NovelToon NovelToon
EQUILIBRIUM

EQUILIBRIUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Isekai
Popularitas:79
Nilai: 5
Nama Author: RIKI RIFEL

Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.

Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.

Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.

Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lahirnya taring baru

Percikan api terakhir memudar, menyisakan desis uap panas yang membubung tinggi ke langit-langit ruang penempaan. Entah sudah berapa lama semenjak Altur menyelamatkan mereka dari maut, hingga akhirnya mereka berguru pada sang elf tsundere ini. Hari ini, setelah melalui latihan penyiksaan ekstrem yang menguras kewarasan, senjata baru mereka pun akhirnya jadi.

Di atas landasan batu hitam, tiga buah senjata baru berdesir pelan, memancarkan aura elemen yang pekat.

Leo melangkah maju terlebih dahulu. Tangannya meraih sebilah pedang lurus hitam berbahan baja Damaskus. Pola serat-serat baja yang estetik berpadu sempurna dengan batu magis sapphire yang tertanam tepat di tengah pelindung bilahnya, memancarkan kilau biru yang tenang namun menyimpan daya hancur misterius.

Di sampingnya, Cheeta langsung menyambar sepasang belati kembar berbahan mythril. Material langka itu membuat senjatanya terasa sangat ringan saat digenggam namun memiliki ketahanan yang luar biasa kuat. Dengan batu magis ruby yang tersemat di gagangnya, belati kembar itu memancarkan pendaran merah darah, membuat penampilan gadis itu terlihat sangar dan mematikan.

Sementara itu, Rheno tersenyum puas saat memasang sepasang knuckle ganda di kedua kepalannya. Senjata pelindung tangan berbahan adamantium itu berbobot sangat berat dan kokoh. Ditambah dengan batu magis jade berwarna hijau pekat yang tertanam di bagian depan, kepalan tangan Rheno kini menjelma menjadi senjata penghancur yang siap menghantam pelindung apa pun di depan mata.

“Bagaimana, apa kalian suka?” tanya Altur sembari menyeka sisa keringat di dahinya.

“Lumayan, ini sih sering aku dapatkan ketika menjarah barang sisa perang,” jawab Leo asal-asalan. Ia terus berpose dengan senyum lebarnya, mengagumi pantulan wajahnya di bilah baja Damaskus yang berkilau itu.

“Sangat ringan, apa benar ini logam? Pasti gampang rusak!” ucap Cheeta dengan mata berbinar-binar memandang belati kembar mythril-nya. Tangannya terus menyayat udara, sangat kontras dengan kalimat meragukannya barusan.

Sementara itu, Rheno hanya mengangguk pelan. Ia menghembuskan napas kuat-kuat hingga mengeluarkan asap tipis dari hidungnya, memasang raut wajah penuh kebanggaan saat merasakan bobot mantap dari knuckle ganda adamantium-nya.

“Hahahahaha,” tawa kecil Altur tiba-tiba pecah, memecah kepura-puraan ketiga muridnya.

“Lihat sekarang, siapa sebenarnya yang tsundere,” lanjut sang elf dengan senyum menyindir. Ia tahu betul, mulut Trio Gubuk boleh saja gengsi mengakui, tapi mata berbinar mereka tidak bisa berbohong.

Altur kemudian melambaikan tangannya acuh tak acuh. “Kalian cobalah dulu, sementara aku akan istirahat.”

Ia berbalik lalu melangkah pergi menuju ruang pribadinya, meninggalkan ketiga remaja itu yang seketika langsung mengabaikan kepergian sang mentor dan kembali terkagum-kagum dengan senjata baru mereka.

Niat Altur untuk menebus waktu tidurnya selama tiga hari penuh langsung kandas bahkan sebelum jam dinding sempat berdetak tiga kali.

BOOM!

Sebuah dentuman keras yang disertai getaran hebat sukses membuat sang pangeran Elf terlompat dari ranjangnya. Belum sempat ia mengumpulkan kesadarannya, suara kaca pecah dan teriakan-teriakan melengking yang sangat familiar di telinganya langsung menembus dinding kamar.

"Rheno, coba tahan ini!" teriak Leo.

"Hah!" Rheno menyahut pendek. Ia menyatukan kedua kepalan tangan ber-knuckle di depan dadanya, membuat sebuah pelindung magis berbentuk bulat muncul seketika.

"Aaaa!" teriak Leo sembari melompat dan melempar tebasan melayang dari udara.

BOOM!

"Sekarang giliranku!" seru Cheeta. Gadis itu langsung melesat maju dengan kecepatan yang hampir tak terlihat oleh mata.

TANG!!

Meski hantaman belati kembar itu tidak sampai menghancurkan perisai, namun momentum dari kecepatan tinggi Cheeta sukses mementalkan Rheno ke belakang.

Altur yang baru keluar dari kamarnya hanya bisa berdiri terpaku di ambang pintu, menatap pemandangan rusuh tersebut dengan pelipis yang berdenyut pening. Niatnya untuk beristirahat seharian penuh kini hancur lebur.

Namun.

“Mode serius!” seru Leo tiba-tiba.

Seketika Rheno merenggangkan kedua tangannya. Pelindung magisnya langsung menyusut dan memadat. Jika yang tadinya pelindung itu berbentuk bulat besar dan mengelilingi dirinya, sekarang energi hijau itu menyatu erat dengan kulitnya, melapisi sekujur tubuh seolah-olah menjadi sebuah pakaian baja tak kasat mata.

