NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:710
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sebuah pilihan

Pagi itu udara terasa sejuk dan tenang. Aku baru saja selesai membereskan tempat tidur dan hendak berjalan menuju ruang tengah untuk menyiapkan sarapan, namun langkah kakiku terhenti pelan saat melihat sosok Ibu sedang duduk di ruang televisi. Di sebelahnya ada Bibi Wijaya, tumben sekali datang ke rumah, bahkan sejak ayah meninggal pun ia tak datang ke pemakaman ayah. Dia adalah kakak kandung Ayah sendiri. Ia datang pagi-pagi sekali, wajahnya tampak lembut dan penuh perhatian, seolah-olah ia benar-benar peduli pada kami.

Aku berniat menyapa mereka, namun sebelum aku sempat melangkah, kata-kata yang keluar dari percakapan mereka membuatku mengurungkan niat. Aku berdiri diam di balik tirai jendela yang sedikit terbuka, tak berani bergerak, tak berani bersuara.

"Kau pikirkan saja tawaran dari Samudra itu, Adikku," ucap Bibi Wijaya dengan nada yang terdengar sangat lembut dan penuh kebaikan, namun entah mengapa ada nada lain yang tersembunyi di balik suaranya. "Dia pria yang sangat berkuasa dan kaya raya di kota ini. Punya banyak properti, bisnis di mana-mana. Kalau kau menikah dengannya, kau dan Angela tidak akan kekurangan apa-apa lagi seumur hidup."

Ibu menghela napas panjang, suaranya terdengar ragu dan bingung. "Tapi Kak... Samudra itu bukan siapa-siapa kita. Dia orang asing. Dan aku dengar... dia sudah punya tiga istri, Kak. Bagaimana bisa aku mau menjadi istri keempatnya?"

Bibi Wijaya langsung menyahut cepat, berusaha meyakinkan. "Itu hanya omongan orang-orang yang iri saja. Lagipula, di kalangan orang-orang kaya dan berkuasa seperti dia, punya beberapa istri itu hal biasa kok. Dan kau tahu sendiri, dia sangat berpengaruh di kota ini. Siapa pun yang dekat dengannya, hidupnya pasti terjamin. Bukankah itu yang kau butuhkan sekarang? Seseorang yang bisa melindungimu dan memberi kehidupan yang layak untuk masa depan Angela?"

Aku semakin menempel di balik tirai, jantungku berdegup kencang sekali. Orang asing? Punya tiga istri? Dan Bibi Wijaya begitu bersemangat mendesak Ibu untuk menikah dengan pria seperti itu? Ada sesuatu yang tidak beres di sini, rasanya.

Namun yang tak kuketahui, di balik kata-kata manis dan wajah lembut itu, Bibi Wijaya sebenarnya menyimpan niat jahat yang besar. Ia dan Samudra telah bersekongkol sejak lama. Samudra memang orang yang sangat berkuasa dan kaya di kota ini, tapi dia juga orang yang licik dan haus kekuasaan. Dia sebenarnya tidak benar-benar mencintai Ibu. Dia menginginkan sesuatu yang Ayah tinggalkan — dokumen tanah dan aset berharga yang selama ini disimpan atas nama keluarga. Karena Ayah sudah tiada, harta itu kini jatuh ke tangan Ibu dan aku. Jika Ibu menikah dengan Samudra, dengan cara-cara yang dia kuasai sebagai orang berkuasa, dia bisa dengan mudah menguasai seluruh harta itu. Dan Bibi Wijaya? Samudra berjanji akan memberinya sebagian dari harta itu sebagai imbalan karena berhasil meyakinkan Ibu.

Tak ada yang tahu rencana busuk itu. Bukan Ibu, bukan juga aku. Bagi semua orang, Bibi Wijaya hanyalah kakak kandung Ayah yang baik hati dan hanya ingin melihat kami bahagia, sedangkan Samudra digambarkan sebagai pria dermawan yang kasihan pada janda dan anak yatim yang hidup sederhana.

