Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
💔
💔
💔
💔
💔
Waktu pun berjalan dengan cepat, Livia pun selesai mengajar anak-anak didiknya. Semua anak-anak berlarian keluar, Gibran langsung merentangkan kedua tangannya dan Gilsya pun memeluk Papinya itu.
"Bagaimana kakinya, apa masih sakit?" tanya Gibran.
"Tidak, sudah sembuh karena tadi Bu Livia sudah mengobatinya."
"Syukurlah, ayo kita pulang!"
"Papi, oleh-oleh buat Bu Livia mana?"
"Ada di mobil."
"Ayo Bu, Papi Gilsya belikan oleh-oleh buat Bu Livia."
Livia hanya tersenyum canggung, sungguh Livia merasa tidak enak. Livia bukan siapa-siapanya Gibran tapi saat ini Livia dapat oleh-oleh dari Gibran.
Akhirnya dengan terpaksa Livia pun mengikuti langkah Anak dan Bapak itu, Gibran mengambil paper bag dari dalam mobilnya dan memberikannya kepada Livia.
"Ini, kalau tidak suka boleh dibuang," seru Gibran dingin.
"Terima kasih, Tuan."
"Jangan panggil aku Tuan, aku bukan atasan kamu."
"Bu Livia, Gilsya pulang dulu ya."
"Iya Sayang."
Livia pun melambaikan tangannya dan mobil Gibran pun mulai melaju meninggalkan sekolah. Livia melihat isi paper bag itu dan ternyata isinya sebuah sepatu heels warna pink sangat cantik membuat Livia tersenyum.
"Bagus sekali sepatunya," batin Livia.
Sementara itu dari kejauhan, Damar terlihat mengepalkan tangannya.
"Tunggu sayang, Papa mau kesana dulu."
"Jangan lama, Pa."
Damar pun kemudian menghampiri Livia dan menarik lengan Livia dengan kasarnya.
"Ada hubungan apa kamu dengan Pak Gibran?"
"Maksud kamu apa?"
"Jangan pura-pura, dari tadi aku lihat kamu dengan Pak Gibran dan dia memberikan itu kepadamu. Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Pak Gibran?" tanya Damar dengan kesalnya.
Livia menghempaskan tangan Damar. "Apa urusannya sama kamu? aku mau ada hubungan apa pun dan dengan siapa pun itu bukan urusan kamu."
"Ya jelaslah urusanku, karena aku ini masih sangat mencintaimu dan aku ingin kita rujuk kembali. Aku tidak rela melihat kamu dekat dengan pria mana pun karena kamu hanya milikku dan akan menjadi milikku untuk selamanya."
"Dasar gila."
Livia segera menghentikan taksi dan masuk ke dalam taksi, Damar sangat kesal dan emosi dia benar-benar tidak rela kalau Livia dekat dengan pria lain.
Damar pun segera masuk ke dalam mobilnya, dia berniat mengikuti taksi yang ditumpangi Livia karena Damar ingin tahu dimana Livia tinggal.
Livia tidak tahu kalau Damar mengikutinya, hingga akhirnya taksi yang dia tumpangi pun berhenti di depan kontrakannya. Livia segera turun dan masuk ke dalam kontrakannya, sedangkan dari kejauhan Damar terlihat tersenyum.
"Jadi kamu tinggal disini," batin Damar.
Setelah tahu dimana Livia tinggal, Damar pun segera memutar arah dan pergi meninggalkan kontrakan Livia karena Demir sudah tertidur di dalam mobilnya.
Livia segera masuk ke dalam kamar mandi, tubuh dan otaknya terasa sangat panas setelah bertemu dengan mantan suami yang dulu sudah mengkhianatinya.
Beberapa saat kemudian, Livia pun selesai dan sudah berganti baju juga. Pandangan Livia tertuju kepada paper bag yang berada di atas meja itu, lalu Livia pun mengeluarkan heels itu dan mencobanya dan ternyata sangat pas di kakinya.
"Ya ampun, kok dia bisa tahu ukuran kaki aku? ini pasti harganya mahal, tadi dia bilang kalau ga suka buang saja, enak saja masa sepatu bagus dan mahal seperti ini harus dibuang sih dasar orang kaya selalu menganggap sepele dalam hal apa pun," gumam Livia.
***
Monica saat ini baru saja sampai di rumahnya, wajahnya cemberut. Dia tidak menyangka kalau Gibran akan pulang duluan dan meninggalkannya.
"Monica, sini kamu!" sentak Papa Anjas.
Monica sudah dangat pucat, sudah dipastikan kalau Gibran sudah bicara kepada Papanya.
