"Terimakasih sayang." Vano mencium singkat bibir Ella dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
"Kapan kau akan menikahiku?" Ella masih berada di bawah selimut tanpa memakai pakaian.
ELLA, seorang model cantik dan seksi. Putri tunggal seorang pengusaha terkenal di kota tempat tinggalnya. Yang membuat kaum adam rela melakukan apa saja asal bisa bersama dirinya.
Menjalin hubungan dengan pengusaha tampan dan sukses. Yang di gilai oleh kaum hawa. VANO. Yang juga merupakan putra tunggal pengusaha sukses di kota tersebut
Meski mereka masih berpacaran, hubungan mereka layaknya pasangan suami istri. Seluruh orangpun tahu jika mereka memiliki hubungan spesial.
Jangan lupa meninggalkan jejak setiap membaca. Terimakasih atas waktu dan dukungan untuk author.
Akan ada 226 eps untuk DUNIA MELLANIE.
Dan,,,, akan dilanjutkan kisah cinta antara HANA & DENIS untuk bab selanjutnya.
Terimakasih, semoga suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM eps 14
"Non Ella sebaiknya membersihkan diri juga. Setelah itu kita obati lukanya. Ini pakaian Nona." Reza meletakkan pakaian Ella di samping tempat duduk Ella.
Ella mengambilnya dan berjalan masuk ke dalam.
"Bisa panggilkan Hana. Tangan gue sakit. Gue angkat buat lepas baju nggak bisa." Ella berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Sebentar Non." Reza segera bergegas dan mengetuk kamar Hana. Tapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Kelihatannya Hana juga sedang mandi." gumam Reza.
"Maaf Non, Hana juga sedang mandi. Saya sudah mengetuk pintunya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban." Reza berdiri di samping Ella duduk.
"Kamu keluar saja. Gue tunggu Hana selesai mandi." Ella duduk santai menunggu Hana selesai mandi. Setelah kejadian di perusahaan Vano, Ella juga enggan untuk berbicara dan bertatap muka dengan Reza.
Sudah sekitar setengah jam lebih Ella menunggu Hana. Ella memutuskan untuk mendatangi Hana di kamarnya.
"Non Ella mau ke mana?" Reza yang sedang duduk, melihat Ella keluar dari dalam kamar."
"Lihat Hana." Ella berkata tanpa menoleh pada Reza.
"Astaga. Ternyata elo tidur." Ella melihat Hana sudah memakai pakaian baru. Dia tampak terlelap dalam tidurnya.
Ella keluar lagi dari kamar Hana dan kembali ke dalam kamarnya. Reza hanya memandang ke arah Ella tanpa bertanya atau berkata apapun.
"Astaga, kenapa sakit sekali sih." Di dalam kamar mandi, Ella sebisa mungkin melepas tengtopnya.
"Ckkk." Ella keluar mencari gunting atau pisau.
"Za, gue pinjam gunting."
"Untuk apa Non?" Ella tidak menjawab, dia memandang ke arah Reza.
"Sebentar." Reza kembali dengan membawa sebuah gunting.
"Elo gunting sebelah sini dan sini." Ella menunjuk tengtop di pundaknya.
"Cepet." seru Ella.
"Baik Non." Reza dengan pelan menggunting tengtop Ella yang berada di pundak.
"Ashhh." ujung gunting mengenai luka di pundak Ella.
"Maaf Non."
"Makasih." Ella masuk ke dalam dan membersihkan diri.
"Za, obatnya mana?" Ella bertanya pada Reza selesai membersihkan badannya.
"..." Reza terbengong melihat Ella keluar dari kamar dengan wajah tanpa make up.
"Za, obatnya mana?" ulang Ella.
Reza ke belakang mengambil obat untuk pundak Ella.
"Nona Ella. Jadi anak SMA waktu itu adalah Non Ella." batin Reza memegang obat untuk Ella.
