NovelToon NovelToon
Kepentok Cinta Sama Rival Kantor

Kepentok Cinta Sama Rival Kantor

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Peri Bumi

"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"

Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.

Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.

Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.

Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?

Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.

Simak kisah mereka disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah pulang

Jam sepuluh malam, Rain baru sampai di rumah kontrakan kecilnya, rumah petak sederhana yang dia tempati bersama adiknya, Tiyu, sejak dua tahun lalu waktu mereka memutuskan pindah lebih dekat ke tempat kerja dan kampus masing.

"Kak Rain pulang!" seru Tiyu dari dapur, masih mengenakan celemek yang agak kebesaran, tangannya sibuk mencuci piring bekas makan malam.

"Kamu belum tidur?" tanya Rain, meletakkan tasnya di sofa, langsung merosot duduk saking lelahnya.

"Nungguin Kakak pulang," jawab Tiyu, nyengir. "Udah makan belum? Aku sisain nasi sama sayur asem di rice cooker."

"Belum sempat," Rain mengakui, sedikit lega mendengar itu. "Makasih ya, Tiyu."

Tiyu, dua tahun lebih muda dari Rain, sekarang lagi di semester akhir kuliah teknik mesin, sibuk menyusun skripsi sambil sesekali bantu-bantu di rumah, kuliah yang biaya sebagian besarnya, diam-diam, ditanggung Rain sejak semester tiga, waktu orang tua mereka mulai kesulitan setelah usaha kecil ayah mereka bangkrut.

"Kak, besok aku libur bimbingan. Mau aku bersihin rumah sekalian, ya? Kakak kayaknya udah capek banget belakangan," kata Tiyu, sambil mengeringkan tangannya.

"Nggak usah repot-repot, kamu fokus skripsi aja," jawab Rain, meski hatinya menghangat mendengar itu.

"Bukan repot, Kak. Ini rumah kita berdua, wajar aku bantu-bantu," Tiyu menjawab santai, seolah itu bukan hal besar. "Kakak udah kerja keras banget cari duit buat dua orang, biayain kuliahku juga. Yang bisa aku bantu ya cuma beres-beres rumah gini."

Rain tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca meski dia buru-buru menyembunyikannya dengan pura-pura sibuk membuka tudung saji di meja makan. Sejak kecil, Tiyu memang selalu jadi adik yang tahu diri, nggak pernah menuntut lebih, selalu berusaha membantu semampu yang dia bisa, meski dulu dialah yang paling sering dijaga Rain waktu orang tua mereka sibuk banting tulang.

"Gimana skripsinya? Udah sampai bab berapa?" tanya Rain, mulai makan dengan lahap.

"Lagi revisi bab tiga, Kak. Dosen pembimbingku lumayan detail orangnya," jawab Tiyu, agak mengeluh tapi tetap semangat. "Tapi kata beliau, kalau lancar, bulan depan aku udah bisa sidang."

"Bagus dong, semangat terus. Kalau butuh apa-apa buat print atau jilid, bilang aja," Rain menjawab, meski dalam hati diam-diam bangga melihat adiknya tetap tekun meski rumah tangga mereka nggak selalu mudah.

"Makasih, Kak. Habis lulus nanti aku langsung cari kerja, biar Kakak nggak nanggung sendirian terus," kata Tiyu, sungguh-sungguh.

"Nggak usah buru-buru mikirin itu. Fokus lulus dulu aja," Rain membalas, tersenyum lembut.

Mereka berdua makan malam sederhana itu sambil sesekali bercanda, mengobrolkan hal-hal kecil, kabar orang tua di kampung, rencana pulang lebaran nanti, dan cerita ringan soal tetangga sebelah yang baru pindah. Suasana rumah kecil itu, meski jauh dari kata mewah, selalu terasa hangat dengan caranya sendiri.

---

Sementara itu, di sisi lain kota, di sebuah apartemen mewah lantai dua puluh, Kenzo baru saja pulang dari kantor, melepas jasnya dan menaruhnya sembarangan di sofa, kebiasaan yang selalu ditegur ibunya setiap kali berkunjung.

Seperti biasa, setiap Sabtu pagi, ibunya datang membawa beberapa rantang berisi lauk pauk buatan sendiri, meski Kenzo berkali-kali bilang dia bisa pesan makanan sendiri.

"Mama nggak percaya kamu makan teratur kalau nggak Mama cek langsung," kata ibunya, waktu itu, sambil menata rantang-rantang itu di kulkas. "Kamu kerja keras terus, jangan sampai lupa makan."

