NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat menembus jendela-jendela besar rumah keluarga Pratama. Rumah megah itu kembali terlihat tenang, seolah tidak pernah terjadi keributan besar pada malam sebelumnya. Para pelayan sudah sibuk menjalankan tugas masing-masing, menyiapkan sarapan dan merapikan ruang keluarga.

Di ruang makan, Bu Ratna telah duduk di kursi utamanya sambil menikmati secangkir kopi. Di sampingnya, Vina membantu menuangkan teh dengan sikap manis seperti biasa. Tak lama kemudian, Dimas turun dari lantai atas dengan setelan jas yang rapi. Meski wajahnya tampak tenang, sorot matanya masih menyimpan amarah.

"Selamat pagi, Mas," sapa Vina lembut.

Dimas hanya mengangguk singkat sebelum duduk.

Bu Ratna memperhatikan putranya sesaat.

"Kamu jadi ke kantor lebih pagi?"

"Iya."

"Ada rapat dengan beberapa investor."

Bu Ratna menghela napas pelan. Ia tahu rapat itu pasti berkaitan dengan kejadian semalam.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Karin turun dengan penampilan sederhana tetapi anggun. Ia mengenakan blouse putih dipadukan celana panjang krem. Rambutnya dibiarkan terurai rapi, sementara wajahnya tampak segar.

"Selamat pagi."

Sapaan itu hanya dibalas keheningan. Karin sama sekali tidak merasa canggung. Ia menarik kursi dan duduk seperti biasa.

Bi Darmi segera datang membawakan sarapan.

"Silakan, Nyonya."

"Terima kasih, Bi."

Suasana kembali hening. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar.

Setelah Dimas menghabiskan sarapannya. Ia berdiri sambil merapikan jas yang dikenakannya.

"Aku berangkat."

Bu Ratna mengangguk.

"Hati-hati."

Dimas melirik sekilas ke arah Karin yang masih menikmati sarapannya. Perempuan itu sama sekali tidak mengangkat kepala.

Tanpa sepatah kata lagi, Dimas melangkah keluar rumah. Dari balik jendela, Vina melihat Arga segera membuka pintu mobil untuk Dimas.

"Silakan, Tuan."

Dimas masuk ke dalam mobil tanpa menoleh. Beberapa saat kemudian, mobil itu meninggalkan halaman rumah.

Di ruang makan, Karin meletakkan sendok dan garpunya.

"Bi Darmi, terima kasih. Sarapannya enak."

Bi Darmi tersenyum.

"Sama-sama, Nyonya."

Karin berdiri, lalu berjalan menuju teras depan.

Arga baru saja kembali setelah mengantar Dimas ke kantor. Begitu melihat Karin, ia segera menghentikan langkahnya.

"Nyonya." sapanya.

"Arga, siapkan mobil."

"Baik, Nyonya. Anda mau ke mana, Nyonya?"

Karin berpikir sejenak.

"Aku ingin keluar sebentar."

"Baik."

Tanpa bertanya lebih jauh, Arga segera menuju garasi untuk menyiapkan mobil.

Semua percakapan itu terdengar jelas oleh Vina yang berdiri di balik tirai ruang tamu.

Ia segera menghampiri Bu Ratna yang sedang duduk di sofa.

"Bu... menurut Ibu, kenapa semalam banyak orang langsung percaya pada ucapan Karin?"

Bu Ratna mendengus pelan.

"Karena dia berhasil menguasai keadaan."

Vina menggeleng.

"Bukan. Tapi karena mereka baru melihat Karin seperti itu untuk pertama kalinya. Mereka belum mengenalnya."

Bu Ratna mulai memperhatikan.

"Apa maksudmu?"

Vina tersenyum tipis.

"Kalau mulai hari ini kita membuat semua orang melihat Karin sering marah, sering membantah, sering bertindak di luar kebiasaannya... Lama-kelamaan mereka akan menganggap Karin sedang mengalami tekanan mental."

Bu Ratna perlahan mengangguk.

"Jadi, apa pun yang nanti dilakukan Karin...orang akan menganggapnya berlebihan."

"Benar juga." kata Bu Ratna

"Dan setelah semua orang percaya pikirannya sedang tidak stabil..." Vina berhenti sejenak. Barulah ia melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "...baru kita jalankan rencana kedua."

Tatapan Bu Ratna berubah tajam.

"Sopir itu."

Vina mengangguk mantap.

"Kalau seorang wanita yang dianggap emosinya tidak stabil sering terlihat bersama laki-laki lain...orang akan lebih mudah percaya kalau dia berselingkuh."

