Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
IQ 180
Pukul enam pagi, Nathan sudah berada di dapur dengan tiga telur dan video resep terbuka.
Keira memegang pergelangan tangannya sebelum ia memecahkan telur pertama. "Pelan. Pinggir mangkuk, bukan meja."
"Kemarin video bilang meja memberi retakan bersih."
"Kemarin hasilnya ada di kompor."
Mereka memasak bersama. Nathan memotong buah terlalu simetris, Keira mengatur api, dan Bi Surti yang datang lebih awal berdiri di ambang pintu dengan ekspresi ingin membantu tetapi takut mengganggu.
"Bibi boleh duduk," kata Keira. "Kami tidak akan membakar dapur."
"Saya percaya Mbak Keira," jawab Bi Surti.
Nathan menoleh. "Hanya Keira?"
Bi Surti pura-pura tidak mendengar.
Sarapan selesai tepat waktu. Saat hendak berangkat, Nathan menahan pinggang Keira di dekat pintu.
"Satu ciuman."
"Di kantor jangan menarik-narik aku."
"Kita belum di kantor."
"Lima menit lagi kita sampai. Biasakan dari sekarang."
Nathan melepaskannya, lalu merapikan kerah Keira sebagai gantinya. "Baik, Ci. Aku mendengarmu."
Di perjalanan, Keira kembali memikirkan betapa berbedanya dua keluarga yang menyatukan mereka. Grup Kencana dibangun Mariana bersama mendiang suami pertamanya. Setelah lelaki itu meninggal, Mariana mempertahankan saham lewat perkara panjang dan menjadikan perusahaan peralatan rumah tangga itu salah satu pemain terbesar di Indonesia.
Herman datang dari dunia yang sama sekali berbeda. Papa mengenal Mariana di sebuah kota wisata ketika warung kecilnya hampir tutup. Mereka menikah, dan Herman masuk ke rumah Sutanto membawa Keira yang berusia enam belas tahun. Keira menjadi putri keluarga besar tanpa pernah lupa rasa minyak goreng yang melekat pada baju Papa atau suara tetangga membicarakan cicilan.
Keluarga Halim adalah uang lama. Grup mereka memiliki properti, teknologi, dan jaringan rumah sakit. Nathan tumbuh dengan akses terbaik, masuk MIT, lalu mendirikan NARA pada usia dua puluh. Model intinya terbentuk dua tahun kemudian dan kini dinilai miliaran dolar.
Namun fasilitas tidak membuat masa kecil Nathan selalu hangat. Vivian sering bepergian menghadiri pameran dan Andreas hidup di antara rapat. Marcus yang lebih tua lima tahun menjadi orang yang memeriksa demamnya malam hari dan menghubungi dokter keluarga. Nathan belajar menyelesaikan kebutuhan sendiri sebelum sempat meminta.
"Itu sebabnya kau menganggap semua hal bisa diperbaiki dengan sistem?" tanya Keira.
"Sistem tidak lupa menjemputmu."
Keira tidak menertawakan jawaban itu. "Manusia bisa lupa, tapi juga bisa kembali setelah minta maaf."
Nathan meliriknya. "Aku sedang belajar bagian itu."
Keira menggeser kotak buah ke arahnya. "Mulai dengan menghabiskan sarapan."
"Baik, Ci."
"Berapa IQ-mu sebenarnya?" tanya Keira.
"Seratus delapan puluh menurut tes terakhir yang dipercaya Papa."
"Dan kau tetap memecahkan telur ke kompor."
"Data tanpa pengalaman menghasilkan kesalahan implementasi."
"Alasanmu terdengar semakin mahal."
Nathan tersenyum. "Kau bilang aku teliti, bukan?"
"Aku bilang kau lebih teliti daripada bayanganku tentang programmer."
"Aku bisa lebih teliti lagi. Kita harus memilih cincin dan gaun sebelum Mama pulang."
"Aku tahu."
"Jangan menunda. Mama bisa membeli satu toko kalau penjaganya terlalu ramah."
Pada waktu yang sama, di rumah keluarga Halim di Pondok Indah, Andreas membaca laporan kepulangan tim NARA sambil sarapan. Vivian mengikuti rapat keluarga melalui video dari Milan. Marcus duduk di seberang ayahnya, sedangkan Ivan mencatat jadwal.
"Nathan benar-benar menetap?" tanya Vivian.
