Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Vroom.
Raungan halus mesin V12 Lamborghini Aventador SVJ menggema di jalanan menanjak kawasan Bukit Permata Indah.
Rizal mengemudikan mobilnya melewati deretan pepohonan rindang yang membatasi setiap rumah di kompleks super elit tersebut.
Jalanan aspal di sini sangat mulus tanpa ada satu pun lubang atau polisi tidur yang mengganggu.
Di ujung jalan yang menanjak, sebuah gerbang besi tempa berwarna hitam dan emas berdiri dengan sangat megah.
Kamera keamanan yang terpasang di atas gerbang langsung memindai plat nomor dan wajah Rizal dari balik kaca mobil.
Syuuu.
Gerbang raksasa itu terbuka secara otomatis tanpa menimbulkan suara decitan sedikit pun.
Rizal melajukan mobilnya memasuki pekarangan Villa Garuda yang luasnya menyamai sebuah lapangan sepak bola.
Air mancur berbentuk burung garuda raksasa menyambutnya di tengah-tengah taman bergaya Eropa yang ditata sangat rapi.
Rizal memarkirkan mobilnya di pelataran depan dan mematikan mesinnya.
Pemuda itu melangkah keluar dari mobil dan berdiri mematung menatap fasad bangunan tiga lantai di depannya.
Dindingnya didominasi oleh marmer putih dan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari sore.
"Jadi ini rasanya memiliki rumah seharga lima puluh miliar rupiah."
Rizal bergumam pelan sambil tersenyum puas menikmati pemandangan tersebut.
Dia berjalan mendekati pintu utama yang terbuat dari kayu jati solid berukiran indah.
Pemindai sidik jari dan retina yang sudah diatur oleh Anton sebelumnya langsung membaca data biometrik Rizal.
Klek.
Pintu utama terbuka secara otomatis dan lampu-lampu kristal di dalam ruangan langsung menyala terang.
Rizal melangkah masuk dan langsung disambut oleh ruang tamu berplafon sangat tinggi yang luar biasa mewah.
Lantai marmer Italia yang dingin terasa sangat nyaman di bawah pijakan sepatu pantofelnya.
Semua perabotan di dalam rumah ini berasal dari desainer ternama dunia dan belum pernah dipakai sama sekali.
"Selamat datang di rumah, Tuan Rizal."
Sebuah suara wanita buatan dari sistem rumah pintar menggema lembut dari speaker tersembunyi di sudut ruangan.
"Suhu ruangan telah disesuaikan di angka dua puluh dua derajat celcius sesuai dengan cuaca di luar."
Rizal terkekeh pelan mendengar sambutan canggih tersebut.
"Terima kasih, putarkan sedikit musik jazz klasik untuk bersantai."
Alunan musik jazz yang menenangkan langsung mengalun lembut memenuhi seluruh penjuru lantai satu.
Rizal melepaskan jas birunya dan menyampirkannya di atas sofa kulit berwarna putih tulang.
Dia berjalan menyusuri rumah barunya, membuka satu per satu pintu untuk melihat fasilitas yang ada.
Ada ruang bioskop pribadi dengan kursi pijat otomatis dan layar raksasa di lantai dasar.
Ada juga garasi bawah tanah yang sangat luas, cukup untuk menampung hingga sepuluh mobil sport.
Rizal menaiki tangga melingkar yang berlapis karpet merah menuju lantai dua.
Kamar tidur utamanya sangat luas, ukurannya bahkan lebih besar dari rumah kos lamanya.
Sebuah ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra berkualitas tinggi terletak di tengah ruangan.
Rizal merebahkan tubuhnya ke atas kasur tersebut dan merasakan kelembutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
"Hanya dalam dua hari, hidupku berubah dari seorang pecundang menjadi seorang raja."
Rizal menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dia teringat kembali pada masa-masa sulitnya saat harus makan mie instan setiap akhir bulan.
Semua penderitaan itu kini terasa seperti mimpi buruk yang sudah sangat lama berlalu.
Krucuk.
Suara perutnya yang keroncongan tiba-tiba menyadarkan Rizal kembali ke dunia nyata.
"Ah, aku lupa belum makan siang karena terlalu sibuk mengurus rumah ini."
Rizal bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju balkon kamar yang langsung menghadap ke arah kolam renang tanpa tepi di lantai bawah.
Pemandangan dari balkon ini benar-benar luar biasa, menyajikan siluet gedung-gedung tinggi kota Jakarta yang mulai dihiasi lampu perkotaan.
