Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - PERTARUNGAN DI JEMBATAN PUTUS DAN NAMA YANG DITAKUTI ISTANA
Berita tentang perburuan Kaisar menyebar lebih cepat daripada angin di Wulin.
Hanya dalam 3 hari setelah Puncak Teratai Emas, Gunung Huashan.
Di setiap kedai arak, di setiap pos kuda, di setiap persimpangan jalan, ada poster buronan baru yang ditempel dengan cap naga emas Istana.
Bukan poster wajah, tapi poster tulisan:
DICARI HIDUP ATAU MATI:
Pria Topeng Perunggu Retak, Pedang Kayu Hitam - Nama: Zhuo Fan - 50.000 tael emas.
Pemuda 9 Yang, Tubuh Matahari - Nama: Yang Lie, 17 tahun - 30.000 tael emas.
Gadis 9 Yin, Bayangan Tanpa Wujud - Nama: Tidak Diketahui - 30.000 tael emas.
Bocah Goni Kitab Tai Chu - Nama: Mu Chen, 17 tahun - 50.000 tael emas.
Barangsiapa menyembunyikan, dianggap pemberontak, 9 keluarga dibasmi.
36 Aliran Hitam yang mendukung Istana seperti anjing yang mencium darah. Mereka keluar dari sarang-sarang gelap mereka. Paviliun Angin Hitam, Lembah Pisau Darah, Gunung Bela Diri Hitam, Sekte Ular Hitam, dan yang paling misterius... Paviliun Awan Hitam.
Jika Paviliun Angin Hitam adalah pembunuh yang cepat seperti angin, maka Paviliun Awan Hitam adalah pembunuh yang tidak terlihat seperti awan. Mereka tidak membunuh untuk emas saja. Mereka membunuh untuk nama. Untuk membuktikan bahwa mereka lebih hebat dari Wulin Putih.
Dan beberapa pendekar yang hadir di Puncak Huashan juga mengalami hal yang sama seperti Hui Chen.
Hui Chen dicegat Jiang Yu, Pendekar Langit Istana, di Hutan Bambu Hitam dan berduel 1 hari 1 malam.
Ling Feng dari Wudang, dalam perjalanan kembali ke Wudang, dicegat oleh 2 pembunuh dari Sekte Ular Hitam di Sungai Han. Ia menenggelamkan mereka dengan Taiji-nya, tapi pedang tipisnya patah.
Shi Potian, 16 tahun dengan karung 108 Batu Hati Danau, dicegat oleh 5 pendekar dari Gunung Bela Diri Hitam di tepi Danau Tai. Ia tidak berduel. Ia hanya meletakkan karung batunya, dan 5 pendekar itu mencoba mengangkatnya. Tidak ada yang bisa. Lalu Shi Potian memukul mereka satu per satu dengan batu sungai, sambil berkata polos: "Guru bilang... jangan berkelahi... tapi kalau dipukul... boleh memukul balik."
Dan hari ini, giliran salah satu dari 7 Pendekar Jiangnan.
Jembatan Putus, di luar Kota Jinling.
Jembatan batu tua peninggalan Dinasti Song yang setengahnya sudah runtuh dimakan waktu. Di bawahnya, Sungai Qinhuai mengalir pelan, membawa perahu-perahu dengan lentera merah. Di atasnya, hanya satu papan kayu yang menghubungkan dua sisi tebing. Jika tidak punya ilmu meringankan tubuh yang tinggi, jangan harap bisa lewat.
Seorang pria berjubah hitam sederhana, wajah biasa seperti penjual tahu di pasar, berjalan pelan di atas papan kayu itu. Di pinggangnya, ada 7 pedang kayu pendek dengan panjang berbeda-beda, tersusun seperti tangga. Langkahnya pelan, tapi papan kayu yang lapuk itu tidak berderak sama sekali.
Lu Changan, 28 tahun, dari Kota Jinling, julukannya Qi Xing Jian — Pedang Tujuh Bintang. Salah satu dari 7 Pendekar Jiangnan Masa Kini. Peringkat ke-5 di antara tujuh.
Ia baru saja berpisah dengan Li Qingzhou dan yang lainnya di Danau Tai 2 hari lalu. Mereka berjanji untuk kembali berlatih di wilayah masing-masing selama 7 tahun. Tujuan Lu Changan adalah kembali ke Sumur Bintang di Jinling, sumur tua tempat legenda mengatakan 7 bintang jatuh 100 tahun lalu.
