Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 : Bukan lagi kesepakatan.
Mata Celine menjelajahi mata Damian, mencari keraguan yang tersisa di sana, namun yang ia temukan hanyalah keteguhan yang tak tergoyahkan dan kelembutan yang membuat lututnya terasa lemas. Belum sempat kata setuju atau pun tidak keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka, Damian sudah berdiri tegak, masih menautkan jemarinya ke tangan wanita itu, menariknya perlahan namun pasti hingga tubuh Celine ikut bangkit dan berdiri tepat di hadapannya.
Tanpa melepaskan tautan tangan mereka, kedua lengan kekarnya segera melingkar di pinggang ramping itu, dan dengan satu gerakan ringan namun penuh kekuatan, ia mengangkat tubuh Celine sepenuhnya dari lantai. Secara refleks, kedua kaki Celine melingkar erat di pinggang Damian, lengannya pun merambat naik ke leher pria itu untuk menahan keseimbangan, wajahnya memerah padam.
"Hei... aku belum setuju!" protesnya pelan, suaranya terdengar lebih seperti bisikan lembut daripada penolakan.
Damian tersenyum tipis, senyum yang penuh kemenangan lembut, lalu menatap bibir wanita itu sesaat sebelum kembali menatap matanya.
"Tapi aku sudah menganggapnya setuju," bisiknya rendah, suaranya penuh keyakinan yang tak bisa dibantah.
Sebelum Celine sempat menyanggah lagi, bibir Damian sudah mendarat di bibirnya. Awalnya ciuman itu begitu lembut, penuh hormat, namun perlahan semakin dalam dan menuntut sepenuh perhatiannya. Celine memejamkan matanya rapat, merasakan setiap langkah yang diambil pria itu sambil tetap menggendongnya erat, berjalan perlahan namun pasti menuju ranjang besarnya.
Ciuman itu tak terputus, seolah mereka berdua ingin menyatukan segala keraguan, segala luka, dan segala ketakutan yang sempat menghampiri hati masing-masing malam ini.
Saat ujung ranjang menyentuh bagian belakang kakinya, Damian berhenti sejenak, memisahkan bibir mereka sebentar hanya untuk mengatur napas, keningnya masih menempel di kening Celine yang kini terengah pelan di pelukannya.
"Kau milikku, Celine... Dan aku tidak akan membiarkan kau berubah pikiran," bisiknya di sela tarikan napas yang masih teratur namun penuh hasrat yang tertahan. "Selamanya."
Lalu dengan lembut namun pasti, ia menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas permukaan ranjang yang empuk, tanpa melepaskan pelukannya sedikit pun, membiarkan Celine berada di atasnya sejenak sebelum ia membalikkan posisi mereka dengan gerakan halus, kini berada di samping wanita itu, menopang berat tubuhnya dengan kedua lengan di sisi kepala Celine, menatapnya lekat-lekat di cahaya temaram yang menyelimuti ruangan itu.
"Damian..." bisik Celine, matanya berkaca-kaca, "Ini... ini tidak ada di kesepakatan kita kan..."
"Peduli setan dengan kesepakatan itu, karena selamanya aku tak akan melepaskanmu" jawab Damian tegas, lalu kembali menciumnya, kali ini lebih lembut, lebih penuh kasih sayang.
Di balik ciuman yang tak terputus itu, jarak di antara mereka perlahan lenyap, seolah tak ada lagi sekat yang tersisa. Damian menurunkan berat tubuhnya dengan hati-hati di samping Celine, satu tangannya tetap menyangga kepala wanita itu agar tidak terasa tertekan, sementara tangan lainnya merambat lembut menyusuri lekuk tubuhnya, seolah menghafal setiap inci dengan penuh kekaguman.
Kain sutra yang tadi menutupi tubuhnya kini tergeser perlahan. Celine merasakan sentuhan itu begitu hangat, penuh kepastian, membuatnya secara naluriah melingkarkan lengan di leher pria itu, menariknya lebih dekat seakan takut ada jarak yang tersisa.
"Damian..." namanya terucap samar di antara desahan halus, terasa begitu asing namun begitu tepat di bibirnya sendiri.
"Di sini... aku di sini, Amore..." bisiknya berbalas, suaranya terdengar sedikit serak namun lembut, mencium keningnya, pelipisnya, turun ke rahangnya seolah menandai setiap jengkal tempat yang ia cintai.
Damian menopang tengkuknya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melingkar erat di pinggang ramping itu, lalu dengan lembut namun pasti ia memutar tubuh Celine hingga kini berada di atasnya, kedua lututnya menapak di sisi pinggang pria itu, bayangannya menaungi wajah Damian di bawah cahaya temaram yang menyelinap dari tirai jendela.
Celine tertegun sejenak, napasnya tertahan, pipinya merona merah samar di bawah pantulan cahaya lampu. Ia berusaha menurunkan berat tubuhnya perlahan, namun Damian menahan pinggangnya agar tetap tegak di atasnya, jemarinya mengusap lembut kulit di sisi tubuhnya yang terbuka.
