Ini hanya karya fiksi.
Bagaimana kabar mu hari ini? Apa semua berjalan dengan lancar? Atau mereka masih suka mengganggu mu?
Tenang, bila itu terjadi aku akan selalu melindungi mu dari bangun hingga terlelap mu, sebagai imbalannya biarkan aku menyatu dengan jiwa mu.
Ikuti terus alur cerita pendek menarik dalam setiap judulnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XIV (Pengorbanan Ibu Sambung Part I)
Jenna tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya ketika sang ibu tercinta meninggalkannya untuk selamanya di dunia, di malam tahlilan ibunya, sang ayah Gino membawa Lidiah ke tengah-tengah keluarga mereka yang masih keadaan berkabung.
Saat itu tak ada komentar yang terlontar dari bibir manis Jenna soal kehadiran ibu sambungnya itu, dia hanya menggelengkan kepala, dan dalam hatinya berkata.
“Tanah makam ibu saja belum kering, ayah sudah membawa istri baru, sungguh tak ada fikiran.”
Pak Gino memperkenalkan Lidiah kepada sanak keluarga yang ada di dalam rumah.
“Semuanya, perkenalkan ini adalah calon istri ku, namanya Lidiah, dan aku berencana akan mempersuntingnya besok lusa,” ucap pak Gino.
Semua anggota keluarga mengeluhkan sikap pak Gino yang terkesan buru-buru, namun apa di kata, pak Gino tak mau merubah keputusannya.
Karena sikap egois dari pak Gino, membuat Gusar Jenna, emosinya memuncak mendengar niat ayahnya tersebut.
“Ayah, ibu baru meninggal 2 hari yang lalu, tahlilannya saja belum selesai, masa ayah mau menikah besok lusa?” ujar Jenna dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi Jenna, ayah sudah lama merencanakan ini, lusa atau kapan pun itu sama saja.” ucap pak Gino.
“Apa? Sudah lama? Jadi wanita ini selingkuhan ayah? Kalau ayah tidak bisa menghargai ibu semasa hidup, harusnya ayah bisa bersabar menunggu sedikit lebih lama untuk pernikahan kalian yah!” hardik Jenna.
“Jenna, jangan kau campuri urusan ayah, pokoknya ini sudah bulat, jangan kau gugat lagi nak.” ucap pak Gino, yang tak mau mendengar saran dari putrinya.
__________________
Hari pernikahan yang sudah di tentukan pak Gino pun telah usai, dan acaranya berlangsung di kediaman Lidiah.
Jenna yang sejak awal tak merestui hubungan ayahnya, menunjukkan perasaan tak nyamannya Ketika Lidiah, yang kini telah resmi menjadi ibu sambung Jenna, menginjakkan kakinya kedalam rumah.
Lalu Jenna membelalakkan mata, saat ia melihat Lidiah mempunyai seorang anak perempuan seusianya bernama Mery, yang sekarang ikut serta tinggal di dalam rumah mereka.
Jenna tak dapat membendung perasaan bencinya pada ayah dan ibu sambungnya itu, untuk melepaskan rasa marahnya, Jenna melempar piring kaca tepat di hadapan Lidiah dan Mery yang sedang duduk di ruang tamu.
Lidiah dan Mery seketika merasa terintimidasi dengan sambutan horor dari Jenna.
“Dasar perusak rumah tangga orang!” Pekik Jenna, seraya berlalu dari hadapan ibu dan anak itu.
Emir selaku adik bungsu Jenna, datang menghampiri ke dalam kamar Jenna.
“Kak, kakak lihat kan, ibu baru saja meninggal, tapi dengan mudahnya, ayah menikah lagi, aku sedih sekali atas sikap ayah, kasihan ibu kak,” ucap Emir.
“Sudahlah, tidak apa-apa, mulai sekarang kita harus kompak, untuk ibu mari kita berdo'a bersama, agar di beri kebahagian di alam kuburnya, kamu jangan sedih ya, kakak ada kok buat kamu.” ucap Jenna, memberi semangat pada adiknya.
“Takutnya wanita itu seperti di tv-tv kak, merebut harta ayah, lalu menelantarkan kita.” pungkas Emir.
“Tenang saja, kakak tidak akan membiarkan janda nakal itu bertahan lama di rumah kita.” ucap Jenna.
Keesokan harinya, saat Jenna telah bangun dari tidurnya, ia pun berdiri di atas balkon kamarnya yang mengarah langsung ke taman rumahnya.
“Bi! Bibi!” seru Jenna.
“iya non, ada apa?” sahut asisten rumah tangga Jenna.
“Siapkan air panas, Jenna mau mandi.” titah Jenna.
“Baik non.” sahut sang asisten rumah tangga.
