NovelToon NovelToon
Time To You: Istri Kesayangan Sang Mafia

Time To You: Istri Kesayangan Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Time Travel / Mafia / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.

Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.

Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sementara itu di kediaman utama.

"Kau paham maksudku, bukan?"

Clark mengangguk lemah.

"Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk keponakanku. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya saat memutuskan menikahimu. Mungkin dia hanya penasaran, atau sekadar ingin bermain-main. Aku mencoba memakluminya, dan menunggu sampai dia bosan denganmu. Entah kapan itu terjadi, tapi aku yakin takkan lama. Jadi jangan terlalu berharap berlebihan. Aku tak ingin kau terluka nantinya."

Mendengar itu, hati Clark terasa bergetar hebat. Keraguan perlahan merayap masuk. Apakah apa yang dirasakan Dante padanya nyata? Ataukah hanya keinginan sesaat? Ia takut jika perasaannya salah, takut jika Dante yang sekarang berbeda dengan Dante yang ia kenal di kehidupan sebelumnya.

"Aku melihat kau menyayanginya, tapi aku juga khawatir padamu. Dalam hubungan, rasa bosan pasti akan datang. Apalagi tanpa adanya anak yang bisa mengikat kalian berdua lebih erat."

Clark terpaku diam, menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Melihat reaksi itu, Zeck tahu ucapannya sudah mencapai sasaran.

"Karena urusan ini sudah selesai, aku pamit pulang."

"Tunggu!" Akhirnya suara itu keluar. Pria tua itu berhenti dan menoleh. "Bolehkah aku bertanya satu hal?"

"Katakan."

"Apakah Paman benar-benar tidak menyukaiku?"

"Aku tidak menyukaimu, tapi aku juga tidak membencimu. Hanya saja logika mana yang membenarkan hal seperti ini?"

Tanpa diduga, Clark perlahan berlutut di hadapannya. "Aku mengerti kekhawatiran Paman. Aku juga tidak menyalahkan pemikiran Paman. Tapi kami berdua dewasa dan tahu apa yang kami pilih."

"Dewasa bagaimana? Kau baru berusia delapan belas tahun, masih labil dan belum tahu betapa kejamnya dunia!"

"Aku mohon... hormati pilihan kami. Jika nanti dia benar-benar bosan, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Tapi untuk saat ini, izinkan kami menjalani pernikahan ini dengan tenang. Aku tidak meminta Paman menyukaiku, aku hanya meminta Paman tidak merusak hubungan kami."

Zeck mendengus kasar. "Terserah kalian saja! Kalian sama-sama keras kepala. Semoga kau tidak menangis tersedu-sedu saat dia membuangmu nanti." Ia pun berbalik pergi dengan wajah masam.

Setelah kepergiannya, Clark akhirnya bisa menghela napas panjang. Tubuhnya yang tadi dipaksa tegar kini terkulai lemas. Meski berat ditekan begitu, ia bersyukur setidaknya tidak ada orang tua lain yang harus ia hadapi.

'Untunglah... setidaknya aku tidak perlu menghadapi mertua yang lebih banyak lagi,' batinnya.

Malam telah menyelimuti kota itu sepenuhnya. Hujan turun rintik namun deras, membasahi setiap sudut jalanan yang kini tampak lengang. Mobil berplat nomor 21XX membelah jalan utama dengan kecepatan stabil, membawa sang tuan kembali ke kediaman megahnya.

Begitu mobil mendekat, penjaga segera membuka gerbang lebar-lebar. Paman Luis sudah menunggu di teras seperti biasa, membungkuk hormat saat pintu mobil terbuka.

"Di mana dia?" tanya Dante singkat namun tegas begitu kakinya menginjak tanah.

"Nyonya sedang berada di kamar, Tuan."

"Apa saja yang dilakukannya hari ini?"

"Sejak Tuan berangkat, ia menghabiskan waktu di taman hingga siang hari. Namun setelah kedatangan Paman Zeck, ia masuk ke kamar dan belum keluar lagi."