"Seluruh pusat data dipindah," jawab Marcus. "Sulit menyebutnya liburan."
"Bagus. Minta dia membawa Keira makan malam setelah aku pulang. Aku sudah melihat tiga koleksi gaun."
Andreas menurunkan koran. "Biarkan mereka memilih."
"Aku hanya melihat."
Marcus batuk untuk menutupi tawa.
Pembicaraan beralih ke perekrutan. NARA memakai tim HR Grup Halim untuk penyaringan awal selama satu minggu, lalu Nathan mewawancarai kandidat sendiri. Minat pelamar jauh lebih besar dari perkiraan. Andreas menanyakan keamanan setelah insiden Carl.
NARA belum meluncurkan aplikasi publik, tetapi kontrak bisnisnya dengan perusahaan kendaraan dan perangkat medis sudah membuat namanya diburu. Model mereka mampu menyesuaikan respons tanpa mengirim seluruh data pengguna ke pusat. Nilai itulah yang membuat investor tertarik dan pesaing ingin masuk melalui karyawan baru.
"Jangan hanya melihat ijazah," kata Andreas. "Orang yang masuk sekarang akan memegang inti perusahaan lima tahun ke depan."
Marcus mengangguk. "Nathan menambahkan wawancara integritas dan akses bertingkat. Bahkan insinyur senior tidak bisa melihat seluruh model."
Vivian menyela dari layar, "Semua itu bagus, tetapi apakah anakku tidur?"
"Sekarang dia punya istri," jawab Andreas.
"Justru itu alasan aku bertanya."
Marcus menunduk lagi untuk menyembunyikan senyum, sementara Ivan mencatat dengan wajah profesional bahwa jadwal Nathan perlu menyisakan waktu makan siang.
"Akses inti dipisah," jawab Marcus. "Nathan membawa Tim dan Lucas. Ia juga meminta audit latar lebih ketat."
"Ivan," kata Andreas, "pastikan adikmu makan dan tidak tidur di kantor."
Ivan mengangguk serius.
"Jangan laporkan semuanya kepada Papa," Marcus memperingatkan.
"Saya hanya melaporkan keadaan penting."
"Definisi penting menurut Papa mencakup jumlah cangkir kopi."
Di Menara Halim, Keira baru turun dari mobil ketika Nathan mendekat hendak mengambil tasnya. Ia menarik tas itu ke sisi lain.
"Aku bisa membawa sendiri."
"Aku hanya ingin membantu."
"Boleh bertanya dulu. Dan mulai dari sini, tidak ada tarik tangan, peluk, atau panggilan keras."
Beberapa karyawan Nebula berjalan lewat. Nathan memasukkan kedua tangan ke saku seolah sedang menjalani ujian.
"Baik, Ci. Aku dengar kamu."
Keira melangkah ke lobi, lalu sadar Nathan tidak mengikutinya. Ia menoleh.
"Kenapa diam di sana?"
"Aku menunggu kau mengatakan sampai jumpa."
"Kantormu dua menit dari mejaku."
"Tetap saja kita berpisah."
Keira menahan napas, lalu berkata, "Sampai makan siang, Nathan."
Nathan akhirnya berbalik menuju gedung A. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh sekali lagi.
"Ci, tunggu aku untuk makan siang."
Ia pergi sambil tersenyum, meninggalkan Keira di depan kantor dengan jantung yang terasa terlalu ringan.
Bella muncul di belakangnya dan mengikuti arah pandang Keira. "Kalau itu hanya programmer, aku ini putri kerajaan."
Keira menarik pintu kantor. "Kau terlambat rapat."
"Pengalihan topik berarti aku benar."
"Pengalihan topik berarti Mas Dimas menunggu."
Bella berlari masuk, tetapi kecurigaan di wajahnya belum hilang. Keira tahu penyamaran sederhana mereka tidak akan bertahan lama jika Nathan terus muncul dengan mobil, pakaian, dan cara memberi perintah yang lebih mirip pemilik gedung daripada karyawan baru.
Untuk saat ini, ia membiarkan Bella percaya. Keira mengangkat tangan pada Nathan di balik kaca penghubung. Laki-laki itu membalas dengan dua jari, lalu berjalan mundur hampir menabrak pot tanaman. IQ seratus delapan puluh ternyata tetap tidak berguna saat perhatiannya berada pada sang istri.
Keira tertawa sebelum pintu tertutup.
Hari kerja itu pun dimulai hangat.