Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Api di Balik Senyuman
Pukul 04:17 Apartemen Nabila, Nabila belum tidur, lampu meja menyala redup. Di depannya ada laptop, 2 flashdisk, dan foto Anggita yang sudutnya sudah lecek karena sering dipegang. Tangan Nabila gemetar saat mencolokkan flashdisk kedua dan isinya salinan bukti yang tadi malam mereka dapat dari bu Ratna yaitu rekaman suara, email, notulen rapat semua dengan cap "RAHASIA - BRAM TERIAZ".
Tok… Tok…
Pintu diketuk pelan, Nabila langsung mematikan laptop dan menyembunyikan flashdisk di bawah bantalnya.
"Siapa?" Tanya Nabila waspada
"Aku" Suara Galen dari luar begitu serak
"Boleh masuk?" Tanya Galen lagi
Nabila membuka pintu, Galen berdiri dengan jas putih dokter masih basah karena hujan dan tangannya ada kantong plastik berisi bubur ayam dan obat.
"Kamu belum tidur juga," kata Galen, masuk tanpa menunggu jawaban
"Makan dulu, kamu sangat pucat" Ujar Galen
Mereka duduk di lantai bersebelahan, tidak ada meja hanya koran bekas sebagai alas. Hening beberapa menit, hanya suara hujan di luar.
"Arvin curiga," Kata Galen membuka pembicaraan
"Tim keamanan dia muterin apartemenmu dari jam 2, bergantian" Lanjut Galen
Nabila mengaduk buburnya
"Berarti kita nggak punya banyak waktu" Jawab Nabila
"Kita punya 2 pilihan" Ujar Galen sambil menatap Nabila
"Pertama, lempar semua bukti ke media besar besok pagi. Sekali ledak tapi risikonya kita nggak akan sempat kabur. Kedua, main pelan, bikin mereka lengah dulu, cari sekutu di dalam, baru ledakin pas mereka nggak siap" Lanjut Galen semnetara Nabila menatap foto Anggita
"Kalau main pelan Anggita harus nunggu lebih lama, kalau main cepat, kita bisa mati sebelum kebenaran keluar" Kata Nabila lalu Galen menggenggam tangan Nabila, kali ini lebih erat dari sebelumnya.
"Kalau gitu kita pilih yang ketiga" Jawab Galen
"Apa?" Tanya Nabila penasaran
"Kita ledakin, tapi kita yang pegang pemicunya nanti kita kabur sebelum ledakannya sampai ke kita" Jawab Galen membuat Nabila tertawa kecil
"Kedengarannya bodoh" Ujar Nabila tidak yakin
"Tapi itu satu-satunya cara supaya kita masih hidup buat lihat mereka jatuh" Jawab Galen dengan matanya tajam
"Kamu masih berani?" Tanya Galen membuat Nabila mengangguk
"Demi Anggita, aku berani" Jawab Nabila teguh_
*****
Ke esokkan paginya …
Pukul 09:00 di kantor Teriaz Group hari ini suasananya lebih mencekam dari kemarin, Satpam 2 kali lipat, CCTV di tiap sudut, para Karyawan bisik-bisik. Nabila duduk di mejanya seperti biasa, mengetik, dan tersenyum kepada siapa pun yang lewat. Peran "sekretaris penurut" harus tetap jalan
Jam 10.15, interkom berbunyi.
… [Nabila Azzahra ke ruang direktur utama, sekarang juga]
Darahnya berhenti, ini lebih cepat dari dugaannya. Di lorong, dia berpapasan dengan Galen. Galen hanya mengedip sekali, Kode: Aku di sini
Pintu ruang Bram terbuka, di dalam hanya ada 3 orang: Bram, Arvin, dan Bu Ratna. Bu Ratna duduk dengan kepala tertunduk, tangannya diborgol di kursi membuat jantung Nabila copot.
"Nah, ini dia bintang tamunya," Kata Arvin sambil bersandar di meja.