Dante mengernyit tajam, sorot matanya seketika mengeras. Ia merasa bersalah sekaligus marah karena tidak diberitahu lebih awal. "Maafkan saya," ucap Paman Luis paham.

Tanpa menunggu lama, Dante segera melangkah cepat menaiki tangga menuju kamar utama mereka.

Saat pintu terbuka, ruangan itu hanya diterangi cahaya temaram dari lampu tidur. Dante tidak menyalakan lampu utama, melainkan berjalan perlahan mendekati tempat tidur.

Di sana, terlihat gumpalan kecil di balik selimut, ternyata Clark sedang tertidur, namun sudut matanya masih tampak basah bekas air mata. Bulu matanya bergetar gelisah, bibirnya bergerak pelan seolah memohon pada sesuatu yang tak kasat mata.

"Jangan... jangan lakukan itu..." gumamnya tak jelas.

Dante menyentuh pelan pipi yang terasa dingin. Sentuhan itu membuat kelopak mata Clark terbuka perlahan.

"Sayang?" panggilnya pelan saat wajah itu terlihat jelas di hadapannya.

"Kau bermimpi buruk?"

Clark mengangguk lemah.

"Apa yang kau mimpikan?"

Clark terdiam. Di dalam mimpinya tadi, ia kembali melihat wajah mendiang ibunya yang tak bernyawa, lalu beralih pada pemandangan mengerikan di mana Dante menembakkan peluru ke dadanya sendiri tepat di atas makamnya, kejadian yang pernah ia saksikan sebagai jiwa yang tak berdaya di kehidupan silam.

"Jika kau tak ingin menceritakannya, tidak apa-apa," ucap Dante lembut.

"Maaf... aku lupa," jawabnya pelan.

"Sudah jam tujuh malam. Di luar sedang hujan deras," jelas Dante. "Mau mandi dulu atau langsung makan?"

Clark mendengus pelan. "Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, bukan sebaliknya. Aku merasa gagal sebagai istri... seharusnya aku yang menyambutmu pulang dan melayanimu."

Wajah Dante seketika memerah padam. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berpacu liar, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

"Tak ada yang namanya gagal. Bagiku, asal kau mau menjadi istriku saja, itu sudah lebih dari cukup."

"Ya ampun kau begitu lucu Dante... bisakah kau memelukku sekarang?"

Tanpa ragu Dante segera merengkuh tubuh kecil itu erat-erat.

"Peluk lebih erat... atau aku bisa terbang karena kalimat manis tadi," bisik Clark di dadanya. "Lain kali kalau ingin bicara begitu, beri aku aba-aba dulu. Itu sungguh menyentuh hatiku."

Clark hanya bisa tersenyum malu dalam dekapan Dante yang menurutnya semakin hari semakin manis padanya.

1
Ari Peny
masya Allah 👍👍👍
Ari Peny
bagus dante hrs tegas
Ari Peny
mencurigakan
Ari Peny
pasti berniat berkianat atau pemberontakan
Ari Peny
semangaaat
Siti Maemunah
benarkah si Clark bukan perempuan
Ari Peny
berdua hrs kuat
Ari Peny
lanjuuut
Muft Smoker
km slah cara Andrew ,, menghadapi bocah tantrum macam dante dg menggoda istri ny ,, sama aj km mau di usap2 malaikat maut 😂😂😂😂
Muft Smoker
kak brrti Clark bnran cowo????
😱😱😱😱
Ari Peny
lanjuuut
Ari Peny
waaah apa pamannya hanya ingin tau benar2 cinta gk
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
kasihan si dokter ,, di tendang ma Clark ,, moga gx lupa ingatan 😂😂😂😂😂😂😂😂 ,,


sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
Ari Peny
moga salah orang 😭😭😭
Muft Smoker
ayooo segera cari dante jgn sampe Dy di culik gombel wewe
Muft Smoker
kak ni si Clark bnran cowo???
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭
Ari Peny
jgn2 dante d jebak
Muft Smoker
akhirnya 😂😂😂
Ari Peny
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!