Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26_Pemberontakan (bagian 2)
Semua orang berkumpul sambil duduk mengelilingi meja kayu yang sudah lapuk di dalam rumah itu.
Rumah ini terhimpit di tengah padatnya bangunan-bangunan kumuh Megral, atapnya hampir menempel dengan atap sebelah.
Udara di dalam ruangan pengap, bau kayu basah bercampur asap tungku. Untuk bisa masuk ke daerah ini, hanya ada satu jalan: sebuah gang sempit yang hanya muat satu orang, diapit dua tembok tinggi yang lembab. Tanpa pemandu dari dalam, bahkan ksatria istana pun akan tersesat.
Para perwakilan ras juga turut dihadirkan.
Aku meletakkan tanganku ke atas meja.
*TAP!*
Semua mata langsung menoleh ke arahku.
"Baiklah, dengan begini rapat strategi untuk misi ini bisa kita mulai. Pertama kita akan mengumpulkan informasi. Perwakilan ras Dwarf!"
Roth berdiri dengan kursi berderit.
*KREEEKK...*
Tatapannya tegas.
"Kami ras Dwarf berjumlah 40 orang, terdiri dari 10 anak-anak, 15 perempuan dan 15 pria. Para pria yang akan bertarung kebanyakan hanya bisa melakukan sihir penguatan kekuatan," Roth menjelaskan lalu langsung duduk kembali.
Aku mengangguk "Itu sudah cukup. Selanjutnya!"
Aku menatap ke arah perwakilan ras Dark Elf.
Dia berdiri dengan gaya centil sambil ngibas-ngibasin rambutnya yang panjang, senyumnya lebar banget dan matanya berbinar-binar.
"Hai hai semuanya! Kenalin, namaku Syia! Umur 16 tahun, status masih lajang, aku diundang kesini sebagai perwakilan ras Dark Elf, semuanya mohon bantuannya ya!" Syia melambaikan tangannya dengan heboh ke semua orang terus melempar kedipan ke arah Roth.
"Ouh iya, hampir lupa! Point pentingnya! Kami ras Dark Elf ada 35 orang, 15 cowok, 15 cewek, dan 5 anak kecil. Skill kami rata-rata penghalang fisik ya, jadi jangan terlalu berharap atau memaksa kami untuk menahan serangan sihir," Syia melanjutkan dengan nada manja tapi tegas "Sekian laporan dari ku, Ketua tampan!"
Aku menatapnya datar "Ahh... kerja bagus. Selanjutnya!"
Aku menatap ke arah perwakilan ras Elf.
Dia berdiri perlahan, punggungnya tegak, wajahnya dingin dan tegas. Beda total dari Syia.
"Perkenalkan, namaku Dio. Ketua pasukan Elf. Kami berjumlah 50 orang, 25 laki-laki dan 25 perempuan. Disiplin, terlatih, dan siap mati di garis depan. Itu saja," Dio berkata dengan suara berat dan jelas yang membuat semua orang langsung diam.
Aku sedikit tersentak lalu menoleh ke arah yang lain.
_Semuanya masing-masing memiliki anak-anak dalam kelompok mereka, tapi kenapa?_
Dio langsung mengangkat tangannya, nadanya tetap tegas.
"Anu... maaf Kai, koreksi. Kami para ras Elf memiliki aturan di mana seseorang harus berumur 100 tahun untuk bisa dibilang dewasa. Jadi yang kau anggap anak-anak tadi, adalah prajurit junior kami."
Aku menoleh ke arahnya "Begitu ya... maaf jika tidak sopan, tapi aku sempat berpikir bahwa ada anak-anak di kelompok kalian yang diculik oleh bandit."
Wajah Dio yang tadinya tegas langsung mengeras.
"Tentang itu... apa yang anda pikirkan memang benar terjadi. Sebagian junior kami telah diculik oleh para bandit sebelum sampai ke tempat ini. Dan itu adalah kegagalanku sebagai pemimpin," Dio menjawab dengan rahang mengeras.
Aku mengangguk pelan "Kita pasti akan menyelamatkan mereka, tenang saja."
Aku menatap ke arah perwakilan manusia binatang.
Stella langsung berdiri dan menundukkan kepalanya, ekor serigala di belakangnya yang tadinya mengibas pelan langsung berhenti dan kaku.
"Kami ras manusia binatang memiliki jumlah sebanyak 50 orang yang terdiri dari, 30 pria, 16 wanita dan 4 anak-anak," Stella berkata pelan.