"Kau pikirkan baik-baik ya," kata Bibi Wijaya lagi sambil menepuk tangan Ibu pelan, seolah penuh kasih sayang. "Tapi menurutku, ini kesempatan terbaik yang pernah kau dapat. Jangan sampai terlewatkan. Lagipula, tidak semua orang bisa didekati oleh Samudra lho. Dia itu orang yang sangat dihormati di kota ini."

Ibu hanya mengangguk pelan, wajahnya masih penuh keraguan dan kebingungan. "Aku akan pikirkan, Kak. Tapi beri aku waktu dulu. Aku belum siap untuk hal seperti ini."

Aku tak sanggup mendengarkan lebih lama lagi. Dengan perasaan bingung, gelisah, dan sedikit takut, aku perlahan berbalik dan berjalan menjauh kembali ke kamarku. Hatiku berkata sesuatu yang tidak beres, tapi aku tak bisa membuktikannya. Bibi Wijaya itu keluarga sendiri, kakak kandung Ayah. Bagaimana mungkin dia bisa berniat jahat pada kami? Namun entah mengapa, rasa gelisah itu tak hilang. Seolah ada badai besar yang sedang bersiap datang, dan aku sama sekali belum siap menghadapinya.

Aku memutuskan untuk mengabaikan saja pembicaraan mereka itu. Biarlah dulu, pikirku, mungkin memang belum saatnya aku tahu semuanya. Daripada pusing memikirkan hal yang belum tentu benar, lebih baik aku istirahatkan pikiran sebentar. Aku pun duduk di tepi kasur, lalu membuka laptop yang ada di meja belajar. Aku sengaja mencari drakor favoritku, menyalakan suaranya pelan namun cukup jelas supaya suara percakapan di ruang tengah terdengar semakin menjauh dan tak lagi mengganggu pikiranku.

Aku mulai menonton dengan fokus, berusaha menikmati ceritanya. Adegan demi adegan berlalu, sesekali aku tersenyum melihat momen manis antar tokohnya, sesekali ikut kesal saat ada kejadian yang tak sesuai harapan. Perlahan rasa gelisah tadi benar-benar hilang, berganti dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Rasanya damai sekali bisa sejenak melupakan segala kegelisahan di luar sana, hanya ada aku dan cerita di layar laptop ini.

Namun di tengah-tengah cerita, mataku sesekali melirik ke arah pintu kamar yang tertutup. Dalam hati kecil aku tetap berdoa — semoga Ibu tidak salah mengambil keputusan. Semoga apa pun yang sedang direncanakan orang lain, tidak akan menyakiti kami berdua. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Biarkan waktu yang menjawab, dan biarkan aku menikmati momen tenang ini dulu.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku mulai menonton drakor. Hingga akhirnya terdengar suara pintu depan terbuka dan tertutup, disusul suara langkah kaki yang perlahan menjauh. Ternyata Bibi Wijaya sudah pulang. Suasana rumah perlahan menjadi hening kembali, hanya tersisa suara televisi yang terdengar samar dari ruang tengah, tempat Ibu sedang duduk sendirian.

Aku pun menutup laptop perlahan, beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Perutku mulai terasa lapar, dan tiba-tiba teringat ada camilan enak di dalam kulkas. Aku berjalan menuju dapur dengan langkah pelan, lalu membuka pintu kulkas yang berisi bahan makanan sederhana namun cukup untuk mengganjal perut. Aku mengambil beberapa bungkus keripik dan juga buah potong yang tadi pagi sudah disiapkan, lalu menyusunya di tangan.

Saat hendak berbalik, aku tak sengaja melirik ke arah ruang tengah. Ibu masih duduk di sana, menatap lurus ke layar televisi yang sedang menyala, namun matanya tampak kosong seolah tak benar-benar menonton. Wajahnya tampak lelah dan penuh keraguan, persis seperti yang kudengar dari suaranya tadi pagi. Hati kecilku ingin sekali mendekat dan bertanya, ingin bilang bahwa aku ada di sini dan siap mendengarkan apa pun. Tapi aku menahan diri. Mungkin Ibu butuh waktu sendiri dulu untuk menenangkan pikirannya.

Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar, membawa jajanan itu untuk kucemil sambil melanjutkan drakorku. Biarkan Ibu punya waktu untuk dirinya sendiri dulu. Nanti kalau sudah waktunya, pasti Ibu akan cerita sendiri padaku.

Sambil duduk nyaman di tepi kasur sambil membuka bungkus camilan, aku meraih ponsel yang ada di sampingku. Baru saja layar menyala, muncul notifikasi pesan masuk dari grup tempat aku dan teman-teman kerjaku berkumpul. Nama pengirimnya tertera jelas, Bagus.

Aku langsung membuka pesan itu dengan rasa penasaran. Begitu isinya terbaca, wajahku perlahan tersenyum. Bagus mengajakku keluar bermain bersama Vina juga, katanya ada kafe baru yang baru saja dibuka di sekitar pusat kota, suasananya katanya bagus banget dan kopinya juga enak. Dia bilang kalau aku mau, mereka berdua bisa mampir menjemputku sebentar lagi.

Aku membaca pesan itu sekali lagi. Rasanya tepat sekali, di saat pikiranku sedang agak berat dan penuh tanda tanya pagi ini, datang ajakan untuk jalan-jalan dari teman-teman yang menyenangkan. Sepertinya ini cara yang bagus untuk melepas penat sejenak, bukan?

Aku pun mulai mengetik balasan dengan semangat yang mulai tumbuh kembali: "Boleh banget dong! Aku ikut. Nanti kalian jemput ya, aku siap-siap dulu nih."

Tak butuh waktu lama, pesan balasan dari Bagus langsung masuk: "Siap, Angela! Kita berangkat sekarang, sepuluh menit lagi sampai ya."

Vina juga ikut membalas tak lama kemudian: "Asyikkk! Ketemu di sana ya, Angela. Pasti seru banget kafenya!"

Aku meletakkan ponsel sebentar, menatap pantulan bayanganku di cermin lemari. Ajakan sederhana ini entah kenapa membuat hatiku terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Mungkin memang benar, aku butuh sejenak keluar dari rumah, menghirup udara luar, dan tertawa bersama teman-teman. Biarkan pikiran yang berat tadi istirahat dulu.

Aku segera berdiri, menyimpan sisa jajanan ke meja, lalu bergegas merapikan penampilan. Mengenakan pakaian yang nyaman namun tetap rapi, sedikit merapikan rambut, dan menyemprotkan sedikit pewangi badan. Sambil bersiap, aku sempat melirik ke arah pintu kamar, teringat Ibu yang masih sendirian di ruang tengah. Sebelum berangkat, aku harus menyapa Ibu dulu dan berpamitan dengan baik.

 

Belum lama ganti baju rapi, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari depan. Aku mengintip sedikit dari jendela. Wah, Bagus sama Vina udah datang nih, satu mobil berdua. Langsung saja aku terburu-buru ke ruang tengah buat bilang sama Ibu.

"Bu, Angela izin keluar bentar ya... Bagus sama Vina udah nunggu di depan, mau ajak ke kafe baru sebentar," kataku sambil senyum-senyum minta izin.

Ibu langsung ngangguk santai, nggak ragu sama sekali. "Iya, nggak apa-apa kok. Kamu main aja sana, biar nggak jenuh terus di rumah. Sekalian hibur diri dikit ya, Nak."

Wah lega banget dengernya! "Siap, makasih banyak ya Bu! Angela hati-hati kok, nggak lama pulangnya!"

Aku langsung lari kecil ke depan, pintu udah dibukain sama Vina dari dalam. "Ayo cepet El, udah nungguin dari tadi nih!" seru Vina sambil ketawa.