Reza merasa senang telah menemukan perempuan waktu itu, padahal dia belum mencari tahu. Tapi Tuhan sudah berkehendak lain.
Di sisi lain, ada rasa sedih dan kecewa. Ternyata perempuan yang di carinya adalah wanita milik Tuannya. Vano. Seseorang yang juga menyelamatkan nyawanya. Dan membuatnya jadi seperti sekarang ini.
Reza teringat kejadian beberapa tahun lalu. Setelah dia di selamatkan oleh Ella, setahun kemudian dia juga di selamatkan oleh Vano.
"Tinggalkan pemuda itu." Vano melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya ke atas.
"Ada pahlawan datang." ejek seorang lelaki bertubuh gempal.
"Kita habisi saja bang." ucap yang lainnya.
Dengan beberapa gerakan, Vano yang seorang diri dapat mengalahkan lima lelaki yang sedang mengeroyok Reza.
"Terlalu lama." gumam Vano mengeluarkan pistol dari balik kemejanya.
"Pergi." Vano menatap tajam pada mereka yang sudah babak belur.
"Terimakasih Tuan."
Vano melenggang pergi meninggalkan Reza yang babak belur. Reza mengejar Vano. Dan mengikuti Vano.
"Kenapa?" Vano menghentikan langkah kakinya menyadari ada yang mengikuti dirinya.
"Izinkan saya untuk ikut Tuan."
"Saya tidak menerima orang lemah."
"Saya akan berlatih lagi supaya menjadi lebih kuat."
"Keluarga kamu."
"Saya hidup seorang diri. Kedua orang tua saya meninggal karena kecelakaan."
Sejak saat itu Reza mengikuti kemanapun Vano pergi. Vano juga memasukkan Reza ke dalam perguruan bela diri yang dulu pernah dia ikuti.Vano ingin Reza lebih kuat. Karena Vano sadar, jika dirinya juga mempunyai bisnis ilegal. Dan membutuhkan orang yang kuat dan tangkas di bidangnya.
Tidak hanya itu, Vano juga menyuruh Reza untuk melanjutkan pendidikan. Vano ingin Reza juga mampu untuk menjalankan bisnis bersama dengannya.
Tapi Reza selalu ingat perkataan yang Vano ucapkan pada dirinya.
BAGIKU, PENGKHIANAT HARUS MATI.
"Za." teriak Ella karena Reza sudah lama perginya.
"Maaf Non, ini." Reza segera berjalan ke depan dan memberikan salep pada Ella.
Ella mengambil salep dari tangan Reza dan mengoleskannya pada pundaknya.
"Sssttt,,, aawww." Ella meringis saat dia mengoleskan salep pada pundaknya.
"Za, sejak kapan Vano berhubungan dengan sekretarisnya."
"Maaf Non. Saya tidak tahu."
"Saya lupa. Kamu kan tangan kanan Vano." ucap Ella dengan senyum mengejek.
"Bos." seseorang lelaki masuk dengan raut wajah tegang dan berbisik pada Reza.
Reza berdiri dan segera keluar. Di luar sudah tampak suasana tegang. Pistol berada di tangan masing-masing. Ella mengintip dari balik gorden jendela.
"Mereka." Ella harus menajamkan pandangannya karena hari sudah gelap.
"Tunggu. Turunkan pistol kalian." seru Ella berlari keluar.
"Non Ella." lima orang yang baru datang memasukkan kembali pistolnya dan menundukkan kepala.
"Apa jangan-jangan mereka anak buah Tuan Haris. Sungguh hebat." batin Reza memuji mereka.
Bagaimana tidak, tidak butuh waktu lama untuk mereka menemukan keberadaan Ella. Padahal tempatnya di tengah hutan belantara. Dan juga alat komunikasi tidak berfungsi di sini.
"Paman, Ella baik-baik saja." Ella mendekat ke arah mereka.
