Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Bab 11: Malam Ulang Tahun Kota, Bencana Pembantaian, dan Panggilan Musnah
Masa hukuman Wiliam berlalu dalam ritme harian yang sangat teratur. Setiap pagi, ia melangkah menyusuri koridor Akademi Sihir Kerajaan dengan postur tegap yang menawan, mengabaikan ribuan tatapan penuh pesona dari para siswi dan pertanyaan penasaran dari Leo dan Reno. Setiap sore, ia kembali ke mansion Pendragon untuk menjalankan tugas membersihkan ruang latihan—tempat di mana Julius Jr. dan Hector kini selalu menepi dengan wajah pucat setiap kali Wiliam melintas. Dan setiap malam, di dalam keheningan kamarnya, Wiliam menciptakan klon bayangan untuk menjalankan tugas patroli Hantu Topeng sementara tubuh aslinya fokus memadatkan lahar mana di dalam Inti Cadangan Sekunder.
Namun, ketenangan kaku itu pecah di malam pesta ulang tahun kota.
Ibu kota Kerajaan diselimuti oleh lautan cahaya lentera sihir yang berkilauan. Ribuan orang dari berbagai ras—manusia, Elf bergaun anggun, kaum Furry berkulit bulu tebal, hingga para Dwarf yang memegang cangkir minuman keras—berkumpul di jalan-jalan utama untuk merayakan ulang tahun berdirinya ibu kota. Di atas panggung kehormatan alun-alun utama, Raja Kerajaan berdiri membacakan pidato kebangsaan yang disambut oleh sorak-sorai membahana dari ratusan ribu warga.
Anak-anak berlarian di antara lapak-lapak pedagang kaki lima sambil tertawa gembira, sementara kembang api sihir berterbangan mengudara, meledak menjadi ribuan bunga cahaya berwarna-warni yang memikat langit malam.
Namun, pesta bahagia itu mendadak berubah menjadi neraka berdarah.
BOOOOOOOOOOMMMMMMMM!
Tanpa ada peringatan apa pun, sebuah ledakan merah pekat meletus di empat titik penjuru ibu kota! Pilar-pilar api sihir hitam membumbung tinggi melintasi awan, meruntuhkan menara-menara pengawas dan menimbun puluhan warga di bawah puing-puing batu.
Di atas altar buatan di tengah alun-alun, puluhan pria berkerudung merah melayang ke udara—para anggota Sekte Pemuja Iblis. Sang Pemimpin Sekte yang mengenakan jubah tulang melangkah maju, memproklamasikan suara gaibnya yang menggelegar ke seluruh penjuru kota:
"Wahai para cacing mortal! Bersukacitalah, karena darah, nyawa, dan daging kalian malam ini akan menjadi tumbal suci untuk menyambut kebangkitan penguasa sejati kami!"
Seketika itu pula, puluhan portal merah kehitaman terbuka lebar di udara! Dari balik portal tersebut, ribuan Demon—iblis tak berakal berkulit merah, bertanduk buas, dan bermata liar—melompat keluar bagaikan air bah yang membendung!
"Sihir Iblis! Lari!"
"Toloooong! Anakku tertinggal di sana!"
"Para Ksatria! Tahan portal itu!"
Kepanikan massal pecah seketika. Teriakan histeris warga, tangisan anak-anak, dan lolongan kematian menggema di sepanjang jalan beraspal yang kini digenangi oleh darah segar. Para Demon menyerbu tanpa kendali, mencakar, menggigit, dan merobek tubuh warga serta para prajurit jaga yang berusaha menahan gelombang pertama.
Di sudut lain ibu kota, pertempuran pecah secara masif. Seorang Ksatria Tingkat Tinggi berlevel 15 melompat ke tengah kerumunan Demon, mengayunkan pedang besarnya yang dibalut aura angin kencang untuk memotong belasan Demon menjadi dua bagian. Namun, meski ia berada di Level 15, jumlah Demon yang keluar dari portal seolah tidak terbatas.
"Bertahan di formasi!" teriak sang Ksatria Level 15 pada para prajurit di belakangnya. "Lindungi proses evakuasi warga! Jangan biarkan mereka menembus barikade!"
Tak lama kemudian, empat ksatria kepercayaannya berlevel 14 melompat mendarat di sampingnya, disusul oleh puluhan tim penjelajah dungeon yang kebetulan berada di sekitar alun-alun. Mereka menyatukan benteng sihir dan tebasan pedang, bertarung mati-matian di tengah kepulan asap tebal dan korban jiwa yang terus berjatuhan.
