Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bertemu dengan Cinta Pertama
Handoko sampai di restoran yang sudah mereka sepakati untuk makan siang hampir bersamaan dengan Mellisa. Setelah memarkirkan mobil, mereka pun berjalan berdampingan menuju private room yang sudah dipesan sebelumnya.
Mellisa tampak santai, sesekali berbicara ringan dengan Handoko. Sementara Handoko berjalan dengan langkah mantap, seolah tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan dari makan siang mereka hari itu.
Namun, baru beberapa langkah sebelum mereka memasuki private room, tiba-tiba seorang pria menghampiri. Pria itu berwajah tampan, dengan penampilan rapi dan senyum yang langsung mengembang begitu melihat Mellisa.
"Amel? Kamu Amel, kan?"
Langkah Mellisa seketika terhenti. Wajahnya berubah. Matanya membulat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sudah bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang memanggilnya dengan nama itu. Hanya satu orang yang selalu memanggilnya Amel. Dan orang itu berdiri tepat di hadapannya.
"Randy?" Suara Mellisa terdengar lirih, tetapi cukup untuk membuat pria itu tertawa kecil.
"Amel..." Randy menggeleng pelan dengan senyum penuh nostalgia. "Apa kabar? Lama banget kita nggak ketemu. Alhamdulillah, kamu masih ingat aku." Dia langsung mengulurkan tangannya.
Mellisa menyambut uluran tangannya seraya tersenyum kikuk. Ada sesuatu dari tatapan Randy yang membuat kenangan lama berkelebat begitu saja di kepalanya. Masa ketika hidupnya masih sederhana, ketika perasaan cinta pertamanya tumbuh tanpa banyak pertimbangan.
Di sampingnya, Handoko yang sejak tadi memperhatikan percakapan itu mendadak berdeham. "Ehem."
Mellisa menoleh. Tatapan Handoko sekilas mengarah kepadanya. Tidak perlu kata-kata. Kode itu cukup jelas: *Jangan lupa, kamu datang ke sini sama siapa.*
Mellisa segera tersadar. "Oh iya." Ia tersenyum canggung. "Kenalin, ini Mas Handoko."
Randy langsung mengulurkan tangannya. "Randy."
Handoko menatap tangan itu sepersekian detik sebelum akhirnya menyambutnya. Jabatannya singkat dan terasa kaku. "Handoko."
Keduanya saling menatap beberapa saat. "Siapanya Amel, ya?" tanya Randy santai.
Sebelum Mellisa sempat menjawab, Handoko lebih dulu menyahut. "Orang paling dekat dalam hidup Mellisa."
Nada suaranya terdengar begitu yakin. Bahkan nyaris tanpa jeda, seolah tidak memberi kesempatan kepada siapa pun untuk mempertanyakan pernyataan itu.
Mellisa langsung menoleh kepadanya. *Orang paling dekat?*
Sementara Randy hanya tersenyum kecil. "Oh..."
Tidak ada nada terkejut ataupun terganggu. Ia justru terlihat santai, seolah pengakuan Handoko sama sekali bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Randy kemudian kembali menatap Mellisa. "Mel, boleh minta nomor kontakmu? Aku perlu."
Ia langsung menyodorkan ponselnya. Mellisa sempat ragu. Namun karena tidak ingin terlihat canggung, ia akhirnya menerima ponsel tersebut dan mengetikkan nomor teleponnya.
Begitu selesai, Randy memeriksa layar ponselnya lalu tersenyum puas. "Asyik. Thanks ya, Mel."
Mellisa mengangguk kecil. "By the way..." Randy memasukkan ponselnya ke saku. "Aku masih bisa main ke rumahmu, kan?"
Pertanyaan itu membuat Mellisa kembali terdiam sesaat. Kemudian, tanpa sadar, tatapannya bertemu dengan mata Randy.
"Boleh."
Satu kata sederhana. Namun entah kenapa, jawaban itu membuat rahang Handoko mengeras. Ia yang sejak tadi masih berusaha memasang wajah tenang akhirnya merasa cukup.
"Sudah, Mel."
Tangannya bergerak meraih tangan Mellisa.
"Kita ke sini kan buat makan siang." Nada suara Handoko terdengar santai, tetapi genggamannya justru sedikit lebih erat daripada sebelumnya.
Mellisa menatap tangannya yang kini berada dalam genggaman Handoko. Ia lalu melirik Randy yang masih berdiri di hadapan mereka.
Randy hanya tersenyum. "Ya sudah. Nanti kita ngobrol lagi, Mel."
Mellisa tidak sempat menjawab. Handoko sudah lebih dulu membawanya masuk menuju private room.
Mellisa akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti langkah pria itu. Namun sepanjang perjalanan menuju meja, satu hal terus berputar di kepalanya.