Saat Jenna masih berada di atas balkon, ia melihat Lidiah sedang lari-lari kecil di taman, Jenna yang merasa jijik mulai mengeluarkan cibirannya dengan sangat keras.
“Mm.. pengantin baru bangun jam segini ya! Enak benar hidupnya, jadi perusak rumah tangga orang saja bangga, kalau enggak waras sih pasti enggak ada rasa bersalahnya dalam hati.”
Lidiah yang mendapat ciburan dari anak sambungnya hanya membalasnya dengan senyuman.
Saat jam makan pagi, semua anggota keluarga berada di meja makan.
“Jenna, mulai hari ini kamu berangkat ke sekolahnya bersama Mery ya.” ucap pak Gino.
“Kok gitu?” sahut Jenna keheranan.
“Iya, ayah sudah daftarkan dia ke sekolah mu.” ucap pak Gino lebih lanjut.
Sontak Jenna berdiri dari duduknya. “Oh my God, no! Demi ikan-ikan di lautan, apa ayah sudah tidak punya akal sehat? Kenapa dia harus sekolah di sekolah ku juga? Satu rumah saja sudah membuat mata ku sakit, apa lagi kalau harus satu sekolah, ayah pernah enggak sih mikirin perasaan Jenna!” pekik Jenna merasa tak adil.
“Jenna, sekarang dia anak ayah juga, lagian kalau kalian sekolah terpisah, susah buat ayah untuk mengantar kalian.” ucap pak Gino.
“Ayah cuma mikirin diri sendiri dan janda ini, pada hal wajah wanita ini biasa-biasa saja, tapi ayah seolah lupa daratan!” ucap ketus Jenna.
“Janda? Kasar sekali cara bicara mu nak? kamu lupa kalau ayah juga duda beranak dua? Apa salahnya? Tertibkan cara bicara mu itu Jenna.” ucap pak Gino.
“Apa?! Ayah ku kasih tau ya, aku dan adik ku tidak pernah menginginkan anggota baru dalam keluarga ini, kami bisa mengurus diri sendiri.” ujar Jenna.
“Iya ayah, kakak benar, Emir juga enggak setuju dari awal pernikahan kalian, ayah sudah banyak menyakiti perasaan kami, tolong anak janda ini, sekolahnya di tempat lain.” ucap Emir membela kakaknya.
Pak Gino menggelengkan kepala atas sikap putra dan putrinya, begitu pula dengan Lidiah dan Mery yang tak berani bersuara.
“Hmm, jadi begitu ya? Sekarang yang jadi orang tua kalian? Ayah bersikap baik nampaknya kalian malah menginjak-injak, tidak ada yang dapat merubah apa yang sudah ayah tentukan.” percakapan itu di tutup dengan mengikuti keputusan dari pak Gino.
Jenna dan Emir hanya dapat menahan kekesalan dalam hati masing-masing. Dengan batin tak ikhlas Jenna dan Mery berangkat bersama ke sekolah.
Sesampainya di sekolah Mery menyeimbangkan langkah dengan Jenna, agar tak tertinggal.
“Jenna, kata ayah kita juga satu kelas lo.” ucap Mery mencoba mencairkan suasana.
“Hei, kamu enggak usah sok akrab dengan ku, kamu tahu, dari gunung sinabung sampai gunung Himalaya, aku enggak akan pernah sudi berinteraksi dengan kamu, harusnya kamu sadar, kamu itu hanya anak seorang janda, perusak rumah tangga orang, pada saat ibu ku sekarat, ibu mu itu masih sampai hati main gila dengan ayah ku! Tolong jangan ganggu aku!” Jenna masuk ke dalam kelas, meninggalkan Mei yang berada di depan pintu kelas.
Mery tak dapat berbuat banyak, karena pada kenyataannya, ibunya memang bersalah.
Sesampainya Jenna ke kursinya, teman-temannya datang menghampiri Jenna.
“Ada berita baru apa Jen?” tanya salah satu temannya bernama Laras.
“Emang kalian harap ada berita apa dari ku?” ucap Jenna.
“Jangan sembunyikan dari kita semua ya, karena kemarin aku melihat, ayah mu datang ke sekolah kita bersama seorang perempuan seumuran almarhum tante, pasti mau mendaftarkan saudari tirimu itukan? Kita sudah dengar gosipnya, siapa namanya?”
Seketika Jenna menutup bibir Laras dengan jari telunjuknya.
“Ssst... sudahlah, aku lagi enggak selera membahas soal itu, sudah cukup! Aku mau tenang sejenak, karena aku sudah muak dengan keberadaan orang-orang jahat itu.” ucap Jenna.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Mohon lbih teliti lagi sblm updte bab ato bisa direvisi biar lbih ciamik🙏
Semngt thor
Thanks 😊