NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Penyelamat Sekaligus Belenggu

Livia Prameswari mengambil cuti panjang dan bersembunyi selama sepuluh hari penuh di rumah kontrakannya di pinggiran timur Kota Kayan.

Kotak P3K miliknya masih menyimpan alkohol, kain kasa, dan obat luka. Barang-barang seperti itu wajib tersedia di hampir setiap rumah di kota yang rawan kekerasan ini, jadi ia tidak perlu keluar untuk membelinya.

Livia bahkan tidak pergi ke pasar.

Ketika lapar, ia minum air, mengunyah roti kering, atau memasak mi instan dengan telur dari persediaan yang tersisa.

Dalam sepuluh hari, tubuhnya menyusut satu ukuran.

Ia tidak tahu seberapa luas kekuasaan pria yang dipanggil Tuan Keenan. Namun di Kota Kayan, menemukan seseorang tidak membutuhkan kekuasaan luar biasa. Selama memiliki cukup uang, hampir semua informasi bisa dibeli.

Untungnya, syal dan mantel yang dikenakannya malam itu merupakan barang murah yang dijual di banyak tempat. Motor listrik bekasnya juga dibeli dari pasar gelap demi menghemat uang, tanpa dokumen yang dapat dilacak.

Syal telah menutupi setengah wajahnya. Orang-orang itu seharusnya tidak sempat melihat rupanya dengan jelas.

Asalkan ia bertahan sampai keadaan mereda, ia akan aman.

Livia memasukkan syal dan mantel tersebut ke dalam tungku kecil, lalu membakarnya sampai tinggal abu. Pada saat itulah ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar adalah Sasha, kepala pramusaji Klub Imperia.

Imperia merupakan klub malam termewah di Kota Kayan sekaligus tempat Livia bekerja. Tugasnya menjual minuman kepada tamu. Ia tidak mendapat gaji pokok; penghasilannya sepenuhnya bergantung pada komisi penjualan.

Begitu panggilan tersambung, Sasha langsung memarahinya tanpa memberi kesempatan bicara.

"Via, kalau memang tidak mau bekerja lagi, bilang saja! Biar tempatmu kuberikan kepada orang lain. Jangan menghilang, tapi tetap menahan posisi!"

Bagi Livia, mencari uang selalu menjadi urusan paling penting.

Namun ia baru saja lolos dari maut dan masih bersembunyi dari orang-orang yang ingin membunuhnya. Nyawanya serasa belum kembali ke tubuh. Mana mungkin ia berani muncul di tempat seramai klub malam?

Livia mengembuskan napas pelan.

"Kak Sasha, beri aku beberapa hari lagi. Kakak juga tahu penjualanku buruk. Aku datang atau tidak, hasilnya hampir sama."

Sasha mendecakkan lidah. Ketika kembali bicara, nadanya terdengar seperti orang yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi anak bandel.

"Malam ini ada orang besar datang ke klub. Kamu tidak perlu pintar bicara untuk mendapat uang. Kalau belum mati, cepat datang! Target komisi bulan ini harus kamu penuhi."

Livia masih ragu dan hendak menolak. Namun Sasha menurunkan suaranya sebelum menambahkan satu kalimat.

"Via, Bos Nathan sudah kembali."

Livia membeku.

Bos Nathan yang dimaksud Sasha bernama lengkap Nathan Suryajaya. Ia adalah pendiri Klub Imperia dan empat belas tahun lebih tua daripada Livia.

Ketika berusia enam tahun, Livia dibawa ayah angkatnya ke wilayah perbatasan Kalimantan. Pria itu kemudian menyerahkannya kepada sekelompok pedagang manusia.

Livia mencoba melarikan diri dan nyaris dipukuli sampai mati.

Nathan-lah yang menyelamatkannya.

Livia tidak mengingat orang tua kandungnya. Ia tidak memiliki rumah maupun tempat untuk dituju, sehingga Nathan membawanya pulang dan membesarkannya.

Dari usia enam tahun hingga kini, ketika ia telah menginjak delapan belas tahun.

Pria itu adalah cahaya yang menyelamatkan Livia dari tahun-tahun tergelap dalam hidupnya.

