NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Tangan yang Mengulur

Hujan gerimis membilas kaca depan van serbaguna yang terparkir di seberang gedung Nusantara Development Group.

Di dalam ruang kemudi yang hangat, pendar lampu laptop Rendra membiaskan barisan data keuangan yang baru saja dipindai Intan dari meja kerja Baskora Wijaya.

"Bukti rekening cangkang ini valid."

Ujar Rendra seraya menunjuk bagan alir di layar.

"Baskora bukan cuma berniat menjebak Katering Barokah."

"Dia menggunakan skema investasi resort tiga miliar ini untuk menutupi kerugian aset dari perusahaan konsorsium lamanya di luar pulau."

Kalau besok kamu menandatangani berkas garansi itu, seluruh hak operasional kateringmu di Zona Empat akan tersedot untuk membayar utang-utang pribadinya."

Maya yang duduk di kursi penumpang belakang menyilangkan tangan.

 "Besok pagi pukul sepuluh adalah sesi penandatanganan kesepakatan di restoran hotel bintang lima."

"Kita punya waktu semalam untuk menyusun jebakan penyerahan berkas ke pihak otoritas."

Intan menatap layar ponselnya. Jemarinya mengusap permukaan foto-foto dokumen yang hampir saja membuatnya tertangkap basah beberapa jam lalu.

Keberaniannya di hadapan Baskora tadi malam telah membuahkan hasil, tetapi Intan tahu bahwa menjatuhkan taipan penipu berskala lebih besar seperti Baskora membutuhkan dorongan bukti yang jauh lebih mengikat.

Tiba-tiba, ponsel pribadi Intan yang tidak terhubung dengan jaringan operasional perburuan bergetar halus di dalam tasnya. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.

Intan saling berpandangan dengan Maya. Maya memberi isyarat mengangguk kecil, memberi sinyal agar Intan mengangkatnya seraya menyalakan mode pengeras suara.

"Halo, selamat malam."

Sapa Intan dengan nada tenang dan netral.

Di ujung telepon, hening sejenak sebelum suara seorang wanita muda terdengar—suaranya bergetar halus oleh rasa cemas yang ditahan rapat-rapat.

"Mbak Intan Saputri?"

Tanya suara di telepon itu.

"Betul. Ini siapa?"

"Nama saya Dewi."

Sahut wanita itu perlahan.

"Saya... sekretaris pribadi Pak Baskora yang tadi malam memberi Anda izin masuk ke ruang kerja."

Dada Intan seketika berdesir. Rendra langsung membesarkan volume rekaman audio di laptopnya.

"Mbak Dewi."

Tanggap Intan dengan intonasi yang tetap lembut dan terkontrol.

"Ada yang bisa saya bantu malam-malam begini?"

"Saya menelpon dari telepon umum di luar kawasan kantor."

Potong Dewi cepat, napasnya memburu.

"Saya tahu apa yang Mbak Intan lakukan tadi malam di ruang kerja Pak Baskora."

"Saya melihat Mbak Intan keluar dari ruangan dengan wajah tegang, dan saya tahu Mbak bukan sekadar mengantar sampel katering."

Atmosfer di dalam van mendadak berubah menjadi sangat tegang. Intan menggenggam ponselnya lebih erat, menanti arah pembicaraan wanita di ujung telepon.

Namun, kalimat berikutnya dari Dewi justru membuat Intan dan Maya tertegun.

"Saya ingin membantu Mbak Intan"

Kata Dewi dengan penekanan yang sarat keputusasaan.

"Saya tahu Pak Baskora sedang menjebak Katering Barokah."

"Dan saya tidak mau lagi menjadi bagian dari kejahatan pria itu."

Sebuah tangan yang mengulur dari dalam lingkar dalam sang musuh secara mengejutkan baru saja terulur di tengah kegelapan malam.

Intan tidak langsung menelan mentah-mentah tawaran bantuan itu.

