Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Siang ini di kantor advokat, yang terletak di kawasan bergengsi yakni Sudirman.
Ruang kerja Dion Raharja.
"Laper lagi, tadi kenapa gua kagak makan aja masakan Raisa. Meski kagak sesuai," ungkapnya.
Rupanya Dion masih memikirkan rasa jengkelnya pada sang istri akibat kejadian tadi pagi, dirinya menunggu temannya yang biasa menjadi tempat berkeluh kesah.
"Leon mana lagi, gua mau curhat juga. Biasanya ke ruangan gua," gumamnya yang ingin mengungkapkan isi hatinya kepada sahabat karibnya ini.
Nampak Dion bersandar di kursi putarnya dengan wajah yang masih jengkel, pikirannya tak fokus akan kerjaan sebelum mengungkapkan isi unek-unek di hatinya kepada sahabatnya.
"Ah capek banget ini hidup," ujar Dion.
Karena hari ini tak sarapan, dan harus mengurus masalah kliennya yang akan melakukan sidang siang ini---soal perceraian hak asuh anak.
Pikirannya masih tertuju pada Raisa yang tak menyiapkan sayuran di meja makan.
"Kok bisa nikahin cewek yang gua benci...sumpah kalo aja tuh keluarga mendiang Adiratna kagak berjasa bagi keluarga Raharja! Udah gua talak tuh cewek!" ucapnya dalam hati sambil mengerjakan pekerjaannya.
Tak lama pintu ruangan terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
Leon Hananda.
Leon adalah sahabat karib sekaligus rekan kerja bagi Dion, langkahnya berjalan santai menuju sahabatnya. Lagi pula keduanya sudah dekat semenjak kuliah, kebetulan Dion dan Leon mengambil jurusan hukum.
Sejak kuliah keduanya juga sudah dekat, dan bahkan apapun keputusan Dion baik benar atau salah, menurut Leon selalu di benarkan.
"Lah ngapa nih bocah, pasti ribut lagi Ama bininya," bisik Leon menatap Dion sambil terkekeh.
Leon yang mengenakan kemeja hijau tua, dipadukan dengan celana formal warna navy.
"Samperin ah, daripada nih bocah masuk rumah sakit jiwa Grogol." Leon berjalan menghampiri sahabatnya yang berwajah Bule.
Dion wajahnya memang campuran Brazil dan USA dari sang ayah, sementara ibunya Indonesia. Sementara Leon wajahnya lebih ke Cina-Indonesia, selayaknya orang Filipina. Matanya agak sipit, dan kulitnya sedikit coklat.
"Dion," panggil Leon berusaha tersenyum.
Leon susah berdiri tepat di belakang sahabatnya, sembari meletakkan tangannya di bahu sahabatnya itu.
"Kenapa sih lu, pagi-pagi muka di tekuk begitu?" tanya Leon dengan terkekeh.
Dion mendengus kasar, memutar kursinya ke arah sahabatnya. Di belakang jendela menghadap gedung-gedung pencakar langit.
"Biasa...Bini gua," jawabnya singkat, sambil fokus dengan kasus kliennnya.
Dion menjawab pertanyaan sahabatnya dengan rasa jengkel.
"Kenapa lagi sih? Bini cakep begitu kok, badmood. Nggak di kasih semalem," ujar Leon mengejek Dion.
Padahal kenyataannya selama tiga bulan pernikahan mereka, Raisa belum di sentuh sama sekali bisa disebut masih bersegel.
"Bukan," kata Dion menghentikan aktivitasnya.
"Nyebelin banget, masa udah hampir tujuh kali dia nggak tahu menu sarapan gua!" lanjutnya dengan kesal.
Leon yang mendengar itu menaikan alisnya, dan bertanya----kok bisa marah hanya karena makanan, padahal dirinya pernah mencicipi masakan Raisa saat menjenguk ibunya Dion dan rasanya sangat enak.
"Kalo aja keluarganya nggak berjasa ama keluarga gua, dan nyokap gua nggak maksa buat kawin ama dia! nggak bakal gua sudi serumah ama cewek kagak guna begitu!" lanjutnya di sertai dengusan.
Leon sebagai seorang sahabat bukannya menasihati Dion dan memberikan arahan yang baik, malah justru selalu mendukungnya.
"Yaelah, Yon. Lagian lu juga sih, mau-mauan diatur nyokap lu."
Ucapan Leon seolah membuat Dion semakin panas, dan malah semakin tak menyukai Raisa.
"Istri mah bikin tenang, kalo masak aja nggak bisa buat apa di pertahanin. Lu itu Dion Raharja...Si Pengacara terkenal satu Indonesia. Ganteng lagi," puji Leon kepada sahabatnya.