Ia sedang memikirkan cara membuat 7 pedang kayunya bisa benar-benar memanggil bayangan Bintang Biduk yang asli, bukan hanya bayangan.
Tiba-tiba, ia berhenti di tengah jembatan.
Di ujung jembatan yang lain, berdiri seorang pria.
Pria itu memakai jubah hitam dengan awan hitam bordir perak, sama seperti jubah 36 Aliran Hitam. Wajahnya tampan, tapi sangat putih, seperti tidak pernah terkena matahari. Rambutnya panjang, diikat dengan pita hitam. Di tangannya, ia memegang kipas lipat hitam. Bukan kipas besi seperti milik Li Qingzhou, tapi kipas kertas hitam dengan lukisan awan hitam.
Aura di sekelilingnya... dingin. Bukan dingin racun Ouyang Lie. Dingin seperti malam tanpa bulan, di mana awan hitam menutupi semua bintang.
Lu Changan mengerutkan kening. Ia mengenali jubah itu.
"Paviliun Awan Hitam..."
Pria itu membuka kipas hitamnya dengan suara TAP! yang keras, menutupi setengah wajahnya, hanya menyisakan matanya yang hitam pekat.
"Benar. Aku Qin Wuyu, dari Paviliun Awan Hitam. Peringkat ke-3 di Paviliun. Orang-orang memanggilku Awan Hitam Penutup Bintang."
Qin Wuyu menatap 7 pedang kayu di pinggang Lu Changan, matanya berbinar seperti anak kecil melihat mainan baru.
"Lu Changan... Pedang Tujuh Bintang... salah satu dari 7 Pendekar Jiangnan Masa Kini... Aku sudah lama mendengar nama kalian. 7 anak manja dari Danau Tai yang suka menulis puisi dan minum arak. Orang-orang bilang kalian adalah masa depan Jiangnan. Orang-orang bilang pedangmu bisa memanggil Bintang Biduk."
Ia menutup kipasnya, menunjuk Lu Changan dengan kipas itu.
"Aku lewat Jembatan Putus ini hanya untuk mencari bambu hitam untuk membuat kipas baru. Tapi tidak menyangka bertemu bintang. Sayang sekali jika aku tidak merasakan... seberapa hebat sih, Pendekar Jiangnan?"
Lu Changan tidak menjawab. Ia hanya menatap papan kayu di bawah kakinya yang lapuk. Ia tahu, Paviliun Awan Hitam tidak pernah bertarung sendirian tanpa alasan. Mereka bertarung untuk membuktikan bahwa awan hitam bisa menutupi bintang.
Qin Wuyu tertawa pelan. "Jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu. Perintah Kaisar hanya mencari 4 orang: Zhuo Fan, Yang Lie, gadis 9 Yin, dan bocah goni Mu Chen. Kau tidak masuk daftar. Tapi jika aku mengalahkan salah satu dari 7 Pendekar Jiangnan yang terkenal itu, namaku akan lebih terkenal dari 8 Pendekar Langit Istana. Awan Hitam akan menutupi Bintang Jiangnan. Bukankah itu puisi yang bagus?"
Lu Changan akhirnya mengangkat kepalanya. Wajahnya yang biasa seperti penjual tahu kini serius.
"Qin Wuyu... aku tidak suka berkelahi di jembatan. Jika jembatan ini putus, warga desa harus memutar 10 li."
Qin Wuyu tertawa lebih keras. "Ha ha! Inilah yang aku benci dari Wulin Putih! Selalu memikirkan warga desa! Baiklah, aku akan membuatmu tidak perlu khawatir tentang jembatan!"
Ia melesat.
Kipas hitamnya terbuka, dan dari dalam kipas, keluar awan hitam yang sebenarnya. Bukan asap, tapi Qi hitam pekat yang membuat langit di atas Jembatan Putus yang tadinya sore menjadi malam. Bintang-bintang di langit sore yang belum muncul, tertutup awan hitam itu.
Jurus andalan Paviliun Awan Hitam: Hei Yun Gai Tian — Awan Hitam Menutup Langit. Di dalam awan hitam itu, musuh tidak bisa melihat, tidak bisa bernapas, dan setiap hirupan adalah racun yang membuat pusing.
