NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Cemburu

Sesampainya di rumah, Affandy segera meletakkan Hulya di atas ranjang. Laki-laki itu terlihat panik melihat istrinya tidak sadarkan diri. Beberapa kali ia menepuk pipi Hulya dengan lembut.

"Hulya, bangun."

"Hulya!"

Namun, wanita itu tetap tidak sadarkan diri.

"Hulya ... Aku mohon, bangun."

Untuk pertama kalinya, Affandy benar-benar terlihat khawatir dengan keadaan istrinya. Perlahan, ia melepaskan kerudung Hulya agar perempuan itu bisa bernapas lebih nyaman. Namun, ketika melihat wajah Hulya dengan jelas, Affandy justru terdiam.

Ia baru menyadari betapa cantiknya perempuan yang selama ini menjadi istrinya. Affandy segera menyingkirkan pikirannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Hulya.

Setelah itu, ia berbaring di samping istrinya. Tubuhnya dimiringkan menghadap Hulya.

"Hulya ... Bangun," lirihnya.

Entah karena rasa khawatir yang semakin besar atau karena perasaan lain yang mulai tumbuh tanpa disadarinya, Affandy memberanikan diri menarik tubuh Hulya ke dalam pelukannya. Untuk malam itu, mereka tertidur bersama.

Semalaman, kedua pasangan suami istri itu tidur dalam posisi berpelukan. Lebih tepatnya, Affandy-lah yang memeluk Hulya sehingga tanpa sadar wanita itu ikut merangkul pinggang suaminya.

Pada Minggu pagi, Hulya Anindita terbangun dari tidurnya. Awalnya, dia mengira sedang memeluk guling. Bahkan, tangannya sempat meremas benda yang dipeluknya itu. Namun, ada sesuatu yang terasa aneh saat Hulya membuka matanya.

Betapa terkejutnya dia ketika mendapati dirinya berada dalam pelukan Affandy. Dengan cepat, Hulya mendorong tubuh pria itu hingga membuat Affandy terbangun.

"Kamu ngapain, Affan?" tanya Hulya.

Wanita itu segera meraba kepalanya. Baru saat itulah dia menyadari bahwa dirinya tidak mengenakan hijab.

"Jilbabku..." lirihnya.

Hulya menatap Affandy dengan panik.

"Ta-tadi malam, kamu ngapain aku?"

Affandy mengucek matanya. Dia ikut duduk dan menghadap wanita itu. Tangan kekarnya terulur menuju wajah Hulya.

"Biru..." gumamnya. "Masih sakit?"

Hulya ikut memegang pipinya. Dia bahkan tidak sadar bahwa semalam seorang pria telah menamparnya hingga membuatnya jatuh pingsan.

"Perih," jawab Hulya.

"Makanya jangan jadi jagoan. Udah tahu perempuan, malah sok melindungi orang."

"Aku 'kan melindungi suamiku," ucap Hulya.

"Aku bukan suamimu," balas Affandy.

Perkataan itu sebenarnya sama seperti biasanya. Namun, kali ini terdengar biasa saja bagi Hulya. Nada suara Affandy pun terdengar lebih pelan.

Hulya berpikir keras. Sebenarnya, apa yang terjadi pada pria itu?

"Muka kamu juga biru-biru, tau."

"Biarin."

"Makasih, ya, udah mau lindungi aku."

"Lindungi?" Affandy menaikkan sebelah alisnya. "Aku sama sekali nggak melindungi kamu, Hulya."

"Terus tadi malam apa?" tanya Hulya. "Nggak usah gengsi kali."

Affandy mengembuskan napas perlahan. "Kamu dengerin aku. Nggak ada yang boleh memukul kamu."

Perkataan itu membuat Hulya tersenyum.

"Kecuali aku," sambung Affandy.

Senyum yang sempat terukir di wajah Hulya langsung menghilang. Affandy benar-benar tidak pernah kehabisan cara untuk membuatnya kesal.

"Kamu makan dari hasil kerja aku. Jadi, cuma aku yang boleh main kasar sama kamu. Bukan orang lain!"

Hulya menepis kasar tangan pria itu. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Ada banyak hal yang harus dikerjakannya di hari Minggu ini, salah satunya adalah membereskan rumah.

[] [] []

Hulya sedang berada di luar rumah sambil menyiram tanaman. Seorang pria yang tinggal di sebelah rumahnya baru saja keluar dan menyapa dirinya.

"Pagi, Hulya."

"Pagi, Mas."

"Wajah kamu kenapa?" tanya Vicky. "Dipukul suami kamu?"

"Bukan, Mas!" jawab Hulya tegas.