"Kau ragu?" bisik Damian, jempolnya mengusap lembut bagian dalam pahanya yang terasa hangat di bawah sentuhannya. Tatapannya lembut namun penuh kekaguman, seolah melihat sesuatu yang paling berharga di dunia ini.
Celine menggeleng pelan, lalu menunduk mencium sudut bibirnya dengan ragu namun penuh kasih sayang.
"Bukan ragu... hanya belum terbiasa menjadi pusat duniamu," bisiknya di sela tarikan napas yang masih teratur namun mulai berpacu sedikit lebih cepat.
"Kalau begitu, biarkan aku yang membuatmu terbiasa," jawab Damian pelan, lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggangnya, menariknya turun perlahan menyatu dengan tubuhnya, membiarkan Celine merasakan setiap detak jantungnya yang berpacu seirama dengan jantungnya sendiri.
Gerakan mereka kini lebih terarah, Celine yang memegang kendali, namun Damian tetap menuntun iramanya dengan lembut, menopang punggungnya, mencium setiap lekuk tubuhnya, memuji setiap desahan halus yang lolos dari bibirnya.
"Kau indah sekali..." bisiknya saat Celine menunduk menyandarkan dahi di dahinya, napas mereka saling berdesir hangat di antara wajah yang berdekatan. "Sangat indah, Celine. Dan sepenuhnya milikku."
Napas mereka saling bersahutan, semakin cepat namun tetap terjaga kelembutannya, seolah dunia di luar pintu kamar itu tidak ada. Dengan gerakan pelan namun pasti, Damian memutar tubuh mereka kembali hingga kini ia yang memimpin permainan.
Di bawah selimut sutra yang lembut itu, kehangatan tetap menyelimuti tubuh mereka yang masih saling bertaut. Damian tidak melepaskan pelukannya, namun tangannya perlahan merambat kembali ke pinggang ramping itu, mengusap dengan lembut seolah ingin memastikan wanita di pelukannya itu benar-benar nyata, bukan sekedar bayangan.
Celine merasakan sentuhan itu, lalu mendesah halus, suaranya yang lembut bergetar di udara tenang kamar itu. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Damian yang masih memancarkan kelembutan yang dalam.
"Damian..." namanya terucap samar, diiringi desahan panjang yang halus saat pria itu kembali mendekatkan wajahnya ke lehernya, mencium lekuk yang sensitif di sana.
"Di sini, Sayang..." bisiknya di sela ciuman yang lembut namun penuh hasrat yang masih tersisa. "Aku tidak akan pergi."
Kali ini gerakannya lebih lambat, lebih penuh perhatian, seolah menikmati setiap momen yang terlewati. Celine melingkarkan kakinya di pinggang pria itu dengan lembut, menerima kehadirannya sepenuhnya di dalam dirinya, lalu mengeluarkan desahan halus yang panjang saat irama itu mulai terbangun kembali di antara mereka.
"Ah..." suaranya terputus-putus, napasnya memburu namun terasa nikmat, wajahnya memerah samar di bawah cahaya temaram. "Damian... jangan berhenti..."
"Aku tidak akan..." jawabnya pelan, lalu memperdalam ciuman di bibirnya saat desahan halus lainnya lolos dari bibir wanita itu. Gerakan mereka berirama, lembut namun penuh makna, setiap desahan yang saling bertaut menjadi bukti bahwa kedekatan ini bukan sekedar keinginan fisik, melainkan kebutuhan hati yang saling memenuhi.
Celine mendesah panjang saat puncak itu kembali datang, kali ini lebih lembut dan lebih lama, tubuhnya sedikit gemetar namun tetap terasa aman di pelukan pria itu.
"Damian..." panggilnya pelan di sisa napas yang masih terengah halus.
"Aku di sini..." jawabnya lembut, mencium keningnya saat mereka berdua akhirnya turun perlahan dari puncak itu, kembali menyatu dalam pelukan yang erat dan hangat.
Napas mereka perlahan kembali teratur, namun desahan halus sesekali masih terdengar saat salah satu dari mereka bergerak sedikit pun, merasakan kehangatan yang masih terasa di antara tubuh mereka. Damian menarik selimut lebih rapat menutupi bahu Celine, lalu memeluknya lebih erat, membiarkan kepala wanita itu kembali bersandar di dadanya.
"Istirahatlah... Amore..." bisiknya lembut di telinganya, diiringi satu kecupan lembut di puncak kepala. "Semuanya akan baik-baik saja."
Celine hanya mengangguk samar, lalu menghela napas panjang dan lega, akhirnya memejamkan matanya dengan tenang, mendengarkan detak jantung Damian yang berdetak kuat dan tenang di bawah telinganya.
-
-
-
Bersambung...