Dia mengambil ponsel dari saku celananya dan berniat memesan makanan dari restoran bintang lima.
Namun sebelum jarinya menyentuh layar aplikasi pesan antar, sebuah panggilan masuk lebih dulu muncul di layarnya.
Nama Clara Wijaya tertera dengan jelas di sana.
Rizal segera menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Halo Nona Clara, ada yang bisa saya bantu malam-malam begini?"
Rizal menyapa dengan nada santai sambil bersandar di pagar balkon.
"Tuan Rizal, maaf jika saya mengganggu waktu istirahat Anda."
Suara Clara dari seberang telepon terdengar agak tegang dan terburu-buru.
"Tidak masalah, saya baru saja selesai melihat-lihat rumah baru saya. Ada perkembangan apa dari pihak paman Anda?"
Terdengar helaan nafas berat dari Clara sebelum wanita itu mulai menjelaskan.
"Orang-orang kepercayaan saya di kantor pusat baru saja memberikan laporan yang sangat mengkhawatirkan."
"Paman Herman baru saja menyebarkan undangan dadakan kepada seluruh dewan direksi dan juga beberapa media massa besar."
Rizal mengerutkan keningnya mendengar informasi tersebut.
"Media massa? Untuk apa dia mengundang wartawan ke rapat pemegang saham internal?"
"Itulah masalahnya Tuan Rizal, Paman Herman berencana membuat pertunjukan di depan publik."
Clara menghentikan kalimatnya sejenak untuk menenangkan diri.
"Dia mengklaim telah mengantongi bukti kuat berupa dokumen otentik yang menunjukkan bahwa saya telah menggelapkan dana perusahaan sebesar satu triliun rupiah."
Rizal mengangkat sebelah alisnya karena merasa takjub dengan keberanian Herman Wijaya.
"Satu triliun? Angka yang cukup fantastis untuk sebuah fitnah murahan."
"Ini bukan sekadar fitnah biasa Tuan Rizal, Paman Herman sangat licik dan dia memiliki banyak orang dalam di departemen keuangan."
"Dokumen palsu yang dia buat pasti akan terlihat sangat sempurna dan sulit dibantah meskipun dilakukan audit ulang."
Clara terdengar sangat frustrasi karena ini adalah serangan mematikan yang menyasar integritasnya sebagai CEO.
"Jika dokumen itu disebar ke media besok, saham Wijaya Group akan anjlok dan dewan direksi pasti akan langsung melengserkan saya secara tidak hormat."
Rizal mendengarkan penjelasan Clara dengan senyum misterius yang perlahan mengembang di bibirnya.
Bagi orang biasa, dokumen palsu yang sempurna adalah mimpi buruk yang tidak bisa dilawan.
Namun bagi Rizal yang memiliki Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan, hal itu adalah sebuah anugerah yang sangat lezat.
Semakin besar dan semakin sempurna kebohongan yang dibuat oleh musuh, maka akan semakin besar pula realitas keuntungan yang bisa direbut oleh sistem.
"Nona Clara, Anda tidak perlu merasa panik seperti itu."
Rizal menjawab dengan suara yang sangat tenang dan berwibawa, membuat Clara sedikit terkejut.
"Tapi Tuan Rizal, ini menyangkut reputasi dan nasib seluruh perusahaan kakek saya."
"Saya mengerti, tapi Anda harus ingat bahwa sekarang Anda memiliki saya sebagai sekutu."
Rizal memutar tubuhnya dan menatap lurus ke arah gemerlap lampu kota Jakarta di kejauhan.
"Biarkan saja Paman Herman membawa semua dokumen palsu dan media massa itu besok."
"Semakin banyak orang yang melihat kesombongannya, akan semakin dalam jurang tempat dia jatuh nanti."
Clara terdiam sejenak meresapi kata-kata penuh keyakinan dari pemuda di seberang teleponnya itu.
Aura kepercayaan diri Rizal entah bagaimana bisa menular dan menenangkan hatinya yang sedari tadi dilanda kecemasan.
"Anda terlihat sangat yakin Tuan Rizal, apakah Anda sudah memiliki rencana untuk membongkar dokumen palsu itu?"
"Saya tidak perlu membongkarnya, saya hanya akan membiarkan kebohongan itu menghancurkan dirinya sendiri."
Rizal memberikan jawaban yang terdengar seperti sebuah teka-teki bagi Clara.
