NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Rekaman yang Membekukan Hati

Yudha masuk membawa pembaruan yang memutus momen di kamar Nala.

"Kami menemukan kamera jalan yang merekam motor Yulia," katanya. "Dia berganti kendaraan di Bogor. Kendaraan kedua terdaftar atas nama perusahaan vendor acara di Jakarta."

Sekar dan Arka pindah ke ruang kerja. Di layar laptop, jalur Yulia berhenti pada gedung kecil yang pernah memasok tenaga keamanan untuk acara keluarga Wardhani dan Danuwijaya.

"Polisi sedang meminta data perusahaan," lanjut Yudha. "Tapi pemiliknya mengaku kendaraan itu dipinjam tanpa izin."

"Terlalu rapi," kata Sekar.

"Karena itu kita perlu membuat mereka bergerak."

Bening pulang dari rumah sakit sore berikutnya. Lengannya masih dibalut dan dokter melarangnya bekerja lapangan, tetapi ia membawa catatan dari pengamatan timnya di Jakarta.

Sebelum pulang, Bening menerima kunjungan seorang penyidik di ruang rawat. Ia mengidentifikasi Yulia dari kumpulan foto dan menjelaskan sudut serangan tanpa menambahkan ciri yang tidak dilihatnya sendiri. Setelah itu tim sipil mengikuti jejak vendor melalui catatan publik, bukan melalui akses militer.

"Kami menemukan tagihan pengamanan untuk tiga acara Wardhani," jelas Bening sambil membuka map. "Nama Yulia tidak tertulis sebagai pegawai. Namun nomor darurat pada formulir kendaraan sama dengan nomor yang menelepon Yanti setelah truk palsu ditahan."

Yudha menempatkan dua garis waktu berdampingan. Pada kolom pertama tercatat motor berpindah tangan, listrik Vila diputus, dan Yulia menyerang. Pada kolom kedua tercatat panggilan Yanti, transfer dari rekening penampung, serta pertemuannya dengan vendor.

"Polanya kuat," kata Yudha, "tetapi kita masih membutuhkan penghubung langsung kepada pemberi perintah."

Arka menatap Sekar. "Tidak ada satu pun dari Anda yang bergerak tanpa koordinasi penyidik. Pelaku sudah memakai senjata api."

"Saya tidak akan mengejar Yulia," jawab Sekar. "Saya akan membuat orang yang membayarnya mengira jalurnya sudah terbuka."

"Umpan hanya melalui telepon. Tidak ada pertemuan."

"Setuju."

Arka baru mengangguk setelah Ningsih mencatat batas itu dalam rencana. Sekar menyadari ia tidak melarangnya mengambil keputusan, tetapi memastikan keputusan tersebut tidak menempatkan tubuhnya kembali di depan senjata.

"Yanti menemui pengelola vendor dua kali setelah penyerangan," katanya. "Kami hanya mengikuti di ruang publik. Foto dan waktunya sudah diberikan kepada penyidik."

Sekar memandang layar ponsel. "Kalau Kirana tahu kita sudah dekat, dia akan membersihkan jalur."

"Atau panik dan bicara," ujar Bening.

Mereka menyusun umpan yang tidak memerlukan kebohongan besar. Ningsih mengirim pesan kepada nomor Yanti: polisi sudah menemukan motor kedua dan meminta keterangan vendor. Pesan itu berasal dari nomor yang pernah digunakan Tuti, lalu langsung dimatikan.

Tidak sampai lima menit, Yanti menelepon nomor tersebut berkali-kali.

Sekar memilih langkah berikutnya sendiri. Ia menelepon Kirana dari ponselnya dan mengaktifkan rekaman percakapan yang ia ikuti, dengan waktu serta perangkat asli tetap disimpan untuk verifikasi.

Kirana menjawab pada panggilan ketiga.

"Ada apa?"

Tidak ada sapaan lembut. Tidak ada panggilan Mbak.

"Polisi menemukan motor Yulia," kata Sekar.

Napas di seberang berhenti sesaat. "Siapa Yulia?"

"Perempuan yang menyerangku."

"Kenapa kamu menghubungi saya?"

"Karena motor penggantinya milik vendor yang sering dipakai keluargamu. Karena Yanti bertemu pengelolanya. Karena uang dari rekening perantara bergerak setelah kamu tahu Ratna kubawa pergi."

Kirana diam.

Sekar membiarkan keheningan menekan.

"Kamu tidak punya bukti," kata Kirana akhirnya.

"Aku tidak mengatakan apa yang sudah dimiliki polisi."

