NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Riak Percikan Dendam

Selamat Membaca...

_______________

Langkah kaki Aris Pratama terdengar begitu berat dan terburu-buru saat ia menyusuri lorong berlantai marmer di Adijaya Tower. Wajahnya merah padam menahan amarah yang membakar dada. Setiap kali bayangan senyum tipis Aura dan sikap protektif Evan terlintas di benaknya, tangannya seketika mengepal rapat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sialan!" umpat Aris pelan begitu ia melangkah masuk ke dalam lift VIP.

Sekretaris pribadinya, Riko, yang sejak tadi menunggu di dalam lift, tampak bergidik ngeri melihat raut wajah bosnya yang berubah drastis.

"Bagaimana hasil pertemuannya, Tuan Aris? Apakah Tuan Evan Adijaya menandatangani pengesahan kontrak anak perusahaan kita?" tanya Riko hati-hati.

"Kontrak dibatalkan. Dia menolak kita mentah-mentah," desis Aris dingin, matanya menatap tajam pada angka indikator lantai yang bergerak turun.

Riko membelalak kaget. "Bagaimana bisa? Bukankah draf awal sudah disetujui oleh direksi lama sebelum Evan resmi diangkat menjadi Komisaris Utama?"

"Wanita itu... Aura Dania yang membongkarnya," ujar Aris dengan nada suara yang campur aduk antara benci dan rasa kagum yang tak wajar. "Dia yang menyusun laporan analisis dan menemukan celah mark-up harga material kita."

"Aura Dania? Wanita yang dulu pernah Tuan cari sewaktu di kampus?"

Aris tidak menjawab. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kaca lift, menatap bayangan dirinya sendiri. Dulu, Aura adalah wanita polos yang selalu bekerja keras, mahasiswi berotak encer yang selalu bersikap ramah namun sulit untuk disentuh hatinya. Saat Aura mendadak hilang dari kampus karena krisis keuangan keluarganya, Aris merasa kehilangan kesempatan emas untuk memilikinya.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, wanita itu muncul kembali sebagai Istri Sah dari musuh bisnis utamanya: Evan Adijaya.

"Evan memperlakukannya seperti barang berharga yang tidak boleh disentuh siapa pun," bisik Aris seraya mengukir senyum licik yang mengerikan. "Tapi aku tahu betul, Evan Adijaya tidak pernah benar-benar mempublikasikan pernikahannya ke media luar. Ada hal yang mereka sembunyikan."

Pintu lift terbuka di lantai lobi utama. Aris melangkah keluar dengan percaya diri, mengeluarkan ponsel dari saku jasnya lalu mendial sebuah nomor yang tersimpan tanpa nama.

"Halo?" suara seorang wanita setengah baya terdengar dari seberang telepon.

"Nyonya Siska," sapa Aris seraya melangkah menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggunya di depan pintu masuk. "Ini saya, Aris Pratama."

Di seberang telepon, Siska Adijaya (ibu tiri Evan) terkekeh pelan dari balik cangkir teh mewahnya di kediaman Adijaya. "Ah, Tuan Aris. Bagaimana hasil kunjunganmu ke kantor anak tiriku? Apakah gertakanmu berhasil membuat Evan terdesak?"

"Evan membatalkan kerja sama kita secara sepihak," jawab Aris tanpa basa-basi. "Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Saya tahu Anda sangat membenci keberadaan Aura Dania di samping Evan, bukan?"

Siska mendengus benci. "Wanita murahan itu hanya keberuntungan belaka bisa memikat Kakek Surya. Karena dia, rencana putraku Raka untuk mengambil alih posisi Komisaris Utama jadi berantakan."

"Bagaimana kalau kita bekerja sama?" tawar Aris, menyandarkan tubuhnya di jok belakang mobil saat pengemudinya mulai menjalankan kendaraan. "Saya ingin menghancurkan reputasi bisnis Evan Adijaya dan merebut Aura darinya. Sementara Anda... bisa mendapatkan kembali kendali atas Adijaya Group untuk putra Anda, Raka."

Siska terdiam sejenak di seberang telepon. Tawaran itu terdengar sangat menggiurkan di saat posisinya sedang terdesak pasca penangkapan Clara.

"Apa rencanamu, Tuan Aris?" tanya Siska penasaran.