Namun karena Clara sudah melihat sendiri bagaimana Rizal membongkar pengkhianatan Bramantyo dengan cara yang tidak masuk akal, dia memilih untuk percaya sepenuhnya.
"Baiklah Tuan Rizal, saya akan memercayakan punggung saya kepada Anda besok."
"Keputusan yang cerdas Nona Clara. Rapatnya diadakan jam berapa besok?"
"Pukul sepuluh pagi di aula utama Menara Wijaya. Saya akan mengirimkan supir dan mobil anti peluru untuk menjemput Anda besok pagi."
"Tidak perlu repot-repot, saya akan datang sendiri dengan mobil saya."
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok Tuan Rizal. Selamat beristirahat."
Tut.
Panggilan telepon itu berakhir meninggalkan Rizal yang masih berdiri di balkon kamarnya.
Dia menatap layar ponselnya sejenak lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celana.
"Sistem, sepertinya besok kita akan mendapatkan pesta kebohongan besar-besaran."
Rizal membatin di dalam hatinya sambil tersenyum menantang.
Ting!
[Sistem selalu siap memanen omong kosong para musuh Anda, Tuan.]
[Semakin besar skala kebohongan yang ditujukan untuk merugikan Anda atau aliansi Anda, semakin besar pula aset yang akan termanipulasi.]
Penjelasan singkat dari sistem itu membuat darah Rizal berdesir penuh semangat.
Dia tidak sabar untuk melihat ekspresi wajah Herman Wijaya saat dokumen palsu seharga satu triliun itu berbalik mencekik lehernya sendiri.
Rizal berbalik masuk ke dalam kamarnya dan berjalan menuju ruang pakaian walk-in closet yang sangat luas.
Meskipun Anton sudah mengisi rumah ini dengan beberapa potong pakaian pria bermerek, Rizal lebih memilih pakaian yang dia beli sendiri di mall kemarin menggunakan Kartu Naga Emas.
Dia memilih setelan jas berwarna abu-abu arang dengan kemeja hitam di bagian dalamnya.
Kombinasi warna itu akan memberikan kesan elegan, misterius, sekaligus mengintimidasi bagi siapa pun yang melihatnya.
"Penampilan adalah senjata pertama sebelum kata-kata."
Rizal menggantung jas pilihannya itu di luar lemari agar siap dipakai besok pagi.
Dia kemudian turun ke lantai bawah dan menuju ke dapur modern yang peralatannya terbuat dari baja anti karat.
Meskipun dia bisa memesan makanan dari luar, Rizal tiba-tiba merasa ingin memasak sesuatu yang sederhana.
Dia menemukan beberapa bahan makanan berkualitas tinggi yang sudah disiapkan di dalam kulkas dua pintu berukuran raksasa.
Rizal memasak sepiring nasi goreng daging sapi wagyu dengan sangat terampil.
Walaupun hidupnya sudah menjadi miliarder, kebiasaan mandirinya sebagai mantan pemuda kos-kosan tidak langsung hilang begitu saja.
Dia menyantap makan malam sederhananya itu di meja makan panjang yang sebenarnya muat untuk dua belas orang.
Ruangan makan yang sangat besar itu terasa sedikit sepi, namun Rizal justru menikmati ketenangan tersebut.
Setelah selesai makan dan membersihkan piringnya, Rizal berjalan menuju ruang bioskop pribadinya.
Dia menghabiskan sisa malamnya dengan menonton film aksi sambil menikmati segelas jus jeruk dingin.
Tidak ada rasa cemas atau takut sedikit pun di dalam hatinya menyambut rapat pemegang saham esok hari.
Baginya, Paman Herman hanyalah batu loncatan kecil untuk menguasai panggung bisnis ibukota secara keseluruhan.
Waktu terus berlalu hingga jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Rizal akhirnya mematikan layar bioskopnya dan naik ke lantai dua untuk tidur.
Tubuhnya langsung tenggelam dalam kenyamanan kasur king-size yang empuk.
Hanya dalam hitungan menit, Rizal sudah tertidur lelap dengan nafas yang teratur.
Di luar sana, kota Jakarta masih terus berdenyut dengan berbagai macam intrik dan rencana kotor dari para elitnya.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa seekor naga baru telah terbangun dari tidurnya.
Besok pagi, sejarah baru Wijaya Group akan ditulis ulang oleh tangan seorang pemuda yang tak tertandingi.