Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Bertemu
Ini merupakan tahun keempat Lusia Irene menjadi dokter residen di rumah sakit Bhayangkari yang ada di kota Jakarta, tahun terakhirnya. Dokter cantik yang memiliki hobi menyanyi ini, menjadi incaran polisi - polisi bujang yang sering datang berobat ke rumah sakit. Selesai sif malamnya, Lusi nama panggilan dokter Lusia Irene rencana mau ke mall membeli raket padel. Rencana sore ini dia akan bermain padel bersama dokter Agustinus mentornya bersama rekan - rekannya.
"Sudah selesai sif malam kak."
"Iya ma, ini aku mau ke mall beli raket padel."
"Kaka masih punya uang."
Lusi dan mamanya adalah perempuan beruntung. Setelah papanya ketahuan berselingkuh dia bersama mamanya mendapat warisan dari teman mamanya. Ternyata om yang memberikan warisannya adalah teman sekolah mama. Dan sejak mereka sekolah mereka sudah saling suka. Namun mereka terpisah karena mama di kuliahkan oleh opa jauh. Sedangkan teman mama ini, adalah anak dari keluarga kurang mampu.
Setelah tiga puluh tahun. Mereka bertemu di media sosial waktu itu temannya mama sudah sakit parah. Dan selama tiga puluh tahun itu dia mencari mama yang adalah cinta pertamanya. Singkat cerita mama diberikan warisannya. Dari sinilah perekonomian Lusia dan mamanya berubah. Dari seorang pegawai negeri yang hidup sederhana dari sisa kredit pegawai. Namun sekarang Mama bisa membangun usahanya bersama tiga saudara perempuannya.
Lusi sekali bertemu dengan om Pede nama panggilannya. Pertemuan itu om pede mengajak mama dan saya berlibur ke singapura, karena dari singapura beliau akan kembali ke vatikan dan disana beliau meninggal. Oleh saudaranya yang seorang pastor di sana kami tahu bahwa om Pede bertahan dari sakit kanker getah benih hanya untuk mau bertemu dengan cinta pertamanya. Lusi sampai sekarang masih berkomunikasi dengan adiknya om Pede Almarhum yaitu pastor Jason.
Di toko sport, Lusi hampir saja jatuh ketika bertabrakan dengan seorang laki - laki tinggi, badannya besar, ganteng. Perawakannya seperti seorang anggota tentara atau bisa polisi.
"Mohon maaf... Saya tidak sengaja."
"Its oke. Kamu tidak terluka kan."
"Aku aman. Maaf ya." Lusi langsung menjauh dari orang tersebut menuju ke kasir. Sementara laki - laki itu masih terus memandang ke arah Lusi.
Diketahui bahwa laki - laki itu adalah Ajun Komisaris Polisi (AKP) Gio Abraham tergabung di satuan Intelejen Brimob.
"Lihat siapa bro."
"Nik cewek di kasir itu."
"Oooo dokter Lusia Irene."
"Kamu kenal dia."
"Bukan saya saja. Semua anggota brimob kenal sama dia."
"Maksudnya??"
"Dia dokter di rumah sakit Bhayangkari dia dokter residen."
"Kok aku baru tahu."
"Ya gimana sih kamu kan intel, setidaknya naluri keintelan kamu bisa di gunakan."
"Bangkek.... Aku kan baru balik penugasan luar negeri."
"Ooo iya aku lupa."
Lusi sudah keluar dari toko sport itu. Gio melihat dia membeli raket padel sama sepertinya. Terus terang sebagai laki - laki, wajah Lusi sangat cantik dan manis, kharismatik. Pengen di lihat terus karena panasaran.
Lusi baru saja bangun tidur setelah tadi jam sebelas baru pulang dari mall. Selain membeli raket dan baju buat olah raga padel. Lusi juga sempat belanja bulanan mengisi kulkas dan kebutuhan bulanan lainnya buat apartemen mini malisnya. Karena baru jam tiga siang. Lusi mandi dan menyiapkan bekalnya buat selesai main padel nanti.