Leon, sahabat yang selalu membenarkan apapun itu tindakan Dion---mau benar atau salah, intinya Dion selalu benar.
"Iya udah cukup pujiannya, gua masih panas nih karena bini gua," dengus Dion.
Leon hanya menghela napas, lalu menatap sahabatnya.
"Duduk lu, kagak pegel berdiri," titah Dion.
"Inggih ndoro," ujar Leon, sedikit mengeluarkan jokes agar Dion terhibur.
"Yaudah daripada lu suntuk mikirin bini lu, mending nanti malam kita ke club aja. Biasa nyari cewek siapa tahu ada yang bisa buat lu serek," ajak Leon dengan kedipan mata penuh arti.
"Yaudah deh," sahut Dion.
Malam hari telah tiba.
Benar saja Leon mengajak sahabatnya yang sudah beristri ke club ekslusif, dentuman musik bass yang menggelegar menyambut dua pengacara tampan itu.
"Ayo Yon! Lupain bini lu kita seneng-seneng disini," ungkap Leon merangkul sahabatnya masuk ke dalam Club.
Cahaya lampu neon yang remang-remang menyapu ruang VIP Lounge tempat Dion dan Leon duduk. Dion sudah menari dan menghilangkan stress, namun pikirannya juga memikirkan sesuatu---istrinya.
"Yon, sewa LC, yuk. Biar lu nggak suntuk banget," ujar Leon menyalakan vape.
"Terserah lu, emang ada LC yang buat lu serek?" tanya Dion.
Keduanya berjalan ke tempat untuk sewa LC, yang di sediakan di Club itu.
"Silahkan kalian berdua pilih LC," ujar mami yang menyediakan LC.
Ruangan para LC sedang show dan para wanita itu berjejer, agar Dion dan Leon memilihnya.
"Lu pilih yang mana?" bisik Leon di telinga Dion.
Dion melihat seorang wanita mengenakan strapless mini dress berwarna emas berkilauan, dengan belahan paha yang menggoda, tak lupa lekuk tubuhnya membuat siapapun menatapnya langsung birahi. Rambutnya hitam panjang di tata bergelombang jatuh ke bahu, wajahnya seperti orang Colombia.
"Saya pilih yang itu," tunjuk Dion ke arah wanita itu.
"Chelsea kesini," ujar maminya.
Wanita yang di tunjuk Dion riasan wajahnya sangat pas, terutama bibirnya di poles lipstik merah. Anting-anting berlian yang di kenakannya memantulkan cahaya lampu neon setiap kali bergerak.
Tangan Dion melingkar di pinggang LC itu.
"Mas mau minum lagi?" tawar Chelsea, jika banyak tamu minum maka uang yang di dapatkan makin tambah banyak.
Chelsea memberikan senyuman lalu mengulurkan tangannya, memperlihatkan jari-jarinya yang lentik dengan kuku di poles cantik.
"Hai, Dion ya? si pengacara terkenal itu," suaranya menyambut Dion dengan lembut.
Suara yang beradu dengan dentuman musik, Dion melihat Chelsea berbeda dari Raisa yang suaranya selalu menyambut Dion di rumah dengan pertanyaan risih. Melihat Chelsea yang menggoda membuat jantung Dion berasa berdegup kencang.
"Dion," jawabnya singkat, namun tatapannya tak lepas dari Chelsea.
Chelsea duduk di samping Dion, dan mulai menuangkan minuman ke gelasnya dengan gerakan anggun. Wanita ini tahu persis bagaimana cara memperlakukan pria seperti Dion, agar menghasilkan banyak uang.
"Mau nyanyi nggak? Aku bisa goyang loh," tanya Chelsea.
Chelsea mulai membuka obrolan dengan hal remeh, tentu hal yang membuat Dion nyaman.
"Kamu capek ya pasti seharian ini, harus aku pijetin dan layanin dong," kata Chelsea sambil menghisap vape di tangannya.
Tangan Dion mulai meraba nakal paha Chelsea yang terekspos, di bawah pengaruh alkohol pesona seorang LC (Lady Companion) mampu membuat Dion melupakan Raisa.
"Mau nggak layanin saya," pinta Dion yang setengah mabuk.
"Mau asal bayarannya pas," jawab Chelsea.
Entah mengapa malam ini Dion seolah tersihir oleh Chelsea, dan bagian bawahnya seketika berdiri. Dion ingin membawa Chelsea sebagai pelariannya, seolah hasratnya membumbung karena belum menyentuh Raisa sama sekali----dirinya merasa jika Chelsea dapat menuntaskan hasratnya.
*
*
*
*