**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016
Aku Mau Cerai Sama Kamu
Keesokan siangnya, Laras duduk di depan jendela hotel dengan sepiring sarapan yang sudah dingin.
Matahari jatuh di karpet. Di luar, Kebumen bergerak seperti biasa. Motor berbelok di persimpangan, pedagang membuka payung, dan orang-orang berjalan tanpa tahu bahwa dua rumah tangga sedang runtuh di salah satu kamar tinggi.
Pelayan kamar tadi membawa nasi, telur, buah potong, dan kopi. Laras sempat ingin menolak karena melihat harga di menu, lalu teringat ia kini punya penghasilan proyek dan saldo yang tak lagi kosong. Ia memesan, makan beberapa suap, tetapi rasa bersalah membuat semuanya hambar.
Di meja samping ranjang ada plester bekas, dua botol air, dan kemeja Bram yang kusut setelah perjalanan panjang. Benda-benda sederhana itu menyusun gambaran kehidupan yang Laras inginkan: seseorang datang saat ia minta dibawa pergi, memastikan lukanya kecil, lalu tinggal sampai ia tertidur.
Sayangnya, semua itu masih milik perempuan lain.
Laras berdiri di bawah sinar matahari dan memejamkan mata. Hangatnya nyata. Hotel ini nyata. Perasaan Bram juga nyata. Namun kebahagiaan itu tetap hasil curian selama buku nikah di tasnya dan pernikahan Bram masih berlaku.
Ia tidak mau menikmati cahaya sambil pura-pura tidak melihat bayangan di bawahnya.
Bram baru kembali menjelang pagi. Ada lebam tipis di rahangnya. Laras tidak perlu bertanya untuk tahu ia mendatangi Wahyu.
“Kamu memukulnya?” tanyanya.
“Nggak.”
“Dia memukul kamu?”
“Sekali.”
“Terus?”
“Aku jelaskan beberapa hal.”
Laras menatap lebam itu. “Kamu bikin semuanya lebih buruk.”
“Dia bawa pisau.”
Laras langsung mengangkat kepala.
Bram menyadari jawabannya. “Kamu tahu?”
Laras menunduk. “Makanya aku pergi.”
Rahang Bram menegang. Ia tidak marah kepada Laras, tetapi seluruh tubuhnya berubah keras.
“Aku harus kembali ke Jakarta sore ini,” katanya. “Tiara menunggu.”
Nama itu membuat kamar hotel terasa dingin.
“Apa yang akan kamu katakan?”
“Yang seharusnya kukatakan sejak lama.”
“Jangan bawa namaku.”
“Aku nggak akan bilang siapa kamu. Tapi aku akan bilang pernikahan kami selesai.”
Laras menatap piring. Hidupnya penuh kebahagiaan curian. Kamar yang nyaman, makanan mahal, laki-laki yang datang tujuh jam untuk menjemputnya. Semuanya dibangun di atas sakit hati dua orang lain.
“Kalau dia nggak mau?”
“Aku tetap ajukan.”
“Dia bisa hancur.”
Bram berdiri di depannya. “Aku nggak bisa terus mempertahankan pernikahan kosong hanya supaya orang lain tidak perlu menghadapi kenyataan.”
Ia mencium kening Laras, mengambil kunci mobil, lalu pergi.
Perjalanan kembali ke Jakarta memakan waktu berjam-jam. Selama menyetir, Bram teringat awal pernikahannya dengan Tiara.
Mereka bukan dua orang yang jatuh cinta. Orang tua mereka berteman lama, rumah keluarga pernah berada di lingkungan yang sama, dan pernikahan dianggap jalan paling mudah setelah keduanya gagal dengan orang yang masing-masing dicintai.
Tiara baru berpisah dari Fajar, laki-laki yang dianggap tak punya masa depan oleh keluarganya. Bram sendiri sedang terluka oleh hubungan yang tidak berhasil. Mereka menikah untuk membuat orang tua tenang, untuk menutup pertanyaan keluarga besar, dan karena hidup bersama seseorang yang dikenal sejak lama terasa lebih mudah daripada memulai lagi.