Di barisan barat alun-alun, keluarga Pendragon juga terlibat dalam pertempuran sengit. Julius Pendragon memicu aura pedang api puncaknya, menebas puluhan Demon yang mencoba menerobos, sementara Eleanor berdiri di belakangnya mengalirkan sihir pelindung es dan petir untuk menahan serbuan. Di sisi lain, Julius Jr. dan Hector bertarung dengan wajah pucat pasi, mengayunkan pedang mereka dengan panik menahan napas racun Demon.
Sementara itu, di pinggiran alun-alun yang terisolasi oleh benteng darah, Pemimpin Sekte Pemuja Iblis tertawa histeris menatap lautan mayat warga dan prajurit yang menumpuk.
"Bagus! Terus alirkan darah mereka ke dalam lingkaran ritual!" teriak sang Pemimpin Sekte pada para pengikutnya. "Darah ratusan mortal ini sudah cukup untuk membuka segel dimensi tua! Sedikit lagi... ritual pemanggilan Devil tingkat tinggi akan selesai!"
Di dalam kamarnya yang tenang di mansion Pendragon, Wiliam yang sedang duduk membaca buku tua mendadak menghentikan gerakannya.
Sensasi gelombang mana yang sangat busuk, amis, dan beracun merayap masuk menembus indranya. Wiliam berdiri dan berjalan pelan mendekati jendela kamar. Di kejauhan, langit malam ibu kota yang seharusnya dihiasi kembang api kini tertutup oleh asap hitam membumbung tinggi, disertai oleh jeritan histeris ribuan warga yang teredam angin malam.
Wiliam tidak membuang waktu lagi. Masa hukumannya telah selesai di detik kota ini diserbu oleh iblis.
Wiliam meraih jubah overcoat hitam barunya dan mengenakannya ke tubuhnya. Ia mengikatkan sarung pedang Void Eclipse di pinggang kirinya. Wiliam melangkah mendekati cermin besar di kamarnya. Dengan satu jentikan jari yang tenang, ilusi pada matanya memudar—menampilkan sepasang mata merah menyala dengan pola lingkaran Eye of the Void yang sempurna.
WUSH!
Topeng kegelapan berbentuk mengintimidasi terwujud secara instan, melingkupi wajah Wiliam dari dahi hingga ke rahangnya.
Wiliam melompat keluar melalui jendela balkon, mendarat mulus di atas atap rumah.
"Langkah Petir Purba (Ancient Lightning Flash)!"
CRACKLE-BOOOMMM!
Percikan petir biru keperakan meledak di bawah telapak kakinya. Tubuh Wiliam melesat bagaikan kilat menyambar, meninggalkan garis bayangan keemasan dan petir di udara saat ia melintasi atap-atap bangunan menuju pusat kekacauan ibu kota dengan kecepatan yang meretakkan udara!
Kembali ke jalanan utama ibu kota yang luluh lantak.
Eleanor Pendragon terengah-engah hebat. Sihir pelindung esnya telah retak setelah menahan gempuran bola api lima Demon raksasa secara berturut-turut. Julius sang suami terpisah beberapa puluh meter di depan, terhalang oleh tumpukan bangkai Blood Golems dan gelombang Demon baru.
"Eleanor! Awas di belakangmu!" teriak Julius histeris saat melihat sesosok Demon raksasa bertanduk tiga melompat dari atas reruntuhan menara, mengayunkan cakar beracunnya secara langsung menuju kepala Eleanor yang sudah tak berdaya!
Eleanor memejamkan matanya, memeluk tongkat sihirnya rapat-rapat, bersiap menghadapi kematiannya.
Namun, sebelum cakar beracun Demon itu sempat menyentuh sehelai rambut Eleanor—
"Menyingkir dari ibuku."
Sebuah suara dingin, berat, dan dipenuhi oleh kehendak pembunuh yang tak tertandingi mendadak bergetar tepat di udara!
SRET-BOOOOMMM!
Sebuah garis tebasan hitam pekat menyambar secepat kilat!
"Pernapasan Pedang Kegelapan - Bentuk Pertama: Tebasan Bayangan Kehampaan!"
Tubuh Demon raksasa bertanduk tiga itu seketika terbelah menjadi dua bagian secara vertikal sebelum sempat mengayunkan cakarnya! Darah hitamnya menyembur ke udara, lalu terbakar habis oleh nyala api hitam yang melingkupi bilah pedang sang penyelamat!
Eleanor membuka matanya terperanjat. Di hadapannya, berdiri sesosok pemuda bermasker topeng intimdasik, mengenakan overcoat hitam panjang yang menjuntai anggun, memegang pedang ramping hitam keperakan yang memancarkan pendar petir biru dan api hitam.
Julius Pendragon yang berhasil menerobos kerumunan Demon melompat mendarat di samping istrinya, membelalak kaget menatap sosok tersebut.
