NovelToon NovelToon
DOKTER CINTA

DOKTER CINTA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Dokter / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ind_Chris

Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.

Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.

Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.

Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Belas

Lia masih pada posisinya ketika dokter Adi masuk ke kamarnya, tampaknya ia masih larut dalam lamunannya sehingga tidak menyadari kehadiran dokter Adi. Matanya terus terfokus pada pemandangan yang ada di balik jendela. Udara di kamar itu terasa sangat dingin, bahkan dokter Adi yang memakai jas kerjanya saja merasakan kedinginan, apalagi Lia yang hanya menggunakan pakaian pasien.

Dokter Adi mengambil selimut yang ada di ranjang Lia, menyibakkannya dan menyelimuti tubuh Lia. Lia tersentak dan tersadar dari lamunannya. Matanya beralih pada wajah dokter Adi yang berada dekat dengan wajahnya.

"Udaranya sangat dingin!" bisik dokter Adi. Lia tidak merespon, ia hanya terus menatap wajah dokter Adi tanpa bersuara sedikitpun. Dokter Adi membalas tatapan Lia itu, sesaat mereka hanya saling memandang.

"Malam itu jauh lebih dingin dari ini." ucap Lia pelan. Suaranya terdengar sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar. Dokter Adi terpaku. Lia memalingkan pandangannya kembali ke pemandangan yang ada di balik jendela.

"Tidak berpakaian di cuaca seperti itu rasanya seperti akan membeku. Aku bisa merasakan udara malam itu menerobos sampai ke tulang-tulangku." ungkap Lia. Wajahnya menunjukkan ekspresi dingin, ia tampak sangat tenang, bahkan air matanya pun tidak ada tanda-tanda akan mengalir, padahal ia sedang menceritakan apa yang melukainya. Dokter Adi memperhatikan Lia dengan seksama dan kemudian ia duduk berlutut di samping Lia.

...

Suster Indah dan suster Tia berkeliling untuk memeriksa keadaan pasien malam ini. Tiba-tiba langkah mereka terhenti di kamar nomor 208. Mereka terpaku dengan apa yang mereka lihat, mereka tampak tajub dengan apa yang terjadi di hadapan mereka.

"Akhirnya kita bisa tahu kenapa dia bisa mendapat julukan 'Dokter Cinta'!" ucap suster Tia. Suster Indah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda kalau ia menyetujui pernyataan suster Tia.

"Aku saja belum pernah diperlakukan seperti itu dengan pacarku." tukas suster Tia.

"Dia memang pria idaman!" puji suster Indah. Tampak di hadapan mereka dokter Adi berlutut di samping Lia, mata mereka saling bertukar pandang, dan jemari mereka bersatu dalam sebuah genggaman.

"Tiaaa.. aku ingin punya pacar!!" rengek suster Indah.

"Tuh pak Rama jomblo, Ndah!" canda suster Tia. Mendengar candaan suster Tia, suster Indah kontan memukuli lengan suster Tia. Mereka melanjutkan tugas memeriksa kamar pasien yang mereka lakukan tadi.

"Harusnya Rina menyaksikan semua ini ya! Dia kan yang bekerja keras merawat Lia selama ini." tukas suster Indah.

"Iya benar!" ucap suster Tia.

"Tapi... kalau melihat kejadian tadi, apa dokter Adi tidak pernah benar-benar terbawa perasaan dengan pasiennya ya?" tanya suster Tia.

"Ga mungkinlah dia terbawa perasaan, kan pasiennya orang sakit mental semua!" tukas suster Indah.

"Tapi kalau orang sakit mentalnya secantik Lia bisa saja dokter Adi terbawa perasaan!" seru suster Tia.

"Walau cantik tapi kita semua tahu kalau Lia itu korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh beberapa orang, apa mau dokter Adi jatuh cinta pada 'bekas' orang banyak?!" ungkap suster Indah.

"Iya juga sih!"