"Silakan duduk, Nona Nabila" Ujar Arvin
"Apa yang terjadi, Pak?" Tanya Nabila, pura-pura bingung
Bram mengebrak meja karena kesal
"JANGAN BERMAIN DENGAN SAYA!" Sarkas Bram membuat Bu Ratna tersentak dan menangis
"Maafkan saya, Pak Bram... saya terpaksa... anak saya..." Ujar Bu Ratna merasa takut
"DIAM!" Bentak Bram
"Kamu dan perempuan ini bersekongkol, untuk mencuri data perusahaan, memfitnah keluarga kami" Kata Arvin berjalan memutari Nabila pelan
"Aku kasih kamu 1 kesempatan, siapa dalangnya? Galen? Atau ada orang lain? Sebut namanya. Dan aku janji, aku nggak akan sentuh kamu."Lanjut Arvin membuat Nabila menatap lantai.
Otaknya bekerja cepat…
“Kalau aku sebut Galen, dia habis. Kalau aku nggak sebut, aku yang habis” Batin Nabila Lalu dia mendongak menatap lurus ke mata Arvin.
"Saya tidak mengerti, Pak. Saya cuma karyawan baru. Saya bahkan tidak tahu di mana ruang arsip itu" Sangkal Nabila
Plak!
Tamparan Arvin mendarat di pipinya Nabila begitu keras, sampai Nabila jatuh dari kursi.
"NGGAK USAH BOHONG!" Sarkas Arvin
"Aku lihat matamu malam itu! Kamu pikir aku lupa wajah korban-korbanku?!" Lanjut Arvin
Galen yang menunggu di luar langsung mendobrak pintu.
"LEPASKAN DIA!" Teriak Galen
2 satpam langsung menahan Galen, Bram berdiri dengan wajahnya dingin
"Cukup, bawa mereka berdua ke ruang bawah. Kita ngobrollebih privat di sana." Ujar Bram
Ruang bawah tanah, tdak ada sinyal, tidak ada kamera hanya ada meja besi, lampu gantung, dan bau apek. Di ruang bawah Nabila dan Galen dipisahkan 2 meter, tangan mereka diborgol sedangkan Arvin duduk di depan mereka sambil menyilangkan kaki.
"Permainan selesai," Kata Arvin
"Sekarang kita ngobrol dari hati ke hati" Lanjut Arvin lalu melempar flashdisk ke meja
Itu adalah flashdisk Nabila
"Kami sudah lacak ini salinannya, pertanyaannya di mana aslinya? dan kepada siapa saja sudah kamu kirim?" Tanya Arvin, Nabila menutup mata
"Gak ada, saya sudah menghapusnya" Jawab Nabila, Arvin tertawa
"Bohong, bu Ratna sudah ngaku kalau kamu ketemu dia semalam" Ujar Arvin membuat Galen menunduk
"Lepaskan dia, ini urusan saya. Saya yang ngajak dia" Kata Galen
"Oh? Pahlawan?" Arvin mendekati Galen
"Kakak sepupu tersayang, yang sok suci, yang malu sama darahnya sendiri. Tahu nggak? Papa udah lama nunggu kamu salah langkah, biar bisa nyingkirin kamu dari warisan " Lanjut Arvin berbisik di telinga Galen
Tiba-tiba lampu berkedip 2kali
Alarm kebakaran berbunyi dari atas
WEEENG…
WEEENG…
Arvin mengerutkan dahi
"Apaan ini?" Tanya Arvin merasa bingung
Salah satu satpam masuk terburu-buru
"Pak! Ada kebakaran di server lantai 17, sprinkler nyala semua. Dan... dan semua data backup kami ke-corrupt!" Ujarnya membuat wajah Bram dan Arvin berubah panik.
"SIAPA YANG LAKUIN?!" Bentak Bram
Tidak ada yang jawab, Nabila menunduk di balik lengan bajunya, ada tombol kecil. Tombol yang Galen selipkan ke tangannya semalam, tombol untuk mengaktifkan virus yang mereka tanam diam-diam di sistem seminggu lalu. Virus yang akan menghapus + menyebar semua bukti ke 10 media besar setelah 5 menit setelah diaktifkan, Galen menatap Nabila. Dia tahu,Arvin menyadari tatapan itu. Dia menoleh ke Nabila.
