Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: CLARISSA MENGEPEL TOILET ALESHA
Pukul 07.00 pagi. Vantec Tower, lantai 88.
Lantai khusus CEO.
Sebelum Alesha ambil alih, lantai 88 adalah tempat eksklusif. Karpet wol tebal, aroma biji kopi pilihan, dan aturan ketat yang cuma boleh diinjak direksi. Tidak ada debu pun yang boleh singgah.
Tapi hari ini, tempat impian itu jadi neraka buat satu orang wanita.
Clarissa Mahardika.
Seragam OB abu-abu kebesaran yang ia pakai sejak lobi Gedung Vion kemarin masih nempel di tubuhnya. Bau deterjen murah menyengat, ada robek kecil di bagian ketiak. Topi seragam nutup rambutnya yang dulu selalu ditata jutaan di salon mewah. Di tangannya sekarang bukan tas Hermes ratusan juta, tapi ember air keruh lengkap dengan sikat kloset kuning yang sudah usang.
Tepat di depannya, pintu kaca ukir huruf emas: CEO - NYONYA ALESHA VION.
Pintu berderit terbuka. Sekretaris pribadi Alesha keluar dengan ekspresi datar tanpa emosi.
"Nona Clarissa. Nyonya Vion sudah tiba di ruangan. Tugas pertama Anda hari ini bersihkan kamar mandi pribadi Nyonya Vion sampai kinclong. Beliau tidak suka bau tidak sedap."
Clarissa membelalak ngeri. "Kamar mandi? Aku... aku disuruh bersihkan toilet?"
"Benar. Kamar mandi pribadi Nyonya di dalam ruang CEO. Bergerak cepat, Nyonya akan pimpin rapat jam delapan tepat."
Sekretaris itu pergi begitu saja, biarin Clarissa terpaku sendiri di depan pintu ruang CEO dengan ember pel di tangan.
Dua bulan lalu, Clarissa adalah putri kesayangan Presdir Grup Mahardika yang ditakuti banyak orang. Dialah yang rampas gaun pengantin Alesha tiga ratus juta di Hotel Grand Mulia sambil hina, "Gaun murahan kayak kamu tidak pantas pakai ini, Alesha. Ini cuma layak dipakai putri presdir seperti aku."
Hari ini, ia justru harus bersihkan kamar mandi milik wanita yang gaunnya ia rebut tempo hari.
Dengan jari gemetar, Clarissa dorong daun pintu kaca itu.
Interior ruang CEO luas dan megah. Meja kerja dari kayu jati asli, sofa kulit impor, dinding kaca yang suguhkan panorama seluruh kota. Di tengah ruangan, Alesha duduk di kursi kebesarannya pakai blazer putih dipadu rok pensil hitam, kaki jenjang disilang anggun. Cincin berlian biru lima karat di jari manisnya mantulin cahaya lampu. Wanita itu lagi seruput kopi hangat sambil baca laporan keuangan.
Di sisi meja, Vion bersandar santai pakai jas hitam, menatap tajam tanpa ampun ke arah Clarissa yang bawa ember pel.
Clarissa nunduk dalam. Air matanya mau tumpah.
"Nyonya Vion... saya..."
Alesha bergeming tanpa noleh. Ia tetap fokus ke laporan di tangannya.
"Kamar mandinya di sebelah sana, Clarissa, pintu kayu putih itu. Saya baru pakai tadi pagi, jadi kondisinya agak kotor. Bersihkan sampai harum. Saya mau pakai lagi sebelum rapat dimulai."
Nada Alesha manis dan lembut, tapi tiap katanya seperti pisau tajam yang ngulitin harga diri Clarissa.
Wanita itu seret ember pelnya menuju pintu kayu putih. Tiap langkah berat, seperti mikul beban berton-ton.
Ia dorong pintu kamar mandi pribadi itu.
Ruangan itu bahkan jauh lebih luas daripada kontrakan Rian di Tanjung Priok. Lantai marmer putih bersih, bathtub besar, cermin raksasa, dan wangi parfum kelas atas. Tapi di dalam mangkuk kloset porselen putih itu, tampak noda kekuningan sisa pemakaian Alesha.
Clarissa berdiri mematung di depannya dengan sikat kloset di tangan. Tangan yang dulu cuma pegang kartu kredit unlimited dan setir mobil sport mewah kini harus pegang sikat pembersih bau tidak sedap.
Pertahanan batinnya runtuh. Air mata Clarissa tumpah seketika, netes satu per satu ke lantai marmer mengilap.
"Aku... aku tidak sanggup..." bisiknya parau.
Dari ambang pintu, suara Vion terdengar dingin dan mengintimidasi.
"Nona Clarissa. Kalau Anda tidak sanggup bersihkan toilet, saya punya alternatif lain. Saya bisa kirim Anda langsung ke kantor polisi atas kasus pemalsuan laporan keuangan fiktif Grup Mahardika bulan lalu, pasal penggelapan dana dengan ancaman delapan tahun penjara. Silakan pilih, sikat kloset atau jeruji besi?"
