NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Dosa yang Belum Kering

Mobil yang menjemput Laras malam itu bukan mobil Naren.

Sedan hitam biasa berhenti dua gang dari kontrakan. Tidak ada pelat khusus, tidak ada sopir berseragam, tidak ada lambang perusahaan. Naren sendiri berada di balik kemudi.

“Galih di luar kota,” katanya setelah Laras masuk.

“Saya tahu. Dia mengirim foto dari acara makan malam.”

“Kamu masih saling kirim foto?”

“Kami pacaran di depan orang, ingat?”

Naren mengatupkan rahang dan menjalankan mobil. Laras menoleh ke jendela agar ia tidak melihat senyum tipisnya. Pria itu boleh menyebut hubungan mereka aturan, transaksi, atau komplotan. Namun nada tak suka tadi memiliki nama yang jauh lebih sederhana.

Cemburu.

Mereka kembali ke rumah rahasia yang sama. Kali ini Laras sudah hafal baki kayu untuk ponsel, letak gelas, dan lampu mana yang harus dinyalakan agar bayangan mereka tidak terlihat dari luar pagar.

Pengetahuan itu tidak membuatnya bangga.

Naren mengunci pintu. “Makan dulu.”

Di meja ada dua bungkus nasi dan sate ayam. Laras menatapnya curiga.

“Apa?”

“Biasanya Anda langsung menyuruh saya taruh HP.”

“Sekarang aku menyuruhmu makan.”

“Peraturan baru?”

“Kamu terlihat mau pingsan waktu makan malam keluarga kemarin.”

Laras menarik kursi. “Saya tidak selemah itu.”

“Telapak tanganmu sampai berdarah.”

Ia membalik tangan. Luka bulan sabit sudah mengering. Naren memperhatikannya terlalu lama, kemudian memindahkan sambal lebih dekat tanpa komentar.

Mereka makan dalam diam. Bukan diam dingin seperti pertemuan sebelumnya. Ada bunyi sendok, aroma kecap, dan sesekali tatapan yang bertemu lalu sama-sama lari. Semua terasa hampir normal, sehingga justru lebih berbahaya.

Ponsel Naren bergetar di baki. Nama Galih muncul pada layar.

Keduanya berhenti mengunyah.

Naren mengangkat panggilan dan menyalakan pengeras suara tanpa diminta. “Apa?”

“Cuma mau cek lo di rumah apa nggak. Besok jadi golf?” suara Galih terdengar santai.

“Jadi.”

Laras menahan napas ketika sendoknya menyentuh piring dan menimbulkan bunyi kecil. Mata Naren langsung mengarah kepadanya.

“Ada orang?” tanya Galih.

“Televisi.” Naren mengambil remote lalu menyalakan saluran berita. “Lo telepon cuma buat itu?”

“Iya. Jangan galak. Oh, Laras tadi bilang mau tidur cepat. Kalau dia cari gue, bilang aja besok gue pulang.”

Jari Laras mencengkeram ujung meja. Galih bahkan menitipkan pesan untuknya kepada pria yang sedang duduk satu meja dengannya.

“Gue sampaikan,” jawab Naren.

Panggilan berakhir. Berita terus berbunyi terlalu keras.

“Sampaikan,” Laras berbisik. “Saya sudah dengar.”

Naren mematikan televisi. Tak seorang pun menyentuh makanan selama beberapa saat.

Sesudah meja dibersihkan, Naren berdiri di belakang Laras. Ia tidak langsung menyentuh. Napasnya hanya menghangatkan tengkuk perempuan itu.

“Masih mau pergi?” tanyanya.

Laras menoleh. “Kalau saya bilang iya?”

“Aku antar pulang.”

“Tanpa ancaman?”

“Tanpa ancaman.”

Laras mencari kebohongan di wajahnya. Tidak menemukan apa-apa selain ketegangan yang disembunyikan terlalu rapi.

Ia bangkit dan berdiri begitu dekat sampai ujung kemeja mereka bersentuhan. “Saya belum mau pulang.”

Naren mengembuskan napas, seolah baru saja menahan sesuatu sejak perjalanan tadi. Ciumannya turun perlahan, jauh berbeda dari malam pertama yang terasa seperti kesepakatan. Laras masih mengendalikan setiap iya dan tidak, tetapi tubuhnya tak lagi sekaku dulu.