"KAMU?!" Nabila tersenyum, untuk pertama kalinya sejak masuk kantor ini, senyumnya tulus.
"Selamat datang di neraka, Pak Arvin" Ucap Nabila
Pukul 09:27 10 portal berita besar di Indonesia serentak memuat berita
"BREAKING: SKANDAL TRILIUNAN TERIAZ GROUP TERBONGKAR. DANA SOSIAL, PROYEK FIKTIF, PEMBUNGKAMAN KORBAN."
Dilampiri: dokumen, rekaman, dan nama-nama.Di TV, HP karyawan, bahkan di layar gedung Teriaz sendiri.
Bram memecahkan vas,. Arvin menghantam dinding sampai tangannya berdarah.
"KELUARIN MEREKA! CARI TAU SIAPA YANG NYEBARIN!" Teriak Bram tapi sudah terlambat.
Di luar gedung, wartawan sudah berdatangan bersama polisi juga. Galen dan Nabila digiring keluar lewat pintu belakang oleh 2 satpam yang ternyata orang bayaran Galen.
"Rencana B" bisik Galen sambil membuka borgol Nabila dengan kunci kecil.
"Ayo lari" Ajak Galen, mereka berlari di tengah hujan
Sirine
Teriakan
Di belakang, Arvin berdiri di jendela lantai 50 basah kuyup. Menatap mereka nan untuk pertama kalinya, Arvin berteriak bukan karena marah tapi karena takut.
"KALIAN NGGAK AKAN LEPAS!!" Teriak Arvin
Mereka berhenti di jembatan sambil terengah, hujan deras mengguyur mereka tetapi Nabila tertawa lalu menangis.
"Kita... kita berhasil?" Tanya Nabila membuat Galen menarik Nabila ke dalam pelukannya erat
"Belum, tapi ini awalnya" Jawab Galen
Di kejauhan, gedung Teriaz Group dikelilingi lampu kamera dan polisi dan di dalam pelukan itu, Nabila berbisik:
"Galen... makasih udah milih jadi orang baik" Ucap Nabila membuat Galen mengusap kepalanya
"Dan makasih udah ngajarin aku berani" Lanjut Nabila
*****
Pukul 09:35, di dalam mobil hitam yang melaju kencang. Hujan masih deras dan wiper bekerja mati-matian. Nabila duduk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri karena ubuhnya masih gemetar dan bekas tamparan di pipinya memerah. Galen meliriknya dari kemudi.
"Sakit?" Tanya Galen, Nabila menggeleng
"Nggak. Sakitnya udah biasa" Jawab Nabila sambil tersenyum pahit
"Yang sakit itu liat mata Arvin tadi, dia bener-bener mau ngebunuh kita" Lanjut Nabila memuat Galen mengepal setir.
"Dia nggak akan nyentuh kamu lagi, aku janji" Ucap Galen
Hening, hanya suara hujan dan radio yang memberitakan:
"...Kami ulangi, saham Teriaz Group anjlok 40% dalam 15 menit setelah skandal korupsi dan pelecehan terbongkar. Pihak kepolisian sudah melakukan penyitaan aset..."Nabila menutup mata merasa lega, marah, takut, semua campur jadi satu.
"Galen... kalau mereka nemuin kita gimana?" Tanya Nabila merasa takut
"Kita punya tempat aman" Jawab Galen
"Rumah lama almarhumah ibuku di Puncak nggak ada yang tau, nggak ada CCTV, nggak ada nama kita di sana." Lanjut Galen membuat Nabila mengangguk.
Tapi sebelum dia bisa rileks, ponsel Galen berdering. Nomor tidak dikenal. Dia pasang speaker terdengar suara Arvin dingin serak karena marah.
