NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 MALAM YANG DAMAI

(Sedikit informasi lagi untuk para pembaca setia seri novel TIRAKAT.)

(Ada beberapa pembaca yang mengirimkan pesan kepada saya selaku penulis. Bertanya tentang TIRAKAT 6 ini dimulai dengan garis waktu kapan?)

(TIRAKAT 6 ini dimulai dengan mengambil garis waktu setelah perpisahan Zaki dan Nisa di kereta api Brantas pada seri TIRAKAT 3. Jadi alur cerita TIRAKAT 6 ini diawali dengan mundur 6 tahun sebelum Zaki dan Nisa bertemu kembali di halaman rumah Nisa yang ada di ending TIRAKAT 5.)

(Dan TIRAKAT 6 ini fokus sudut pandang sepenuhnya adalah Zaki.)

(DAN TIRAKAT 6 INI ADALAH SERI YANG AKAN MENGUNGKAP BANYAK "SECRET PLOT" DI DALAM SERI TIRAKAT 3, TIRAKAT 4, DAN TIRAKAT 5.)

(Yuk, kita lanjutkan kisah hidup Zaki! Selamat lanjut membaca, ya... 😊😊😊)

.....

.....

.....

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳

Tak terasa...

Sinar terik sang surya perlahan meredup tergantikan jingganya senja, dan senja pun akhirnya larut dalam pelukan pekatnya malam.

Zaki telah menunaikan kewajibannya; mendirikan shalat Magrib dan Isya, serta melantunkan ayat-suci Al-Qur'an. Pemuda itu kini tengah sibuk membereskan barang bawaannya. Ia mengeluarkan pakaian dan barang-barang pribadinya dari dalam tas yang ia bawa jauh-jauh dari Jakarta.

Satu per satu, pakaiannya ia susun rapi di dalam lemari kayu tua di kamar masa kecilnya. Beberapa barang pribadinya ia letakkan berjejer di atas meja kecil di sudut kamar, sementara sisanya ia simpan di dalam laci meja tersebut.

Begitu seluruh barangnya rapi pada tempatnya, Zaki berdiri di tengah-tengah kamar. Ia menggeliat, meregangkan otot-otot tubuhnya yang menegang.

Rasa lelah yang luar biasa masih membebani tubuhnya, buah dari perjalanan belasan jam membelah jalur darat dari Jakarta hingga ke pelosok Jawa Timur ini.

Ditambah lagi, seluruh persendiannya kini terasa pegal-pegal setelah ia menghabiskan sisa sore tadi untuk menyapu dan membersihkan seluruh ruangan berdebu di rumah lawas ini.

Zaki melangkah keluar dari kamar, berniat menuju ke arah dapur di bagian belakang rumah. Ia teringat masih menyimpan beberapa sachet teh celup yang ia beli di stasiun sebelum menaiki Kereta Api Brantas, serta sisa sebungkus biskuit yang sempat ia makan bersama Nisa di gerbong kereta.

Beruntung, sore tadi sebelum azan Magrib berkumandang, Zaki sempat mampir ke warung terdekat untuk membeli beberapa kebutuhan pokok dapur. Meski, ia harus rela menempuh jarak yang lumayan jauh dengan berjalan kaki melewati jalanan tanah berbatu.

Sesampainya di dapur, Zaki segera mengambil sebuah gelas berukuran besar yang sudah ia cuci bersih. Ia memasukkan satu kantong teh celup, tak lupa menambahkan dua sendok makan gula pasir agar rasanya lebih nikmat.

Lalu, ia beranjak mengambil air bersih dari dalam padasan—gentong tanah liat berukuran besar—yang ada di sudut dapur. Air tersebut adalah hasil keringatnya sendiri sore tadi, yang ia timba secara manual dari sumur tua di halaman belakang menggunakan kerekan tali tambang. Maklum saja, rumah warisan ini tak memiliki tandon penampungan air ataupun mesin pompa listrik layaknya rumah-rumah modern di ibu kota.

Air jernih dari gentong itu ia tuangkan ke dalam panci aluminium peninggalan mendiang ibunya, lalu ia letakkan di atas tungku batu di sudut lain dapur.

Zaki berjongkok, merangkai beberapa ranting kayu kering di dalam tungku, lalu mengambil sekotak korek api batangan yang baru ia beli dari warung.

Cekrek... Cekrek...

Ia menggesekkan ujung korek, memercikkan api kecil ke arah ranting. Sayangnya, percikan itu belum cukup kuat untuk memicu nyala api pada kayu bakar tersebut.

Kedua mata Zaki menyapu seisi ruangan dapur yang temaram, mencari secarik kertas atau benda mudah terbakar lainnya untuk dijadikan umpan. Pandangannya jatuh pada tumpukan koran bekas yang sudah menguning di atas sebuah meja reot.