Aku melipat kedua telapak tanganku dan menatap ke arahnya tajam.
"Stella, sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari kami?"
Stella tersentak, matanya membelalak, telinga serigalanya yang di atas kepalanya yang tadinya tegak langsung turun lemas menutup kepalanya, ekornya melilit kakinya sendiri dengan gelisah.
"T-tidak ada yang ku sembunyikan, tenang saja," Stella menggelengkan kepalanya dengan panik, suaranya hampir berbisik.
Semua orang termasuk diriku menatap ke arahnya. Suasana ruangan langsung dingin.
Lalu Syia langsung berjalan dengan gayanya ke arah Stella dan merangkul pundaknya dengan lembut.
"Padahal tidak perlu tegang begitu, Stella... santai saja. Semua orang punya rahasia, gak usah dipaksa-paksa. Kau gak mengkhianati kita kan?" Syia menatap Stella sambil tersenyum lebar dan mengedipkan mata "Beri tahu kalau mau, dan pendam kalau tidak, gampang!"
Stella mengangguk pelan dengan telinganya yang masih turun "Hmm... tentu saja, maaf tidak bisa memberitahukan kepada kalian." Dia lalu mengangkat kepalanya lagi dan duduk ke kursinya dengan kepala tertunduk, ekornya masih melilit kakinya erat.
Aku menoleh ke arah mereka semua dan menaruh peta yang menunjukkan setiap sudut kota di atas meja. Kertasnya sudah kusut.
*SREK...*
"Ingat saja bahwa pertempuran ini tidak mengandalkan kekuatan melainkan kepintaran. Jadi kita harus mencari tempat yang pas untuk melakukan rencana yang telah kita buat, dan juga kita harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin."
Aku menoleh ke arah Stella.
"Stella, jika kau sanggup aku ingin mempercayakan misi pengumpulan informasi kepadamu. Apakah kau mampu?"
Stella membuang napasnya.
Telinganya perlahan tegak lagi lalu dia menatapku dengan dahi yang mengerut.
"Aku bisa! Serahkan kepadaku!"
Aku mengangguk pelan "Baiklah, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Dan aku ingin kau yang memilih orang-orang yang akan kau bawa."
Stella mengangguk ke arahku "Hmm... baiklah, kalau begitu aku permisi dahulu," dia berdiri dari bangkunya lalu berjalan keluar melewati pintu dengan langkah terburu-buru.
Aku mengambil sebuah kertas dan sebuah pensil, lalu mulai menulis di atas kertas tersebut.
*SREK SREK...*
Setelah selesai menulisnya aku langsung memberikan kertas itu kepada Dio.
"Aku percayakan daftar barang ini kepadamu, Dio."
Dio mengambil kertas itu dan mulai membacanya, alisnya langsung bertaut dan rahangnya mengeras. Dia menatapku dengan tatapan mengintimidasi.
"Kai," Dio berkata dengan suara rendah dan tegas "Jelaskan..."
Aku menatapnya balik "Apa yang perlu dijelaskan?"
Dio meletakkan kertas itu ke meja dengan pelan tapi tekanannya terasa.
*TAP.*
"Daftar ini. Apa maksudnya ini? Kau meremehkan kami? Kami adalah ras Elf, bukan pemulung. Dengan sampah ini kau mau kami menang melawan ksatria kekaisaran?" Dio melangkah maju satu langkah dan menatapku lurus "Jika kau punya strategi, katakan dengan jelas. Jangan suruh pasukanku mempertaruhkan nyawa dengan lelucon seperti ini."
Semua orang melihat ke arah kami berdua. Tekanannya beda, bukan amukan anak kecil, tapi protes seorang komandan.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin.
"Kenapa? Apakah kau tidak mempercayaiku, Dio?"
Dio terdiam, dia menahan napasnya lalu menghela napas panjang. Dia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, tapi punggungnya tetap tegak.
"Maaf. Atas kelancangan ku. Tapi sebagai yang bertanggung jawab atas nyawa 50 orangku, aku harus bertanya," Dio menjawab pelan.
Aku memejamkan mataku dan tersenyum tipis ke arahnya.
"Tidak apa-apa. Justru aku butuh pemimpin yang seperti itu, yang berani mempertanyakan perintahku. Jangan khawatir, aku tidak akan mengirim kalian mati dengan sampah. Melainkan sampah itulah yang akan membuat mereka mati."