Pengalamannya bersama Ardiansyah dan tempaan dingin dari Maya mengajarkannya untuk selalu mempertanyakan setiap kebetulan.

"Kenapa Mbak Dewi mau membantu saya?"

Tanya Intan lugas, suaranya mengandung ketegasan seorang pemikir.

"Mbak Dewi adalah karyawan kepercayaan Baskora."

Di ujung telepon, terdengar helaan napas berat dan isakan halus yang tertahan.

"Dua tahun lalu, almarhum kakak laki-laki saya ditipu oleh Pak Baskora dengan skema investasi proyek konstruksi yang persis sama."

Tutur Dewi dengan suara parau.

"Kakak saya bangkrut dan mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menahan kejaran penagih utang."

"Saya sengaja melamar bekerja di perusahaan ini enam bulan lalu untuk mencari bukti transaksi ilegalnya... tapi akses saya sangat terbatas."

"Pak Baskora teramat waspada terhadap karyawannya sendiri."

Dewi menghentikan kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan dengan keteguhan batin yang murni.

"Tadi malam, saat melihat keberanian Mbak Intan berdiri tegak di depan Pak Baskora tanpa rasa takut, saya tahu Mbak Intan adalah satu-satunya orang yang punya kemampuan dan aliansi untuk menghentikan serigala itu."

Saya tidak minta uang atau imbalan apa pun, Mbak. Saya cuma ingin keadilan untuk kakak saya."

Maya menatap Intan, lalu mengangguk pelan—sebuah konfirmasi dari insting Maya bahwa kejujuran dan rasa sakit di suara wanita bernama Dewi itu murni, bukan jebakan balasan dari Baskora.

"Mbak Dewi"

Sahut Intan dengan kehangatan tulus yang kembali hadir dalam suaranya.

"Di mana kita bisa bertemu malam ini?"

Satu jam kemudian, di sebuah kedai kopi kecil yang sepi di sudut pinggiran kota, Intan duduk berhadapan dengan Dewi.

Wanita muda itu tampak pucat, tetapi matanya memancarkan tekad perlawanan yang sama persis seperti mata Intan saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.

Dewi merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak, mengulurkannya di atas meja kayu ke arah Intan.

"Di dalam flashdisk ini ada salinan dokumen audit ganda dan rekaman percakapan rahasia Pak Baskora dengan pengacaranya."

Jelas Dewi seraya mendorong flashdisk itu mendekati jemari Intan.

"Besok pagi di restoran hotel, Pak Baskora tidak hanya membawa dokumen kontrak biasa."

"Dia sudah menyiapkan draf adendum palsu yang akan diselipkan saat Mbak Intan lengah menandatangani berkas."

Intan menyentuh flashdisk dingin itu, lalu meraih tangan Dewi dan menggenggamnya erat.

Tangan yang mengulur dari Dewi bukan sekadar memberikan potongan bukti terakhir yang mereka butuhkan, melainkan menjadi simbol bahwa perjuangan Intan melawan ketidakadilan kini menyatukan para korban yang pernah tertindas untuk bangkit bersama.

"Terima kasih, Mbak Dewi."

Ujar Intan dengan sorot mata yang membara oleh tekad bulat.

"Kakakmu akan mendapatkan keadilannya besok pagi."

Dewi mengusap sudut matanya, menyunggingkan senyuman lega yang telah lama hilang dari wajahnya.

"Tolong hentikan dia, Mbak Intan."

Intan mengangguk mantap. Ia memasukkan flashdisk perak itu ke dalam saku blazernya.

Saat melangkah keluar dari kedai kopi menuju van tempat Maya dan Rendra menunggu, Intan menatap langit malam yang mulai terang oleh fajar yang mendekat.

Skenario jebakan untuk esok pagi telah sempurna. Umpan telah terpasang, bukti kunci telah berada di genggaman, dan sang serigala tua tidak akan pernah menyadari bahwa tangan yang paling ia percaya di dalam perusahaannya sendiri telah mengunci pintu sangkar emasnya.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe😌

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!