Bu Ratna tersenyum puas.

"Kamu benar. Kita hancurkan dulu kewarasannya di mata orang. Baru setelah itu... kita hancurkan kehormatannya."

Vina menatap ke luar jendela.

"Mas Dimas pasti akan puas."

Tak lama kemudian, Bi Darmi datang membawa nampan berisi buah.

"Nyonya Besar, silakan."

Bu Ratna mengangguk.

"Letakkan saja."

Bi Darmi baru hendak pergi ketika Bu Ratna tiba-tiba memanggilnya.

"Bi Darmi."

"Iya, Nyonya Besar?"

Bu Ratna menghela napas panjang, sengaja mengeraskan sedikit suaranya agar dua pelayan lain yang sedang membersihkan ruang tamu ikut mendengar.

"Akhir-akhir ini Nyonya Karin memang sedikit berubah."

Bi Darmi tampak bingung.

"Berubah bagaimana, Nyonya Besar?"

"Entahlah. Kadang emosinya naik turun. Semalam saja dia sampai membuat keributan di acara amal."

Vina pura-pura menimpali.

"Mungkin Nyonya Karin sedang banyak tekanan."

Bu Ratna mengangguk pelan.

"Kasihan sebenarnya. Kalau nanti dia mudah marah atau berbicara aneh, kalian jangan membantah. Cukup mengalah saja."

Bi Darmi tampak ragu.

"Tapi... setahu saya Nyonya Karin baik-baik saja."

Bu Ratna tersenyum tipis.

"Kamu belum melihat semuanya. Pokoknya ingat saja pesan saya."

Bi Darmi mengangguk pelan.

"Baik, Nyonya Besar."

Setelah para pelayan pergi, Vina tersenyum puas.

"Bu, mereka mulai mendengarnya."

Bu Ratna mengangguk.

"Besok atau lusa, gosip itu pasti mulai menyebar di antara para pelayan."

"Dan dari pelayan... gosip akan keluar ke mana-mana." Vina tersenyum puas. "Ini baru langkah pertama."

Sementara itu, di butik, Karin selesai memilih beberapa pakaian baru.

Saat hendak membayar, pemilik butik tersenyum ramah.

"Nyonya Karin, saya dengar semalam Anda menjadi topik hangat di Gala Charity Night."

Karin tersenyum tenang.

"Berita memang cepat menyebar."

Pemilik butik mengangguk.

"Tapi banyak orang justru memuji keberanian Anda."

Karin hanya membalas dengan senyum tipis.

Di luar butik, Arga tetap berdiri di samping mobil sambil menunggu Karin keluar.

Beberapa menit kemudian, pintu kaca butik terbuka. Karin melangkah keluar sambil membawa sebuah tas belanja.

Tepat saat ia menuruni anak tangga terakhir, ujung hak sepatunya tersangkut di sela lantai granit.

"Akh..."

Tubuh Karin sedikit kehilangan keseimbangan.

Dengan sigap Arga berlari menghampiri.

"Hati-hati, Nyonya!"

Refleks, Arga meraih pinggang Karin agar tidak terjatuh. Jarak keduanya menjadi sangat dekat.

Tas belanja di tangan Karin hampir terlepas. Arga dengan cepat mengambilnya.

"Maaf, Nyonya. Apa Anda terluka?"

Karin menggeleng pelan sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Tidak apa-apa. Terima kasih."

"Silahkan masuk ke mobil."

Karin mengangguk.

"Baik."

Arga berjalan di samping Karin sambil membawa tas belanja, memastikan langkah majikannya sudah kembali stabil.

Namun, tanpa mereka sadari. Dari seberang jalan, seorang pria yang mengenakan topi hitam terus mengarahkan kamera ponselnya.

Klik!

Foto pertama memperlihatkan Arga memegang pinggang Karin.

Klik!

Foto kedua diambil dari sudut yang berbeda, saat wajah mereka tampak saling berdekatan karena Arga sedang memastikan keadaan Karin.

Klik!

Foto ketiga memperlihatkan Arga membukakan pintu mobil, sementara Karin menatapnya sambil tersenyum sebagai ungkapan terima kasih.

Pria itu menurunkan ponselnya dengan senyum puas.

"Dari sudut yang tepat... siapa pun akan mengira mereka pasangan."

Ia segera mengirim ketiga foto itu kepada seseorang. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari Vina.

"Bagus. Jangan berhenti. Ikuti mereka sampai pulang."

Pria itu tersenyum tipis.

"Keberuntungan memang berpihak padaku."

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!