Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilau Hadiah dan Rahasia di Balik Senyuman Gisel
“Varro, lo itu bener-bener gak tobat-tobat, ya!” seruku setengah jengkel.
Namun, jauh di dalam hati, harus kuakui satu hal. Varro Aldrian Wijaya memang sangat tampan. Garis rahang tegas, mata cokelat gelap yang dalam, serta postur 183 sentimeter membuatnya tampak bagaikan model majalah fesyen. Hanya saja, semua pesona itu tertutup oleh sikapnya yang arogan, egois, dan teramat menyebalkan.
“Tapi gue emang ganteng, kan?” tanya Varro seraya menyunggingkan senyum miring dan mengangkat alis kanannya penuh percaya diri.
Melihat wajah sok tampannya itu, sebuah ide jahil mendadak terlintas di benakku. Aku memiringkan kepala, memajukan bibir sedikit, lalu memasang raut wajah seimut mungkin.
“Terserah lo aja deh. Yang jelas... gue mendadak laper nih,” jawabku pura-pura lemas seraya memegangi perutku.
Mata Varro seketika berbinar terang. “Lo laper? Yaudah, ayo kita makan!” ajaknya riang. Pria itu menggandeng tangan kananku erat-erat, membimbing langkahku melintasi lantai marmer mall menuju sebuah restoran oriental yang sangat megah.
Dari pintu depannya yang dihiasi ukiran kayu mahal dan lentera merah mewah, aku tahu ini bukan tempat makan biasa. Pelayan berseragam rapi menyambut kami dan membimbing kami menuju meja privat di sudut ruangan.
Begitu membalikkan lembaran buku menu bertepi sutra, mataku mendadak membelalak sempurna. Tidak ada satu pun harga makanan yang berada di bawah seratus ribu rupiah! Bahkan untuk segelas teh panas tawar saja harganya lima puluh ribu rupiah!
“Mmm... Varro, gue kayaknya gak jadi laper deh,” gumamku pelan seraya menutup buku menu itu rapat-rapat.
Varro mengerutkan dahi kaget. “Lah? Kata lo tadi laper banget?”
Aku mencondongkan tubuhku ke dekat telinganya, berbisik panik. “Gue gak bisa bayar makanan semahal ini buat sekali makan, Varro! Ini uang makan keluarga gue seminggu!”
Varro terkekeh pelan. Senyum hangat menawan terukir di bibirnya, memupuskan kesan angkuh yang biasa melekat padanya.
“Gisel cantik... lo cukup duduk manis dan makan aja. Gue tahu lo udah laper. Tenang aja, gue yang bayar semuanya,” kata Varro dengan suara berat yang menenangkan.
Aku menatap matanya ragu. “Tapi... gue gak tahu mana makanan yang enak di tempat mewah kayak gini. Lo kasih tahu dong apa aja yang recommended.”
Varro menunjuk beberapa gambar di menu. “Nih, lobster saus mentega ini yang paling enak di sini. Terus sup sirip ikan hiu ini juga segar banget-”
“Varro!” selakku cepat, menahan tangannya. “Itu bisa enak ya jelas karena harganya jutaan rupiah satu porsi!”
Varro tertawa renyah melihat kepanikanku yang polos. “Kan gue udah bilang, Gisel... gue yang bayar semuanya. Kalau lo mau nyoba lobsternya, pesen aja.”
“Yaudah... gue beneran boleh pesen lobster nih, ya?” tanyaku memastikan.
“Boleh banget, Gisel cantik,” jawab Varro mengangguk mantap. Pria itu memanggil pelayan dan membacakan pesanan kelas atas dengan sangat santai.
“Baik, mohon ditunggu sebentar ya, Kak,” ujar pelayan itu sopan sebelum mengundurkan diri.
Keheningan sejenak menyelimuti kami. Aku menatap pria di hadapanku ini dengan rasa haru yang menyusup ke dalam dada.
“Varro,” panggilku pelan.
“Kenapa, Gisel cantik?” sahutnya menatapku.
“Makasih banyak, ya,” jawabku dengan amat tulus. Jika bukan karena pria ini, aku tidak akan pernah bermimpi bisa menginjakkan kaki dan menyantap makanan berharga fantastis di restoran seperti ini.
Varro terpaku menatap ketulusan di mataku, lalu tersenyum lembut. “Sama-sama, Gisel.”
Tak lama kemudian, hidangan aromatik tersaji memenuhi meja. Namun bukannya langsung makan, Varro malah merogoh saku celananya dan fokus menatap layar ponselnya. Aku memegangi sumpit kaku, tidak berani menyentuh makanan sebelum tuan rumah memulainya.
“Kenapa lo gak makan?” tanya Varro yang menyadari keheninganku.
“Lo makan dulu,” jawabku polos.
