Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Seminggu berlalu sejak Miska mulai berusaha membangun sesuatu untuk dirinya sendiri. Setiap hari, Dia diam-diam di sela-sela mengerjakan urusan rumah tangga, ia menyempatkan waktu memegang ponsel jadulnya—memeriksa akun jualan yang dibuatkan Bu Lina, membalas pesan dengan teliti, dan berharap ada orang yang tertarik dengan barang-barang yang ia tawarkan. Semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan siapa pun, terutama Askar dan Ibu Suryati. Ia takut jika mereka tahu, hal kecil yang mulai membuatnya merasa berguna itu justru akan dihina dan dilarang.
Pagi itu, saat Ibu Suryati sedang asyik menonton televisi di ruang tengah dan Askar sudah berangkat kerja, ponsel di tangannya bergetar pelan. Sebuah notifikasi masuk: Pesanan baru diterima.
Jantung Miska berdegup kencang. Ia membuka pesan itu dengan tangan gemetar. Seseorang telah membeli dua paket sabun alami dan pelembap wajah yang ia unggah beberapa hari lalu—pesanan pertamanya! Senyum merekah di wajahnya, rasa bahagia yang tulus dan hangat, sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Ia segera menyimpan pesanan itu, berjanji dalam hati akan mengirimkannya hari itu juga lewat jasa pengiriman terdekat.
Namun kebahagiaan itu harus ia simpan rapat-rapat, hanya untuk dirinya sendiri. Saat siang tiba, Ibu Suryati memanggilnya dengan nada tajam dari ruang tengah.
"Miska! Kamu di mana?! Dari tadi pagi hilang terus!"
Miska segera menyembunyikan ponselnya di saku daster, lalu berjalan mendekat dengan wajah tenang. "Maaf Bu. Tadi saya lagi melipat baju di kamar."
"Melipat baju sampai lama begitu? Kamu kira rumah ini sudah bersih semua ha?" Ibu Suryati menatapnya dengan tatapan merendahkan. "Lihat tuh, lantai ruang tamu belum dipel, dan baju kotor Askar sudah menumpuk di kamar mandi. Kamu itu memang selalu kurang teliti!"
"Baik, Bu. Sekarang saya kerjakan," jawab Miska pelan, tanpa membantah. Meski hatinya sempat terasa perih, namun kali ini ada sesuatu yang lain di dalam dadanya—rasa bangga kecil karena pesanan itu, yang membuat makian itu tak lagi terasa setajam dulu.
Tak lama kemudian, Askar pulang sebentar untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Ia masuk rumah dengan wajah datar, bahkan tidak menatap Miska yang sedang menyapu di ruang tengah.
"mas kamu sudah pulang..." sapa Miska pelan, berharap sekadar mendapat anggukan.
"Ya," jawab Askar singkat, berjalan melewatinya tanpa menoleh. Mengambil map di meja, lalu berbalik pergi. "Saya kembali ke kantor dulu. Jangan ganggu saya kalau tidak penting."
Pintu tertutup, dan Miska kembali sendirian. Namun ia tidak lagi merasa sepi sepenuhnya—ia punya sesuatu yang miliknya sendiri.
* *
Di kantor, kedekatan Askar dan Rara semakin hari semakin terlihat jelas. Mereka duduk berdekatan, sering berbicara dengan nada lembut, tertawa bersama di ruangan tertutup, bahkan makan siang selalu berdua tanpa mengajak rekan kerja lain. Gosip pun mulai bermunculan di antara karyawan lain.
"Kalian lihat tidak? Belakangan ini pak Askar dan Rara itu kemana-mana selalu berdua," bisik Sari kepada Dina saat jam istirahat.
"Iya, aku juga sudah lama perhatikan. Setiap jam makan siang pasti berdua, pulang kerja juga bareng terus. Padahal pak Askar kan sudah menikah," jawab Dina sambil melirik ke arah meja mereka.
"Tapi kita tidak bisa bicara apa-apa. Tidak ada bukti nyata kan? Mereka cuma terlihat dekat, belum tentu ada yang lain. Lagipula Rara itu sekretarisnya, wajar kalau sering bekerja sama," ujar Sari berusaha bersikap netral.
Meskipun begitu, bisik-bisik itu sampai ke telinga Askar dan Rara. Namun mereka seolah tidak peduli, seolah perkataan orang lain tidak ada artinya bagi mereka.