Clarissa terisak tertahan. Sekujur tubuhnya gemetar hebat.
Ia jatuh berlutut di depan kloset itu. Lututnya bentur marmer dingin, seragam OB kebesarannya keseret menyentuh genangan air kotor di lantai.
Dengan tangan masih gemetar, ia mulai gosok mangkuk kloset itu.
Sikat kuning bergerak naik turun. Cipratan air kotor muncrat kena jari, wajah, sampai seragamnya.
Di luar, Alesha tetap nikmati kopi dengan tenang, bahkan tidak niat noleh ke arah kamar mandi.
"Vion, laporan kuartal ketiga Vantec naik empat ratus persen," lapor Alesha santai.
"Bagus, Ratuku. Kamu memang pemimpin paling cerdas," puji Vion, sementara pandangannya tetap awasi celah pintu kamar mandi di mana Clarissa bersimpuh.
Suara gesekan sikat terdengar sayup dari dalam, srek... srek... srek, bercampur isak tangis tertahan.
Clarissa gosok sambil ratapi nasib. Air matanya campur dengan cipratan air kotor di lantai.
Dulu, dialah yang bikin Alesha nangis berurai air mata di altar karena rebut suaminya.
Kini, dialah yang nangis di dalam kamar mandi Alesha sambil bersihkan kotoran wanita itu.
Lima menit berlalu, Clarissa keluar dari kamar mandi dengan muka pucat pasi dan tangan basah kuyup. Ember pel masih di genggamannya.
"Su... sudah bersih, Nyonya Vion..." bisiknya serak dengan kepala tertunduk rapat, tidak berani tatap langsung ke Alesha.
Alesha akhirnya dongak. Ia scan penampilan Clarissa dari ujung kepala sampai kaki.
Ia bangkit dari kursi dan melangkah dekati Clarissa. Hak tingginya bunyi nyaring di marmer. Tuk. Tuk. Tuk.
Wanita itu berhenti tepat di depan Clarissa yang masih bersimpuh.
Alesha ambil sehelai tisu di atas meja, lalu dengan gerakan pelan seka noda cipratan air kotor yang nempel di pipi Clarissa pakai ujung jarinya.
Gerakan itu tampak begitu lembut, tapi penuh penghinaan telak.
"Sudah bersih? Mari saya periksa dulu," ucap Alesha manis.
Alesha melangkah masuk ke kamar mandi pribadi itu. Beberapa pegawai yang ngintip dari luar pintu kaca refleks tahan napas.
Sepuluh detik berselang, Alesha keluar dengan kening sedikit berkerut.
"Masih bau, Clarissa. Dan masih ada noda tersisa di sudut mangkuk kloset. Bukannya dulu Anda putri presdir yang paling jaga kebersihan? Kenapa urusan sikat toilet aja tidak beres? Ulangi lagi sampai saya bisa lihat pantulan wajah saya di porselen itu."
Clarissa membelalak tidak percaya. "Tapi... tapi tadi..."
"Ulangi," potong Alesha dingin. Senyum manisnya hilang ganti sorot mata ratu yang kejam. "Atau Anda mau saya hubungi polisi sekarang juga?"
Clarissa tidak punya opsi lain. Dengan air mata kembali tumpah, ia seret lagi ember pelnya menuju kamar mandi untuk kedua kalinya.
Pintu putih itu ditutup rapat dari luar oleh Alesha. Brak!
Dari balik pintu, kembali terdengar sikat yang digosok lebih bertenaga, diselingi tangis Clarissa yang mati-matian ia redam.
Di luar, Vion menatap Alesha dengan campuran kagum dan ngeri.
"Kamu sungguh ratu yang kejam, Alesha Vion."
Alesha senyum dingin, lalu kembali duduk di kursi CEO.
"Belum seberapa, Tuan Vion. Ini baru permulaan. Saya mau dia ngepel toilet saya tiap hari selama sebulan penuh biar dia tahu rasanya jadi pesuruh setelah lancang rebut gaun pengantin saya."
Vion tertawa rendah penuh kepuasan, lalu dekap pinggang Alesha dari belakang.
Di dalam kamar mandi, Clarissa masih bersimpuh sikat kloset Alesha untuk kesekian kalinya sambil nangis histeris, pakai seragam abu-abu yang kini basah kuyup oleh air kotor dan air matanya sendiri.
Sementara itu, jauh di luar gedung tepat di pangkalan ojek, Rian menyaksikan video amatir tentang Clarissa yang lagi ngepel toilet, yang diam-diam direkam karyawan dan dibagikan ke grup WhatsApp driver dengan judul: MANTAN PUTRI PRESDIR JADI TUKANG SIKAT WC.
Rian banting helm usangnya ke aspal sampai hancur berkeping.
Keluarga yang dulu nistakan Alesha kini benar-benar runtuh satu per satu di bawah telapak kaki wanita itu.