Namun Nathan juga merupakan belenggu yang tidak pernah berhasil ia lepaskan.

Suara Sasha yang masih membujuk dari seberang telepon menarik Livia kembali dari lamunannya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Bos Nathan. Tapi tadi dia datang mencarimu. Karena tidak menemukanmu, dia marah besar. Semua pekerja yang targetnya belum tercapai diseret ke ruang kurungan untuk dihukum. Cepat kembali ke sini."

Ruang kurungan!

Tangan Livia yang memegang ponsel gemetar. Dadanya terasa sesak.

Ia menunduk memandangi abu syal dan mantel yang beterbangan di atas tungku, menari di bawah cahaya senja yang kekuningan.

Lama sekali ia tidak menjawab.

Akhirnya, Livia menekan semua kegelisahannya dan berkata, "Aku datang malam ini."

Motor listriknya sudah rusak, jadi Livia tidak memiliki kendaraan. Ia menghentikan ojek di depan rumah kontrakan dan harus membujuk pengemudinya cukup lama sebelum pria itu bersedia mengantarnya ke pusat kota dengan ongkos tiga puluh ribu rupiah.

Namun Livia tidak langsung menuju Imperia.

Ia memutar ke sebuah studio tato di ujung Jalan Meranti.

Toko itu remang-remang dan sempit. Livia berjalan mengitari dinding yang penuh contoh gambar sebelum memilih kupu-kupu biru muda dengan pola rumit. Sayapnya tampak berkilau di bawah cahaya.

Ia melepas mantel, lalu menarik sedikit kerah dalaman hingga bahu kirinya terlihat.

Luka tembak di sana telah mengering. Keropengnya lepas beberapa hari lalu, menyisakan bekas luka merah muda yang tipis.

Peluru malam itu hanya menyerempet permukaan bahu. Mantelnya juga cukup tebal untuk menahan sebagian gesekan. Darah yang keluar memang banyak, tetapi lukanya tidak dalam sehingga pulih dengan cepat.

Meski demikian, bekas tersebut tetap dapat menjadi petunjuk.

Ia tidak boleh membiarkannya terlihat.

Livia menoleh kepada pemilik studio yang sedang berbaring di kursi rotan sambil memejamkan mata dan mendengarkan musik.

"Pak, aku mau kupu-kupu ini." Ia menunjukkan gambar pilihannya. "Tolong buat di bahu kiri sampai ke tulang selangka. Bekas luka ini harus tertutup sempurna."

Pemilik studio membuka mata, melirik bahunya sekilas, kemudian menunjuk bangku pendek di depannya.

"Satu gambar enam ratus ribu. Duduk."

Jam sudah lewat pukul delapan ketika Livia kembali ke Klub Imperia.

Tempat itu kehilangan seluruh keramaian yang biasanya memenuhi malam. Dari lantai pertama sampai kedua, baik lantai dansa, area sofa, maupun ruang privat terasa terlalu sunyi. Tidak ada seorang tamu pun.

Artinya, seluruh klub telah dipesan oleh satu pihak.

Sasha tidak berbohong. Orang yang datang malam ini memang bukan tamu biasa.

Livia mengambil baki berisi minuman dari ruang persediaan, lalu naik lift menuju ruang privat terbesar di lantai tiga.

Di depan pintu telah berdiri sederet pramusaji perempuan. Livia bergegas mengambil tempat paling belakang dan menunggu bersama mereka.

Setelah memastikan semua orang hadir, Sasha berdeham dan memberikan instruksi dengan wajah serius.

"Pegang botolnya dengan stabil. Angkat baki kalian. Ya, lebih tinggi—harus melewati kepala." Tatapannya menyapu seluruh barisan. "Ingat baik-baik. Nanti kalian masuk sambil berlutut."

"Berlutut?" Livia mengernyit. "Kami datang untuk menjual minuman, bukan menjadi hewan."

Sasha menoleh dan tertawa kecil.

"Kalau tidak mau, kamu boleh pergi. Tapi kuingatkan, orang yang memesan seluruh klub malam ini adalah Bang Jordan. Sedikit tip darinya saja cukup untuk biaya hidupmu selama beberapa bulan."