Dokter Agustinus mentornya mengajak Lusi untuk olahraga padel di lapangan padel punya Bhayangkari lapangan yang baru di resmikan seminggu lalu oleh Kapolri. Jam empat tepat Lusi sudah sampai di lapangan padel, dokter Agus sudah menunggunya. Dokter Agus dan Gio adalah teman sekolah bersama Niko bedanya Agus selesai sekolah kuliah kedokteran sedangkan Gio dan Niko lulus akademi kepolisian. Setelah lulus akademi kepolisian Gio melanjutkan pendidikannya di sekolah intelejen nasional. sedangkan dokter Agus tes perwira karier.
Tiga sahabat ini sedang mengadakan reuni. Ya bermain padel. Agus sengaja mengundang Lusi karena dia mau Lusi tidak terlalu tegang, mengingat masa residennya sisa satu tahun lagi.
"Saya kira kamu ngak datang."
"Mana berani saya menolok dokter.... Bisa ngak lulus - lulus saya. Dokter sendiri." Agus tertawa.
"Saya janjian dengan dua sahabat saya."
"Sahabat dokter cewek atai cowok."
"Cowok, Lusi. Kalau cewek berarti pacar saya." Lusi tersenyum.
Lusi tidak tahu bahwa sedari sepuluh menit Gio dan Niko sahabat Agus sedang mengamati mereka.
"Gio.... Cewek itu."
"Iya. Aku tahu Nik. Pacarnya Agus??"
"Mana ku tahu."
"Kenalkan Lusi ini dua sahabat saya, yang saya ceritakan tadi."
"Guys ini Dokter Lusia Irene, dokter residen angkatan terakhir. Kebetulan aku mentornya."
"Dok... Aku tadi ketemu dengan sahabat dokter di mall." Lusi berbisik kepada dokter Agus.
"Iya, tadi kita sudah ketemu tetapi kita belum kenalan. Gio Abraham." Gio yang mendengar suara Lusi langsung menjawab. Hal itu sontak membuat seluruh raut wajah Lusi menjadi merah.
"Niko Atmajaya. Senang berkenalan denganmu dokter Lusi."
"Sama - sama....."
"Kakak...kak Niko."
"Kalau aku mas ya. Mas Gio." Sangat cuek Gio menjawab. Membuat Lusi menjadi gemas. Karena kepercayaan dirinya.
Sangat seru mereka bermain padel bersama. Ya hanya Lusi bersama tiga laki - laki bujang lapuk ini. Dua set mereka bergantian bermain. Gio mengira Lusi baru pertama kali bermain, namun ternyata dia sangat mahir bermain padel.
"Sudah sering olah raga ini ya."
"Tidak....."
"Mas Gio."
"Ooo iya. Ini pertama kali mas."
"Tetapi kamu lincah seperti orang yang sudah sering bermain."
"Kalau saya sudah lincah, kenapa tadi bari beli raket."
"Iya juga sih. Tetapi kamu hebat."
"Terima kasih mas." Gio tersenyum. Hatinya senang sekali. Apalagi waktu istirahat dia menanyakan kepada Agus tentang kedekatan Agus dengan Lusi. Namun Agus membantah jika mereka pacaran.
Lusi sudah pulang. Dia menggunakan taksi online. Sebenarnya tadi Dokter Agustinus Wirawan menawarkan untuk mengantar namun Lusi menolak. Karena dokter mau menjemput kekasihnya, calon istrinya Desy yang baru pulang berlibur dari Jepang bersama sahabatnya Lydia. Mereka berdua adalah dokter umum yang bekerja di rumah sakit Siloam.
"Baru selesai olahraga sayang."
"Iya bersama Gio, Niko dan Lusi. " Agus mencium pipi kekasihnya.
"Lusi dokter residen yang kamu mentori itu."
"Iya sayang. Kapan - kapan kita bertemu dengan dia ya."
"Oke sayang."
"Gio sudah pulang dari Serbia."
"Sudah neng."
Dokter Lydia adalah mantan pacar dari Gio Abraham. Mereka sudah putus setahun yang lalu, karena ego mereka masing - masing. Lydia ketahuan mempunyai hubungan lagi dengan Zero teman sekolah mereka dulu yang adalah seorang CEO, namun oleh Lydia tidak mengaku. Padahal Gio melihat sendiri mereka keluar dari hotel berdua, namun alasan Lydia waktu itu dia sedang bertemu dengan saudara sepupunya dari Belanda. Namun Gio tidak menerima alasan karena Zero dan Gio adalah musuh bebuyutan sedari sekolah.