Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. MAKAN BERTIGA
Restoran bergaya gazebo kayu yang berdiri anggun di tepi aliran sungai menyajikan atmosfer malam yang begitu syahdu. Suara gemericik air sungai yang jernih, hawa dingin perbukitan, serta pendar lampu gantung keemasan menciptakan suasana hangat bagi meja VIP tempat Abiyasa, Nadira, dan Baskara makan malam bersama.
Di atas meja kayu tebal, tersaji pelbagai hidangan khas Yogyakarta yang menggugah selera: Mangut Lele, Gudeg Kendhil yang gurih manis, serta dua teko Wedang Uwuh hangat yang memancarkan aroma rempah cengkeh dan jahe.
Nadira menyantap makanannya dengan lahap, membuat sudut bibirnya ternoda oleh sedikit kuah santan gurih.
"Makanlah pelan-pelan, Sayang. Tidak ada yang akan meminta makananmu," ujar Abiyasa lembut.
Pria itu merogoh saku kemeja putihnya, mengambil sapu tangan bersih, lalu dengan kelembutan yang sangat kontras dari citra dinginnya, ia mengusap sudut bibir Nadira yang ternoda.
Baskara yang duduk di seberang mereka seraya memegang cangkir Wedang Uwuh-nya seketika berpura-pura batuk hebat.
UHUK! UHUK!
"Aduh, tolong dong! Tolong panggilkan ambulans!" seru Baskara heboh seraya memegangi dadanya, berpura-pura kesakitan.
"Mata dan hatiku mendadak tersengat radiasi kemesraan tingkat tinggi dari pasangan suami istri ini!"
Nadira seketika tersedak es tehnya, pipinya merona merah padam karena malu. "Mas Baskara! Apaan sih, ih!"
"Baskara, jika kamu ke sini hanya untuk mengganggu makan malam istri saya, kamu bisa angkat kaki sekarang," tegur Abiyasa dengan suara baritonnya yang tebal dan dingin, matanya menatap tajam sahabatnya itu.
"Aduh, Abi! Kamu ini tidak bisa diajak bercanda sedikit pun!" potong Baskara seraya memutar matanya bosan. Ia lalu menatap Nadira dengan raut penasaran yang mendalam. "Tapi serius ya, Nadira... aku tuh masih tidak percaya sampai detik ini. Anak yang dulu di dalam rapat direksi cuma bicara soal grafik saham, kalkulasi akuisisi, dan kalau marah mukanya kayak mau mengeksekusi orang... sekarang bisa se-manis dan se-penurut ini di depanmu!"
Nadira terkekeh renyah, melirik Abiyasa yang berpura-pura sibuk memotong daging lelenya untuk menutupi rasa salah tingkah. "Mas Abi emang dari dulu baik kok, Mas Baskara. Cuma... mukanya aja yang agak serem kalau lagi diam."
"Bukan agak serem, Nadira! Sangat menyeramkan!" ralat Baskara tertawa lepas.
"Tahu tidak, dulu pas kami masih kuliah MBA di London, tidak ada satu pun wanita yang berani mendekati suamimu ini lebih dari dua menit. Begitu ada cewek yang mencoba goda Abi di kafe, Abi langsung mengeluarkan kalimat: 'Waktu saya terlalu berharga untuk obrolan tidak produktif ini'. Dingin sekali!"
Nadira membelalakkan matanya kaget, lalu menoleh menatap Abiyasa dengan binar godaan yang nakal. "Wah... beneran gitu, Mas? Mas Abi serem banget dong sama cewek-cewek London?"
Abiyasa berdeham keras, menaruh garpunya di piring, lalu menatap tajam ke arah Baskara sebelum mengalihkan pandangannya pada Nadira. Pendar matanya melunak penuh ketulusan.
"Itu karena saya sedang menyimpan waktu dan hati saya untuk wanita yang tepat," jawab Abiyasa tenang namun sarat akan nada yang sangat dalam, menatap lurus ke dalam iris mata istrinya.
"Dan wanita itu adalah kamu, Nyonya Mahendra."
DEG!
Jawaban yang meluncur begitu lancar dari mulut sang CEO membuat Nadira membeku. Pipinya seketika membara panas. Pengakuan spontan di depan Baskara itu berhasil melumpuhkan seluruh kata-kata di tenggorokannya.
Baskara menepuk jidatnya sendiri seraya mengerang pasrah. "Ampun! Ampun, Tuhan! Kenapa aku harus duduk di meja ini malam ini?! Jawabanmu itu benar-benar tidak manusiawi buat pria jomblo seperti saya, Abiyasa!"
Nadira tak mampu menahan tawa bahagianya yang akhirnya pecah. Suara tawa renyahnya beradu dengan gemericik air sungai Kaliurang, menciptakan melodi terindah yang membuat Abiyasa menyunggingkan senyuman paling hangat dalam hidupnya.
Pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit, mereka bertiga akhirnya berpisah. Baskara kembali ke Semarang menggunakan jip mewahnya, sementara Abiyasa dan Nadira pulang menuju vila tempat tinggal mereka di Kaliurang.
Hawa dingin perbukitan Merapi di luar rumah makin menusuk kulit. Namun, di dalam kamar utama lantai dua yang berkarpet tebal, suasana terasa sangat hangat dan privat. Perapian listrik bernuansa keemasan di sudut ruangan menyala, memancarkan pendar cahaya yang menari-nari di dinding.
Nadira baru saja selesai mengeringkan rambutnya setelah mandi air hangat. Ia mengenakan piyama piyama kain berbahan sutra lembut berwarna putih krem berhias renda tipis di bagian kerah—salah satu piyama pilihan Mama Rahmi yang sangat nyaman.
Gadis itu berjalan mendekati tempat tidur king-size yang empuk. Di sana, Abiyasa sudah duduk menyandar di kepala ranjang. Pria itu mengenakan kaos polos hitam santai dan celana kain abu-abu. Laptop kerjanya yang biasanya selalu terbuka kini sudah tergeletak mati di atas meja nakas.
Abiyasa menatap istri kecilnya yang berjalan mendekat. Pendar dalam iris mata cokelat gelapnya begitu intens, memancarkan rasa hangat dan kepemilikan yang mendalam.
"Sini," panggil Abiyasa pelan, suara baritonnya terdengar rendah dan sangat halus di heningnya malam. Tangannya menepuk ruang kosong di sampingnya di atas kasur.
Nadira tersenyum manis. Ia merangkak naik ke atas tempat tidur, lalu tanpa ragu langsung menyandarkan kepalanya di dada tegap Abiyasa, melingkarkan lengan kecilnya di pinggang suaminya.
Abiyasa merengkuh tubuh mungil Nadira masuk ke dalam dekapannya, melingkarkan selimut tebal menutupi tubuh mereka berdua. Jemari kokohnya yang hangat menyusup ke balik helai-helai rambut hitam panjang Nadira, mengusap kepala istrinya dengan ritme yang sangat teratur.
"Pegal?" tanya Abiyasa lembut di puncak kepala Nadira.
"Sedikit, Mas. Hari pertama kuliah lumayan banyak jalan keliling fakultas," adu Nadira manja seraya mendongakkan kepalanya, menatap rahang tegas suaminya. "Tapi aku seneng banget. Teman-temanku baik semua."
Abiyasa menurunkan pandangannya, menatap mata bening yang berbinar ceria itu. Tangannya turun, meraba pipi mulus Nadira, lalu mengusap bibir manis istrinya dengan ibu jari yang hangat.
"Kamu pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini, Nadira," bisik Abiyasa sangat dalam.
"Melihatmu tersenyum dan menikmati harimu... adalah pencapaian terbesar dalam hidup saya."
Dada Nadira berdesir hebat oleh kehangatan yang melimpah. Ia menatap mata suaminya, merasa begitu beruntung dan bersyukur atas takdir indah yang membawanya pada pria ini.
"Mas Abi..." panggil Nadira pelan.
"Ya, Sayang?"
"Makasih ya... untuk hari ini, untuk rumah indah ini, untuk studio lukisku, dan... untuk selalu ada di sampingku," tutur Nadira tulus, kedua tangannya terangkat merapikan rambut hitam Abiyasa di bagian dahi.
Abiyasa tidak membalas dengan kata-kata. Pria itu menundukkan kepalanya, menyapu bibir manis Nadira dalam sebuah ci*man yang sangat lambat, hangat, dan sarat akan kelembutan yang membuai.
Kecupan malam itu tidak terburu-buru. Abiyasa menyesap bibir istrinya dengan sangat telaten, menyalurkan seluruh rasa cinta, rasa syukur, dan janji perlindungan yang mutlak dari jiwanya.
Nadira memejamkan mata rapat-rapat, membalas pautan bibir suaminya dengan kepolosan cintanya yang murni, meremas lembut kain kaos polos di dada bidang Abiyasa.
Ketika pautan bibir mereka terpisah perlahan, napas mereka berayun halus dalam jarak yang hanya satu inci. Abiyasa menempelkan dahinya di dahi Nadira, mendengarkan detak jantung suaminya yang bergemuruh kencang di balik dadanya.
"Tidurlah, Nyonya Mahendra," bisik Abiyasa lembut di depan bibir Nadira. "Besok harimu masih panjang di kampus, dan saya akan selalu ada di sini saat kamu pulang."
Nadira tersenyum sangat lebar dan bahagia. Ia menyembunyikan wajah mewahnya yang panas di dada tegap Abiyasa, menghirup aroma maskulin sandalwood yang menjadi aroma terfavoritnya di dunia, lalu memejamkan matanya dengan damai di dalam pelukan hangat sang CEO.