"Tuan Gibran menghubungi Papa dan dia membatalkan kerjasama proyek kita yang di semarang, apa yang sudah kamu lakukan sampai-sampai Tuan Gibran semarah itu?" bentak Papa Anjas.
"Maafkan Monic, Pa."
"Pokoknya Papa tidak mau tahu, kamu harus minta maaf kepada Tuan Gibran karena Papa tidak mau sampai kerjasama ini batal. Kamu tahu tidak, Tuan Gibran itu relasinya hebat-hebat bahkan ketiga sahabat Tuan Gibran yang terkenal empat serangkai itu semuanya orang hebat. Papa sudah sangat menantikan kerjasama ini sejak lama, dan sekarang setelah kerjasama itu terjalin tiba-tiba kamu menghancurkan semuanya, dimana otak kamu Monica!" bentak Papa Anjas.
Monica menundukan kepalanya, dia sangat takut dengan kemarahan Papa angkatnya itu.
"Besok kamu ikut Papa ke perusahaannya, pokoknya kamu harus minta maaf bagaimana pun caranya kerjasama ini jangan sampai batal."
"Iya Pa," lirih Monica.
Monica terlihat sangat pucat, bagaimana dia bisa bertemu dengan Gibran setelah hal memalukan yang dia lakukan. Monica sungguh tidak punya wajah lagi untuk bertemu dengan Gibran.
Sore pun tiba...
"Papiiiiiiiii...."
"Iya sayang, ada apa?"
"Buatin Gilsya spageti dong, Gilsya lapar banget."
"Papi ga bisa masak sayang, kita pesan saja ya biar lebih mudah."
"Papi, teman-teman Gilsya selalu bilang kalau mereka suka dimasakin sama Papanya. Sementara Gilsya, Papi Gilsya hanya sibuk di kantor ga pernah mau masakin buat Gilsya ga kaya Papa teman-teman Gilsya yang hebat-hebat."
Mendengar celotehan puterinya membuat jiwa sombongnya langsung muncul, Gibran tidak mau disebut Papi lemah dan tidak bisa apa-apa walaupun pada kenyataannya Gibran memang tidak bisa berbuat apa-apa selain bisnis.
"Oke, Papi bakalan buatin spageti untukmu kalau masalah spageti doang mah gampang."
"Coba buktikan," tantang Gilsya.
Gibran pun dengan percaya dirinya pergi ke dapur kemudian dia memakai celemek, Gibran mengotak-ngatik ponselnya untuk melihat bagaimana cara membuat spageti. Sedangkan Gilsya duduk di kursi yang ada di dapur memperhatikan Papinya memasak.
Gibran terlihat sangat serius, bahkan dapur yang awalnya bersih menjadi seperti kapal pecah. Minyak tumpah dimana-mana, bumbu berserakan membuat Gilsya geleng-geleng kepala melihat tingkah Papinya itu.
Gibran dan Gilsya memang tinggal berdua, kalau pagi-pagi rumah itu memang rame banyak ART dengan tugas mereka masing-masing, tapi di sore hari semuanya pulang.
"Papiiiiii...pastanya gosong!" teriak Gilsya.
Gibran langsung keluar dari toilet, barusan Gibran merasa kebelet ingin buang air kecil.
Bruuuggg...
Gibran terpeleset minyak yang tumpah di lantai, membuat pinggangnya sakit.
"Papi, Papi tidak apa-apa kan?"
"Pinggang Papi sakit sayang."
Dengan tertatih-tatih, Gibran pun mematikan kompor dan pastanya terlihat hitam. Gibran menuju sofa dan merebahkan tubuhnya, pinggangnya benar-benar sakit.
"Sayang, ambil ponsel Papi dan hubungi Oma Tasya ataupun Oma Rubby, suruh datang kesini."
"Oke Pi."
Gilsya pun mencari kontak Oma-omanya, tapi Gilsya melihat ada nama Livia disana.
"Aku suruh Bu Livia saja kesini," gumam Gilsya.
Gilsya pun segera menghubungi Livia, Gilsya pura-pura nangis membuat Livia khawatir dan akhirnya mau disuruh datang ke rumahnya. Gilsya pun kembali menghampiri Papinya dan memberikan ponsel milik Papinya.
"Sudah? apa kata Oma?" tanya Gibran.
"Oma akan segera kesini," sahut Gilsya dengan tawa bahagianya.
"Syukurlah, nanti biar Oma kamu sekalian yang masakin kamu spageti."
"Iya Pi."
Gilsya menutup mulutnya sembari cekikikan, Papinya tidak tahu kalau yang Gilsya hubungi adalah Livia bukan Omanya.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila