Area 21++
Kekerasan
"Ka-kamu pembunuh?" Bulan tercengang
"Akhirnya kamu sudah tahu juga. sekarang, tanda tangani ini!" sebuah surat perjanjian dilayangkan kepadanya
"Mengurus kebutuhan lahir dan batin ku sampai waktu yang ditentukan. jika menolak, kabur dan mengadu pada orang lain, kau dan keluarga kau akan ku lempar ke Neraka!" ancam Guntur
Terikat Perjanjian menjadi Pembantu di kediaman pria psikopat yang gemar menyiksa siapa saja yang telah mengusik kehidupannya, untuk kedua kalinya kehidupan suram untuk Bulan yang terjerat dalam perangkap ini.
Bulan terpaksa menjadi tawanan pria itu, mulai mengurus hidupnya, hingga menjadi bual-bualan hasrat gairah dan siksaan tanpa melakukan kesalahan.
Rembulan, nama indah yang bersinar terang, seketika menjadi lebih suram bak kelabu cenderung hitam, tatkala terperangkap dalam Obsesi Majikan Psychopath
Apa yang terjadi pada pria bernama Guntur itu?
Apa misinya menjadikan Bulan sebagai tawanan?
****
Fllw ig @cece_virgo24
Add fb, elce kha
Baca juga karyaku yang lain, tekan profilnya 😉🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cece Virgo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Penculikan
🌺🌺🌺
"Hallo, Gun." sahut seseorang diseberang sana
"Bagaimana keadaan tiga tawanan itu? apa mereka ada yang berusaha kabur?" tanya Guntur pada sahabatnya semasa SMA dulu yang kini telah sukses menjadi seorang Dokter
"Syukurnya tidak, sesuai permintaan kau kalau ketiganya diisolasi dalam pulau masing-masing."
"Good! jangan sampai mereka tahu siapa kau, tetap pakai masker bila bertemu dengan mereka. dan--sampaikan sama anak buahku untuk menjaga mereka, bisa saja mereka kabur sebelum keadaan tubuhnya kembali normal." ujarnya panjang lebar
"Kau tenang saja, mereka menurut dan bersyukur kau tidak membunuhnya."
"Hahahahaha! dasar! mereka seolah menerima siksaanku selama setahun ini. apa tidak ada rasa dendam terhadapku? hahahaha!" Guntur tertawa terbahak-bahak
"Emangnya kau, bodoh! kau benar-benar psikopat KW dan sakit jiwa." cerca sahabatnya
"Aku bisa saja jadi psikopat benaran, tapi masih ada sisi manusiawi dijiwaku." tukas Guntur
"Hentikanlah ini, Guntur! biarkan mereka bebas seperti kehidupan semula, jangan cari mangsa baru lagi. kau benar-benar kejam, bahkan ada yang depresi karna kau. untung saja aku bisa segalanya sebagai Dokter." ucapnya prihatin
"Enak saja aku melepaskan mereka! masih ada tiga lagi yang akan ku incar. tiga lagi di Markas dan tiga lagi ditempat kau." Guntur memang keras, ia tidak akan membiarkan mereka bebas sebelum rasa dendamnya tersalurkan
"Oh, Tuhan ... aku benar-benar tidak menyangka kau mengidap---sebaiknya kau lanjutkan saja pengobatan mu."
"Tidak, sebelum semuanya beres." Guntur tersenyum miring, menatap sinis ke arah luar jendela yang menampikkan gemerlap kota pada malam hari
"Sudah ya, kau atur mantan tawananku itu, sulap mereka seperti sedia kala tanpa ada luka atau kecacatan."
"Ya. tapi ingat! aku tidak ingin ikut terseret dalam masalah kriminal kau ini." peringatnya
"Tenang saja, selama wajah kau tersembunyi, kau aman." ucap terakhir Guntur, pria itu langsung memutuskan saluran teleponnya
Tiga tawanan yang Guntur siksa selama setahun terakhir ini, telah ia bebaskan. mengirim mereka ke Maldives di tiga pulau terpencil yang teramat mengagumkan. mereka bisa menikmati pemandangan alam disekitarnya, tapi tidak untuk mengelilingi pulau tersebut.