Saat mengucapkan kalimat terakhir, Sasha menatap tepat ke mata Livia. Peringatan itu memang ditujukan khusus kepadanya.

Nama lengkap Bang Jordan adalah Jordan Halim, pewaris Serikat Air Hitam. Ia terkenal suka bermain dengan perempuan, hidup dalam kemewahan, dan tidak pernah membatasi kesenangannya.

Jika suasana hatinya baik, ia bisa mengubah nasib seseorang hanya dengan melemparkan uang.

Jika sedang buruk, ia juga bisa menghilangkan nyawa seseorang dalam hitungan menit.

Tak ada orang di Kota Kayan yang berani menyinggungnya.

Barisan itu seketika hening.

Semua perempuan menundukkan kepala dan mengangkat baki tinggi-tinggi. Hanya Livia yang tetap berdiri kaku. Ia diam-diam berbalik, berniat meninggalkan tempat itu.

Baru satu langkah, suara Sasha melayang dari belakang seperti bisikan hantu.

"Via, Bos Nathan sedang berada di kantor pribadinya di lantai paling atas. Dia menyuruhmu menemuinya begitu pekerjaanmu selesai."

Telapak tangan Livia gemetar.

Ia menatap ujung koridor yang dipenuhi cahaya, dan selapis air perlahan menggenang di matanya.

Melihat keraguannya, Sasha buru-buru mendekat.

"Via, sekarang sudah akhir bulan. Selama sepuluh hari ini aku cukup baik membiarkanmu cuti. Jangan menyeretku ke masalah! Kamu tahu seperti apa ruang kurungan itu. Kalau aku ikut dimasukkan ke sana..."

Sasha belum selesai bicara ketika Livia kembali ke posisinya. Ia mengangkat baki di atas kepala dan menunduk dengan patuh.

"Tenang saja, Kak. Aku akan memenuhi target komisi bulan ini. Aku tidak akan pergi."

"Bagus."

Sasha mengembuskan napas lega.

Tatapannya bergerak rumit dari kulit leher Livia yang putih bersih menuju wajah gadis itu yang tertutup riasan tebal.

Perona mata mencolok. Bibir merah menyala. Alas bedak yang tampak seperti lapisan cat minyak.

Sasha belum pernah sekali pun melihat wajah asli Livia tanpa riasan.

Di Kota Kayan, hampir semua perempuan berlomba-lomba terlihat cantik dan alami. Hanya gadis berusia delapan belas tahun ini yang selalu menutupi dirinya dengan riasan norak, seolah sengaja ingin merusak kecantikannya sendiri.

Sikapnya pun terlalu dingin dan tenang. Ia tidak pandai merengek, tidak tahu cara berpura-pura lemah, dan tidak pernah menjilat orang lain.

Tubuhnya ringan, tetapi setiap tulangnya dipenuhi harga diri.

Gadis seperti ini memang tidak cocok bekerja di klub malam.

Klik.

Pintu ruang privat terbuka. Musik memekakkan telinga dan aroma parfum yang menyengat langsung menerjang keluar.

Sasha tidak punya waktu lagi untuk memikirkan Livia. Ekspresinya berubah dalam sekejap. Ia mengangkat baki dengan kedua tangan, menggoyangkan pinggul, lalu masuk dengan senyum menggoda.

"Bang Jordan, Sasha datang membawa minuman untukmu."

Tubuhnya segera menghilang di balik cahaya merah anggur.

"Masuk," perintah Sasha dari dalam.

Perempuan yang berdiri paling depan langsung berlutut. Baki diangkat tinggi di atas kepala, lalu ia bergerak maju dengan kedua lutut secara bergantian untuk mengantarkan minuman.

Livia tidak bisa melihat jelas keadaan di dalam. Berbeda dari rekan-rekannya yang menjulurkan leher karena penasaran, ia hanya menunduk dan menunggu dalam diam.

Ia terlihat seperti jiwa yang terpisah dari dunia di sekitarnya.

Belum sampai lima menit, pramusaji pertama sudah keluar sambil memeluk setumpuk uang tunai. Perempuan itu begitu gembira sampai menciumi lembaran-lembaran uang di tangannya.