Pada bulan-bulan pertama, mereka bahkan membuat aturan tanpa menuliskannya. Tiara boleh hidup dengan pekerjaan, salon, teman, dan dunianya sendiri. Bram boleh pergi ke mana pun selama pulang malam hari dan tidak mempermalukannya di depan keluarga.
Malam pertama setelah resepsi, Tiara melepas perhiasan di depan cermin dan berkata mereka tidak perlu berpura-pura saat hanya berdua.
“Gue belum selesai sama masa lalu gue,” katanya saat itu.
Bram yang juga tidak datang membawa cinta hanya menjawab, “Aku juga.”
Mereka tidur membelakangi satu sama lain. Besoknya, di depan orang tua, keduanya sarapan sambil tersenyum dan menerima doa tentang cucu.
Beberapa bulan kemudian, Tiara menemukan bekas lipstik pada kerah Bram. Ia melempar kemeja itu ke lantai.
“Kalau mau main, jangan bawa bukti pulang. Gue nggak mau Mama lihat terus mikir gue nggak bisa jaga suami.”
“Kamu nggak marah?”
“Marah kalau jadi skandal. Selama nggak ada yang tahu, toh cuma gue istrinya.”
Bram tidak mengulang kesalahan meninggalkan bukti. Tiara pun tidak pernah bertanya lagi. Sesekali ponselnya sendiri menyala tengah malam dengan nama yang ia balikkan cepat-cepat. Bram melihat dan memilih tidak peduli.
Mereka sama-sama menjaga bentuk pernikahan, bukan isinya.
Tiara tahu Bram pernah bermain di luar. Ia marah jika ada jejak yang bisa dilihat orang, bukan karena cemburu. Pada akhirnya, pikirnya, hanya dia yang berstatus istri Bram. Hanya dia yang tinggal di apartemen, memakai fasilitas keluarga, dan datang ke acara sebagai menantu Adiwangsa.
Aturan itu berjalan bertahun-tahun karena tak satu pun meminta cinta.
Sampai Laras datang dan membuat Bram menginginkan rumah yang benar-benar hidup.
Hari sudah gelap ketika Bram membuka pintu apartemen.
Tiara duduk di sofa dengan pakaian yang sama seperti kemarin. Cangkir kopi di meja tidak disentuh. Televisi menyala tanpa suara. Pesan Bram masih terbuka di layar ponselnya.
“Dari mana?” tanyanya.
“Kebumen.”
“Ngapain?”
Bram meletakkan kunci. “Kita bicara.”
Tiara tertawa pendek. “Gue sudah duduk seharian nunggu lo bicara. Jadi bicara.”
Bram duduk di seberangnya. Jarak meja rendah di antara mereka terasa seperti batas yang sudah lama ada.
“Aku mau cerai sama kamu.”
Wajah Tiara kosong.
“Apa?”
“Aku akan ajukan permohonan cerai ke Pengadilan Agama.”
“Jangan bercanda.”
“Aku nggak bercanda.”
Tiara berdiri. “Karena apa? Kita nggak pernah berantem besar. Gue nggak pernah larang lo pergi. Gue nggak pernah periksa ponsel lo.”
“Itu masalahnya. Kita nggak hidup sebagai suami istri.”
“Kita tinggal satu rumah.”
“Kita berbagi alamat. Bukan hidup.”
Tiara mondar-mandir. “Ada perempuan lain?”
Bram tidak menjawab.
“Ada, ya?” Tiara menunjuknya. “Siapa?”
“Ini soal kita.”
“Kalau nggak ada dia, lo nggak akan tiba-tiba minta cerai.”
“Mungkin.” Bram tidak berbohong. “Tapi ada atau nggak ada orang lain, pernikahan kita tetap kosong.”
Tiara memegang rambutnya. “Lo mau apa? Gue bisa berubah. Gue bisa masak kalau itu masalahnya. Gue bisa berhenti sering keluar.”
“Kamu nggak perlu jadi orang lain untuk mempertahankan sesuatu yang nggak pernah kita punya.”
“Terus keluarga kita?”
“Aku yang bicara.”
“Apartemen? Mobil? Semua aset?”