Terdengar bunyi benda jatuh. Kemudian suara Yanti berbisik terlalu dekat dengan mikrofon, menyuruh Kirana mematikan telepon.

"Kalau kamu menyerahkan rekaman atau dokumen apa pun," desis Kirana, "jangan salahkan aku kalau lain kali Yulia tidak gagal."

Arka yang duduk di seberang meja mengangkat pandangan. Wajahnya mengeras.

Sekar tetap menahan suara. "Jadi kamu memang mengirimnya?"

"Aku hanya ingin kamu pergi. Seharusnya dia menyelesaikan semuanya tanpa membuat keributan."

"Termasuk melukai Bening?"

"Dia memilih berdiri di depanmu."

Sebelum Sekar menjawab, suara lelaki terdengar di latar.

Rendra.

"Kamu bicara dengan siapa?"

Kirana mencoba menutup mikrofon, tetapi suaranya masih tertangkap. "Sekar. Dia bilang polisi menemukan motor."

Hening singkat.

Kemudian Rendra berkata, lebih pelan, "Aku sudah bilang urusan kemarin jangan dibahas lewat telepon. Kalau orang suruhan ayahmu membuat masalah, selesaikan tanpa menyeret namaku."

Darah di wajah Sekar seperti turun sekaligus.

Rendra tahu.

Mungkin ia tidak memberi perintah. Mungkin ia tidak tahu detail serangan. Namun ia telah mendengar ada orang suruhan Wardhani, ada masalah di Puncak, dan memilih hanya menjaga agar namanya bersih.

Kirana kembali ke telepon. "Jangan hubungi saya lagi."

"Sampaikan kepada Rendra, diamnya juga terekam."

Sekar memutus panggilan.

Tangannya begitu dingin hingga ponsel hampir terlepas. Ia meletakkannya di meja dan menatap gelombang suara yang berhenti bergerak.

"Anda tidak perlu mendengarnya lagi malam ini," kata Arka.

"Saya perlu."

"Rekaman asli akan diserahkan kepada penyidik. Yudha bisa membuat salinan kerja."

"Saya perlu mendengar bagian Rendra satu kali lagi."

Arka tidak melarang. Ia hanya duduk diam ketika suara itu diputar kembali.

`Kalau orang suruhan ayahmu membuat masalah, selesaikan tanpa menyeret namaku.`

Sekar menutup mata.

Enam tahun lalu, ia mengira Rendra akan berdiri di depannya jika bahaya datang. Ternyata bahkan ketika mengetahui bahaya itu memiliki tangan dan senjata, lelaki tersebut hanya mundur agar pakaiannya tidak terkena darah.

"Cukup," kata Sekar.

Ningsih menghentikan rekaman.

Bening menyerahkan daftar penyerahan bukti. Mereka membuat tiga salinan: satu untuk penyidik bersama perangkat asli, satu untuk pengacara, dan satu salinan terenkripsi di tempat berbeda. Kronologi panggilan ditulis tanpa menambahkan kesimpulan yang belum diuji.

Pak Djoyo membubuhkan tanda tangan sebagai saksi waktu penyimpanan.

"Dengan ini polisi bisa menangkap Kirana?" tanya Ningsih.

"Penyidik yang menentukan," jawab Sekar. "Kita jangan merusak perkara dengan menyebarkannya sekarang."

"Padahal dia pantas dipermalukan."

"Aku tidak mau hanya mempermalukannya. Aku mau dia tidak bisa lolos."

Malam sudah larut ketika semua orang meninggalkan ruang kerja. Sekar berdiri sendiri di depan cermin kecil dan melihat perempuan yang tidak lagi menunggu Rendra memilihnya.

"Kali ini, aku yang menghitung semuanya," bisiknya.

Ia membuka salinan aliran dana sekali lagi. Di ujung rangkaian rekening vendor terdapat satu nama badan usaha yang belum pernah dilihatnya. Alamatnya sama dengan sebuah perusahaan konsultan yang muncul dalam dokumen lama Reksa Group.

Hubungannya dengan Kirana belum jelas.

Namun nama direktur bayangan di belakang perusahaan itu berulang dua kali dalam catatan Eyang Wiryo.

Di samping salah satu kemunculannya, Eyang menulis singkat: `Jangan percaya pada orang yang membawa dua buku kas.`

Sekar menuliskannya di halaman baru dan memberi lingkaran merah.

Jejak serangan ternyata tidak berhenti pada dendam seorang istri kedua.

Ada tangan lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!