Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HIDUP SEPERTI ORANG BIASA
Cahaya matahari masuk lewat celah pintu. Terasa hangat dan berbeda. Arya berdiri dengan Kaki yang masih goyang. Tetapi dia paksakan untuk jalan keluar. Sudah seminggu ia beristirahat, Badannya terasa gatal.
"kreett" Pintu kayu terbuka dengan pelan.
Silau.
Arya menatap ke halaman rumah kakek lin, ada sumur yang cukup dalam, Ada jemuran dengan baju yang lusuh, Ada bau ayam dan tanah basah.
Dan di tengah halaman itu...
Istrinya, Aluna.
Gadis itu pakai baju rakyat biasa. Baju kain kasar warna biru pudar, dengan lengan dilipat.
Rambutnya Tertata asal, diikat pita sisa kain. Wajahnya polos, ada noda tanah di pipi.
Dia lagi jongkok, nyebar gabah. Sekelilingnya 5 ekor ayam mematuk-matuk minta di kasih makan.
"Ayo makan, Biar cepat gemuk." Aluna ngomong sama ayam. Arya tersenyum tipis dan berjalan menuju gadis itu.
Di sebelahnya ada seorang wanita kisaran berumur 25an ke atas, Ikut membantu Aluna.
"Jika selalu di beri makan, Ayam ini pasti akan selalu gemuk nyonya Aluna." Gumam wanita itu tersenyum,
Aluna ketawa. "Iya Bu Sari, Soalnya yang punya rumah doyan ayam." Aluna tertawa bersama wanita itu. Terlihat sudah lumayan akrab.
"Arya?!" Aluna langsung berdiri saat tak sengaja melihat keberadaan Arya, Ia langsung mendekat. "Kamu kok keluar?! Tabib Julian bilang istirahat!" Kesalnya, Bu Sari tersenyum menatap pasangan muda itu.
"Kalian pasti baru menikah, Terlihat sangat manis." Aluna tersenyum malu, Sedangkan Arya hanya tersenyum tipis. "Kami memang baru saja menikah." Jawabnya. Bu Sari tambah tersenyum gemas.
Arya ber-sedekap dengan wajah datar tapi matanya lembut. "Kalau nggak keluar, Aku akan segera tergantikan oleh ayam."
Aluna memanyunkan bibirnya "Kakek bilang, Aku boleh merawat ayam ini untuk di makan, Katanya biar bertelur banyak." Kesal Aluna.
Sari tersenyum lembut." Kalian ini jangan terlalu banyak ribut, Nanti sulit punya momongan,Aku pamit dulu ya. Ada cucian." Sari pergi sambil senyum-senyum.
Tinggal mereka berdua.
Arya jalan pelan ke Aluna. Menyentuh keningnya. "Panas nggak?
Kena matahari dari tadi?"
Aluna menggeleng. "Enggak. Aku seneng di sini, Oh ya...Arya udah bisa jalan."
"Sudah." Jawab Arya. Pemuda itu menatap baju berwarna abu-abu kusam yang sedang ia kenakan. Kemana jubah tebal dan baju nikah mereka?
"Aluna, Baju ini?" Kening Arya mengkerut. " Aku meminta kakek lin menjual baju kita, Agar tidak ada yang mencurigai identitas kita." Bisik Aluna.
Wajah Arya terlihat tegang. Di jubahnya terdapat lencana khusus kediamannya, Begitu pun liontin giok kerajaan Dariyan. Jika seseorang menyadari hal itu. Keberadaannya dan Aluna bisa dalam bahaya.
"Dimana, Kakek lin?" Aluna menunjuk halaman samping, Arya langsung bergegas mencari kakek lin.
Kakek Lin Terlihat sibuk, Lelaki tua itu sedang Menjemur akar-akar dan daun di atas tampah bambu, Bau herbal nya cukup menyengat tapi tercium harum.
"Anda sudah sadar?" Tanya kakek Lin, Arya menatapnya dengan tegang. "Sudah." Jawabnya."Bagus, teruslah berjalan-jalan agar darahnya lancar, jangan bekerja terlalu berat."
Arya menunduk hormat. "Terima kasih, Kakek Lin. Sudah menolong kami. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan." Ucap Arya, kakek Lin menoleh dan tersenyum tenang.
"Ada apa yang mulia?" Tanyanya, Arya langsung menatap pria tua itu dengan terkejut. "Anda tau identitas kami?" Kakek Lin tersenyum tipis.
"Yang mulia, Bagaimana bisa kami tak tahu. Anda memakai hanfu pernikahan mahal. Jubah anda di tenun dengan rapih dan mewah. Lalu, Terdapat lencana kerajaan yang hanya di miliki oleh anggota kerajaan." Ucap kakek Lin. "Tapi tenang saja, Saya tidak akan memberitahu siapapun. Saya sungguh mengagumi sosok anda selama ini." Ucap kakek Lin.
"Jadi, Anda mengenal saya dan Aluna?" Tanyanya, Kakek Lin mengangguk. Tubuh tuanya berjalan menuju sebuah kursi kayu. Ia mengajak Arya untuk duduk, Sembari menikmati teh hitam miliknya.