Pramusaji kedua menatap dengan iri, lalu tanpa ragu berlutut dan masuk.

Kesenjangan antara orang kaya dan miskin di Kota Kayan terlalu lebar. Kekayaan hanya berputar di tangan orang-orang yang berkuasa, sementara rakyat biasa bahkan harus berjuang untuk bertahan hidup.

Lama-kelamaan, kepatuhan kepada mereka yang berada di atas seolah terukir di tulang masyarakat kecil.

Di sini, uang dan kekuasaan adalah hukum tertinggi.

Harga diri bahkan tidak lebih berharga daripada kentut.

Satu per satu pramusaji masuk. Barisan di depan Livia semakin pendek hingga akhirnya hanya dirinya yang tersisa.

Ia berdiri di luar pintu dan memandang ke dalam dengan wajah mati rasa.

Di atas panggung kecil di tengah ruangan, seorang penari sedang membawakan tarian tiang yang menjadi pertunjukan andalan Imperia.

Jordan Halim duduk di sofa kulit dengan satu kaki bertumpu di atas paha. Sejumlah perempuan cantik mengelilinginya. Satu berada dalam pelukan kirinya, satu lagi di kanan, menyuapkan minuman langsung dari bibir ke bibir.

Ia mengenakan jaket hitam dengan hoodie rajut pendek di bagian dalam. Ritsletingnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan otot tipis di dada dan beberapa rantai emas tebal yang menggantung di leher.

Tiga cincin besar menghiasi jari-jari tangan kanannya. Pantulan emasnya begitu mencolok hingga menyakitkan mata.

Delapan pengawal berkacamata hitam berdiri berjajar di belakang sofa.

Sasha berada di sisi kiri depan, membungkuk hormat sambil menuangkan minuman. Wajahnya penuh senyum. Namun mata rubahnya sesekali melirik koper transparan di atas meja kaca yang dipenuhi uang tunai.

Seluruh ruangan ramai oleh musik, tawa, dan kesenangan liar.

Setiap kali merasa puas, Jordan akan tersenyum dan menyelipkan seikat uang ke dalam pakaian perempuan yang melayaninya. Tangannya sekalian bergerak nakal, membuat mereka tertawa melengking seperti sekawanan ayam betina.

Saat Livia melihat ke dalam, pramusaji di depannya telah berlutut sampai di hadapan Jordan.

Jordan terlalu sibuk menikmati perempuan dalam pelukannya dan tidak memedulikan minuman yang datang.

Seorang wanita yang sedang memijat kakinya dengan cekatan mengambil botol-botol dari baki dan menatanya satu per satu di atas meja.

"Minumannya sudah tiba. Semoga Bang Jordan selalu beruntung dan selamat," kata pramusaji itu sambil mengangkat baki lebih tinggi.

Jordan akhirnya melepaskan bibir perempuan di sebelah kanan. Ia menoleh kepada si pramusaji, lalu mengaitkan ujung sepatunya di bawah dagu perempuan itu agar wajahnya terangkat.

Matanya menelusuri wajah tersebut tanpa malu-malu.

Sepertinya ia tidak terlalu puas.

Jordan menarik kembali kakinya dengan ekspresi jijik, melemparkan seikat uang ke atas baki, lalu mengibaskan tangan.

"Keluar."

"Terima kasih, Bang Jordan."

Setelah mendapatkan yang diinginkan, pramusaji itu mundur dengan kedua lutut. Ia baru berdiri setelah melewati pintu, menyimpan uang tersebut dengan hati-hati, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Sekarang giliran Livia.

Ia menarik napas panjang.

Namun kedua lututnya terasa seberat timah. Bagaimanapun ia mencoba, ia tidak sanggup berlutut.

Livia sendiri tidak mengerti mengapa, dalam kedudukan dan keadaan hidupnya sekarang, ia masih mati-matian mempertahankan harga diri yang menyedihkan dan bahkan tampak konyol itu.

Saat ia masih diliputi keraguan, sebuah suara berat dan penuh hormat tiba-tiba terdengar dari belakang.

"Tuan Keenan, silakan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!