Varro tersenyum tipis, memahami etika canggungku. Ia memasukkan ponselnya kembali, menyantap sepotong lobster pertama. Setelah melihatnya makan, barulah aku melahap makananku dengan bersemangat. Rasa gurih dan manis daging lobster itu benar-benar meledak di mulutku.
Setengah jam berlalu, piring-piring di meja kami telah bersih.
“Sekarang lo udah kenyang?” tanya Varro seraya menyeka bibirnya.
Aku mengelus perutku pelan. “Udah kenyang banget! Tapi... gue masih mau jalan-jalan keliling mall,” sahutku pura-pura polos.
“Yaudah, sebentar ya. Gue bayar bill-nya dulu,” kata Varro seraya memberikan kartu kredit hitamnya pada pelayan tanpa melirik total angka di kertas tagihan.
Setelah urusan pembayaran selesai, kami melangkah menyusuri lorong-lorong mall.
“Lo mau jalan-jalan ke mana lagi sekarang?” tanya Varro.
“Gue mau beli es krim yang ada di gerai depan itu!” tunjukku pada gerai es krim populer yang ramai pengunjung.
Varro melangkah mendekati kasir gerai. “Lo mau rasa apa?”
“Vanilla, topping-nya saus cokelat ya!” jawabku cepat.
Varro membayar satu cup es krim pesenanku, lalu menyerahkannya padaku. Aku menyambut es krim dingin itu dengan binar mata bahagia, duduk di bangku kayu terdekat, dan melahapnya sebelum mencair.
Varro mendudukkan dirinya di sebelahku, mengulas senyum tipis. “Enak es krimnya?”
“Enak banget! Manis sama dinginnya pas!” jawabku riang. “Emang lo gak pernah makan es krim mall kayak gini?”
Varro menggeleng. “Pernah, tapi biasanya cuma gelato atau hidangan penutup di restoran. Gue gak pernah beli es krim stan kayak gini di mall. Lagian... gue sebenarnya gak terlalu suka makanan manis.”
“Oh... gitu,” sahutku mengangguk paham.
Varro menatap cup es krim di tanganku penasaran. “Gue... mau coba juga dong es krim lo.”
“Nih,” sahutku polos menyodorkan cup es krim itu.
Tanpa diduga, bukannya menyendok sedikit, Varro justru melahap suapan besar hingga memakan sebagian besar topping cokelat dan krim yang tersisa!
Sial! Gue lupa dia orang kaya yang bisa beli sendiri gerai ini! Kenapa gue harus bagi ke dia?! gerutuku jengkel melihat es krimku yang tinggal separuh.
Varro mengusap sudut bibirnya seraya tersenyum puas. “Hmm... lumayan enak.”
Aku menyodorkan sisa es krim itu ke dadanya cemberut. “Nih, lo habisin aja sekalian!”
Varro tertawa renyah, menggeleng. “Gue gak suka yang terlalu manis begini. Lo aja yang habisin.”
Aku hendak membuangnya karena jengkel, namun nurani hematku meronta. Dengan bersungut-sungut, aku terpaksa menghabiskan sisa es krim tersebut sampai bersih.
“Lo masih mau jalan-jalan lagi?” tanya Varro saat kami kembali melangkah.
“Iya, gue mau belanja,” jawabku mantap seraya menunjuk sebuah butik fesyen mewah berlogo 'G' ganda.
Varro menoleh. “Lo suka merek Gucci?”
“Suka,” jawabku jujur. Ibuku sering mengagumi tas-tas seperti ini di majalah bekas.
“Oke, lo mau beli apa? Dompet? Tas?” tanya Varro membimbingku masuk ke butik beraroma kulit mahal itu.
Aku mengamati rak tas dengan cermat. “Gue sebenarnya mau beliin ini buat Nyokap gue... jadi mau cari tas yang pas buat Mama.”
Aku mengambil tas selempang kulit putih dengan rantai emas. “Yang ini bagus gak menurut lo?”
Varro mengamati sejenak, mengangguk. “Bagus, elegan.”
Aku mencoba tas kulit hitam klasik. “Kalau yang ini?”
Varro menatapku lekat. “Bagus juga. Cocok buat acara formal.”
Mataku kemudian tertuju pada tas genggam cokelat tua bermotif monogram. “Kalau yang ini gimana?”
Varro membetulkan letak tali tas itu di bahuku. “Model dan warna yang ini... sangat cocok buat gaya lo.”
Aku tersenyum puas. Namun saat melirik label harga yang mencapai puluhan juta rupiah, aku buru-buru bermaksud mengembalikannya ke rak. Uang sepuluh juta rupiah dari Brandon saja tidak akan sanggup melunasinya.
Namun sebelum jemariku menyentuh rak, tangan kekar Varro sudah menahan gerakanku seraya merogoh dompet kulitnya.
“Gisel... lo ambil aja semua yang lo mau. Tiga-tiganya. Gue yang bayar,” ujar Varro santai.
