"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — PERTANDA BAHAGIA YANG MULAI TERASA
Malam semakin larut, namun suasana di dalam rumah itu terasa berbeda dari biasanya. Tidak lagi terasa sepi dan dingin seperti ribuan malam sebelumnya. Malam ini, suasana itu justru terasa hangat dan damai, seolah ada cahaya lembut yang menyinari setiap sudut ruangan yang dulunya gelap dan sepi. Wanita itu berdiri di dekat meja makan yang telah beres kembali, menatap punggung pria itu yang sedang berdiri membelakangi dirinya sambil menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Cahaya rembulan yang lembut menyinari punggungnya, membuat sosok pria itu tampak begitu tenang dan begitu damai.
Wanita itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hatinya yang sejak tadi berdebar tak menentu kini perlahan mulai tenang, namun perasaan hangat yang menyelimutinya tak pernah hilang sedikit pun. Ia melangkah perlahan mendekat hingga berdiri tak jauh dari samping pria itu. Ia menatap wajah samping pria itu yang tampak tenang dan damai, lalu perlahan membuka suaranya dengan suara yang lembut dan pelan.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya pelan, takut suaranya mengganggu ketenangan yang sedang dirasakan pria itu.
Pria itu berbalik perlahan menatap istrinya. Di bawah cahaya rembulan yang temaram itu, matanya yang teduh tampak bersinar lembut menatap wajah wanita itu. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya begitu melihat istrinya berdiri di hadapannya dengan tatapan yang tidak lagi dingin dan tidak lagi penuh kebencian seperti biasanya.
"Tidak," jawabnya pelan dengan suara yang rendah dan menenangkan. "Aku hanya merasa... malam ini terasa begitu indah. Sejak kita berdiri bersama di sini."
Wanita itu terdiam mendengar kata-katanya. Wajahnya perlahan memerah merona. Ia membuang pandangannya sejenak ke arah taman yang gelap namun indah di luar jendela, lalu kembali menatap mata pria itu yang terus menatapnya lekat-lekat.
"Aku juga..." ucapnya pelan dengan suara yang sedikit bergetar namun begitu jelas terdengar. "Aku merasa hal yang sama. Sejak tadi malam... sejak kau berbicara kepadaku dengan begitu sabar... dan sejak pagi ini saat kau meninggalkan pesan untukku... semuanya terasa begitu berbeda bagiku."
Pria itu menatapnya dalam-dalam. Ia melangkah selangkah lebih dekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan seolah takut membuat istrinya merasa tidak nyaman. Tangannya terangkat perlahan namun akhirnya kembali jatuh ke samping tubuhnya.
"Aku tidak mengharapkanmu untuk berubah secepat ini," ucapnya tulus. "Aku hanya ingin kau tahu... bahwa perubahan apa pun yang terjadi padamu... aku akan selalu menghargainya. Dan aku akan selalu menunggumu. Selama berapa pun waktu yang kau butuhkan."
Wanita itu menatapnya lekat-lekat. Matanya yang indah berkaca-kaca memantulkan cahaya rembulan yang lembut. Perlahan ia menggeleng pelan.
"Aku tidak ingin membuatmu menunggu terlalu lama..." jawabnya pelan dengan suara yang penuh keharuan. "Selama ini aku buta... aku tidak melihat betapa baiknya hatimu. Aku terlalu sibuk menyalahkanmu atas pernikahan ini... hingga aku lupa menyadari bahwa kau pun sama sepertiku. Kau pun tidak pernah meminta pernikahan ini terjadi. Dan justru di posisi yang sama denganku... kau memilih untuk bersabar dan menjagaku. Sementara aku... aku hanya memberimu kebencian dan kedinginan."
Air mata jatuh perlahan membasahi pipinya yang cantik. Ia menunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangan, merasa begitu malu dan begitu bersalah atas segala perlakuan buruknya selama ini. Namun seketika itu pula, sebuah sentuhan lembut jatuh di atas punggung tangannya. Sentuhan yang begitu hangat dan begitu lembut seolah takut melukainya sedikit pun.
"Jangan menangis..." suara pria itu terdengar lembut tepat di hadapannya. "Aku tidak pernah menyalahkanmu. Dan aku tidak pernah mengharapkanmu untuk merasa bersalah. Hatimu butuh waktu untuk menerima sesuatu yang baru. Dan aku bersedia memberikan waktu itu kepadamu. Tanpa menuntut apa pun sebagai balasannya."
Wanita itu menurunkan kedua tangannya perlahan. Ia mendongak menatap pria itu yang kini berdiri begitu dekat di hadapannya. Matanya yang basah oleh air mata menatap mata pria itu yang teduh dan penuh kelembutan.