"Aku udah gede, Ma," Kenzo menjawab, meski nada suaranya melembut, jauh berbeda dari nada datarnya di kantor.

"Gede juga tetap anak Mama," ibunya membalas, tersenyum sambil mengusap kepala Kenzo seperti waktu dia masih kecil.

Kenzo mengenang percakapan itu sambil menghangatkan salah satu lauk yang masih tersisa di kulkas, sayur lodeh kesukaannya sejak kecil. Meski hidupnya sekarang jauh berbeda dari masa kecilnya yang sederhana sebelum bisnis keluarga mulai berkembang pesat, orang tuanya selalu berusaha menjaga satu hal: bahwa kerja keras dan kesederhanaan tetap harus jadi fondasi, apa pun pencapaian yang sudah diraih.

Dia teringat kata-kata ayahnya bertahun-tahun lalu, waktu pertama kali Kenzo mulai magang di posisi paling bawah, tanpa ada satu pun orang di kantor yang tahu siapa dia sebenarnya.

*"Papa nggak mau kamu dihormati orang karena nama keluarga. Papa mau kamu dihormati karena kerja kamu sendiri."*

Kalimat itu yang terus dia pegang, bahkan sampai sekarang, meski kadang membuatnya harus bekerja dua kali lebih keras dari yang orang lain kira.

Ponselnya bergetar, pesan masuk dari grup keluarga kecilnya:

**Mama:** Besok Mama bawain rendang, kesukaanmu. Jangan lupa makan siang tepat waktu ya, Nak.

Kenzo tersenyum kecil, mengetik balasan singkat: *"Iya, Ma. Makasih."*

Ada satu hal yang selalu bikin Kenzo bersyukur di tengah semua tekanan pekerjaan dan ekspektasi yang dia pikul, bahwa meski dunia luar melihatnya sebagai sosok dingin dan penuh standar tinggi, di rumah, dia masih bisa jadi anak yang disayangi apa adanya, tanpa perlu membuktikan apa-apa.

Dia menyantap makan malamnya sendirian di meja makan yang cukup besar untuk empat orang, sesekali melirik ponselnya, separuh berharap ada pesan lain yang masuk, dari seseorang yang belakangan ini terus muncul di pikirannya, bahkan di saat-saat paling sepi seperti sekarang.

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
Xlyzy
jelas lah dia dia dah Dig dug plu gugup pertama kali loh ketemu wajar aja, apalagi ini camer 🤭
Tamaa
Bagusnya memang Rain ke Surabaya aja, biar hubungan mereka teruji selain itu kalau hubungan terus berlangsung tanpa adanya masalah sedikitpun dan bertemu setiap hari pasti ada rasa bosan yang muncul sedikit.
Tamaa
awas hubungannya jadi renggang
Tamaa
Kena mutasi nih, harus ldr dong
-Thiea-
habisnya si pandu juga kagak jelas. kayak tarik-ulur gitu. jadi bingung kan si rain.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠ : dia hablum minannas ke semua orang ka 😭
jadinya bikin cewek salah paham
total 1 replies
-Thiea-
mulai nyaman sih ya komunikasinya walau masih ketus.
Mingyu gf😘
nahh, sama kenzo aja deh yang gak plin plam
Mingyu gf😘
Jangan mau sama pandu rain, dia kayaknya terlalu plin plan sama hatinya
Aquarius97 🕊️
apakah itu artinya bang Kenzo juga percaya pada rain.. uhuyuhuyuhuy 😍😍
Aquarius97 🕊️
tenang saja... kan ada babang Kenzo rain...
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
moga aja ayahnya kenzo meridhoi rain
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
nontonnya di noveltoon juga kah?😄
Prayy
ternyata sifat Kenzo kaya gitu demi nutupin dari semua orang deh karena beban yang di pikul nya
Prayy
kenapa kaget ? masih canggung yaaa
Prayy
sampai pandu tauu buruan pandu nanti ke duluan pak Kenzo
Prayy
mulai mulai satu kantor udh tahu nih
Myz Pena
cieee yanh mau makan dengan calon mamernya... rain happy...tapi pandu auto mewek sendirian 🤧...
Putry Chan
kalimat " aku disini " itu singkat tapi power full genggaman tangan Kenzo bikin rain merasa lebih nyaman , tim solid bgt semoga mereka bisa ngelewatin tes dari papa kenzo
ginevra
nah, akhirnya kamu sadar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!