Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ultimatum
Fio berada di dalam taksi cukup lama. Ia bingung ingin ke mana. Fio hanya menatap layar ponselnya yang menyala dengan nama Giorgio tertulis di sana.
“Mbak, kita mau ke mana ya?” tanya Bapak sopir yang duduk di depan Fiona.
Bapak paruh baya itu menatap Fio dari spion dalam berharap mendapat jawaban. Namun, Fio malah melamun. Dengan kepala yang menunduk dan menatap layar ponselnya, dia mengabaikan pertanyaan itu hingga Pak sopir mengulangnya.
“Mbak, kita sudah muter – muter bunderan Hi tiga kali loh. Sebenarnya, tujuan Mbak mau ke mana?”
Fio masih tetap pada posisinya, hingga tiba – tiba …
Ngiiiik
Bapak sopir sengaja menepi dan berhenti. Tubuh Fio sedikit ikut maju karena pemberhentian yang tanpa aba – aba tadi dan membuatnya tersadar.
“Pak, kenapa berhenti?” tanyanya bingung saat matanya sudah terfokus ke depan.
“Lah, saya bingung Mbak. Saya tanya Mbak mau ke mana tapi Mbak nya ga jawab – jawab. Saya sudah muter bunderan HI tiga kali.”
“Oh ya?” Fio baru menyadari setelah mengedarkan pandangan berkali – kali. “Maaf, Pak.”
“Iya, tidak apa. Sepertinya, Mbak lagi banyak pikiran.”
Fio mengangguk.
“Abis putus cinta ya, Mbak?”
Fio tersenyum dan menggeleng. “Ngga, Pak.”
“Oh kiran. Soalnya saya banyak bawa perempuan kaya mbak gini curhatnya kalau ngga abis diputusin, atau mau cerai.”
Fio menggeleng lagi. “Ngga dua – dua nya juga.”
“Syukurlah.”
Sopir itu benar – benar sok tahu dan mau tahu. Akhirnya, Fio memutuskan. “Antar saya ke apartemen boulevard aja, Pak.”
“Oke, siap.”
Kebetulan, apartemen itu tidak jauh dari tempat mobil Fio berputar – putar tadi. Denga sigap dan cekatan, Pak sopir pun melajukan mobilnya lagi. Dia senang karena kali ini ada tujuan.
Setelah memutuskan tujuan perjalanan, Fio mematikan ponselnya dan memasukkan lagi ke dalam tas. Dia belum menghubungi penghuni apartemen yang hendak dia kunjungi malam ini.
“Sudah sampai, Mbak.”
Fio mengangguk. Tiga puluh menit kemudian, ia tiba di lobby apartemen mewah ini.
“ini, pak.” Fio memberikan tarif perjalanan berikut tips yang senilai dari perjalanannya.
“Mbak, ini kebanyakan,” tutur pak sopir dengan tangan terulur.
Dia memberikan lagi uang lebih itu pada Fiona. Namun. Fio menolak. “Ini buat Bapak.”
“Tapi kebanyakan, Mbak.”
“Tidak apa,” jawab Fio. “Saya sudah lama menggunakan waktu kerja bapak karena tadi sempat muter – muter ga jelas.”
Pak sopir itu tersenyum dan menempelkan uang itu di keningnya. “Alhamdulillah. Berkah ya, Mbak. Lancar rezekinya dan cepet dapat jodohnya.”
Fio tersenyum. “Amin. Terima kasih Pak.”
“Sama – sama, Mbak. Saya yang terima kasih.”
Mobil itu pergi dan Fio masuk sembari menggeret koper. Tidak mudah untuk masuk ke dalam unit apartemen ini. tanda pengenal harus ditinggalkan di meja resepsionis atau jika wajahnya tidak sering terlihat memasuki area ini, maka mereka akan menghubungi penghuninya lebih dulu.
Namun, karena wajah Fio tidak asing bagi mereka dan kerap datang dengan penghuninya, bahkan akses khusus diberikan, maka Fio diperbolehkan masuk tanpa pengenal.
Klik
Klik
Klik
Fio menekan passcode yang diberikan oleh pemiliknya sejak setahun yang lalu. Pintu itu pun terbuka.
“Akh.”
“Ssshhh …”
“Oh.”
Terdengar suara manja di sana. Dahi Fio mengernyit. Dadanya mulai dag dig dug. Namun, dia tidak takut. Justru, Fio semakin penasaran dan ingin membuktikan.
“Gala … Pelan – pelan. Ini sakit.”
Fio berdiri. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Gala dengan Vania.
Tidak ada ekspresi.
Tidak ada kesedihan.
Fio hanya menonton dari balik pintu kamar Gala yang sedikit terbuka. Namun, posisinya sangat jelas. Dua pasang manusia yang sedang menuntaskan hasr4tnya. Dua pasang manusia yang sedang bergumul, layaknya bin4t4ng.
Cukup lama, Fio berdiam di sana. Dia seperti sedang menonton fil blue tanpa sensor. Apalagi, suara Vania yang cukup kencang dan menggema. Vania berisik dan terdengar menjijikkan.