"Lebih baik kan dokter sebaik dokter Adi itu bersamaku!" seru suster Indah.

"Huuu... ngarep!!" protes suster Tia.

...

Dokter Adi duduk berlutut di samping Lia, ia menatap wajah Lia dengan seksama, memperhatikan bentuk matanya, lengkuk hidungnya, dan belahan bibirnya, matanya menjelajah setiap inch wajah Lia. Sekali lagi, jantungnya berdetak lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya.

Perlahan tangannya bergerak dan menyentuh jemari Lia dengan lembut. Lia tersentak begitu merasakan sentuhan lembut di jari-jarinya, ia menoleh ke arah dokter Adi yang tampak bersimpuh di sampingnya. Mata mereka saling bertemu dan sesaat mereka saling memandang lagi tanpa suara.

Dokter Adi menyusupkan tangannya di bawah tangan Lia dan setiap jarinya masuk di sela antara jari-jari Lia. Ia bisa merasakan betapa lembutnya kulit tangan Lia. Dokter Adi menggenggam tangan Lia dengan hangat. Lia terpaku melihat apa yang dokter Adi lakukan padanya.

"Ketika kamu merasa ingin tertawa, tertawalah! Begitu juga kalau kamu merasa tertekan dan ingin menangis, berteriak dan menangislah! Aku ada di sini untukmu." ucap dokter Adi dengan suara berbisik. Perlahan sebulir air mata Lia mengalir keluar dari matanya dan menetes tepat di tangannya yang berada dalam genggaman dokter Adi. Mata mereka masih terus saling memandang satu sama lain.

...

Lia merebahkan tubuhnya di ranjang, sementara itu dokter Adi menutup jendela kamarnya dan setelahnya ia menggeret kursi yang tadi diduduki oleh Lia mendekati ranjang Lia. Lia memiringkan tubuhnya menghadap dokter Adi. Dokter Adi merapikan selimut yang menutupi tubuh Lia.

"Kamu akan terus di sini?" tanya Lia pelan.

"Kamu mau aku meninggalkanmu sekarang?" ucap dokter Adi balik bertanya. Lia terdiam.

"Kalau kamu tidak nyaman ada aku di sini, aku akan keluar." tukas dokter Adi. Lia menatapnya.

"Apa kamu akan tidur di kursi itu lagi?" tanya Lia.

"Apa kamu mau aku tidur di ranjangmu?" canda dokter Adi. Lia mengerutkan keningnya dan mengeluarkan tatapan tajamnya membuat dokter Adi terbahak-bahak.

"Di ruanganku pun aku akan tidur di kursi." terang dokter Adi.

"Tapi kalau kamu tidak nyaman, aku akan kembali ke ruanganku." lanjutnya. Lia kembali menatap wajah dokter Adi dengan seksama.

"Sebenarnya aku takut sendirian." ucap Lia pelan.

"Kalau begitu aku akan menemanimu di sini!" seru dokter Adi sambil duduk di kursi kayu yang ada di samping ranjang itu.

Dokter Adi tersenyum manis pada Lia, tapi Lia malah membalikkan tubuhnya membelakangi dokter Adi.

"Hei!" protes dokter Adi.

"Aku masih membenci orang yang tersenyum!" ucap Lia. Dokter Adi menghela nafas panjang.

"Dok!" panggil Lia pelan.

"Hmm." sahut dokter Adi. Lia terdiam sejenak.

"Kenapa kamu bersikeras mau menyembuhkanku?" tanya Lia.

"Karena aku di bayar untuk itu!" jawab dokter Adi. Lia terdiam, ia menutupi sebagian wajahnya dengan selimut. Suasana di ruangan itu menjadi sangat hening.

"Sama sepertimu, akupun punya luka yang belum bisa aku lupakan sampai saat ini." ucap dokter Adi pelan. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menyilangkan kedua tangannya di dada, pandangan matanya lurus menatap rambut panjang Lia yang berwarna hitam pekat.