"Kakak main cantik ya? Nyebar berita, terus kabur?" Tanya Arvin berapi-api, Galen diam
"Gini, aku kasih waktu 24 jam untuk serahin flashdisk asli, serahin Bu Ratna, dan berlutut minta maaf di depan media. Kalau nggak …” Lanjut Arvin
“Kalau nggak apa?" Potong Galen, suaranya datar
"Kalau nggak... aku punya video Anggita, video malam itu versi full dan aku akan sebar ke semua grup WA, ke sekolah, ke RT-nya. Biar satu Indonesia tau dia 'goda' aku dulu" Jawab Arvin
DUARRRR …
Dunia Nabila runtuh lagi
"TIDAK!!" Teriak Nabila merebut ponsel Galen
"KAU BAJINGAN! KAU ANCAM KORBAN?!" Lanjut Nabila membuat Arvin tertawa di seberang
"Lihat? Emosi. Berarti bener kamu temennya. 24 jam, Nabila atau aku hancurin nama baik sahabatmu sampai ke kubur" Ancam Arvin
TUT, Telepon mati membuat Nabila lemas dan air matanya jatuh
"Dia... dia gila. Dia bener-bener gila..." Ucap Nabila serak karena menangis
Galen menepikan mobil, dia memeluk Nabila erat.
"Dengarkan aku, dia menggertak karena dia nggak punya videonya. Kalau punya, udah dia sebar dari setahun lalu. Dia cuma mau bikin kamu takut" Ujar Galen
"Tapi kalau dia punya ?" Tanya Nabila
"Tidak mungkin karena kita lebih cepat dari dia, Kita serang duluan " Jawab Galen meyakinkan
Pukul 12:00 Rumah tua di Puncak, rumah kayu 2 lantai dengan halaman luas. Nabila duduk di teras sambil diselimuti selimut. Galen masuk bawa teh hangat.
"Minum, biar tubuh kamu anget" Kata Galen pelan, Nabila menerima karena tangannya masih dingin
"Rencananya apa sekarang?" Tanyanya Galen yang duduk di sebelahnya
"Kita punya 2 senjata sekarang, pertama bukti, yang Kedua opini publik. Orang udah marah dan kita manfaatin itu" Tambah Galen
"Caranya?" Tanya Nabila belum mengerti
"Kita siaran langsung malam ini dan kamu yang bicara, menceritakan tentang Anggita. Tentang apa yang kalian alami tanpa sensor, biar seluruh Indonesia denger langsung dari korban" Jawab Galen tapi Nabila menggeleng cepat
"Aku? Aku nggak bisa, Galen. Aku takut. Aku... aku bukan siapa-siapa" Tolak Nabila merasa takut
Galen menggenggam kedua tangannya
"Kamu Nabila Azzahra, kamu yang berani masuk sarang singa sendirian, kamu yang berani ngelawan orang paling berkuasa di negeri ini. Kamu bukan 'nggak siapa-siapa', tapi kamu segalanya buat Anggita." Ujar Galen memberikan semangat
Nabila menatap mata Galen di sana ada kepercayaan, ada rasa bangga, ada sesuatu yang lain yang bikin dadanya hangat.
"Kalau... kalau aku gagal?" Tanya Nabila merasa pesimis
"Gagal itu kalau kamu diem terus" kata Galen
"Kalau kamu bicara, kamu udah menang” Lanjut Galen
*****
Pukul 20:00. Siaran Langsung Instagram + YouTube + TikTok dengan judul: "SUARA UNTUK ANGGITA"
Penonton: 2 menit pertama \= 50 ribu, 5 menit \= 1 juta, 10 menit \= 5 juta. Nabila duduk di depan kamera, wajahnya tanpa make up, mata bengkak tapi punggungnya tegak. Di sampingnya Galen, sebagai saksi plus dokter yang mendampingi korban.
"Selamat malam" Suara Nabila bergetar di awal
"Nama saya Nabila. 6 bulan lalu, sahabat saya... Anggita... diperkosa oleh Arvin Teriaz."
