Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Aroma gurih mi goreng telur dan ayam krispi hangat mendadak memenuhi ruang makan.
Arka menaruh dua kotak makanan di meja kayu, lalu menarik kursi tanpa bersuara. Seragam sekolahnya sudah berganti kaus abu-abu santai. Tetesan air dari ujung rambutnya yang basah masih jatuh satu-satu.
Kirei berdiri di dekat meja dapur sambil menggenggam gelas berisi air putih. Matanya tak lepas meneliti tiap gerak-gerik Arka. Setelah ketegangan hebat di tangga darurat tadi sore, rasanya udara di antara mereka seperti benang tipis yang siap putus cuma dengan sekali tarik.
"Gue beli mi favorit lo di depan gang," ujar Arka datar, menyodorkan satu kotak ke depan Kirei.
Kirei menyipitkan mata, curiga. "Lo tahu dari mana mi favorit gue?"
Arka terkekeh pelan—tawa pendek yang terdengar dalam. "Kakek lo yang cerita waktu kita pertama kali ketemu di rumah sakit. Katanya lo bakal mau makan banyak kalau dibeliin mi goreng pakai potongan cabai rawit ekstra."
Dada Kirei mendadak berdesir. Menyebut Kakek yang masih terbaring kaku di ruang ICU selalu sukses melunakkan benteng pertahanannya. Pelan-pelan Kirei mendekati meja lalu duduk di hadapan Arka.
"Makasih," gumamnya lirih.
Mereka makan dalam hening. Cuma ada denting sendok yang beradu dengan wadah plastik. Tapi anehnya, sepi malam ini tak terasa menyiksa. Ada kehangatan samar yang perlahan merayap naik ke dada Kirei.
Saat Kirei tak sengaja melirik, matanya menangkap sesuatu di bahu kiri Arka. Dari balik lengan kaus pendeknya, tersingkap bercak memar kebiruan yang cukup lebar.
Kirei menghentikan suapannya. "Bahu lo kenapa?"
Gerakan tangan Arka tertahan. Dengan cepat ia buru-buru menarik kain kausnya ke bawah, menutupi memar itu. "Bukan apa-apa. Cuma benturan waktu latihan basket kemarin."
"Bohong," potong Kirei tajam. "Memar kena bola enggak akan selebar itu. Itu bekas pukulan benda tumpul."
Arka mendongak, mengunci tatapan Kirei dengan sorot sulit diartikan. "Sejak kapan Bu Ketua OSIS perhatian sama luka gue?"
"Gue enggak perhatian!" tangkis Kirei cepat, pipinya mendadak terasa hangat. "Gue cuma enggak mau kalau sampai ada yang lihat luka itu di sekolah terus ngira gue KDRT sama lo."
Arka tertawa kecil—tawa lepas tanpa nada ejekan. Wajahnya kelihatan jauh lebih hangat saat tertawa begitu.
"Tenang aja," kata Arka, suaranya melunak. "Ini cuma oleh-oleh dari anak SMA Tunas Bangsa waktu tanding kemarin. Merekanya aja yang main kasar."
Kirei mendengus pelan. Tapi di bawah pendar remang lampu dapur, ia mengamati raut lelah cowok itu. Di balik kelakuannya yang ugal-ugalan dan bikin pusing, Arka ternyata menanggung banyak hal sendirian.
Pukul 07.15 WIB.
Koridor SMA Nusantara mendadak riuh rendah. Kasak-kusuk antar-murid terdengar begitu pekat sewaktu Kirei berjalan menuju kelasnya di lantai dua. Beberapa pasang mata menatapnya dengan pandangan menyelidik.
Kirei mempercepat langkah, instingnya bilang ada yang tak beres.
Langkah Kirei mendadak terkunci begitu sampai di depan papan pengumuman lobi utama. Kerumunan siswa berjejal di sana, saling berbisik sambil menunjuk lembaran kertas berukuran besar di tengah papan.
"Ada apa sih?" bisik Kirei pada salah satu anak OSIS di sebelahnya.
Cewek itu menoleh dengan wajah pucat paso. "K-Kirei... lo lihat aja sendiri."
Kirei menerobos kerumunan. Matanya membelalak lebar melihat cetakan foto A3 yang terpampang di sana.
Itu foto tangkapan layar CCTV area parkir belakang sekolah semalam. Di situ, Kirei terlihat jelas sedang masuk ke dalam mobil sport milik Arka di tengah derasnya hujan. Yang bikin darah Kirei mendadak tersirat dingin adalah coretan spidol merah tebal di bawahnya:
"HUBUNGAN GELAP KETUA OSIS DAN BAD BOY SEKOLAH. HIPOKRISI DI BALIK SERAGAM RAPI?"
"Ini pasti ulah Arka!" teriak Bima tiba-tiba dari balik kerumunan. Dengan muka memerah menahan emosi, Bima maju lalu merobek foto itu dari papan. "Gue udah curiga dari kemarin! Dia sengaja jebak lo, Rei!"
"Bima, tunggu—" Kirei mencoba menahan, tapi emosi Bima sudah terlanjur meledak.
Arka muncul di ujung koridor dengan tas disampirkan di satu bahu. Tanpa beban, ia melangkah santai membelah kerumunan murid.
"Ada heboh-heboh apa pagi-pagi gini?" tanya Arka dingin, melirik robekan kertas di genggaman Bima.
"Lo kan yang nempel foto ini?!" bentak Bima sambil membusungkan dada di depan Arka. "Lo mau hancurin reputasi Kirei cuma buat puasin ego lo?"
Arka menatap Bima malas. "Gue? Nempel foto murahan begitu? Sori aja, pekerjaan gue bukan tukang tempel brosur."
"Enggak usah ngelak!" seru Bima. "Kemarin lo sengaja ngomong gantung di ruang OSIS, dan sekarang foto ini muncul! Gue bakal laporkan masalah ini ke Kepala Sekolah biar lo ditendang dari sini!"
Suasana makin panas. Beberapa murid mulai mengacungkan ponsel untuk merekam. Kirei tahu, kalau masalah ini masuk ke ruang Kepala Sekolah, bakal ada penyelidikan dalam—dan rahasia bahwa mereka tinggal satu atap bisa terbongkar tanpa sisa.
"Cukup, Bima!" pasang Kirei badan, berdiri tepat di antara Bima dan Arka. "Jangan gegabah. Bukan Arka yang bikin foto ini."
Bima tertegun, menatap Kirei tak percaya. "Rei? Lo ngebela cowok ini lagi?"
"Gue enggak ngebela siapa-siapa," potong Kirei dengan suara gemetar menahan amarah yang hampir meluap. "Gue cuma pakai logika. Kalau Arka yang nempel foto ini, dia sama aja ngerusak namanya sendiri."
Arka di belakang Kirei terdiam. Ada kilat kaget yang lewat di iris cokelat gelapnya saat mendengar Kirei terang-terangan pasang badan untuknya di depan ratusan pasang mata.
Belum sempat emosi menyurut, pintu ruang Kepala Sekolah terdorong. Pak Tio, guru BK berwajah garang, keluar membawa map tebal.
"Kirei! Arka! Bima!" panggil Pak Tio dengan suara menggelegar yang membungkam seluruh koridor seketika. "Kalian bertiga, ikut saya ke ruang Kepala Sekolah sekarang juga!"
Jemari Kirei mengepal rapat. Jantungnya berdegup liar. Saat menoleh sekilas ke Arka, cowok itu tak lagi bertingkah santai—matanya penuh selidik, sibuk menebak sosok misterius yang sengaja menjebak mereka berdua.