Dio menatapku lalu mengangguk pelan, mengerti.
"Baik, aku mengerti. Aku akan siapkan semuanya persis seperti daftar," Dio berkata sambil berdiri tegak "Kalau begitu aku izin undur diri, untuk mempersiapkan barang-barang." Dia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah teratur.
Aku menoleh ke arah mereka yang masih ada di ruangan.
"Kalau begitu... rapat strategi hari ini kita akhiri!"
Semua orang berdiri dan menundukkan kepalanya, lalu berjalan keluar ruangan itu satu per satu.
Aku berjalan untuk melihat-lihat ke arah sekitar. Rumah-rumah di daerah kumuh ini saling bertumpuk dan terhimpit, lorong di antaranya hanya muat untuk satu orang lewat. Anak-anak harus merunduk jika ingin lewat di bawah jemuran. Seluruh orang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing.
Saat aku sedang asyik melihat mereka semua, tiba-tiba saja Stella datang kepadaku dari belakang. Telinganya sudah tegak normal lagi.
"Kai!" Stella memanggilku.
Aku menoleh ke arahnya "Ada apa Stella? Apa kau butuh bantuan?"
Stella langsung memejamkan matanya dan menyilangkan tangannya.
"Ahh... bukan begitu, aku hanya..." Stella menundukkan kepalanya sedikit, suaranya mengecil "Maaf... karena tidak bisa jujur kepadamu, padahal kau sudah berjuang keras untuk semua orang."
Aku menatap ke arahnya sambil tersenyum tipis.
"Dengar Stella, tidak ada salahnya untuk sesekali kau berlaku egois."
Stella mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku dengan mata berkaca-kaca.
"Benarkah? Tapi jika seperti itu, bukankah akan menyulitkan orang lain!?"
Aku menghampirinya dan menepuk bahunya pelan.
"Sebelum memikirkan orang lain, sebaiknya kau memikirkan dirimu sendiri." Setelah mengatakan itu aku langsung berjalan pergi.
Stella hanya terdiam sambil merenung memikirkan perkataanku. Tangannya mengepal erat. Dia langsung berbalik ke arahku.
"Sora, tunggu!" Stella berteriak.
Aku menoleh ke arahnya.
"Jika kau sudah yakin dengan pilihanmu, bisa pinjamkan kepadaku seluruh kekuatanmu?"
Stella sedikit tersentak kemudian tersenyum lebar ke arahku dengan air mata yang masih tertahan.
"Tentu saja! Serahkan padaku, kali ini aku tidak akan ragu!"
Dia berlari meninggalkanku ke arah kerumunan orang untuk mencari bawahan yang aku minta.
Aku kemudian berbalik badan. Aku melihat tumpukan peti kayu di samping rumah Roth yang tingginya hampir menyentuh atap.
Aku menaiki peti itu, lalu meraih ujung atap yang sudah lapuk. Dengan sedikit tarikan, aku sudah berada di atas. Atap-atap di daerah kumuh ini memang sudah seperti jembatan, saling menempel dan tumpang tindih, jadi aku tidak perlu melompat jauh.
Aku berjalan pelan di atasnya, melewati beberapa atap rumah yang berderit.
*KRIET... KRIET...*
Menjaga keseimbangan, hingga akhirnya sampai di ujung pemukiman. Di sana, ada sebuah celah di antara dua bangunan yang menjadi satu-satunya jalan keluar masuk.
Aku turun melalui tumpukan jerami di ujung gang sempit itu, lalu berjalan keluar menuju jalan besar yang ada di kota.
Aku berjalan melewati banyak tempat, seperti sungai, gereja, dan alun-alun kota tersebut sambil mengenakan tudung yang dibuatkan oleh penduduk daerah kumuh untukku. Di luar, mereka mengenalku bukan sebagai Kai, tapi sebagai Sora.
Aku kemudian berhenti di salah satu kedai makanan.
"Roasted Boar? Sepertinya tempat ini cukup ramai orang," gumamku lalu masuk ke toko itu.
Suara lonceng berbunyi.
*KRING...*
Aku masuk ke tempat itu. Tempatnya terlihat bersih dan rapi, tapi anehnya suasananya begitu sunyi.
"Tidak ada seseorang? Padahal tempat ini cukup bagus."
Tiba-tiba seseorang muncul dari dapur sambil mengelap sebuah piring. Tangannya gemetar.