Bram sudah menunggu pertanyaan itu.
“Aku lepas semua bagian harta gono-gini buat kamu. Pengacara akan buat kesepakatan tertulis. Apa pun yang termasuk harta bersama selama pernikahan, ambil.”
“Termasuk tempat ini?” Tiara memandang sekeliling apartemen.
“Kalau masuk harta bersama, iya. Aku nggak akan mempersulit.”
“Terus lo tinggal di mana?”
“Itu urusanku.”
“Keluarga lo bakal biarin?”
“Ini keputusanku, bukan keputusan Adiwangsa Group.”
Tiara menutup mulut dengan kedua tangan. Selama ini ia percaya Bram tidak akan pergi karena terlalu banyak hal yang mengikat mereka: orang tua, aset, nama keluarga, kebiasaan. Kini laki-laki itu meletakkan semuanya di meja seperti barang yang bisa ditinggalkan.
Tiara menatapnya seperti tidak mengenal laki-laki di depan mata.
“Lo mau pergi tanpa apa-apa?”
“Iya.”
“Karena perempuan itu?”
“Karena aku nggak mau membeli kebebasanku dengan membuatmu ketakutan soal hidup besok.”
Tiara berlutut di depan Bram dan menangkap kedua tangannya. “Nggak usah cerai. Lo mau main di luar, terserah. Gue nggak akan tanya. Asal jangan cerai.”
Bram menarik tangannya perlahan. “Dengar ucapanmu sendiri.”
“Gue serius. Selama lo pulang, semuanya bisa seperti biasa.”
“Aku nggak mau seperti biasa.”
“Kenapa? Selama ini lo juga nggak keberatan.”
“Karena dulu aku nggak tahu rasanya ingin pulang untuk seseorang.”
Air mata Tiara jatuh. “Jadi benar ada perempuan lain.”
Bram diam.
“Apa yang dia punya sampai lo mau ninggalin semuanya?”
“Dia membuatku ingin punya hidup yang jujur.”
“Gue bisa kasih hidup yang jujur.”
“Kamu bahkan menawarkan aku tetap selingkuh asal status kita nggak berubah.”
“Karena gue ngerti lo!”
“Bukan. Karena kamu nggak peduli selama orang lain mengira kita bahagia.”
Tiara menggeleng cepat. “Kita bisa mulai peduli. Kita liburan, kita coba punya anak, kita pindah rumah kalau apartemen ini bikin lo bosan.”
Bram berdiri. “Jangan bawa anak ke pernikahan yang bahkan nggak bisa memberi mereka contoh cinta.”
“Lo bahkan nggak pernah mau punya anak sama gue.”
“Karena aku tahu kita nggak akan bertahan.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada bentakan. Tiara mundur satu langkah, lalu kemarahan menutup rasa sakitnya.
Tiara menamparnya.
Kepala Bram bergerak sedikit, tetapi ia tidak membalas dan tidak berdiri.
“Kurang ajar.”
“Aku tahu.”
“Gue istri lo.”
“Secara hukum, iya. Karena itu kita akan selesaikan secara hukum.”
“Gue nggak mau.”
“Aku tetap ajukan. Pengadilan akan memanggil kita. Kamu boleh membawa pengacara dan meninjau kesepakatan gono-gini.”
Tiara menangis sambil memukul dadanya sendiri. “Yang lo pikirkan cuma perempuan itu.”
“Yang kamu pikirkan apa?” Bram bertanya tenang. “Kehilangan aku atau kehilangan hidup yang kubayar?”
Tiara membeku.
“Yang kamu cinta itu duitku,” lanjut Bram. “Status jadi istriku. Bukan aku.”
“Kalau kita cerai, orang-orang mikir apa soal aku?” suaranya pecah. “Teman-temanku mikir apa?”
“Itu yang paling kamu takutkan?”
Tiara berdiri lagi, air mata merusak riasan yang tersisa.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan paling jujur Tiara keluar bukan tentang kehilangan pelukan, suara, atau kehadiran Bram. Ketakutan itu tentang nama yang akan dipakai orang lain untuk memanggilnya.
“Orang-orang bakal ngatain aku janda!”