"Siapa yang tidak tahu kehebatan anda dalam Medan perang, Bahkan kerajaan Xuan mengakui kehebatan anda. Anda terkena penyakit langka bukan?" Tanya kakek Lin, Arya mengangguk. "Anda benar, Maaf jika saya ingin merahasiakan ini semua." Arya menunduk malu. Kakek Lin tersenyum.
"Aku sudah mengubur lencana dan semua yang mencurigakan di halaman belakang rumah-ku. Yang mulia, raja Derry tak akan mengetahui identitas anda." Ucap kakek Lin, " Mengapa anda melakukan ini Untuk-ku dan Aluna?" Tanya Arya, Kakek Lin tersenyum tulus. " Karna kau orang yang malang, Kau setia pada negara, Tetapi penyakit gila-mu membuatmu terasingkan. Sedangkan istrimu, Dia begitu polos dan naif. Dia berbeda dengan wanita bangsawan lainnya." Ucap kakek Lin.
"Apa yang bisa aku berikan pada anda, Kakek Lin?" Tanya Arya, Kakek Lin tersenyum. " Jika suatu saat anda sudah kuat. Hamba hanya berharap, Yang mulia bisa kembali mengurus negara dengan adil. Karna rakyat kecil seperti kami, Hanya hidup sesuai pemimpinnya saja. Kematian kami tak berarti apa-apa." Ucap kakek Lin.
"Aku bukan orang sebaik-itu." Ucap Arya berat hati. " Yang mulia, Saat dulu kerajaan Dariyan dan kerajaan Xuan bersitegang. Anda adalah orang yang di kirim khusus oleh raja Bastian untuk menaklukan sebagian wilayah negeri Xuan. Tetapi anda tetap melakukannya sesuai dengan perintah. Anda bahkan mengganti kerugian yang di dapat rakyat negeri Xuan yang tidak bersalah." Arya terlihat terkejut. Dulu ia mengganti beberapa kerugian yang di akibatkan perang, Dengan beberapa keping emas. Itu pun di luar perintah kakaknya sendiri. Ia pikir, Tidak akan ada yang ingat hal itu.
"Saya adalah salah satu korban itu, saat itu saya sangat mengagumi anda. Tetapi hati saya hancur saat tau yang mulia tengah sakit keras, Itu sebabnya. Saya mendidik Julian untuk menjadi seorang tabib. Agar suatu saat, Ketika saya menemukan orang seperti yang mulia, Saya bisa membantunya." Ucap kakek lin berkaca-kaca.
Arya tersenyum lembut, Ternyata semua yang ia lakukan tidak sia-sia. Ia pikir, Meskipun mengorbankan semua yang ia punya, Ia akan tetap di anggap monster yang akan mati.
"Kakek Lin, Terima kasih sudah membantuku. Aku berjanji tidak akan membebani-mu." Kakek Lin tersenyum, Dan menahan tangan Arya untuk tidak menunduk padanya. " Yang mulia, Anda terlalu sopan." Kakek Lin tertawa pelan. " Panggil aku Arya, Bukan yang mulia lagi." Ujarnya. Kakek Lin tersenyum. "Baiklah."
"Oh ya tabib Julian mana, Kek?" Tanya Arya.
"Oh, dia ke Desa Bambu, Ada wabah batuk di sana, Paling 2 hari lagi baru balik." Jawab Kakek Lin sambil kembali memilah daun. "Jadi yang masak hari ini siapa?" Aluna datang dengan senyuman lebarnya. Aluna langsung angkat tangan. "Saya!"
Kakek Lin dan Arya langsung menjawab barengan: "Jangan."
Aluna manyun. "Aku bisa kok!"
***
Siang ini, Arya duduk di sebuah dipan. Dengan Aluna yang menyuapi bubur dan suwiran ayam. Kali ini, Kakek Lin mengajari kedua pasangan itu membuat bubur dan lauk makan. Sehingga kini, Mereka bisa makan siang.
Arya: "Aluna."
"Hm?"
"Terima kasih."
Aluna berhenti nyuap. "Buat apa?"
"Buat mau hidup susah sama aku. Buat nggak ninggalin aku pas di jurang. Buat... jadi istriku." Arya mengecup punggung tangan Aluna yang terasa kasar itu.
Aluna menunduk. "Aku nggak ngapa-ngapain. Aku cuma... nggak mau kehilangan Arya."
Suasana menjadi Hening hanya ada suara ayam di luar. Arya menarik Aluna ke pelukannya dengan Pelan, Takut lukanya kembali berdarah dan mengotori baju gadis itu.
Di luar, Kakek Lin batuk. "Kalian mau pelukan sampai kapan? Jemuran mau kehujanan!" teriaknya, Arya langsung bangkit dan menahan Aluna yang hendak berjalan mengangkat jemuran. "Diam di sini, Aku saja." Ucapnya. Kakek Lin tersenyum tipis dari luar.
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