"Terus?"

"Maafin saya, Mas. Sepeda Mas rusak karena tadi malam saya digangguin sama preman. Untungnya suami saya lewat."

"Apa saya bilang, nggak baik keluar malam-malam. Saya mau nganterin kamu, tapi nggak mau."

"Nggak apa-apa, Mas."

Sejenak Hulya terdiam. Saat pria itu hendak pergi, dia kembali memanggilnya.

"Mas Vicky."

"Iya, Hulya."

"Gaji saya untuk beberapa bulan, Mas ambil aja."

Vicky mengernyitkan kening.

"Itung-itung buat ganti sepeda yang udah rusak."

"Ya Tuhan. Urusan gaji, kamu pasti tetap dapat sesuai pekerjaan kamu," ungkap Vicky. "Kalau tentang sepeda itu, nggak usah dipikirin."

"Tapi sepeda Mas 'kan mahal."

"Kamu fokus kerja aja. Saya nggak memikirkan sepeda itu, yang penting kamu baik-baik saja."

Hulya menatap lekat pria itu.

"Eh, maksud saya ... Semoga kamu baik-baik aja supaya bisa kerja seperti biasa."

Ceklek!

Pintu rumah terbuka perlahan, Hulya dan Vicky menoleh. Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan mengenakan celana pendek selutut. Sepertinya dia baru saja bangun dari ranjang. Rambutnya terlihat acak-acakan.

"Hulya! Masuk!"

"Saya permisi, Mas."

Hulya meletakkan selang air. Dia menundukkan kepala. Tatapan Affandy sungguh mematikan.

Bukan hanya Hulya, Vicky juga mendapatkan tatapan tajam itu. Namun, dia sama sekali tidak takut. Bagaimanapun, yang dibicarakannya dengan Hulya hanya masalah sepeda.

Brak!

Vicky memejamkan mata sejenak ketika pintu rumah itu dibanting oleh Affandy.

"Hulya!"

"Hulya!"

Dengan cepat wanita itu menghampiri suaminya yang berada di ruang tamu.

"Kenapa, Affan?"

"Ngapain kamu berduaan sama pria itu?"

"Aku sama dia cuma ngobrol biasa."

"Biasa kamu bilang?"

Affandy mendekati Hulya sehingga wanita itu sedikit takut. "Ngobrol serius kamu bilang biasa?"

"Affan, aku cuma minta maaf sama dia karena sepedanya ketinggalan di tempat itu."

"Nggak usah bohong kamu."

"Beneran, Affan."

"Selain itu, apa yang kalian omongin?"

"Nggak ada ... Aku cuma bilang nanti sepedanya aku ganti," ucap Hulya. "Kenapa sih? Kamu cemburu?"

"Cemburu? Nggak ada untungnya aku cemburu, Hulya," ujar Affandy.

Hulya terdiam, bukan jawaban seperti itu yang dia inginkan dari suaminya.

"Nanti sepedanya aku yang ganti."

Affandy berlalu pergi. Senyum kembali terukir di bibir Hulya. Namun, tiba-tiba Affandy berbalik badan sehingga membuat Hulya kaget. Wanita itu segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyum manisnya.

"Aku mau mandi. Siapin makanan."

"Iya."

"Jawab yang bener."

"Lho, 'kan aku udah jawab iya."

"Jangan nunduk."

Hulya mendongak dan menatap Affandy. "Iya, suamiku."

"Najis!" Affandy langsung berlalu pergi.

Hulya masih memikirkan perilaku suaminya itu.

Ada apa dengan Affandy hari ini?

Sikapnya terlihat jauh lebih adem.

Beberapa menit kemudian, nasi goreng sudah tersaji di meja makan. Hulya membuat cetakan berbentuk hati di atas nasi tersebut. Tidak lupa dia menambahkan telur, beberapa irisan tomat, dan mentimun.

Wanita itu segera menuju kamar untuk memanggil suaminya. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Affandy yang sedang marah-marah.

"Kamu salahin aku. Kamu mikir nggak? Aku banyak kerjaan. Dunia aku bukan tentang kamu aja."

Hulya mengernyitkan kening. Sejenak Affandy terdiam, kemudian kembali mengomel.

"Harusnya kamu maklumi itu. Nggak mungkin dong setiap hari kita harus jalan."

Hulya baru mengerti bahwa pria itu sedang menelepon seseorang.

"Aku nggak mempermasalahkan uangku yang udah habis karena belanjain kamu. Tapi harusnya kamu ngerti, aku juga pengin istirahat kalau habis kerja."

"Dia kenapa sih?" lirih Hulya.

1
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!