Dia adalah seorang pria paruh baya dengan tubuh yang cukup kekar, bahunya lebar, lengannya penuh urat dan bekas luka bakar kecil bekas minyak panas. Dadanya bidang, meskipun perutnya sudah agak membuncit karena jarang bergerak. Wajahnya tegas, dengan janggut tebal yang tidak terurus bercampur uban di dagunya, dan kumis tebal yang menutupi bagian atas bibirnya. Kumis dan janggutnya itu basah sedikit karena keringat dapur, tapi sorot matanya terlihat lelah dan sedih.
"Pelanggan, silakan masuk," dia menyapaku dengan suara berat.
Aku kemudian berjalan ke arahnya dan duduk di tempat yang dekat dengan tempat memasak.
"Pak, tolong satu Roasted Boar."
Dia tersenyum kepadaku dengan lebar, janggut dan kumisnya ikut terangkat, tapi matanya lelah.
"Siap, satu Roasted Boar, segera dimasak," dia menjawab.
Dia mulai mengambil daging itu dari sebuah kotak dan mulai memanggang daging itu sambil memotong beberapa sayuran seperti wortel, tomat dan kentang yang sudah direbus. Otot-otot kekar di lengannya menegang saat dia mengangkat wajan besi yang berat.
*SIZZLE...*
Setelah daging itu berubah menjadi cokelat keemasan dia mengangkatnya dan menaruhnya di piring dan mulai menata sayuran-sayuran di piring itu, setelah itu dia langsung menuangkan saus berwarna cokelat kehitaman ke atas daging tersebut. Asap hangat mengepul dan menyamarkan aroma janggutnya yang bau asap.
Aku melihat makanan itu dan mengambil sendok dan garpu yang sudah disiapkan di meja.
"Selamat makan," dia berkata.
Aku memakan makanan itu. Rasanya sangatlah enak. Daging yang lembut, saus yang sangat kaya akan rasa, dan sayuran yang menyegarkan. Untuk sesaat, rasa berat di kepalaku hilang.
Dia menatapku sambil tersenyum, lalu dia menaruh segelas air di sampingku. Tangan kekarnya yang penuh kapalan itu gemetar sedikit.
"Syukurlah, masih ada pelanggan yang datang ke sini."
Aku menyelesaikan makananku dan meminum air tersebut.
"Ouh iya..." Aku langsung menoleh ke seluruh ruangan itu "Kenapa tidak ada pelanggan? Padahal tempat ini sangatlah bagus."
Dia hanya bisa tersenyum tipis sambil mencuci piring yang aku gunakan. Gerakannya pelan, bahunya yang kekar itu turun naik karena menghela napas.
"Kau tahu bahwa pemimpin wilayah ini sangatlah buruk. Dia menerapkan pajak yang sangat banyak tanpa mempedulikan apapun. Ditambah ajaran gereja yang sekarang menentang adanya ras lain yang dianggap setara di kekaisaran. Karena itu banyak petualang dan pedagang yang mulai meninggalkan kekaisaran perlahan-lahan," dia menjelaskan.
Dia meneteskan air matanya ke wastafel, air matanya sempat tersangkut di kumis tebalnya.
*TES...*
"Bahkan kami tidak bisa meninggalkan kekaisaran karena perintah Duke, yang melarang setiap warga kekaisaran yang mencoba lari dari kekaisaran."
Aku tersenyum tipis.
"Hei... bagaimana jika aku bisa membuatmu lepas dari keadaan ini?"
Dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang kekar dan menoleh ke arahku dengan kaget, janggutnya basah.
"Benarkah kau bisa melakukannya?"
Aku menaruh lima koin perunggu di meja.
*CLINK...*
"Tentu saja... tapi aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."
Aku mulai menjelaskan rencana yang akan aku lakukan dengan para penduduk daerah kumuh dengan suara pelan.
Dia tersentak sampai tidak sengaja menjatuhkan sebuah gelas, otot lengannya yang kekar menegang.
*PRANG!*
"Kau bercanda kan?" dia berkata kaget, kumisnya bergetar.
Aku tersenyum kepadanya.
"Tentu saja tidak." Lalu aku menjulurkan tanganku kepadanya "Keputusan ada di tanganmu. Ikut atau tidak?"
Dia terdiam dan mulai berkeringat, napasnya memburu membuat janggut tebalnya naik turun. Tapi setelah berdiam diri cukup lama dia menjabat tanganku dengan erat, genggamannya sangat kuat dan kasar khas koki yang biasa menguliti daging.
