Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Titik Didih
Anjani terperanjat kaget, napasnya tertahan di tenggorokan. Kakinya lemas seketika, membuatnya hampir terjatuh ke atas aspal yang bergetar.
Namun, refleks cepat seorang Oliver Jones menyelamatkan segalanya. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Oliver langsung menerjang ke depan, memeluk tubuh Anjani erat-erat dan merabohkan diri mereka berdua ke balik dinding pilar beton besar di dekat pintu lobi.
Prang! Ckrak!
Serpihan besi yang membara, serpihan kaca jendela yang tajam, serta puing-puing aspal beterbangan secara brutal dan liar di udara akibat efek ledakan beruntun. Mobil-mobil lain yang terparkir di sekitar titik ledakan ikut tersulut api, terpental ke udara secara dramatis sebelum menghantam tanah dengan dentuman logam yang memekakkan telinga.
Oliver menggunakan punggung dan tubuh atletisnya sebagai perisai hidup bagi Anjani. Pria itu mendekap istrinya dengan sangat rapat, membiarkan beberapa serpihan kerikil panas dan pecahan kaca kecil menghantam jas serta punggungnya, demi memastikan tidak satu pun benda berbahaya menyentuh kulit Anjani.
"Oliver..." panggil Anjani dengan suara gemetar hebat, air matanya tumpah seketika di balik pelukan suaminya, ketakutan luar biasa kembali mencengkeram dadanya. "Ada apa ini? Ledakan apa lagi ini?!"
"Tetap di sini, Jani! Jangan gerak!" suara Oliver terdengar tegas di tengah deru suara api dan kepanikan massal, napasnya memburu tajam.
Di tengah asap tebal yang mengepul dan bau belerang yang menyengat hidung, sesosok bayangan manusia muncul dari balik barisan mobil yang terbakar. Wanita itu mengenakan jaket pengendara motor berwarna hitam compang-camping, rambut panjangnya berkibar liar ditiup angin panas, dan di wajahnya terukir sebuah seringai yang mengerikan.
****
Itu adalah Dara Mitha Dahayu.
Wanita gila itu tidak lari setelah memicu bom jarak jauh yang ia letakkan di bawah salah satu mobil pengunjung. Ia berdiri tegak di tengah pelataran parkir yang porak-poranda, memegang sebuah pematik api di tangan kanannya, sementara matanya melotot tajam ke arah pilar tempat Oliver dan Anjani berlindung.
"Hahaha! Selamat pagi, pengantin baru!" teriak Dara dengan suara melengking histeris yang menembus deru sirine alarm kebakaran rumah sakit. Tawa wanita itu begitu nyaring, begitu tidak manusiawi, mencerminkan jiwa yang sepenuhnya telah dikuasai oleh kegelapan dan dendam yang membara.
Dara melangkah maju beberapa langkah, mengabaikan panasnya api yang menjilat-jilat di sekitarnya.
"Kau pikir kau bisa pulang dengan tenang, Anjani?!" maki Dara histeris, menunjuk ke arah pilar dengan jari telunjuknya yang kotor oleh jelaga. "Tidak ada kebahagiaan untukmu! Setiap kali kau melangkah keluar dari tempat gelap, aku akan datang membakar duniamu! Aku akan menghancurkanmu sampai tidak ada lagi sisa dari dirimu!"
Julian, yang sempat berada di mobil pengawal di depan, segera melompat keluar dengan pistol di tangan. Ia langsung mengarahkan senjatanya ke arah Dara. "Jatuhkan senjatamu! Jangan bergerak!"
Namun, Dara sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru tertawa semakin kencang, menikmati detik-detik menegangkan di mana seluruh perhatian tertuju padanya.
"Kalian terlambat!" seru Dara sambil memundurkan langkahnya menuju gang sempit di sisi gedung rumah sakit tempat sebuah sepeda motor trail sudah disiapkan dalam posisi mesin menyala.
Sebelum Julian sempat menarik pelatuk atau para pengawal lain sempat mengepung posisinya, Dara dengan gesit melompat ke atas motor tersebut. Ia memutar gas dalam-dalam hingga ban belakangnya melontarkan kerikil dan asap putih tebal ke udara.
"Aku akan kembali, Anjani! Permainan ini belum selesai!" teriak Dara untuk terakhir kalinya sebelum ia melesat pergi menembus kemacetan jalanan kota Jakarta, menghilang di balik tikungan jalan raya sebelum sirine mobil polisi yang mendekat sempat mencegatnya.
Suasana di pelataran Rumah Sakit Medika Sentra perlahan-lahan diselimuti oleh kesunyian yang mencekam, hanya menyisakan deru api dari mobil yang terbakar dan kepulan asap hitam pekat yang membubung ke langit pagi.