"Sampai saat ini aku masih terjebak dengan luka itu. Aku tidak mampu melangkah maju untuk masa depanku. Aku tahu rasanya terjebak dengan sesuatu yang tidak kita inginkan." tambahnya.

"Makanya aku ingin menyemangati setiap orang yang memiliki luka, agar mereka bisa melangkah maju. Tidak sepertiku!" lanjutnya dokter Adi.

"Bertemu denganmu, aku merasa seperti takdir. Kisah kita hampir sama tapi berbeda posisi." Dokter Adi menghela nafas panjang.

"Ayo kita berjuang bersama, Lia!" ajak dokter Adi.

"Kamu akan jadi pasien terakhirku sebelum aku melangkah untuk masa depan. Jadi setelah ini, ayo kita melangkah untuk masa depan kita masing-masing!"

...

1
IndChris
Luar biasa
arfan
up
Par Tini
autornya jahat kalau karakter Rina jahat kenapa di awal dia seolah wanita baik menyatukan pasangan kekasih bisa kok dgn cara baik2 tanpa ada unsur kejahatan Adi dan Lia bisa bersatu dan Rina bisa menerima dgn ikhlas,,, walaupun Rina jahat dia tetap seorang ibu yg baik utk anaknya dan q selalu menangis 😭 bila ada scene ibu dan anak itu
Par Tini
setiap membaca kisah suster Rina q tdk bisa membendung air mataku walaupun byk pembaca yg kasian dgn kisah Lia tp q salut dgn perjuangan suster Rina yg bisa berlapang dada menerima dan membesarkan anaknya sampai detik inipun Dina blm tau gimana awal dia sampai lahir ke dunia dan teman2 pasti tdk tau Rina korban pelecehan sampai menghasilkan anak,, untuk dr Adi apa yg di katakan ibumu benar adanya jgn menikahi Rina KL sdh tdk cinta jgn Krn mau menepati janji yg PD akhirnya menyakiti kalian berdua terutama Rina ..
Par Tini
sampai sini saya lebih tertarik dgn kisah suster Rina bagaimana dia melalui hidupnya membesarkan anak dari perkosaan itu tapi sayang dialog Rina sama anaknya seuprit
Lila
Sampai part ini…. Banyak hikmah yg bisa diambil.

Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
Salwa Aqila
udah mending meninggal ajh PK dokter ...
benci dokter Adi 😡
IndChris: waduh.. pemeran utamanya yg di benci.. 😅
total 1 replies
Salwa Aqila
benci sama dokter Adi ... 😡😡😡
Alfan Salim
sama" diperkosa sampek bingung mna yg pacarnya adi
lovetoon
wedding organizer kayaknya kerjanya lia
Queensha
akuu sukaa... bagus thor karya nya.. berdeda dg yg lain... ayo thor semangat utk nulis cerita selanjutnya...
lady El
itu alasan kenapa Lia jadi pasien spesial untuk suster rina karena dia juga pernah mengalami nya
Risna Wati
suka banget ceritanya.💖💖💖💖💖💖
IndChris: Terima kasih sudah suka karya ini..
total 1 replies
Risna Wati
💕💕💕💕💕
Aisyah Siregar
👍👍👍👍
Kim Yoona
sukaaaaaa...
Kim Yoona
aq suka karya mu thor beda dari novel kebanyakan.. semangat... trus berkaryaa💪💪
Kim Yoona: siap kak tapi nanti tak tabung dulu... nunggu agak banyak biar tdk terlalu lelah menunggu ... suka galau
total 2 replies
Kim Yoona
akhirnya bisa ketawa lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kim Yoona
apakah seperti ini korban pelecehan seksual... bknkah dia pernah merasakan diposisi disiksa orang lain.. knpa dia bisa setega itu
Kim Yoona
lia lbh bijak dlm menghadapi segala hal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!