"Aku ikut denganmu, apapun itu untuk menghidupi keluargaku."
Aku melepas tanganku dan berdiri "Kalau begitu aku izin pamit." Lalu aku berjalan keluar toko.
_Sepertinya aku bisa memanfaatkan dirinya dengan baik, seperti yang lainnya._
Saat aku membuka pintu toko itu, angin kencang meniup tudungku dan membuatnya memperlihatkan wajahku seutuhnya.
*WOOSH!*
Muncul urat-urat hitam di sekitar mataku yang sebelah kanan dan bola mataku berubah menjadi merah menyala.
_Waktu bermain sudah habis. Dan sekarang waktunya berperang. Persiapkan diri kalian, Kekaisaran._
Tia dan Emilia berjalan di kota Megral. Langit mendung, jalanan becek dan berbau besi.
Tia menoleh ke arah sekitar, dia melihat anak-anak dari ras lain sedang diseret menggunakan rantai yang melilit lehernya dan beberapa lagi dicambuk ketika mengangkut barang.
*WHIP!*
"Kejam sekali, aku bahkan tidak tahu bahwa keadaannya separah ini," Tia berkata dengan suara bergetar.
Emilia yang dari tadi berjalan setengah langkah di belakang Tia, menepuk pundak Tia dengan lembut. Wajahnya ikut menegang, matanya terus menyapu setiap sudut jalan.
"Tenang saja, Nona. Tujuan kita melakukan ekspedisi ini, bukankah sedari awal adalah untuk menghentikan rencana kekaisaran untuk memperluas wilayah," Emilia berkata pelan.
Tia menaruh lengannya di kepalanya dan menatap ke langit yang kelabu.
"Kau benar, aku harus fokus pada tujuanku."
Saat mereka berdua berjalan, mereka berpapasan dengan seorang anak berambut hitam. Langkahnya pelan, tudungnya setengah terbuka. Di balik tudung itu, orang luar mengenalnya sebagai Sora.
Anak itu berjalan tepat di samping Emilia.
Seketika, punggung Emilia merinding. Naluri berbahayanya muncul. Aura anak itu dingin, tidak wajar. Tangannya secara refleks langsung bergerak cepat menggenggam gagang pedang di pinggangnya.
*SREK!*
Pedang itu tertarik setengah dari sarungnya, memantulkan cahaya mendung. Emilia menatap tajam ke arah anak itu, tubuhnya langsung bergeser setengah langkah ke depan, memposisikan dirinya di antara Tia dan anak itu.
Tia menoleh ke arah anak itu dengan mata yang membelalak. Jantungnya berhenti sesaat.
Saat anak itu berjalan melewatinya, dia berhenti dan membalikkan badannya.
"Kai!" Tia memanggil pelan, suaranya hampir berbisik.
Anak itu tidak menoleh. Dia hanya melanjutkan langkahnya dan menghilang di antara kerumunan, seperti bayangan yang ditelan kabut.
Emilia yang masih menggenggam pedangnya setengah terhunus, langsung berbalik dengan sigap dan menarik lengan Tia dengan lembut tapi tegas ke pinggir tembok, menjauhkannya dari kerumunan.
"NONA! JANGAN DEKAT-DEKAT! Anak itu berbahaya!" Emilia berseru dengan suara pelan tapi penuh tekanan, napasnya sedikit memburu. Matanya masih terkunci ke arah di mana anak itu menghilang, genggaman di gagang pedangnya mengerat sampai buku jarinya memutih "Apa dia adalah kenalan nona?"
Tia masih membelalak dan gemetar, tangannya memegang dada. Matanya berkaca-kaca menatap ke arah kerumunan yang kosong.
"Tidak... hanya salah lihat," Tia menjawab sambil membalikkan badannya dan melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih cepat, tapi kakinya sedikit gemetar "Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan kita dan keluar dari kota ini."
Emilia tidak langsung sarungkan pedangnya. Dia berjalan di belakang Tia dengan pedang masih setengah terhunus, matanya terus mengawasi belakang mereka. Baru setelah beberapa meter, dia mendorong pedangnya kembali ke sarung dengan bunyi keras.
*CTAK!*
"Baiklah, berarti selanjutnya kita akan..." Emilia berkata masih waspada.
Tia mengangguk pelan, suaranya pelan dan berat, masih memikirkan bayangan tadi.
"Menuju kerajaan Salfaria..."