Di balik pilar beton, Oliver perlahan-lahan menegakkan tubuhnya. Ia memeriksa keadaan Anjani dengan tergesa-gesa, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya yang sedikit kotor oleh debu.
"Jani... Jani, buka matamu. Kau terluka?" tanya Oliver dengan suara bergetar, kekhawatiran terpancar jelas di setiap garis wajahnya.
Anjani menggeleng pelan, napasnya memburu hebat, namun ia selamat berkat perlindungan suaminya. Ia menatap ke arah titik di mana Dara tadi berdiri, menyadari satu kenyataan pahit yang tidak bisa lagi ia hindari: selama Dara Mitha Dahayu masih bernapas di muka bumi ini, hidup mereka tidak akan pernah benar-benar aman.
****
Asap hitam yang mengepul dari pelataran Rumah Sakit Medika Sentra belum sepenuhnya hilang ketika gelombang kejut psikologis dari teror beruntun Dara Mitha Dahayu merambat cepat menembus dinding-dinding kekuasaan korporat. Berita tentang ledakan mobil yang kesekian kalinya, yang kali ini terjadi di fasilitas publik dan melibatkan istri seorang petinggi bisnis internasional, langsung menghiasi tajuk utama pemberitaan darurat di berbagai stasiun televisi nasional.
Di ruang kerja utama Jones Group lantai paling atas yang megah, suasana mendadak berubah menjadi ruang pengadilan yang kejam. Tuan Jones Senior—yang terbangun dari amarah dan kekhawatiran atas keselamatan aset keluarganya—berdiri tegak di dekat dinding kaca raksasa yang menghadap ke arah lanskap kota Jakarta. Di sampingnya, Vivian Mercedes duduk dengan wajah kaku penuh ketidaksukaan, sementara beberapa pengacara perusahaan berdiri di sudut ruangan membawa map-map tebal dokumen hukum.
Pintu besar ruang kerja itu terbuka dengan bantingan keras. Oliver Jones melangkah masuk dengan napas memburu dan tatapan mata yang menyala-nyala oleh amarah murni. Ia baru saja meninggalkan Anjani di tempat persembunyian yang aman di bawah penjagaan ketat tim khusus, dan kini ia harus menghadapi benteng pertahanan terakhir dari keluarganya sendiri yang menuntut tumit darah dari istrinya.
"Kau lihat apa yang telah diperbuat oleh wanita itu?!" bentak Tuan Jones Senior tanpa basa-basi, suaranya menggelegar memenuhi ruangan luas tersebut. Ia berbalik, menatap putranya dengan sorot mata penuh penghinaan dan kemarahan yang tertahan. "Ledakan di rumah sakit, ledakan di supermarket, dan sebelumnya di kediaman kita sendiri! Wanita pilihanmu itu, Anjani Direja, adalah magnet bencana! Keberadaannya membawa kutukan kehancuran bagi siapa saja yang berada di sekitarnya!"
****
Oliver mendengus dingin. Sudut bibirnya terangkat dalam senyuman sinis yang menakutkan, namun ada getaran emosi yang luar biasa di dalam dadanya. "Jangan pernah menyebut istriku pembawa bencana, Ayah. Orang yang menciptakan bencana itu adalah Dara Mitha Dahayu—seorang psikopat yang kehilangan akal sehatnya, bukan Anjani!"
"Sama saja!" serobot Vivian Mercedes dengan suara melengking penuh histeria, ikut berdiri dari kursinya. "Dara mengincar Anjani karena dendam masa lalu! Selama Anjani ada di sisi hidupmu, wanita gila itu tidak akan pernah berhenti menghancurkan segalanya! Nyawa kita, reputasi perusahaan, dan keselamatanmu sendiri dipertaruhkan setiap detik!"
Tuan Jones melangkah maju, meletakkan selembar dokumen resmi di atas meja kerja mahoni yang besar. Dokumen itu diikat rapi dengan pita merah—sebuah draf gugatan cerai dan surat pernyataan pemutusan hubungan hukum mutlak.
"Cukup, Oliver," ujar Tuan Jones dengan nada suara yang ditekan serendah es, namun penuh otoritas absolut. "Kesabaranku sudah habis. Tandatangani dokumen ini sekarang juga. Ceraikan Anjani, kembalilah ke London, ambil alih kendali penuh dewan direksi, dan biarkan tim keamanan internasional kami membereskan wanita gila bernama Dara itu secara permanen. Itu adalah satu-satunya jalan keluar yang masuk akal."
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....