Kekerasan yang dialami mawar dimasa kecil
membuat nya terperangkap dimasa lalu nya.
sehingga menjadikan diri nya seperti setangkai mawar yang tak bisa disentuh
penghinaan yang diterima Putra telah mengikis semua harga dirinya. Bahkan perceraian nya pun menyandarkan nya pada kenyataan pahit.
bisakah sebentuk ketulusan membalikan hidup mereka?
hanya cinta sejati yang bisa menyembuhkan luka. bersediakah mereka berjuang bersama untuk melepaskan diri dari kelam nya masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kevin N Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar 12
"Ya, aku melihat gaun yang sangat cantik, tapi..."
"Tapi kenapa?" potong Putra cepat.
"Aku rasa aku tidak pantas memakainya, mereka pasti mengira aku gadis norak yang berpura-pura menjadi wanita terhormat. Padahal semua orang tau aku orang gila, dikota sekecil ini berita tentangku pasti sudah menyebar. Lebih baik aku dirumahku saja. Mengikuti kaum rebahan." jawab Mawar sedih.
Putra masih saja menatap Mawar teduh, sambil menangkapkan tangannya di wajah Mawar yang muram, dia memaksa Mawar agar melihatnya.
"Lihat aku," ujar Putra lembut.
"Tidak akan ada orang yang akan berfikir begitu, jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri. Kau itu cantik Mawar, aku rasa bukan kamu yang malu untuk memakai baju itu, tapi justru baju itulah yang akan merasa terhormat bisa dipakai olehmu. Sudah jangan bersedih, ayo kita coba baju itu," lanjut Putra memcoba membujuk Mawar.
Sambil menarik lengan Mawar mengajaknya kembali kebutik itu, jangan di tanya, Mawar hanya mampu menyembunyikan senyumnya dibalik punggung tegap Putra.
°°°°
DI BUTIK
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko.
"Tolong perlihatkan baju yang dipatung itu, istri saya menyukainya, bolehkah kami mencobanya?" tanya Putra sopan.
"Kamu beruntung nyonya, baju itu limited edition, dan kami baru saja memajangnya. Suami anda sungguh pintar memilihnya." jawab penjaga toko itu dengan expresi ceria.
Dengan hati-hati Mawar membawanya untuk dicoba, sambil berjalan ke ruang ganti. Sedangkan Putra menunggu disofa yang disediakan butik.
Beberapa saat kemudian Mawar keluar dan menemui Mawar.
"Bagaimana ?" tanya Mawar dengan wajah tertunduk malu.
Mata Putra tidak berkedip saat Mawar keluar dari ruang ganti. Sungguh Mawar terlihat begitu anggun, baju itu membentuk badan Mawar, dress merah dengan potongan leher memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Terdapat aksen bunga di pinggang dan bahu nya.
Wajah Mawar merona melihat expresi takjub putra
"Sempurna!" hanya itu yang mampu Putra katakan.
"Istri anda memang sangat cantik pas sekali memakai baju ini." puji penjaga butik
"Ya kau benar, kami ambil." ujar Putra dengan mata yang masih terpaku pada Mawar.
°°°°
Mawar keluar dari butik tersebut dengan senyum yang mengembang.
"Aku sudah mendapatkan gaunku, mari mencari baju untukmu." ajak Mawar.
"Nanti saja, kita makan terlebih dahulu ya, karna aku takut pingsan di sini." canda Putra.
Mereka menuju ke restoran yang menyediakan berbagai jenis makanan. Mereka makan sembari terus bercanda dan tertawa. Setalah itu mereka kembali mengelilingi mall tersebut.
Putra juga sudah mendapatkan setelan jas hitam lengkap dengan dasi dengan warna yang senada pula, tidak lupa sepatu pantofel hitam.
Semua yang mereka perlukan sudah mereka dapatkan, Mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Namun tiba-tiba Putra menghentikan langkahnya.
"Seperti nya kau kaget melihatku, harusnya aku yang terkejut melihatmu bisa berada di tempat seperti ini, Putra!" ujar wanita itu dengan nada mengejek dan tatapan sinis nya.
°°°
Lama mereka saling terpaku, hingga wanita itu memecah keheningan.
"Sudah punya uang banyak ternyata," ucap wanita itu melihat Putra membawa beberapa tas belanjaan.
"Kau mengenalnya?" tanya Mawar tidak suka. Bukan karena dia cemburu, tapi karena gaya bicara yang tajam dan terkesan merendahkan.
Mawar memang tidak perna bertemu dengan jenis wanita yang seperti ini, sungguh jenis wanita yang buruk.