"Non Ella. Siapa yang melakukannya." salah satu dari mereka melihat ke arah pundak Ella.
Yang lainnya juga mengangkat kepala dengan pandangan mengarah ke pundak Ella.
"Maaf kan Ella. Ella malu-maluin. Soalnya sudah lama sekali Ella nggak berlatih."
"Katakan siapa." ucapnya memandang tajam ke arah Reza.
"Paman. Ella baik-baik saja." Ella memegang tangan seorang lelaki yang di panggilnya dengan sebutan Paman. Atau lebih tepatnya Paman Haki. Salah satu orang kepercayaan Tuan Haris yang terkenal kekejamannya.
Paman Haki sudah mengabdi dan ikut dengan keluarga Subagyo sejak Tuan Haris dan Nyonya Ane belum menikah. Setelah Tuan Haris menikah, paman Haki memutuskan ikut dengan Tuan Haris.
"Tuan dan Nyonya sangat khawatir. Lebih baik sekarang kita pulang Non."
"Jangan sekarang. Diluar berbahaya untuk Nona Ella. Apalagi hari sudah gelap." ucap Vano.
"Ella juga lelah dan ngantuk Paman." Ella menutup mulutnya yang menguap.
"Baiklah. Nona silahkan masuk dan tidur. Kami akan berjaga di sini."
"Terimakasih paman. Terimakasih semua." Ella masuk ke dalam rumah.
"Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa Nona kami. Tapi kami berharap kalian akan tutup mulut dengan apa yang kalian lihat." Paman Haki menatap ke arah Reza.
"Saya tahu, kalian adalah bawahan dari Tuan Muda Vano. Tapi saya yakin, kalian juga punya keluarga yang harus kalian jaga. Saya hanya ingin kalian tidak pernah bercerita tentang Nona kami. Kepada siapapun. Apapun yang kalian lihat."
"Kalian berjaga. Dan menyebar. Jangan sampai ada penyusup." perintah Paman Haki pada ke empat temannya.
"Baik Paman." ucapnya serentak.
"Susah sinyal" Ella melihat layar ponsel miliknya.
"Non, boleh saya masuk." suara Reza terdengar dari balik pintu kamar Ella.
"Masuk." sahut Ella.
"Ada apa." Ella memandang Reza yang baru saja masuk.
"Reza, ada apa?" tanya Ella lagi.
"Yang sedang berada di luar..."
"Mereka bawahan papa. Kamu tidak usah khawatir."
"Non, soal Tuan Vano, sebenarnya.."
"Kamu tidak perlu memberitahu atau menjelaskan apapun pada ku. Ini urusanku dan Vano. Tidak ada hubungannya denganmu." Ella memandang lurus ke tembok.
"Santi yang datang sendiri pada Tuan Vano."
"Bukankah sudah ku katakan. Kamu. Tidak perlu. Menjelaskan apapun padaku. Keluar." Ella berdiri dan memandang pada Reza.
"Pantas Tuan Vano mempertahankan Nona Ella. Selain cantik dia juga tegas." batin Reza keluar dari kamar Ella.
"Putri dari Tuan Haris Subagyo. Tidak di ragukan lagi." Reza membayangkan bagaimana Ella melawan musuh menggunakan gerakan tubuh dan juga senjata api.
Terlihat anggun dan cantik dari luar seperti angsa. Tapi bisa berubah seperti burung elang saat menghadapi musuh di depannya.
"Apa Tuan Vano sudah mengetahui hal ini." kata Reza dalam hati.
"Santi yang datang sendiri pada Vano." Ella menirukan perkataan Reza dengan nada sinis.
"Vano. Selama ini aku selalu menuruti apapun keinginanmu. Saat dirimu tidak menganggapku, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Tapi kenapa, kenapa kamu setega itu. Vanooo." Ella membanting gelas di nakas tepat di kaca sebelahnya.
vano dan ella berakhir bgni ceritanya..
padahal berharap vano kembali