Handoko cemburu. Dan Mellisa mulai menyadari bahwa kecemburuan itu bukan sekadar sikap posesif biasa.
Sementara di dalam hati Handoko sendiri, kemunculan Randy meninggalkan perasaan yang sulit ia abaikan. Pasti pria itu punya arti dalam hidup Mellisa, dan baru saja dia meminta nomor teleponnya di depan matanya.
Begitu pintu private room tertutup di belakang mereka, Handoko langsung melepaskan tangan Mellisa. Ia berjalan lebih dulu menuju meja, menarik kursi, lalu duduk dengan wajah yang sulit dibaca.
Mellisa berdiri beberapa langkah di dekat pintu. Ia menatap punggung Handoko, kemudian tersenyum kecil. Ada sesuatu yang berbeda.
Laki-laki itu biasanya banyak bicara, suka melempar candaan, bahkan tak jarang menggoda dirinya sepanjang perjalanan. Namun sekarang, mendadak diam.
Mellisa akhirnya berjalan mendekat dan duduk di hadapannya. "Kenapa?"
Handoko mengangkat wajah. "Kenapa apanya?"
"Kok diam?"
"Memangnya saya harus terus ngomong?"
Mellisa menahan senyum. "Enggak juga."
Ia mengambil daftar menu yang tersedia di atas meja, pura-pura membacanya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Sampai akhirnya Handoko bertanya dengan nada datar. "Randy itu siapa?"
Mellisa mengangkat wajahnya. "Nah."
"Nah apanya?"
"Baru juga lima menit, sudah nanya."
Handoko menghela napas pendek. "Aku cuma tanya."
"Randy itu..." Mellisa sengaja menggantung kalimatnya.
Handoko menunggu. "Teman lama."
"Teman lama?"
"Iya."
"Seberapa lama?"
Mellisa akhirnya tertawa kecil. "Mas Handoko ini sedang wawancara aku?"
"Aku cuma ingin tahu."
"Kenapa harus tahu?"
Handoko terdiam. Ia sebenarnya tahu jawabannya, tetapi terlalu gengsi untuk mengatakannya.
Karena sejak melihat cara Randy memandang Mellisa, ada perasaan tidak nyaman yang muncul begitu saja. Terlebih ketika pria itu memanggil Mellisa dengan nama yang bahkan tidak pernah ia dengar.
*Amel.*
Panggilan itu terdengar begitu akrab. Dan yang paling membuatnya tidak nyaman adalah ketika Mellisa menjawab bahwa Randy masih boleh datang ke rumahnya.
Handoko menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dia mantan kamu?" Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Mellisa menatapnya beberapa saat. "Iya."
Jawaban singkat itu membuat ekspresi Handoko berubah tipis. "Oh." Hanya satu kata. Namun cara mengucapkannya membuat Mellisa semakin ingin tersenyum.
"Mantan lama," tambah Mellisa.
"Berarti pernah serius?"
Mellisa mengangkat alis. "Kenapa sih?"
"Aku cuma bertanya."
"Kalau cuma bertanya, kenapa wajahnya begitu?"
"Wajahku kenapa?"
"Kayak orang habis kehilangan sesuatu."
Handoko terkekeh hambar. "Jangan geer."
Mellisa tersenyum semakin lebar. "Aku enggak geer."
"Bagus."
"Tapi Mas Handoko cemburu, ya?"
Handoko langsung menatapnya. "Cemburu?"
"Iya."
"Untuk apa aku cemburu?"
Mellisa mengangkat bahu. "Entahlah. Makanya aku tanya."
Handoko mengambil gelas air putih di depannya, lalu meneguknya pelan.
"Aku cuma enggak suka orang yang baru ketemu lagi setelah bertahun-tahun langsung minta nomor telepon."
Mellisa menahan tawa. "Kan dia teman lama."
"Justru itu."
"Justru itu kenapa?"
"Karena teman lama biasanya punya banyak cerita lama."
Mellisa terdiam sebentar. Entah kenapa, kalimat itu terdengar lebih jujur daripada semua bantahan Handoko sebelumnya.
"Mas Handoko..." Mellisa memanggil pelan.
"Hm."
"Randy itu memang cinta pertamaku."
Handoko meletakkan gelasnya. Kali ini ia tidak langsung menjawab. Ada jeda cukup panjang sebelum akhirnya ia mengangguk kecil.
"Aku tahu."
Mellisa mengerutkan kening. "Tahu dari mana?"
"Dari cara dia melihat kamu."
Jawaban itu membuat Mellisa terdiam. Handoko kemudian tersenyum tipis, berusaha mengembalikan suasana agar tidak terlalu serius.
"Tapi tenang saja."
"Tenang bagaimana?"
"Aku belum kalah."
Mellisa langsung menatapnya tak percaya. "Kalah?"