"Wanita itu terlihat cantik dan modis, siapa dia? Kenapa Putra mengenalnya? Apa teman semasa kuliahnya?" berbagai macam pertanyaan yang ada dikepala mawar.
"Tapi putra tidak perna bercerita tentang seorang wanita" batin nya lagi.
Mawar ingin bertanya lagi, tapi melihat wajah Putra, dia pun mengurungkan niatnya. Bukan kah setiap orang berhak memiliki masa lalunya sendiri. Setidaknya itu yang Mawar pikirkan.
"Maafkan aku Putra, kau tidak perlu menjawabnya jika kau tidak ingin." putus Mawar.
"Ck ck ck... Apakah Putra sepenting itu untukmu, sampe kamu memikirkan apa yang dia tidak suka?" tanya wanita itu dengan nada mengejek.
"Iya aku sangat perduli, aku menghormati keinginannya, itu penting bagiku. Ada yang salah?" jawab Mawar mulai tidak suka.
Wanita itu memandang Putra sinis.
Akhirnya Putra mengenalkan wanita itu. Sekian lama diam.
"Susan, perkenalkan ini istriku Mawar." kemudian Putra menatap Mawar sambil menarik nafas panjang.
"Dan ini Susan, mantan istriku." ucapnya
Mawar terpaku, dia tidak mengetahui bahwa Putra pernah menikah. Putra tidak pernah cerita, ah ya aku pun tidak pernah bertanya. Dan ya dia mengingat kenapa dia menikahi Putra.
Tiba-tiba Mawar merasa terpukul, bukan karena putra tidak bercerita, tapi karena meresa rendah. Mantan istri putra begitu cantik dan anggun, begitu sosok yang sempurna, pikir Mawar.
Susan memakai pakaian ketat, yang menampakkan lekuk tubuhnya yang indah, jangan lupakan sepatu tinggi yang semakin membuat nya terlihat mempesona.
Mawar tidak pernah memakai pakaian seperti itu dan lagi dia tidak pandai berdandan. Kesalon saja hanya untuk memotong rambut, sungguh mawar merasa jelek dihadapan wanita itu. Dengan perasaan malu dan minder Mawar hanya mampu menunduk.
Susan juga tidak kalah terkejutnya, dia sama sekali tidak menduga Putra sudah menikah lagi. Terlebih dia melihat Putra menikahi wanita dari keluarga kaya. Perasaan iri dan marah mulai menguasai hatinya. Di saat kondisi keuangan suaminya mulai krisis, putra malah hidup layak. Padahal dia selalu menghina kemiskinan Putra, selama mereka tinggal bersama.
"Aku tidak tau dengan cara apa Putra memperdayaimu sehingga kamu mau menikah dengannya. Yang harus kamu tau Mawar, bahwa Putra tidak layak disebut suami, bukan hanya miskin, tapi dia juga tidak memiliki apa-apa. Kau melakukan kesalahan besar Mawar, dia tidak akan pernah bisa membahagiakan dirimu." Maki Susan, dia berbicara seolah olah dia dari kalangan atas.
Wajah Putra pucat setelah mendengar kalimat tajam susan, dia hanya mampu menunduk. Kepercayaan dirinya yang sudah mulai bangkit oleh keberadaan Mawar, kini mendadak lenyap.
Memang tidak semua ucapan susan benar, tapi dia takut mawar terpengaruh. Putra tidak memiliki keberanian memandang wajah mawar.
Tapi tidak dengan mawar, dia benar-benar meradang mendengar ucapan susan. Terlebih lagi setelah melihat wajah putra. Pria itu terlihat hancur tanpa sempat membela dirinya.
"Perempuan sialan! Maki mawar dalam hati.
"Silahkan bicara sesukamu, tapi kau harus tau satu hal! Aku sangat bahagia bersama putra, dia yang paling berharga dalam hidupku, yang tidak akan ku tukar dengan apapun. Silahkan kecewa dan iri melihat kami sebagai pasangan yang berbahagia. Tidak seperti kau yang berjalan sendirian. Kami selalu melakukan hal-hal menyenangkan bersama." Mawar menjawab sambil memeluk lengan Putra.
"Ayo kita pulang sayang," ucap Mawar lagi
Putra tercengang mendengar ucapan mawar. Dia tidak menduga Mawar akan begitu membelanya dan tidak menggangap diri nya hina atas kemiskinannya.
"Benarkah mawar bahagia bersamanya? Benarkah dia berharga? Atau itu semua hanya sebuah ucapan biasa, mawar melakukan itu semua hanya karena tidak tega susan menghina dirinya." batin putra.
°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
°Terimakasih
semoga kalian bisa saling memberi kebahagia dan kenyamanan..