarnya masih menampilkan halaman kontak. Satu nama yang belum berani ia hubungi sejak ibunya meninggal:
MBAH BUYUT - KI SAROWANG PRAWANGSA
Ia menekan tombol panggil.
Tut... tut... tut...
"Nduk?"
Suara itu. Suara tua, dalam, penuh wibawa. Suara yang terakhir kali ia dengar tiga tahun lalu, saat pemakaman ibunya.
Dan di dalam bus yang melaju menuju kaki Gunung Lawu, Lusi Arimbi gadis yang baru saja dihancurkan oleh empat laki-laki yang ia percayai akhirnya membuka mulutnya dan berkata:
"Mbah... aku butuh bantuan."
Delapan jam perjalanan bus. Jurusan Tawangmangu.
Bus antar-kota itu melaju pelan menyusuri jalanan berliku di kaki Gunung Lawu. Di luar, pemandangan berganti dari gedung-gedung perkotaan menjadi hamparan sawah yang menguning, lalu menjadi hutan pinus yang lebat dan berkabut. Udara semakin dingin. Kabut mulai menyelinap di antara pohon-pohon, menciptakan pemandangan yang indah sekaligus mencekam.
Tapi Lusi tidak melihat semua itu.
Ia duduk di kursi paling belakang, menyenderkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin dan bergetar. Matanya terbuka, tapi tidak benar-benar melihat apa pun. Pikirannya berputar-putar seperti kaset rusak yang terus mengulang adegan yang sama.
Wajah Irawan. Lesung pipinya. Senyumnya.
"Lo udah jadi pacar yang baik."
Wajah Dimas. Topi bisbolnya. Tawanya yang keras.
"Gantian, gantian! Gue duluan!"
Wajah Rendy. Badannya yang gendut. Dompet mahalnya yang dilempar ke meja.
"Wah, ini nih yang gue tunggu-tunggu dari semester lalu!"
Dan Bayu. Selalu Bayu. Wajahnya yang tenang, tatapannya yang tajam. Di video itu, dia tidak berbicara. Hanya tersenyum. Senyum tipis yang sama seperti di perpustakaan. Senyum yang kini Lusi mengerti artinya: Aku tahu. Aku sudah tahu sejak awal. Dan kamu baru tahu sekarang.
Itu yang paling menyakitkan.
Bukan kekerasannya. Bukan rasa sakit di tubuhnya. Tapi fakta bahwa semuanya sudah direncanakan. Sudah diatur. Sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan.
"Lo sayang nggak sama Irawan?"
"Jangan pernah tinggalin dia ya."
"Irawan itu rapuh. Dia butuh lo."
Astaga. Percakapan di perpustakaan itu bukan tentang persahabatan. Bukan tentang kekhawatiran Bayu pada Irawan. Itu adalah briefing. Itu adalah bagian dari rencana. Dan Lusi, dengan polosnya, menjawab semua pertanyaan itu tanpa curiga sedikit pun.
Air matanya sudah habis.
Sejak tiga hari yang lalu, sejak ia duduk di lantai kamar mandi hotel itu, ia sudah tidak bisa menangis lagi. Matanya kering. Perih. Seperti sumur yang sudah dikuras sampai ke dasar dan hanya menyisakan lumpur hitam.
Yang tersisa sekarang hanyalah kemarahan.
"Mbak, mau turun mana?"
Suara kondektur membuat Lusi tersentak. Ia menoleh. Laki-laki tua berkemeja cokelat itu berdiri di sampingnya, memegang karcis.
"Oh... Terminal Tawangmangu, Pak."
"Masih sekitar setengah jam lagi, Mbak. Itu nanti ada persimpangan, terus naik lagi. Udah deket."
"Makasih, Pak."
Setengah jam. Tiga puluh menit lagi ia akan bertemu dengan kakek buyutnya. Tiga puluh menit lagi ia akan menceritakan semuanya. Tiga puluh menit lagi ia harus mengakui pada lelaki tua itu bahwa ia cucu buyut seorang dukun sakti telah ditipu, diperkosa, dan direkam oleh empat laki-laki yang ia percayai.
Bagaimana caranya?
Bagaimana caranya menceritakan hal seperti ini?
Lusi menunduk. Jemarinya meremas ujung jilbabnya yang sudah kusut. Ia belum mandi selama dua hari. Ia belum makan. Ia hanya minum air putih seadanya. Tubuhnya bau. Napasnya bau. Tapi ia tidak peduli.
Yang ia pedulikan hanyalah satu hal: sampai di rumah Mbah Buyut.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