Chat meledak, komentar banjir.Nabila bercerita dari awal Anggita jualan kue. Dari bagaimana Arvin mempermainkan, bagaimana Bram menutup kasus dengan uang, bagaimana polisi menolak laporan. Nabila nangis, tapi dia nggak berhenti. Nabila angkat foto Anggita.
"Ini dia, dia bukan pelakor. Dia bukan pembohong, dia gadis 19 tahun yang cuma mau hidup tenang" Ucap Nabila
Lalu Galen bicara sambil menunjukkan bukti medis, menunjukkan email internal, menunjukkan rekaman suara Bram yang nyuruh "selesaikan".Puncaknya, Nabila mengeluarkan flashdisk.
"Di sini semua buktinya dan saya akan serahkan ke KPK dan Komnas Perempuan jam 8 pagi besok. Dan saya tantang Arvin Teriaz dan Bram Teriaz, hadapi kami di pengadilan bukan di ruang bawah tanah." Ucap Nabila
Siaran berakhir. 20 juta penonton
*****
Pukul 20:30 Kantor Teriaz Group TV di semua ruangan menyiarkan ulang potongan siaran Nabila, para aryawan menonton dengan mulut terbuka Arvin melempar remote membuat layar pecah.
"MATIKAN!! MATIKAN SEMUA!!" Teriaknya.Bram duduk
"Kita kalah di opini publik" Kata Bram pelan.
"Besok KPK datang, polisi datang, kita nggak bisa tutup ini lagi" Ujar Arvin yang mendekat ke jendela.
Melihat ke bawah. Ke arah kerumunan wartawan dan masa yang mulai berkumpul bawa lilin dan poster #KeadilanUntukAnggita#
"Kita belum kalah" Desis Arvin dan matanya merah.
"Selama dia masih hidup... permainan belum selesai" Lanjut Arvin lalu dia menelpon seseorang.
"Pak, saya mau tim terbaik. Tim yang nggak meninggalkan jejak. Cari Nabila Azzahra. Dan Galen Teriaz, hidup atau mati” Titahnya kepada seseorang yang ada di sebrang telpon
*****
Pukul 23:00. Rumah Puncak.Nabila tertidur di sofa, kepalanya di pangkuan Galen. Akhirnya bisa tidur setelah 2 hari.Galen mengusap rambutnya pelan, di TV, berita masih muter:
"Massa menuntut penangkapan Arvin Teriaz. Tagar #PenjarakanArvin trending nomor 1 dunia..."
Tiba-tiba...
Krek.
Suara genteng di atap, Galen langsung terjaga. Dia mematikan lampu, mengambil pisau dapur.
Naluri dokternya bilang: ini bukan tikus, lalu dia membangunkan Nabila pelan. Sambil menutup mulutnya.
"Ssst. ada orang" Bisik Galen
Dari jendela, 3 bayangan bergerak. Bawa senter dengan red filter. Bawa senjata.Tim Arvin sudah sampai lebih cepat dari perkiraan.Galen berbisik di telinga Nabila.
"Rencana C, lari lewat pintu belakang. Ke hutan, aku yang tahan mereka" Ujar Galen membuat Nabila menggeleng, matanya berkaca-kaca.
"Jangan tinggalin aku" Ucap Nabila, Galen tersenyum lalu mencium keningnya cepat.
"Aku nggak akan ninggalin kamu, aku janji." Jawab Galen
Pintu depan didobrak.
"POLISI! TANGAN DIATAS!" Teriak salah satu orang tapi itu bukan polisi, itu suara Arvin dari luar, lewat pengeras suara.
"Nabila! Keluar! Ini kesempatan terakhirmu!"Galen menarik Nabila.
Mereka lari ke belakang melewati dapur, melewati kebun. Di belakang, suara tembakan peringatan.
DOR !
DOR !
DOR !
Nabila dan Galen lari ke dalam gelapnya hutan Puncak, hanya bermodalkan senter kecil dan satu sama lain. Di kejauhan, Arvin berdiri di depan rumah yang terbakar, tersenyum.
"Lari terus, Nabila. Aku suka lihat mangsa yang lari" Ucap Arvin sambiltersenyum mengerikan