Tekstur energi itu mengeras seperti lapisan sisik naga purba, memancarkan pendaran hijau giok yang tebal, mengunci aliran udara di sekitarnya hingga menciptakan tekanan gravitasi mini di bawah pijakan kakinya.

Di sudut lain, pedang milik Leo yang pendaran sinar birunya tadi hanya ada di bagian tajam bilah, seketika melebar drastis. Energi biru itu memadat dan membesar, mengubah ukuran pedang kecilnya menjadi sebilah pedang biru raksasa dengan inti pedang asli yang tetap berada di dalamnya.

Bilah energi itu berdesir tajam, melepaskan partikel-partikel cahaya safir yang langsung memotong udara kosong, membuat lantai batu di dekat kakinya tergores halus hanya karena radiasi energinya.

Sementara pada Cheeta, belati kembarnya memperlihatkan penegasan garis merah yang menyala terang dari setiap lekukan tajam bilah mythril-nya.

Aura merah darah itu merambat naik ke pergelangan tangannya, menciptakan ilusi optik berupa kepulan asap panas yang membuat bayangan tubuh Cheeta tampak bergoyang dan memudar di dalam kegelapan ruangan.

Leo maju mendahului, menghentakkan kakinya ke lantai hingga retak, lalu mengayunkan pedang besarnya dengan kuat. Tebasan vertikal itu membelah udara dengan suara menderu layaknya badai.

Namun secara mengejutkan, bilah energi biru raksasa itu ditahan begitu saja dengan tangan kosong oleh Rheno. Bunyi benturan logam yang sangat nyaring bergema saat telapak tangan Rheno mencengkeram erat mata pedang energi Leo, menandakan bahwa pelindung magis yang menyelimuti tubuhnya kini jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Rheno langsung menyerang balik, memanfaatkan momentum dominasinya untuk mencoba melayangkan pukulan beruntun ke arah dada Leo. Namun, Leo bergerak gesit menghindarinya, berputar ke belakang dengan lihai memanfaatkan bobot pedangnya yang ternyata tetap terasa ringan.

Sementara itu, kilatan cahaya merah bergerak sangat cepat di udara, hampir tidak terlihat keberadaannya oleh mata telanjang. Cheeta melempar belati kembarnya ke arah Rheno dengan akurasi yang mengincar titik-titik vital.

Rheno berhasil menangkisnya menggunakan lengan bawahnya, membuat belati itu terlempar dan tertancap di tanah batu.

Ternyata, itu bukanlah belati asli milik Cheeta. Benda yang tertancap itu hanyalah energi magis merah pekat berbentuk belati sempurna yang perlahan-lahan memudar ke udara.

Aura magis Cheeta terbukti sudah bisa berubah bentuk dan mengingat memori fisik belatinya secara akurat hingga bisa dilemparkan sebagai proyektil tanpa batas, sementara belati mythril yang asli masih terpasang manis di kedua genggaman tangannya.

Mata Altur melongo syok, tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. Bagaimana bisa, hanya dalam waktu beberapa jam saja, ketiga murid barunya sudah mampu mengaktifkan kemampuan senjata baru mereka ke mode tingkat lanjut tanpa ada bimbingan sama sekali?

Bakat alami mereka dalam menyerap dan memanipulasi struktur magis benar-benar di luar nalar ras Elf sekalipun. seperti buruknya kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial yang buruk nya juga di luar nalar Elf.

Tiba-tiba, Trio Gubuk merasakan sensasi yang tidak asing dari arah atas. Sensasi mengerikan yang persis seperti kejadian saat mereka diselamatkan dari kepungan bos mafia dulu.

Hawa membunuh yang pekat dan dingin seketika menusuk sumsum tulang mereka, menghentikan aliran sirkulasi energi yang sedang mereka banggakan.

Altur melesat cepat ke udara, tubuhnya berputar di langit-langit ruangan layaknya bayangan hitam, dan langsung memukul tanah dengan palu besarnya.

BOOM!

Seketika itu juga, gelombang guncangan yang luar biasa dahsyat meledak keluar dari titik impak, menciptakan riak gelombang kejut murni yang menyapu seluruh lantai ruangan dan menghempaskan tubuh mereka bertiga ke tiga penjuru ruangan. Leo, Cheeta, dan Rheno meluncur mundur belasan meter, menahan tanah dengan senjata mereka masing-masing agar tidak menabrak dinding batu.

Wajah kesal Altur kini telah hilang sepenuhnya, berganti dengan guratan ekspresi bangga terhadap ketiga murid ugal-ugalannya tersebut. Matanya berkilat penuh gairah bertarung yang sudah lama tidak ia rasakan.

“Sepertinya kalian butuh penguji!” ucap Altur dengan senyuman lebar yang terukir di wajah cantiknya. “Akan kuberikan penguji yang layak untuk kalian,” terusnya penuh semangat.

Mendengar tantangan itu, Trio Gubuk bangkit berdiri dengan cepat, menyeringai lebar sembari menyeka debu yang menempel di pakaian mereka. Bukannya takut, mereka justru tersenyum lebar dan langsung memasang posisi kuda-kuda kokoh, bersiap untuk menyerang sang mentor bersamaan.

Bagi pemuda-pemuda dari Lembah Karat ini, tantangan dari sang mentor adalah panggung terbaik untuk memamerkan taring baru mereka.

“Majulah!” seru Altur menantang.

Seketika itu juga, ruang bawah tanah yang biasanya selalu tenang, kini menjelma menjadi area sparing maut yang membara bagi mereka berempat.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!