Aku membelalakkan mata. “Lo... lo serius, Varro?! Ini mahal banget!”
“Iya, Gisel cantik. Gue serius,” jawab Varro lembut seraya menarik kartu kredit hitam mengkilap dari dompetnya.
Varro membimbingku menuju kasir dan menyerahkan kartu kreditnya untuk membungkus tiga tas mewah tersebut ke dalam paper bag eksklusif.
“Makasih banyak ya, Varro...” ucapku pelan seraya menerima paper bag tebal itu dengan tangan gemetar. Ibuku pasti akan bahagia luar biasa.
“Sama-sama. Lo mau ke mana lagi sekarang?” tanya Varro.
Perhatianku teralih pada etalase toko mainan anak-anak di seberang. Mataku menatap mobil-mobilan balap remote control canggih.
Varro menyadari arah pandanganku. “Kenapa lo lihatin mainan itu terus? Lo mau?”
Aku menghembuskan napas pelan. “Gue mau beliin mainan itu buat adik kembar gue, Glenn... tapi lo tahu kan uang gue gak bakal cukup.”
Tanpa menguapkan sepatah kata, Varro melangkah masuk ke toko mainan itu, menyodorkan kartu kreditnya pada kasir, dan membeli mobil balap terbesar saat itu juga. Beberapa menit kemudian, ia menyerahkan kantung belanjaan itu ke tanganku.
“Thank you, Varro!” kataku dengan binar mata bahagia. Glenn pasti akan melompat kegirangan!
Langkah kami kembali terhenti di depan butik pakaian anak-anak. Di balik kaca etalase, terpajang gaun mekar berwarna merah muda dengan hiasan renda mutiara yang sangat indah.
“Gwen... adik kembar cewek gue... selalu mimpi mau punya gaun kayak gitu,” gumamku pelan.
Varro langsung menarik tanganku masuk ke toko tersebut dan memborong gaun merah muda itu beserta beberapa model gaun anak-anak terbaik lainnya.
“Varro!” panggilku panik melihat tumpukan baju yang dibungkus.
“Kenapa?” tanya Varro santai seraya menyerahkan kantung besar itu padaku.
“Makasih banyak... Gwen pasti bakal senang banget pas lihat ini,” jawabku mengulas senyum paling hangat.
“Sama-sama, Gisel cantik,” balas Varro mengelus puncak kepalaku.
Aku memeluk kantung-kantung belanjaan, lalu menatapnya mantap. “Varro... gue mau pulang sekarang.”
Varro mengernyit heran. “Yakin? Lo kan belum beli satu barang pun buat diri lo sendiri dari tadi.”
Aku tersenyum tipis. “Tadi gue kan udah dibelikan es krim sama lo. Itu udah lebih dari cukup.”
Varro menatapku lekat-lekat, menyiratkan rasa takjub atas kesederhanaanku. “Lo tunggu sebentar di sini ya. Jangan ke mana-mana,” katanya mendadak, lalu berlari kecil menghilang di antara keramaian.
Sepuluh menit kemudian, Varro kembali mendekat dengan tangan kosong.
“Tutup mata lo sekarang,” perintah Varro berbisik.
Aku menurut, memejamkan mata rapat-rapat. Langkah kakinya bergeser ke belakang punggungku, dan sentuhan hangat jemarinya menyingkap rambut pendek bagian belakang leherku. Sesuatu yang dingin dan terasa berat mendadak menyentuh kulit dadaku.
“Lo boleh buka mata sekarang, Gisel,” bisik suara berat Varro di samping telingaku.
Aku membuka mata, mendongakkan kepala menatap ke bawah. Napasku tertahan di tenggorokan.
Sebuah kalung rantai platina halus melingkar manis di leherku dengan liontin berlian asli berbentuk tetesan air mata yang membiaskan kilau cahaya indah memukau. Pria ini ternyata sempat berlari ke butik perhiasan mewah di lantai dasar khusus untuk membelikanku kalung ini.
“Kalung ini... buat gue?” tanyaku kaget setengah mati, jemariku gemetar menyentuh berlian di dadaku.
“Iya,” jawab Varro pelan seraya melangkah kembali ke hadapanku dan mengelus lembut rambut pendekku.
Aku menatap mata cokelat gelapnya yang memancarkan kehangatan luar biasa. “Makasih banyak ya, Varro...”
“Sama-sama, Gisel cantik,” sahut Varro lembut.
Tiba-tiba, raut wajah Varro berubah sangat serius. Pria itu menatap lurus ke dalam mataku dengan ketegasan mutlak.
“Gisel... lo harus janji sama gue. Lo harus pakai terus kalung ini setiap hari. Oke?”
Aku terpaku menatap keseriusan di mata sang ketua Starlit, merasakan desiran aneh di dadaku. Aku menganggukkan kepala pelan. “Iya... gue janji.”
Bersambung......