Naren melepaskan satu kancing gaunnya, berhenti, lalu menunggu anggukan. Laras menarik kerahnya sebagai jawaban. Kehangatan menggantikan percakapan. Jari-jari yang biasanya memegang keputusan bernilai miliaran rupiah kini gemetar tipis ketika menyentuh kulitnya.

Malam itu tetap salah. Galih masih mengirim pesan dari kota lain. Nama pria itu sempat menyala di layar ponsel yang tergeletak di baki, lalu padam tanpa dibaca. Namun untuk pertama kalinya, Laras tidak merasa sedang menjalani prosedur pembayaran. Ada jeda untuk bernapas. Ada tatapan yang tinggal lebih lama. Ada tangan yang berhenti ketika ia menegang tanpa harus diingatkan.

Saat mereka akhirnya diam, hujan turun tipis di luar. Laras berbaring membelakangi Naren, mencoba mengatur napas. Ia menunggu suara gesekan kain, korek api, lalu pintu kamar tertutup seperti sebelumnya.

Tak ada.

Naren masih duduk di tepi ranjang.

Ujung jarinya menyentuh tengkuk Laras. Tepat pada bekas luka berbentuk bulan sabit yang hampir pudar.

Tubuh Laras menegang.

“Ini,” suara Naren lebih rendah daripada biasa, “sakit nggak?”

“Sudah lama.”

“Karena apa?”

“Karena orang yang tidak bisa membedakan sayang dan menyakiti.”

Jari itu langsung terangkat. Naren memandang bekas luka seolah baru menyadari sentuhannya bisa termasuk di antara dua hal tersebut.

“Siapa?”

“Tidak masuk kontrak.”

Laras duduk dan meraih gaunnya. Dari tas, kotak kecil minyak angin ikut tertarik keluar. Benda itu menggelinding ke lantai.

Naren mengambilnya. “Kamu bawa ini ke mana-mana?”

“Eyang selalu menyuruh saya siap kalau masuk angin.”

“Kamu bahkan belum tiga puluh.”

“Masuk angin tidak periksa KTP.”

Sudut bibir Naren nyaris bergerak. Nyaris.

Laras mengulurkan tangan meminta kotaknya. Di dekat mulut Naren masih tersisa aroma rokok yang belum dinyalakan. Tiba-tiba ia ingin membuka tutup minyak itu dan mengoleskannya ke pelipis pria tersebut, sebuah kebiasaan kecil yang dulu selalu ia lakukan untuk Eyang.

Tangannya sudah setengah terulur ketika ia tersadar.

Ia mengambil kotak itu lalu memasukkannya ke tas.

“Saya pulang.”

“Tunggu hujan reda.”

“Hujan Jakarta bisa sampai pagi.”

“Kalau begitu sampai pagi.”

Naren berdiri dan berjalan ke balkon. Laras mengenakan gaun, tetapi tidak mengambil mantel. Ia mengikuti pria itu beberapa menit kemudian.

Di meja kecil balkon sudah ada tiga puntung rokok. Naren menyalakan yang keempat.

“Anda merokok sebanyak ini setiap habis bertemu saya?” Laras menyodorkan segelas air.

“Jangan geer.”

“Berarti memang.”

Naren menerima gelas. “Kamu juga selalu banyak bicara sesudahnya?”

“Cuma kalau lawan bicara saya terlihat ingin menghukum dirinya sendiri.”

Api rokok berhenti di depan bibir Naren. “Kamu pikir kamu tahu aku?”

“Tidak. Saya cuma tahu orang yang puas tidak menghabiskan lima batang rokok sambil menatap hujan.”

Ia menghitung lagi. Empat di asbak, satu di tangan. Lima.

Naren mematikan rokok yang baru sekali diisap. “Kamu saudara gue punya.”

“Saya bukan punya siapa-siapa.”

“Galih percaya sama aku.”

“Dan Anda tetap datang menjemput saya.”

“Itu yang membuatku muak.”

“Pada saya?”

Naren tidak menjawab.

Hujan memukul pagar balkon. Di bawah sana, Jakarta bergerak dengan lampu merah dan putih, tak peduli pada dua orang yang sedang menyembunyikan dosa di lantai tinggi.

Laras bersandar di pagar, menjaga jarak satu telapak tangan dari Naren. Gelas air berpindah di antara mereka. Tak ada permintaan maaf. Tak ada janji untuk berhenti.

Hanya diam yang anehnya terasa seperti kesepakatan baru. Tidak aman, tidak bersih, tetapi mulai terasa milik mereka berdua, setidaknya sampai hujan berhenti.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!