Zaki segera merobek beberapa lembar koran tua itu, meremasnya sedikit, lalu menyelipkannya tepat di bawah tumpukan ranting kayu.

Cekrek... Cekrek... WUSSH!

Kali ini berhasil. Lembaran koran itu langsung tersambar api, yang dengan cepat membesar dan mulai melahap kayu-kayu kering di atasnya. Seketika, asap tebal mengepul, membumbung pekat ke udara dan menyebar memenuhi dapur. Mata Zaki refleks menyipit, terasa sedikit perih karena kelilipan asap pembakaran.

Menunggu airnya matang, Zaki bangkit dan berjalan menuju sebuah kursi kayu panjang. Ia menghempaskan tubuhnya yang letih di sana, lalu merobek bungkus biskuit miliknya. Ia mengunyah kepingan biskuit itu perlahan. Rasa gurih dan renyah perlahan memanjakan lidahnya.

Sambil terus mengunyah, tatapannya menerawang jauh ke sekeliling dapur tua itu.

Seketika... proyektor kenangan di kepalanya kembali menyala.

Ia seperti melihat kembali sosok sang Bapak yang baru saja pulang dari kebun kopi, melangkah masuk ke dapur dengan keringatnya yang bercucuran, lalu meletakkan cangkul dan arit di sudut ruangan, disusul caping bambunya yang usang.

Tak ketinggalan, bayangan sang Ibu yang dengan cekatan menyiapkan minuman hangat, atau berjongkok di depan tungku ini setiap pagi sambil memasak lauk pauk sederhana nan lezat.

Bibir Zaki melengkung ke atas, menyunggingkan senyum hangat saat memori-memori itu kembali menyapanya.

Tak butuh waktu lama, suara gemericik keras terdengar dari arah tungku. Air di dalam panci telah bergolak mendidih.

Zaki lekas bangkit, mematikan sisa kayu bakar, lalu menyeduh tehnya.

Krucuk... krucuk... krucuk...

Suara air panas yang mengalir masuk ke dalam gelas berpadu dengan asap tipis yang mengepul membawa aroma teh yang menenangkan.

Krinting... krinting... krinting...

Bunyi denting sendok yang beradu dengan dinding gelas menggema pelan saat Zaki mengaduk gula agar larut sempurna.

Membawa segelas teh panas di tangan kiri dan bungkusan biskuit di tangan kanan, Zaki melangkah keluar dari dapur. Ia berjalan perlahan melewati kamarnya, kamar mendiang orang tuanya, hingga menembus ruang keluarga dan ruang tamu.

Kini... Zaki telah duduk bersantai di area teras rumahnya.

Begitu ia duduk menyandarkan punggungnya di teras itu...

Seketika, segala bebunyian alam yang mustahil ia dengar di tengah bisingnya hiruk pikuk kota Jakarta, langsung menyergap gendang telinganya.

Krik... krik... krik... krik...

Suara orkestra jangkrik bersahut-sahutan dari balik semak belukar.

Wuuussshhh...

Angin malam berhembus membelai wajahnya, membawa serta aroma khas getah pepohonan basah dan tanah persawahan yang menyegarkan dada.

Kroook... kroook... kroook...

Suara parau katak dari parit di sekitar rumah ikut meramaikan simfoni malam yang terasa begitu syahdu.

Tak ketinggalan, dari balik pilar kayu di atas kepalanya, seekor tokek ikut menyuarakan eksistensinya.

Tok... keeek... Tok... keeek... Tok... keeek...

Zaki memejamkan mata sejenak, meresapi dan menikmati kedamaian paripurna dari suasana pedesaan yang telah lama ia rindukan ini. Ia mengangkat gelasnya, meniup permukaan teh yang masih mengepul pelan, lalu menyesapnya.

"Ssslllrrrppp... Aaahhh... Alhamdulillah..." Zaki mendesah puas.

Kehangatan teh manis itu mengalir turun, menghangatkan rongga dadanya.

Kedua matanya kini memandang jauh ke seberang halaman.

Di kejauhan, tampak siluet rumah-rumah tradisional tetangga dengan atap genting berpadu dengan atap dari daun pandannya. Pendar cahaya kekuningan dari lampu-lampu bohlam 5 watt memancar redup dari teras-teras rumah warga, menembus jarak yang lumayan jauh, terpisahkan oleh petak-petak sawah dan kebun rimbun milik warga desa.

Beberapa kali, pandangan Zaki menangkap aktivitas warga lokal yang masih berlalu lalang di jalanan tanah berbatu di depan pekarangannya.

Tampak serombongan bapak-bapak melintas mengenakan baju koko, peci miring, dan sarung yang diselempangkan di leher—pertanda mereka baru saja pulang dari acara selamatan atau pengajian desa.