"mas, katanya teman-teman mulai membicarakan kita," kata Rara pelan saat mereka berdua saja di ruangan Askar. Ia duduk di kursi tamu, menatap pria itu dengan senyum tipis. "aku tidak keberatan?"
Askar tersenyum lembut, lalu berdiri dan berjalan mendekat, meletakkan kedua tangannya di meja hingga mengurung tubuh Rara di antara lengannya. "Biarkan mereka bicara. Selama tidak ada bukti, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Dan yang paling penting... aku tidak peduli apa kata mereka. Yang aku tahu, saat bersamamu, aku merasa hidup kembali."
Rara tersipu, pipinya memerah. "mas ini... selalu saja bisa membuatku merasa spesial."
"Karena kamu memang spesial, Ra. Lebih dari yang kamu tahu," jawab Askar pelan, matanya menatap dalam ke mata wanita itu.
"malam ini mau keluar sebentar nggak? Kita nonton film di bioskop, lalu makan malam di tempat yang enak."
"Tapi mas kan harus pulang..."
"Biarkan saja. Ini hari biasa, bukan hari libur. Tidak ada yang akan curiga," potong Askar cepat. "Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, Ra. Boleh kan?"
Rara mengangguk pelan, senyum bahagia merekah di bibirnya. "Boleh dong. Aku juga ingin sekali."
* *
Malam itu, Askar dan Rara menghabiskan waktu berjam-jam bersama. Mereka menonton film di bioskop, duduk berdampingan dengan tangan yang saling bertautan di antara kegelapan ruangan. Setelah itu mereka berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, berhenti di kedai kopi, berbicara tentang banyak hal—dari masa lalu hingga impian masa depan, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sah dan bahagia. Jam menunjukkan pukul sebelas malam sebelum mereka akhirnya beranjak pulang.
"Sampai ketemu besok ya, mas," pamit Rara saat mobil berhenti di depan kostnya. Sebelum turun, ia mencium pipi Askar sekilas, lalu tersenyum manis. "Hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih ya."
"Sama-sama, Ra. Hati-hati di dalam," jawab Askar, menatapnya hingga pintu kost tertutup. Baru setelah itu ia melajukan mobilnya menuju rumah—rumah yang ada Miska di dalamnya, yang sejak sore tadi terus menunggunya.
Sesampainya di rumah, suasana gelap dan hening, hanya lampu ruang tamu yang menyala redup. Miska masih duduk di sofa, matanya sempat terpejam beberapa kali karena mengantuk, namun ia tetap bertahan, ingin menyambut suaminya pulang seperti biasa. Saat mendengar suara pintu terbuka, ia segera bangkit dan berjalan mendekat.
"akhirnya kamu pulang mas.." sapa Miska lembut, berusaha tersenyum meski matanya terlihat lelah. "Sudah makan belum? Saya panaskan masakan ya?"
Askar meletakkan kunci dan tasnya di meja dengan kasar, wajahnya terlihat dingin tanpa senyum sedikit pun. "Tidak usah. Saya sudah makan di luar. Dan kamu ini kenapa masih disini? Bukannya sudah saya bilang tidak perlu menunggu ku?"
"Saya hanya ingin menyambut mas pulang saja... maa pulang jam sebelas malam, saya khawatir," jawab Miska pelan, hatinya perih melihat sikap suaminya yang tak pernah berubah hangat.
"Khawatir untuk apa? Saya bukan anak kecil yang perlu dikhawatirkan. Mulai sekarang, jangan pernah menunggu saya sampai larut malam begitu. Itu tidak ada gunanya," ketus Askar, berjalan melewati istrinya menuju kamar tanpa menyentuhnya sedikit pun.
Miska berdiri sendirian di ruang tengah yang dingin. Ia menatap pintu kamar yang tertutup, lalu menunduk perlahan. Di dadanya masih tersisa rasa bahagia karena pesanan pertamanya tadi siang, namun rasa sakit karena sikap Askar kembali datang menyelimuti. Ia berjalan pelan ke dapur, mematikan lampu, lalu menyusul ke kamar—di mana suaminya sudah berbaring membelakanginya, seolah kehadirannya di sana hanyalah benda asing yang tak perlu diperhatikan.
Malam itu, Miska berbaring di tepi tempat tidur, menatap punggung suaminya yang terasa semakin jauh. Namun di dalam hatinya, ia berjanji pada diri sendiri: ia tidak akan lagi menaruh seluruh bahagianya pada pria yang bahkan tak pernah menghargainya. Mulai sekarang, ia akan membahagiakan dirinya sendiri, dengan caranya sendiri.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