Aku masuk duduk di sebelahnya, sambil pasang sabuk pengaman. "Iya nih, tadi pamit sama Ibu dulu. Maaf ya nunggu lama!"

Bagus langsung gas pelan keluar halaman sambil senyum ke kaca spion. "Nggak lama kok, baru nyampe juga kita. Awas ya, katanya kafenya asik banget loh, pasti bakal betah lama-lama."

Sepanjang jalan kita ngobrol seru banget, ketawa-ketiwi terus, lupa deh sama yang tadi bikin kepikiran. Rasanya enak banget bisa keluar sebentar, apalagi bareng temen-temen yang asik begini.

 

Di perjalanan aku tiba-tiba penasaran, terus bertanya kepada mereka. "Eh iya, namanya kafenya apa sih?"

"Kafe XX2," jawab Bagus santai sambil menyetir.

Pas denger itu, jantungku kayak berhenti detak sebentar. XX2? Lah kok... namanya mirip banget sama kafe tempat dulu aku ketemu Bos Mafia itu? Dulu itu XX1, sekarang XX2. Cuma beda angka di belakang doang. Sama persis banget polanya.

Aku langsung diam, dalam hati udah mulai nggak tenang. Kok bisa mirip banget sih? Ini kebetulan atau gimana ya? Bukan takut, tapi rasanya aneh aja. Seakan-akan tempat itu ada hubungannya sama masa lalu yang bikin deg-degan itu.

"Kok diem sih El?" tanya Vina sambil nyenggol pelan bahuku. "Penasaran ya? Tenang aja, tempatnya bagus kok, bukan tempat aneh-aneh."

Aku cuma bisa senyum tipis sambil geleng dikit. "Enggak kok, cuma... rasanya pernah denger nama kafe kayak gitu di mana aja gitu."

"Yaudah nanti liat sendiri pas nyampe sana, pasti suka deh!" seru Bagus semangat.

Tapi di dalam hati, rasanya kayak ada firasat aneh. Entah kenapa, nama yang mirip itu bikin bayangan sosok dingin itu tiba-tiba muncul lagi. Semoga cuma kebetulan ya, batin aku berdoa.

Pas sudah sampai, aku langsung diem bengong sebentar. Polanya sama persis kayak kafe dulu tempat aku bertemu mafia itu, cuma kali ini warnanya hitam yang dicampur merah maroon, bukan serba hitam kayak sebelumnya. Ternyata bener-bener mirip banget, sampai aku rasanya seperti kembali ke masa lalu lagi.

Bagus langsung ngomong sambil nunjuk nama cafe di depan. "Nah ini dia! Ternyata ini cabang kedua dari kafe yang dulu itu, XX1. Yang XX2 ini baru buka beberapa hari, jadi masih baru banget."

Aku bener-bener kaget, berdiri diam di depan pintu sambil ngerasa jantung mulai berdebar lagi. Cabang kedua? Kok bisa ya? Padahal dulu tempat itu kayak tempat yang nggak sembarang orang bisa masuk, kok sekarang malah buka cabang kayak gini?

Vina nyenggol pelan lenganku. "El? Kok bengong terus sih? Masuk yuk, dari tadi udah nungguin lho."

Aku langsung kedip-kedip, nyadar diri terus tarik napas dalem-dalem buat nenangin diri. Tenang dulu El, tenang... mana mungkin orang itu ada di sini juga. Ini beda tempat, beda cabang, lagian kan jauh dari yang dulu. Pasti cuma kebetulan aja, jangan parno dulu. Batin aku berusaha nenangin diri sendiri.

"Eh iya, ayo masuk!" kataku sambil senyum tipis, berusaha kelihatan biasa aja walau dalem hati masih deg-degan.

Tapi pas melangkah masuk, desain dalamnya juga mirip banget, pencahayaannya redup, meja kayunya sama, bahkan aromanya juga hampir serupa. Rasanya kayak dejavu banget. Aku cuma bisa berdoa dalem hati: semoga kali ini nggak ketemu dia lagi, cukup sekali saja.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!