"Kenapa kau begitu baik kepadaku?" tanyanya dengan suara yang tercekat. "Aku tak pantas menerima kebaikan sebesar ini darimu..."
Pria itu tersenyum lembut. Ia perlahan menyeka air mata di pipi istrinya dengan ujung jari yang lembut dan hangat. Tatapannya begitu tulus dan begitu dalam seolah ingin menyampaikan segala perasaannya tanpa perlu mengucapkannya dengan kata-kata.
"Karena kau istriku," jawabnya pelan namun tegas. "Dan karena sejak hari pertama kita bertemu... hatiku telah memilihmu. Bukan karena perjodohan ini. Bukan karena keinginan keluarga kita. Melainkan karena dirimu. Dirimu yang sebenarnya. Yang selama ini kau sembunyikan di balik dinding dingin yang kau bangun begitu tebal."
Wanita itu terpaku di tempatnya. Kata-kata itu menembus hatinya begitu dalam hingga ia tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya mampu menatap pria itu dengan perasaan yang begitu bercampur aduk antara haru, bahagia, dan rasa syukur yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
"Aku..." suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya, lalu menatap mata pria itu lekat-lekat dengan tekad yang mulai tumbuh di dalam hatinya. "Aku akan berusaha... berusaha menjadi istri yang lebih baik untukmu. Aku tak berjanji akan langsung sempurna. Tapi aku berjanji... aku akan mencoba membuka hatiku untukmu. Perlahan-lahan. Jika kau masih bersabar menungguku..."
Pria itu menatapnya dengan mata yang berbinar penuh kebahagiaan. Perlahan ia mengangguk pelan.
"Aku akan selalu menunggumu," ucapnya dengan suara yang penuh keyakinan dan ketulusan. "Dan aku akan selalu ada di sisimu. Tak peduli seberapa lama waktu yang kau butuhkan. Tak peduli seberapa sulit jalan yang akan kita lalui. Aku takkan pernah pergi ke mana-mana."
Malam itu berakhir dengan perasaan yang damai dan penuh harapan. Wanita itu kembali ke kamarnya, namun kali ini hatinya tidak lagi terasa berat dan sepi. Ia berbaring di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya. Setiap kata yang diucapkan pria itu terus berputar di kepalanya, menghangatkan hatinya yang selama ini beku dan dingin.
Keesokan harinya, suasana di dalam rumah itu terasa semakin berbeda. Wanita itu tidak lagi bangun dengan wajah yang dingin dan penuh kebencian seperti biasanya. Ia tersenyum saat menyapa pria itu di ruang makan. Ia berbicara dengan nada yang lembut dan sopan. Ia bahkan menanyakan hal-hal kecil yang tak pernah ia tanyakan sebelumnya. Dan setiap kali pria itu tersenyum menanggapinya, hatinya terasa penuh dan bahagia seolah baru saja menerima anugerah terindah dari Tuhan.
Hari-hari pun berlalu dengan tenang dan damai. Setiap harinya, wanita itu perlahan berubah sedikit demi sedikit. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang disukai pria itu. Ia mulai menyiapkan hal-hal yang membuat pria itu merasa nyaman. Ia mulai menyapanya dengan senyum tulus setiap kali mereka berpapasan. Dan setiap kali ia melakukan hal-hal sederhana itu, ia selalu melihat senyum bahagia yang terukir di wajah pria itu. Senyum yang begitu tulus dan begitu menyentuh hatinya.
Pagi itu, hujan turun deras membasahi bumi. Langit tampak gelap dan mendung sepanjang hari. Namun di dalam rumah itu, suasana justru terasa semakin hangat dan nyaman. Wanita itu berdiri di dekat jendela menatap rintik hujan yang turun membasahi kaca. Pikirannya kembali melayang kepada pria itu yang pagi tadi tampak sedikit terburu-buru berangkat karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Hatinya tiba-tiba merasa khawatir. Hujan turun begitu deras dan langit tampak begitu gelap. Ia berharap pria itu berhati-hati di jalan.
Waktu terus berjalan hingga malam tiba. Namun pria itu belum pulang juga. Wanita itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan perasaan yang semakin gelisah. Sesekali ia melirik jam dinding yang terus berputar perlahan. Sudah jauh lewat waktu biasanya pria itu pulang. Hatinya semakin merasa tidak tenang. Sesuatu yang tak biasa mulai mengganjal di hatinya. Perasaan khawatir yang begitu kuat seolah memberitahunya bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Belum lama berselang, telepon berdering memecah keheningan malam itu. Wanita itu segera meraih telepon dengan tangan yang gemetar. Saat mendengar kabar dari seberang sana, seketika itu pula kakinya terasa lemas dan jantungnya seakan berhenti berdetak.
Pria itu mengalami kecelakaan di jalan pulang.
salam interaksi thor😉