Sahabat Guntur yang berprofesi sebagai Dokter itu pun ia tunjuk untuk merawat mereka sampai sembuh seperti sedia kala, dengan berupa ancaman jika saja pria itu berani membocorkan tindakan kriminalnya. beruntung saja sahabatnya itu dapat ia percayai.
Sebelumnya Guntur pernah membebaskan tiga tawanan lainnya, namun sayang sekali, dua mantan tawanannya mencoba untuk melapor kepada polisi. semua itu dapat ia ketahui tatkala secara diam-diam, Guntur memasukkan sebuah alat perekam dan pelacak kedalam tubuh mantan tawanannya. kini dua mantan tawanan itu telah ia bunuh disebuah ruangan, merekam kejadian itu dan menunjukkannya kepada para tawanan lainnya. alih-alih sebagai peringatan, bila berkhianat untuk membocorkannya, ajal mereka ada ditangan seorang Guntur. untung saja, Guntur mempersiapkan Markas lainnya untuk ia tempati dan segera pindah tatkala para polisi akan mengepung Markas lamanya.
Kini Guntur sedang mempersiapkan sesuatu, memasukkan hoodie hitam, masker ke dalam paperbag, dan juga alat pendengar yang menghubungkannya langsung kepada anak buahnya yang sedang bertugas.
"Malam minggu adalah malam yang panjang, penculikan beraksi." gumamnya dengan antusias
Guntur keluar dari kamar pribadinya, Apartement tampak sepi dan ia tidak peduli hal itu. mungkin saja kini Bulan sudah terlelap, mengingat waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Guntur bergegas mendekati lift, yang mengantarkannya langsung menuju basement di lantai dasar. mobil Pajero berwarna putih ia hampiri, kendaraan pribadi miliknya yang berdiam diri disana. sebelum menyalakan mesin mobil terlebih dulu alat penghubung ia pasang di telinga kanannya.
Hirup piruk jalan raya masih terlihat ramai dengan banyaknya kendaraan yang dipenuhi sejuta umat. menurut pengintaiannya, setiap malam minggu para calon tawanan selalu menghabiskan malam yang panjang di tempat yang mengasyikkan
"Di mana posisi?"
"Di Klub xxx, Tuan."
"Bagus. intai terus!"
Guntur mempercepat lajuan mobilnya membelah jalanan Ibukota yang sangat ramai kala malam itu. beberapa menit kemudian, ia telah tiba di tujuan yaitu sebuah tempat hiburan malam dengan gemerlap lampu yang bergerak kesana kemari. suasana remang-remang dengan dihiasi dentuman musik yang begitu kuat, sungguh mememikkan telinga.
Guntur segera turun dari mobil, tak lupa melepaskan alat pendengarnya. dengan senyum miring ia pamerkan kepada pintu masuk tempat itu, sebuah rencana awal akan ia mulai dari sini.
"Tiga ladies, im coming." gumamnya menyeringai
Guntur masuk ke dalam sana, wajah tampan yang ia miliki langsung memikat para wanita malam. beberapa wanita menghambur kedalam pelukannya, Guntur mencoba bersikap ramah dan sedikit nakal, membalas pelukan kedua wanita itu. kedua tangan nakalnya pun menyentuh bokong bohay yang menggoda sembari melangkah dengan menggandeng mereka berdua.
"Tuan, anda nakal sekali meremat bokongku." desah salah seorang wanita seksi disisi kirinya
"Karna bokongmu sungguh menggoda, Sayang." ujarnya, mengerlingkan sebelah mata hingga wanita itu tersipu malu
"Lebih menggoda lagi yang ini." ia menunjuk bukit kembar yang terpampang jelas belahannya
"Punyaku juga tak kalah menggoda, Tuan. apalagi--apemku masih rapat." goda wanita disisi kanannya
"Hmmm .... ya, aku jadi bingung pilih mana." Guntur mengendikkan kedua bahunya seolah tengah bingung menilai mereka.
🌺🌺🌺