"H-Hantu Topeng?!" seru Julius Pendragon terpana. Ia segera membungkuk hormat dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Hantu Topeng... terima kasih telah menyelamatkan istriku!"
Wiliam—di balik topengnya—hanya memberikan anggukan kepala yang sangat tipis kepada ayahnya, tanpa mengeluarkannya sepatah kata pun agar suaranya tidak dikenali.
CRACKLE!
Tanpa membuang waktu, Wiliam berbalik dan melesat ke tengah kerumunan ribuan Demon yang sedang mengepung para ksatria dan penjelajah!
Dan di detik itulah, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah peperangan iblis mendadak terwujud.
Saat Wiliam melangkah masuk ke tengah alun-alun, ia melepaskan Aura Kesadaran Tubuh Demigod dan Eye of the Void secara bersamaan. Pendar aura kegelapan absolut bercampur dengan kehendak pembunuh murni memancar dari tubuhnya, menekan atmosfer sejauh lima ratus meter!
Rumble... rumble...
Ribuan Demon yang biasanya hanya bergerak berdasarkan insting membunuh tanpa akal sehat mendadak membeku kaku!
Mata liar mereka yang merah darah mendadak dipenuhi oleh rasa ketakutan murni yang luar biasa! Tubuh monster-monster buas itu gemetaran hebat, lutut-lutut mereka lemas dan terhempas berlutut ke tanah! Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, para Demon merasakan keberadaan entitas yang jauh lebih mengerikan, jauh lebih dominan, dan jauh lebih mematikan daripada pencipta mereka sendiri!
"I-Iblis-iblis itu... mereka ketakutan?!" teriak sang Ksatria Level 15 tak percaya, menatap ribuan Demon yang melangkah mundur ketakutan saat Wiliam berjalan mendekat.
Wiliam tidak memberi mereka kesempatan untuk bernapas. Ia mengayunkan Void Eclipse dalam siklus Bentuk Kedua dan Bentuk Ketujuh secara bertubi-tubi. Badai tebasan api hitam dan petir purba membantai ratusan Demon dalam setiap detik, mengubah area alun-alun menjadi lautan abu dalam sekejap!
Setelah membersihkan alun-alun utama, mata merah Wiliam memicing tajam ke arah pusat benteng darah di ujung kota. Ia bisa merasakan fluktuasi mana yang sangat masif sedang meledak di sana.
"Portal Devil..." batin Wiliam kencang.
Dengan satu hentakan Langkah Petir, Wiliam melesat melintasi benteng darah menuju altar ritual utama!
Namun, saat Wiliam mendarat di atas retakan altar batu ritual, langkah kakinya terhenti.
Aroma amis darah ratusan korban jiwa memenuhi udara. Di tengah altar, Pemimpin Sekte Pemuja Iblis tergeletak tewas dengan jantung terkoyak—dijadikan tumbal terakhir oleh panggilannya sendiri. Dan di atas tempat berdiri sang pemimpin sekte, sebuah retakan dimensi raksasa berwarna ungu keemasan telah terbuka lebar!
Wiliam terlambat beberapa detik—ritual pemanggilan telah selesai sempurna.
STEP. STEP.
Dari dalam retakan dimensi ungu tersebut, melangkah keluar sesosok entitas humanoid bersayap empat berwarna hitam pekat. Ia mengenakan gaun bangsawan kerajaan kuno berhiaskan kristal darah, memiliki wajah yang sangat tampan namun berkulit pucat bagaikan mayat, dan sepasang tanduk melengkung indah yang memancarkan pendar sihir destruktif.
Bangsawan Iblis Kelas Menengah: Duke Malphas (Level 18).
Aura tekanan mana yang dipancarkan oleh Duke Malphas begitu masif hingga meruntuhkan bangunan-bangunan di sekitar altar menjadi debu! Tingkat kekuatannya berada di Level 18 penuh—sebuah jurang perbedaan kekuatan yang sangat jauh dan mematikan dibanding Demon biasa!
Duke Malphas membuka sepasang mata emasnya yang dingin, menatap Wiliam yang berdiri di balik topengnya dengan senyuman miring yang penuh penghinaan.
"Aroma udara dunia mortal ini sungguh menyegarkan," ucap Duke Malphas dengan suara anggun namun sarat akan kehancuran absolut. "Dan kau... cacing bernapas topeng... apakah kau yang disiapkan oleh dunia ini sebagai hidangan pembukaku?"
Wiliam memegang erat gagang pedang Void Eclipse-nya, mengalirkan lahar petir purba dan Void Inferno dari Inti Cadangan Sekunder ke seluruh sel Tubuh Demigod-nya. Pertarungan hidup dan mati melawan entitas puncak Level 18 kini terbentang tepat di hadapannya.