NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Memikirkan

Sam melangkah gontai meninggalkan Rumah Sakit Medika, menaiki angkot terakhir yang lewat di jalan protokol. Di dalam angkot yang berbau asap knalpot dan bersuara mesin mengerang, pikiran Sam melayang-layang liar.

Setibanya di gang sempit tempat kostannya berada, suasana sudah sepi. Sam melangkah masuk ke kamar 3x3 meter miliknya yang pengap, melepas kemeja putihnya yang mulai lecek, lalu menyalakan kipas angin gantung berbunyi kriek-kriek. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur lipat tipis, menatap celah-celah plafon seng yang berdebu.

Tawaran Norman terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Puluhan miliar rupiah, saham perusahaan, rumah mewah, dan mobil mengilap. Angka itu sangat absurd bagi seorang pawang buaya yang biasa memegang uang lima puluh ribu rupiah untuk menyambung hidup dua minggu. Namun, bayangan wajah ibunya yang keriput dan senyum ayah tirinya yang selalu tulus menanti di kampung membuat dada Sam terasa sesak. Bisakah ia menerima uang dari pria yang telah merusak masa kecilnya, hanya demi mempermudah masa depannya?

Tiba-tiba, ponsel retak di samping bantalnya berdering nyaring.

Sam menjangkau ponselnya, mengira itu suara Tia yang mau memprotes daftar menu prasmanan warteg lagi. Namun, nama di layar membuat dada Sam seketika mencelos: "Ibu Kampung".

Jantung Sam berdebar tak menentu. Dengan jemari gemetaran, ia menggeser tombol hijau.

"Halo, Bu? Assalamu'alaikum..." sapa Sam menahan napas.

Di ujung telepon, bukan suara lembut ibunya yang terdengar, melainkan isak tangis yang pecah dan terengah-engah.

"S-Sam... hiks... Sam, kamu di mana nak?" suara ibunya terdengar begitu panik dan putus asa.

Sam langsung terduduk tegak di kasurnya, matanya membelalak lebar. "Bu! Ibu kenapa?! Ada apa di kampung?!"

"Bapakmu, Sam... hiks... Bapakmu tadi malam pingsan di kamar mandi. Asam uratnya ternyata sudah komplikasi ke ginjal dan jantung!" tangis ibunya makin menjadi-jadi. "Sekarang Bapak masuk ruang gawat darurat di Rumah Sakit Daerah Kabupaten! Dokter bilang harus segera dioperasi dan dirawat intensif, kalau tidak... kalau tidak..."

Ibunya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, hanya suara tangis memilukan yang memenuhi pendengaran Sam.

Dunia Sam serasa runtuh seketika. Ayah tirinya—pria sederhana yang meski bukan darah dagingnya, rela membanting tulang menjadi kuli bangunan demi membelikan Sam baju sekolah dan merawat ibunya tanpa pernah mengeluh, kini terbaring kritis bertaruh nyawa.

"B-biaya operasinya berapa, Bu?" tanya Sam dengan suara tercekat di tenggorokan.

"Dokter minta uang muka operasi lima puluh juta malam ini juga, Sam! Belum lagi biaya perawatan intensifnya puluhan juta..." adu ibunya pasrah. "Ibu bingung harus cari ke mana... Rumah di kampung mau dijual juga tidak akan laku cepat. Ibu takut Bapak tidak tertolong, Sam..."

"Ibu tenang ya! Jangan menangis!" potong Sam tegap, berusaha menyembunyikan getaran hebat di suaranya. "Sam ada uangnya! Sam punya simpanan banyak dari bonus tempat kerja! Malam ini juga uangnya Sam transfer! Ibu fokus dampingi Bapak saja!"

"Beneran ada, Sam? Uang sebanyak itu?!"

"Ada, Bu! Demi Allah ada! Ibu jangan khawatir, Sam urus semuanya sekarang!" tegas Sam sebelum menutup telepon.

Setelah panggilan terputus, Sam melemparkan ponselnya ke kasur. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetaran hebat. Air mata pria tegap penakluk buaya itu menetes basah di sela-sela jarinya.

Lima puluh juta untuk uang muka. Puluhan juta untuk perawatan. Ditambah biaya sekolah adik-adiknya. Sementara di rekeningnya saat ini hanya ada sisa uang muka lima ratus ribu dari Tia dan sisa tabungan lima puluh ribu rupiah.

Gengsi? Harga diri? Dendam masa lalu? Semua hal itu mendadak menjadi sangat tidak berguna dan dangkal ketika berhadapan dengan nyawa orang tua yang telah membesarkannya.

Sam menarik napas panjang, menghapus air matanya dengan kasar memakai punggung tangan. Matanya menyala dengan keputusan bulat yang tak bisa diganggu gugat. Ia meraih ponselnya kembali, mencari nomor yang baru saja tersimpan tadi sore: "Hendra - Sekretaris Papa".

Tanpa ragu satu detik pun, Sam menekan tombol panggil.

Panggilan itu diangkat pada deringan pertama. "Halo, Mas Samsudin?" suara Hendra terdengar tenang di ujung telepon.

"Mas Hendra..." kata Sam dengan nada tegas dan dalam. "Saya mau terima tawaran Papa."

Hening sejenak di ujung telepon, sebelum suara napas lega Hendra terdengar. "Pilihan yang sangat bijak, Mas Sam. Bapak pasti akan sangat bahagia mendengarnya."