Handoko mengangkat bahu, lalu mengambil menu.
"Anggap saja tadi aku sedang mengamankan wilayah."
Mellisa tertawa kecil. "Wilayah?"
"Iya."
"Memangnya aku tanah?"
"Bukan."
"Lalu?"
Handoko menatapnya. Kali ini sorot matanya jauh lebih lembut. "Makanya aku enggak bisa jawab."
Mellisa yang semula hendak menggoda justru mendadak kehilangan kata-kata. Handoko kembali menunduk pada menu seolah tidak mengatakan sesuatu yang berarti. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Sementara Mellisa masih memandanginya. Ia tidak lagi melihat Handoko sebagai pria yang sekadar sedang berusaha mendekatinya. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Dan kemunculan Randy hari ini, tanpa sengaja, telah memperlihatkan sisi Handoko yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
Sisi seorang laki-laki yang mulai takut kehilangan.
Suasana yang semula dipenuhi candaan perlahan berubah menjadi hening.
Handoko menatap Mellisa cukup lama. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat senyum di wajah Mellisa perlahan menghilang.
Tanpa banyak bicara, tiba-tiba tangan Handoko bergerak meraih tangan Mellisa yang berada di atas meja. Jemarinya menggenggam erat, seolah ingin memastikan perempuan itu tidak akan pergi ke mana-mana.
"Kamu milikku," ucapnya mantap. "Enggak ada seorang pun yang bisa mengambil kamu dariku."
Mellisa tertegun. Ia menatap tangan mereka yang saling bertaut, kemudian menatap wajah Handoko.
"Ih..." Mellisa mencoba mencairkan suasana. "Kayak barang aja." Namun senyum kecil yang muncul di bibirnya tidak mampu menyembunyikan hati yang mendadak melambung.
Handoko tidak ikut tertawa. "Aku serius, Mel."
Senyum Mellisa perlahan pudar. "Mas..." suaranya melembut. "Saat ini aku bukan siapa-siapa buat Mas."
Handoko diam. "Aku cuma wanita masa lalu yang kebetulan dipertemukan kembali karena anak-anak kita saling mencintai."
Ia menarik napas panjang. "Jangan membuat semuanya jadi semakin rumit."
Handoko masih menggenggam tangannya. "Aku mau menikahimu, Mel."
Mellisa membeku. Untuk beberapa saat, ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Kalimat itu terlalu sederhana, tetapi dampaknya begitu besar.
"Mas..."
"Aku serius."
Mellisa menggeleng pelan. "Tapi bagaimana dengan Raka dan Kania?"
"Apa salahnya?"
"Anak-anak kita akan menikah."
"Justru itu. Mereka sudah dewasa. Mereka punya kehidupan mereka sendiri."
Handoko menatap Mellisa dengan penuh keyakinan.
"Tidak ada larangan untuk kita menikah, walaupun mereka menikah."
Mellisa terdiam. Secara logika, memang tidak ada yang salah dengan itu. Raka dan Kania tidak memiliki hubungan darah. Tidak ada ikatan yang membuat mereka harus mengorbankan kebahagiaan masing-masing.
Namun ada satu nama yang membuat hatinya kembali berat.
"Mbak Pratiwi?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Ekspresi Handoko seketika berubah. Tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Mellisa sedikit mengendur.
"Jangan bahas itu dulu!"
Mellisa menatapnya dalam-dalam. "Tapi Mas, bagaimana mungkin aku enggak membahasnya?"
Handoko mengalihkan pandangan. "Aku bilang, jangan bahas itu dulu!"
Ada ketegasan dalam suaranya, tetapi juga sesuatu yang lain—keraguan yang berusaha keras ia sembunyikan.
Mellisa menarik napas panjang. "Mas Handoko..."
"Aku tahu apa yang aku lakukan."
Handoko kembali menatapnya. "Aku tahu situasinya enggak sederhana. Aku juga tahu akan ada banyak hal yang harus kita hadapi."
Ia berhenti sejenak. "Tapi aku sudah terlalu lama kehilangan kamu."
Tatapan Mellisa melembut. "Dan sekarang, setelah Tuhan mempertemukan kita lagi, aku enggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."
Mellisa tidak menjawab. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia sendiri bisa merasakannya.
Di satu sisi, ada bagian dirinya yang ingin percaya pada semua kata-kata Handoko. Ingin kembali menjadi Mellisa yang dulu, perempuan yang pernah mencintai laki-laki itu dengan segenap hatinya. Namun di sisi lain, ada kenyataan yang tidak mungkin dihapus hanya dengan sebuah pengakuan cinta.
Pratiwi.
Nama itu tetap berdiri di antara mereka. Dan Mellisa tahu, cepat atau lambat, mereka harus menghadapinya.
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...