"Pernikahan mereka penuh dengan kejanggalan," ujar Aris seraya memandangi gedung Adijaya Tower yang makin menjauh dari kaca jendela mobilnya. "Latar belakang Aura yang mendadak kaya, pembayaran biaya rumah sakit adiknya yang bernilai fantastis, hingga ketiadaan pesta pendaftaran pernikahan di catatan sipil publik. Saya yakin ada dokumen rahasia di antara mereka. Bantu saya menemukan celah itu dari dalam kediaman Adijaya, dan saya yang akan mengeksekusi kehancuran Evan di arena bisnis."

"Tawaran yang sangat menarik," sahut Siska dengan senyum penuh intrik. "Setuju. Aku akan mengurus pergerakan dari dalam rumah ini."

Panggilan telepon terputus. Aris menyimpan ponselnya kembali, mengusap dagunya dengan pandangan penuh ambisi.

"Kau berpikir kau sudah menang, Evan Adijaya?" bisik Aris pada dirinya sendiri. "Lihat saja, aku akan membuat Aura bertekuk lutut dan memohon padaku setelah perusahaan yang kau banggakan itu hancur berantakan."

Sementara itu, di lantai empat puluh lima Adijaya Tower, suasana di ruang kerja Presdir jauh lebih tenang dan hangat.

Matahari sore menyinarkan cahaya keemasan menembus kaca jendela. Aura sedang duduk di meja kerjanya di sudut ruangan, menyusun berkas laporan keuangan yang baru saja selesai ia periksa. Di seberangnya, Evan masih sibuk memeriksa dokumen-dokumen penting, namun sesekali pandangannya beralih menatap Aura dengan lekat.

Aura yang merasa terus-menerus diperhatikan akhirnya mendongak, menangkap basah tatapan Evan.

"Kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Aura, berusaha menahan senyumnya seraya merapikan tumpukan kertas di mejanya. "Ada yang salah dengan laporanku?"

Evan meletakkan pulpen mewahnya, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit lalu mengisyaratkan Aura untuk mendekat. "Kemarilah."

Aura berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati meja kerja Evan. Tanpa diduga, begitu Aura berada di samping kursinya, Evan meraih jemari Aura dan menariknya lembut hingga wanita itu terduduk di pangkuannya.

"E-Evan!" pekik Aura kaget, reflek melingkarkan tangannya di bahu Evan agar tidak terjatuh. Pipi Aura seketika memerah merona. "Ini masih di ruang kerja! Nanti kalau Pak Bimo masuk bagaimana?"

"Bimo tidak akan berani masuk tanpa mengetuk pintu tiga kali," sahut Evan santai, merengkuh pinggang Aura dengan kedua tangannya yang kokoh. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Aura, menghirup aroma harum sampo dari rambut wanita itu.

"Kau membuatku tidak bisa fokus bekerja seharian ini, Aura," bisik Evan seraya memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan tubuh istrinya.

Aura tertegun, mengusap lembut rambut belakang Evan yang terasa halus di jarinya. "Kenapa? Karena kedatangan Aris tadi?"

"Bukan cuma karena dia," gumam Evan jujur. "Tapi karena aku baru menyadari betapa rentannya posisimu jika musuh-musuhku mulai mengincarmu. Aris bukan pria sembarangan. Dia cerdik, ambisius, dan dia jelas punya perasaan padamu sejak dulu."

Aura menggelengkan kepalanya pelan, menatap wajah Evan dari jarak yang sangat dekat.

"Perasaannya di masa lalu tidak ada hubungannya denganku sekarang, Evan," ujar Aura dengan suara begitu lembut dan tulus. "Di hatiku, aku hanya mengenal satu pria yang membantuku di saat terpuruk, yang melindungiku dari hinaan orang lain, dan yang berani menyatakan cintanya di depan ratusan orang."

Evan membuka matanya, menatap dalam-dalam iris mata jernih milik Aura. Kata-kata tulus itu menyentuh bagian terdalam di hatinya yang selama ini dingin dan tertutup rapat.

"Kau benar-benar pandai membuatku bertekuk lutut, Aura Dania," bisik Evan dengan senyum tipis yang sangat menawan.

Evan menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka sejenak sebelum mendaratkan sebuah kecupan hangat dan manis di bibir Aura sebuah ciuman yang sarat akan rasa cinta dan janji perlindungan mutlak yang tak akan pernah tergoyahkan oleh ancaman apa pun dari luar.

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!