[Terbit Novel]
Perjalanan cinta unik antara Psikiater dan CIA bernama Justin, untuk mendapatkan informasi mengenai mafia yang menjadi targetnya ia harus berpura-pura menjadi pasien dari Psikiater cantik bernama Jessy.
Bukannya berjalan dengan lancar sesuai rencana, ia malah harus terjebak bersama Jessy. Pertengkaran layaknya Tom & Jerry selalu mengisi pertemuan mereka. Tak menyangka, hal itu justru membuat mereka saling jatuh cinta.
Saat keduanya memutuskan untuk menikah, Justin tidak bisa menjawab pertanyaan Jessy 'Apa pekerjaan mu?' semua semakin rumit saat Justin mendapatkan misi tentang pembunuhan berantai yang disusul oleh kematian Larissa, sahabat Jessy. Kesalahpahaman dan kecurigaan mulai muncul. Akankah semuanya terpecahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan bibir?
"Hei! Berhentilah!." Teriak Jessy, ia lelah harus menuruni tangga darurat ini.
"Kenapa kau mengejar ku?" Teriak Justin yang sudah dibawah. Mereka berbeda belasan anak tangga.
"Kenapa kau lari?" Tanya Jessy balik bertanya.
"Aku melihat aura pembunuhan diwajah mu." Jawab Justin berteriak. Ia ingin lari, namun kasian pada wanita lemah itu. Ini baru 3 lantai mereka berlari, dan wanita itu sudah seperti kelelahan.
"Aku memang akan membunuh mu!"
Justin bersandar ditembok, kepalanya mengadah keatas melihat wajah cantik Jessy yang lelah.
"Bukannya aku sudah minta maaf? Itu hanya lelucon April mop."
"Apanya yang April mop?! Kau melihat tubuh ku!"
"Aku hanya melihatnya sedikit."
"Bohong!"
"Benar, lagi pula aku tidak melakukan apapun. Aku tidak suka tubuh yang berbaring seperti mayat, aku lebih suka tubuh wanita yang agresif." Mendengar itu lelah Jessy hilang.
"Kau benar-benar brengsek!" Jessy menuruni anak tangga. Ia akan mencincangnya habis!.
Justin ingin berlari, namun sampai kapan ia harus kabur dari wanita ini? Akhirnya Justin hanya menunggu Jessy menuruni belasan anak tangga.
"Kau pria kurang ajar!" Justin meringis, lengannya dicubit kecil oleh Jessy, dan ini benar-benar perih.
"Hei lepas!" Jessy semakin mengencangkan cubitannya. Membuat Justin merasa sangat sakit di bagian lengan atas. Ini yang tak bisa ia tebak dari wanita, jika Jessy menonjoknya mungkin ia bisa menangkis, tapi Justin tak pernah menyangka akan mendapatkan cubitan.
"Kurang?" Tanya Jessy. Wanita ini benar-benar mengerikan!.
Justin melepaskan paksa tangan Jessy, ia mengelus bekas cubitan itu dengan kasar, ia tak suka wanita galak. Tanpa disangka, Justin membalikan tubuh Jessy, menghimpit tubuh Jessy ke tembok.
"Aku sudah bilang itu hanya lelucon. Tidak bisakah kita berdamai?" Jessy menggelengkan kepalanya keras.
"Aku tidak tau kau berbicara jujur atau tidak, dan aku tidak ingin mengambil resiko jika nantinya aku hamil!" Justin tersenyum miring.
"Kau tidak akan hamil. Aku bisa pastikan itu."
"Tidak. Kau harus bertanggung jawab. Bahkan nama dan alamat mu saja palsu, lalu apa pekerjaan mu sebenarnya hah? Penulis? Haha kau memang penipu! Bagaimana aku harus percaya kau tidak melakukan apapun pada ku!" Justin mengangkat alisnya sebelah, sorot matanya menajam.
"Aku mencantumkan nama dan alamat asliku disana." Lirih Justin.
"Tidak! Aku malah masuk kekawasan rumah elit. Jika ingin berbohong pintarlah sedikit!" Justin tertawa hambar. Rumahnya memang di kawasan elit. Dan wanita menyebalkan ini tidak percaya?!.
"Kau tidak percaya itu rumah ku?" Jessy membalas tawa hambar itu.
"Kau hanya penipu dan mungkin saja pekerjaan mu itu melawan hukum! Bagaimana aku percaya? Mencuri data-data pasien ku?" Ejek Jessy. Justin yang sudah marah semakin menghimpit tubuh Jessy, membuat wanita itu sedikit panik dan memukul dada Justin.
"Tutup mulutmu yang tajam itu atau akan ku gigit sekarang juga."
"Kau gila!" Pekik Jessy, ia panik saat wajah Justin mendekat padanya.
"Sedikit pelajaran untuk mulut tajam mu yang berisik." Jessy berontak saat tiba-tiba kedua tangannya ditarik keatas dan dipegang kencang oleh Justin, bibir mereka bertemu. Jessy membolakan matanya, jantungnya berdebar. Lidah pria itu menerobos pelan.
"Aku mencari kali..an" ucapan terhenti itu menyadarkan Justin dan Jessy. Justin dengan cepat menjauhkan tubuh mereka, ia hanya ingin menggertak Jessy, namun ia malah kelebihan dan penasaran dengan mulut tajam itu. Wajah keduanya memerah, tak berani saling pandang.
Sam yang berada ditengah mereka pun menjadi canggung. Bukankah tadi mereka akan bertengkar? Kenapa ia malah melihat pemandangan ini!. Sam berdehem, memecahkan suasana canggung.
"Kalian,, bisa meneruskannya." Ujar Sam pada akhirnya, ia hendak berlari keatas, namun suara Jessy menghentikan langkahnya.
"Kau siapanya orang ini?" Tanya Jessy, padahal dari tadi Jessy seruangan di kamar Alicia dengan pria itu.
"Aku asisten pribadinya." Jessy mengerutkan keningnya, sebenarnya apa pekerjaan Justin?.
"Ada yang bisa aku bantu nona?"
"Dia menghamili ku." Jessy menunjuk wajah Justin.
"Apa?!" Pekik Justin dan Sam bersamaan.
"Tidak! Dia berbohong!"
Sam terdiam, ia tak menyangka ternyata sifat ayahnya menurun pada anaknya.
"Ekhem. Tenang, Mr. Franz tidak akan marah besar jika untuk masalah kau menghamili wanita, tidak akan mengamuk seperti menemukan senjata api milik mu seperti dulu."
Jessy terdiam, sedikit terkejut dengan senjata api milik Justin, untuk apa pria itu memiliki senjata api! Yang lebih membuatnya terkejut adalah kata Mr.Franz, apa benar rumah besar itu miliknya? Dan pria tua yang di maksud Mr.Franz adalah ayah Justin. Apa ini? Siapa Justin sebenarnya?.
"Aku akan melaporkan dulu pada Mr.Franz."
"Aku akan benar-benar memecatmu jika kau berbicara padanya!" ancam Justin
°•°•°•°
Cerita mereka dimulai dari sini🥰 buat yang baru baca dan gak ngerti bisa baca dulu One Night Stand With My CEO 🦢
bingung aku...
mohon pencerahannya para readers sekalian
semangat terus berkarya author
tp aku lebih suka visual jessy yg di cerita tentang Alicia