Hingga, saat Gala merubah posisinya dan sedikit bangkit ingin memeluk Vania, dia menoleh ke arah pintu.
“Fiona!”
Gala terkejut. Dia mendorong Vania hingga wanita itu terjungkal ke lantai dan langsung mengambil boxernya.
“Fio, sejak kapan kamu di situ?”
Fiona tidak menjawab. Bibirnya kelu. Dia diam. Padahal, tadinya dia ingin memblokir nomor Gio dan tidak ingin mengkhianati Gala. Fio sadar bahwa apa yang telah dia lakukan pada Gio akhir – akhir ini adalah salah satu bentuk perselingkuhan. Beberapa kali pertemuan, mereka pernah berciuman.
Tapi, apa yang dilakukan Gala malah lebih dari itu.
“Fio, aku bisa jelaskan,” ucap Gala ketakutan.
“Jadi, dia bukan sepupumu?” tanya Fio tenang sambil mengarahkan matanya pada Vania yang ikut memungut pakaian di lantai.
“Aku bisa jelaskan.”
Kini, tatapan Fio beralih ke Gala. “Apa yang ingin dijelaskan? Semua sudah terlihat jelas.”
“Ini tidak mengubah apa pun, Fio. Kita tetap akan menikah.”
Fio menatapnya tajam dan mendengarkan Gala yang kembali bicara.
“Aku tahu, sejak dulu kamu menyukaiku. Mengagumiku. Jadi, jangan perbesarkan masalah ini. Yang penting, aku jadi suamimu kan? Kamu mendapatkanku dan Om Arif mendapatkan apa yang dia mau. Kita impas.”
Fio menatap Gala tanpa ekspresi. Aura dingin menyergap hingga Gala hampir tergagap.
“Hah!” Gala mengalihkan dengan tertawa. “Lagi pula, salah kamu juga, makanya aku jadi begini. Kita sudah sama – sama dewasa Fiona. Setahun, kita berhubungan. Bahkan sudah tunangan, tapi ciuman saja kita tidak pernah. Kamu terlalu kaku.”
Lagi – lagi, Fio hanya menatap Gala.
“Aku butuh Vania untuk menyalurkan kebutuhanku. Dan, aku butuh kamu untuk menjaga semua asetku. Tidak ada yang dirugikan karena kamu juga dapat bagian. Pamanmu juga dapat bagian. Deal kan?”
Melihat tatapan Fio dan bibir yang tak bicara sepatah kata pun, Gala kesal. “Jangan tatap aku seperti itu!”
Seharusnya, Fio yang kesal tapi melihat tatapan dingin tanpa ekspresi itu justru membuat Gala bergemuruh dan kesal.
“Aku bukan penjahat! Aku tidak habis membvnvh orang. Jadi, jangan melihatku seperti itu!”
Fio pun menunduk. Dia mengalihkan tatapan dengan sedikit mengarahkan matanya pada sepasang sepatu yang dipakai. Tanpa sadar, Fio mengenakan sepatu yang diberikan Gio saat dia masih bersinggungan dengan pria itu saat bertugas di Milan.
Fio memilih membalikkan tubuh dan hendak pergi. Namun, Gala menahan.
“Fio, lusa kita tetap menikah. Tunggu aku di sana.”
Fio mengabaikan kalimat itu. kakinya tetap berjalan menuju pintu.
“Fio, dengar. Jangan macam – macam! Atau Om Arif tidak akan mendapatkan apa – apa dariku.”
Fio tidak menjawab. Dia memilih keluar dari unit itu dan berjalan keluar. Gala tidak mengejar. Dia sudah mengancam. Dia merasa Fio tidak memiliki kekuatan apa – apa. Kartu As nya adalah Arif.
Dan, saat kakinya melangkah menuju lift, Fio men dial nomor Gio dan langsung diangkat.
“Kamu di mana?”
Tut
Tut
Tut
Fio sengaja mematikan sambungan telepon itu tepat saat lift terbuka. Dia hanya ingin menangis, itu saja dan tidak ingin pria itu datang. Tapi, Fio lupa kalau Gio mafia. Tanpa diberitahu keberadaannya, dengan cepat dia akan mencari sendiri dengan caranya.
Benar saja, baru saja Fio duduk di kursi taman, tiba – tiba pria itu ikut duduk di sampingnya.
“Kamu …?”
“Kenapa teleponnya di tutup?”
“Hanya ingin tahu, apa kamu bisa menemukanku.”
Gio tertawa. “Come on, Fio. Aku masih tetap mafia.”
Fio menoleh, menatap Gio yang sedari tadi sudah menatapnya. Kedua mata mereka bertemu. Sejenak Fio terdiam hingga akhirnya dia bicara.
“Nikahi aku sekarang.”
“Apa?” tanya Gio bingung.
“Menikahlah denganku. SEKARANG!”
“Tapi …?”
“Sekarang atau tidak sama sekali.”
Ultimatum itu membuat Gio tersenyum.