"Tapi saya punya syarat mutlak yang harus dipenuhi malam ini juga!" potong Sam tanpa jeda.

"Sebutkan saja, Mas. Apapun itu."

"Kirimkan uang seratus juta rupiah malam ini juga ke rekening ibu saya di kampung. Ayah tiri saya sedang kritis di ICU Rumah Sakit Daerah dan butuh biaya operasi darurat," ujar Sam lantang. "Kalau uang itu masuk malam ini, besok pagi saya bakal tanda tangani semua dokumen balik nama aset dan warisan Papa!"

"Tidak perlu menunggu besok pagi, Mas Sam," balas Hendra cepat tanpa ragu sedikit pun. "Dalam waktu lima menit, uang seratus juta rupiah akan langsung ditransfer ke rekening Ibu Mas Sam. Saya juga akan mengirimkan tim dokter spesialis terbaik dari Jakarta untuk mendampingi perawatan ayah tiri Mas Sam di RSUD."

Dada Sam terasa begitu bergemuruh. Rasa lega yang teramat sangat menyeruak, membakar habis sisa-sisa kesedihan dan beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya.

"Terima kasih, Mas Hendra..." ungkap Sam tulus.

"Sama-sama, Mas Sam. Selamat datang kembali di keluarga. Besok pagi mobil akan menjemput Mas Sam di kostan untuk proses penandatanganan dokumen bersama pengacara Bapak."

Setelah telepon ditutup, hanya butuh waktu tiga menit sampai ponsel Sam berdering kembali. Panggilan dari ibunya di kampung, kali ini dengan tangis haru luar biasa karena uang seratus juta rupiah sudah masuk ke rekening dan pihak rumah sakit langsung menyiapkan ruang operasi untuk ayah tirinya.

Sam menyandarkan punggungnya di dinding kamar kostnya yang rapuh. Ia menatap celana pendeknya, kaus oblongnya yang lusuh, dan celana dalam kesayangannya yang tergantung di pintu.

Mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Samsudin si pawang buaya berpenghasilan UMR yang dicicil tiga ratus ribu per bulan oleh wanita staf admin, kini secara resmi telah berubah menjadi putra mahkota konglomerat beraset puluhan miliar rupiah.

Tiba-tiba, bayangan wajah Tia melintas di pikiran Sam.

Sam tertawa pelan sendiri di dalam kamarnya yang sunyi. Ia membayangkan bagaimana reaksi Mbak Tia, wanita yang nekat meminjam pinjol lima juta rupiah dan mau menjual kulkas serta celengan ayam demi menyewa dirinya, saat mengetahui bahwa 'suami kredit' yang dibayarnya secara mengangsur sepuluh kali itu ternyata adalah seorang calon miliarder kaya raya.

"Mbak Tia, Mbak Tia..." gumam Sam sambil mengocok rambutnya, tersenyum lebar. "Sepertinya pesta pernikahan di gedung kelurahan pakai katering warteg itu harus di-upgrade jadi di ballroom hotel bintang lima... dan cicilannya anggap saja lunas!"

1
ˢ⍣⃟ₛ ERti ˢ⍣⃟ₛ.
tambahin up dong tor lagi seru lo torr
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu

udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
Ass Yfa
Sam...kalo belum mau jujur...bilang sja ke Tia...aku siap nafkahi mb tiSd. lahir batin🤭🤭
Ass Yfa
mereka itu miskom..belum ada kejujuran diantara mereka
Ardan
Sam kamu lelaki sejati, tambahin dong kalimat, "aku sudah ada rasa ama Mba Tia" 😍
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
Arin
Hayo..... mau cari alasan apa Mas Sam?? Sudah diterima kerja kantoran??? Tapi dalam hati bilang dengan gaji milyaran🤣🤣🤣🤣
Hary Nengsih
lom tau suami nya sultan
Arin
Cobalah saling terbuka, biarpun hanya suami-istri kontrak sementara.
Ida Khalifah: lanjut Thor 💪
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Khaira Almahendra
lanjoot thoor...mkn gregetan ni cerita nya😄,,,💪💪💪othor
Faidah Ida
lucu dan gemes thor,... 🤣🤣🤣

turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
Ass Yfa
Samsudi...gara2 grogi..mlh bikin dapur berantakan🤭
Ass Yfa
mb Tia suruh nglamar ditempat Sam
Ardan
sing sabar mbar, bojo mu si pawang buaya, udah jadi milyader loh, utang mu wis pasti dilunasin
Rommy Wasini Khumaidi
ini pasti mimpi,gk mungkin mereka secepat kilat melakukanya
❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ
itu akibatnya main nikah² an jadi serbasalah kalau ada adegan dewasa dikit udah tegang😁
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran
Ardan
makin lucu aja tingkah berdua🤣
Arin
Hayo lo..... Mba Tia. Sampai umur 35 baru ngelihat bentuk "ular ponton"?? 🤣🤣🤣 Apa lagi punya Mas Sam sang suami " kredit" Apa gak pengin di cicil dulu coba-coba kenalan dulu biar akrab🤭🤭🤭🤭
Hary Nengsih
ada2 ajs🤣🤣
Ass Yfa
😄😄😄😄ular piton...besar ya Tia...nggk pengin kamu🤭🤭
Rommy Wasini Khumaidi
sayang udah disewain kamar kalau dianggurin mas Sam,gas aja daripada nanggung,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!