Lu Changan masih berdiri di atas papan kayu lapuk itu. Ia tidak bergerak. Ia hanya menutup mata.
Tangan kanannya menyentuh pedang kayu pertama di pinggangnya. Pedang kayu terpendek, panjangnya hanya 1 kaki.
"Pedang pertama," bisiknya pelan, suaranya hanya didengar oleh dirinya sendiri dan oleh Sungai Qinhuai di bawahnya, " Tian Shu — Bintang Pertama."
Ia mencabut pedang kayu itu, mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit yang tertutup awan hitam.
Tidak ada cahaya. Tidak ada naga. Hanya pedang kayu biasa.
Tapi saat pedang kayu itu diangkat, awan hitam di atas Jembatan Putus yang dibuat Qin Wuyu... bergetar.
Qin Wuyu yang sedang melayang di dalam awan hitam, kipasnya siap memotong leher Lu Changan, tiba-tiba merasa kipasnya menjadi berat. Sangat berat, seperti ada bintang yang menempel di kipasnya.
"Apa?!"
Lu Changan membuka matanya. Matanya kini memantulkan cahaya seperti bintang.
"7 Pendekar Jiangnan bukan 7 anak manja yang menulis puisi, Qin Wuyu. Kami adalah 7 orang yang menjaga 7 bintang agar tidak jatuh. Dan kau... kau adalah awan hitam yang ingin menutupi bintang. Tapi kau lupa..."
Ia menebas pelan dengan pedang kayu pendek itu ke arah awan hitam.
"Bintang tidak pernah takut pada awan. Karena bintang ada di atas awan."
Wusss!
Dari ujung pedang kayu Tian Shu, keluar cahaya putih kecil, seperti bintang yang baru lahir. Cahaya itu terbang ke dalam awan hitam, dan...
DUAR!
Awan hitam yang menutupi Jembatan Putus itu robek dari dalam. Seperti langit malam yang robek dan menampakkan satu bintang yang sangat terang. Cahaya bintang itu membuat Qin Wuyu yang ada di dalam awan hitam terpental keras, jatuh menabrak papan kayu jembatan, papan itu retak.
Qin Wuyu bangun, darah keluar dari sudut bibirnya, kipas hitamnya sobek setengah. Wajah tampannya yang putih kini pucat karena kaget.
"Kau... kau sudah... sudah bisa memanggil Xing Guang? Cahaya Bintang yang sebenarnya?! Bukan bayangan?!"
Lu Changan tidak menjawab. Ia sudah memasukkan kembali pedang kayu Tian Shu ke pinggangnya. Ia mengambil pedang kayu kedua, yang sedikit lebih panjang.
"Tapi aku baru bisa satu bintang. Masih ada 6 bintang lagi yang belum bisa kupanggil. 7 tahun lagi, aku akan memanggil 7 bintang sekaligus. Saat itu, jangankan awan hitammu, bahkan langit Istana Beijing pun akan kurobek."
Ia melangkahkan kakinya, melewati Qin Wuyu yang masih terduduk di atas papan kayu yang retak, menuju ke ujung jembatan.
Saat ia lewat di samping Qin Wuyu, ia berhenti sebentar, berbisik pelan, hanya untuk didengar Qin Wuyu.
"Kembalilah ke Paviliun Awan Hitam. Katakan pada Ketua Paviliunmu, jika ingin menutupi Bintang Jiangnan, jangan kirim peringkat ke-3. Kirim Ketua Paviliunmu sendiri. Karena 7 tahun lagi, di Huashan, yang akan datang bukan hanya aku. Tapi 7 Bintang."
Setelah itu, Lu Changan terus berjalan, papan kayu lapuk di bawah kakinya tidak berderak sama sekali, seperti ia tidak memiliki berat.
Qin Wuyu masih terduduk di Jembatan Putus, menatap punggung Lu Changan yang biasa seperti penjual tahu, tapi kini terlihat setinggi gunung.
Ia memegang kipas hitamnya yang sobek, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai pembunuh Paviliun Awan Hitam, ia merasa takut pada nama.
Nama 7 Pendekar Jiangnan.
Dan di kejauhan, di Danau Dongting, Hong Wei Jun dan Mu Chen baru saja tiba di Sarang Pengemis, di mana 10.000 pengemis sudah menunggu dengan ayam panggang dan tongkat bambu.
Perburuan masih berlanjut. Tapi Wulin Putih sudah mulai melawan.