Ada juga warga yang berjalan santai sambil mengisap rokok klobot (daun jagung) yang asapnya mengepul tebal. Sesekali, keheningan dipecahkan oleh suara mesin motor tua yang menderu kasar, menyisakan kepulan asap knalpot tipis di udara malam.

"Ya Allah... Kayaknya waktu bener-bener udah berlalu lama banget, ya. Gak nyangka aku bakal pulang lagi dan duduk di rumah ini setelah sekian lama...." gumam Zaki pada dirinya sendiri, larut dalam keheningan teras rumah masa kecilnya.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Apakah itu artinya kaka bisa meraga sukma seperti zaky atw nisa???
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yg biasa juga disebut pati geni bukan sih?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Akhirnya harumi percaya juga klo selain ilmu logika ada juga mistis.

Nggak aneh ya klo harumi Nggak percaya, kna dari kecil dia nggak kek haruma yg pernah ngerasain hal mistis. dari haruma jadi tangan nyari tumbal untuk ortunya, trs yg di pondok sampe jadi anak angkat nisa.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Harumi pke nya logika ya dia nggak ingat klo keluarga nya itu berhubungan sama klenik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
lahh ya emang ini awalnya dari orang yg dendam sama kmu Zakk, jadi ya kmu yg harus selesai kan sendiri.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh setuju, zaky kudu turun gunung laku Tirakat lagi biar bisa bareng bareng nisa melawan terorr santet itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Orang pintar siapa yg membantu yuli mewujudkan dendam nya??
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang sekelas Nisa punya 2 perewangan 3 sama punya haruma saja perjuangan melawan santet kiriman yuli apalagi yg orang biasa ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ada pepatah yang terkenal dari dulu, Kak:

"Semakin tinggi pohon kelapa, semakin kencang angin yang menerpa."

Mungkin itu pepatah yang sesuai sama kondisi kebatinan dan kemampuan Nisa yang sekarang. Kalau di awal-awal seri, Nisa kan cuma menghadapi bangsa lelembut kelas rendah (sosok Gilang misalnya). Nah, sekarang yang dihadapi adalah rasa dendam dari manusia yang bersekutu dengan iblis.
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh seperti itu ya serem juga ya dua santet kutukan tsb
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: klo nggak baca karya ini aku mana tau yg namanya santet
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
6 tahun di waktu yg sama

Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berburuk sangka pada manusia saja tidak dianjurkan, apalagi berburuk sangka pada Tuhan, yulll.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
astaga yullll barbar skali, udah kek preman cewek
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
wkwkwk asyuuu wong cerbon


aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤭🤭🤭

Makanya saya juga nulis dialognya natural aja, Kak... Wkwkwk... Biar terasa semirip mungkin sama kondisi nyatanya...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cirebon kota yang biasa disebut sebagai kota udang, kota nya sunan gunung jati.

Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.

Selamat Datang di Cirebon Yuli.
Irman
kesedihan yang datang berturut-turut untuk Yuli...😢
semangat yul💪💪
Irman: rasanya sakit hati ini, ka othor sukses buat pembaca serasa masuk dalam cerita... 👍👍👍
total 2 replies
Irman
aku juga pasti sedih jika d posisi keluarga Wiwi,,,😢
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak Irman...

Saya juga pas menulis naskah BAB ini, benar-benar meresapi bagaimana rasanya kalau saya yang jadi Yuli... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh sadissss

seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak...

Sebenarnya, dari semua seri TIRAKAT yang aku tulis, TIRAKAT 6 ini yang akan paling banyak pesan moralnya buat para pembaca, buat saya juga...

Pesan moral tentang rasa cinta, pengorbanan, dendam, amarah, kasih sayang, dan keluarga... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak cinta Zaky ke Wiwi tulus... itu knpa dia mengabaikan omongan mbah joyoo

yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kaaak... 🥰🥰🥰

Semoga nggak bosen-bosen ya Kak bacanya... hehehe...

Insya Allah, rencana saya buat TIRAKAT ini, The Last Chapternya ada di TIRAKAT 9.
total 3 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh Zakk ada yg nangis darah kna keegoisan kmu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh si mbok juga jadi korban ya? pantes Yuli dendam.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak... Karena Si Mbok pas hari dimana tragedi itu terjadi, beliau juga ada di dapur yang sama dengan Dek Wiwi... Hanya saja tidak banyak diekspos keberadaan Si Mbok, fokusnya memang ke Zaki dan Dek Wiwi saja...

Bahkan Yuli, Kakaknya Dek Wiwi pun, dari awal kisah pertemuan Zaki-Dek Wiwi, dirinya sama sekali nggak muncul satu dialogpun.

Sengaja baru dimunculkan sekarang... 😭😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!