Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. PULANG
Roda kereta kuda berbalut ukiran emas murni milik keluarga Duke Dravenhart membelah jalanan malam ibu kota Valdoria dengan kecepatan stabil, meninggalkan kemegahan Istana Agung yang perlahan-lahan mulai tenggelam di balik kabut malam. Di dalam kabin kereta, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan saat mereka berangkat tadi.
Virelia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Kael, menikmati kehangatan rengkuhan lengan suaminya. Pikirannya masih melayang pada sosok Putri Liana, adik tiri yang selama ini ia salah pahami, yang ternyata menyimpan perhatian dan kepedulian begitu besar di balik dinginnya dinding istana.
Tidak butuh waktu lama bagi kereta kuda tersebut untuk memasuki gerbang utama Kediaman Duke Dravenhart. Begitu kendaraan berhenti di pelataran air mancur utama, pintu kabin dibuka dari luar.
Di sana, di bawah temaram lampu pilar marmer puri, Julian berdiri tegak dengan setelan jas birokratisnya yang rapi. Ajudan setia Kael itu tampak menunggu dengan ekspresi wajah yang sarat akan ketegangan dan rasa penasaran yang teramat sangat.
Kael terlebih dahulu turun dari kereta, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Virelia turun dengan sangat hati-hati.
Begitu kaki mereka menginjak halaman puri, Julian langsung melangkah mendekat, membungkuk hormat sekilas, lalu menatap atasannya dengan mata membelalak tak percaya.
"Yang Mulia Duke? Duchess? Kenapa kalian sudah kembali ke kediaman sepagi ini? Pesta dansa musim gugur di istana biasanya baru mencapai puncaknya lewat tengah malam," tanya Julian dengan nada takjub bercampur cemas, melirik ke arah gerbang puri dan jam saku emasnya.
Kael melepaskan jubah formalnya, menyerahkannya kepada pelayan yang berdiri siaga di belakang Julian, lalu menatap ajudan setianya dengan seringai tipis yang sarat akan kepuasan.
"Kami pulang lebih cepat karena istriku sudah cukup lelah menebar kegilaan dan membuat keributan besar di aula istana sampai-sampai membuat Yang Mulia Raja hampir terkena serangan jantung," jawab Kael santai, merangkul pinggang Virelia.
Julian terperanjat setengah mati. Wajah pria itu langsung memucat pasi. Matanya beralih menatap Virelia yang tersenyum manis, lalu kembali ke arah Kael dengan raut horor.
"M-Membuat keributan? Ya ampun, Yang Mulia! Apa yang sebenarnya kalian lakukan di sana?! Kalian tidak melakukan hal gila yang membuat kepala kita semua terancam dipenggal besok pagi, kan?!" cicit Julian dengan suara bergetar panik. Ia memegang kepalanya sendiri.
Mendengar kepanikan Julian yang luar biasa, Kael justru tertawa kecil. Pria itu menepuk-nepuk bahu Julian dengan santai.
"Tenanglah, Julian. Jangan bersikap seolah-olah dunia akan runtuh. Lagi pula, siapa di negeri ini yang berani memenggal kepala anggota dari Empat Keluarga Agung pendiri Valdoria? Bahkan Raja Lucien sendiri tidak memiliki mandat kuno untuk melakukan hal itu," ucap Kael tenang.
Julian menghela napas panjang, helas napas frustrasi yang mendalam. Ia memijit pangkal hidungnya di balik kacamata emasnya.
"Argumen Anda tentang keluarga agung memang benar secara hukum kuno, Yang Mulia! Tapi itu tidak menghentikan Raja untuk mengirimkan ratusan pembunuh bayaran, racun mematikan, atau berbagai macam teror politik setelah apa yang kalian lakukan malam ini!" sergah Julian dengan nada setengah berteriak.
Kael mengangkat sebelah alisnya, menatap Julian dengan tatapan menantang yang tenang. "Bagus kalau begitu. Aku justru sedang menunggu mereka datang ke halaman puri."
Julian membelalakkan matanya, menatap atasannya dengan ngeri. "Yang Mulia! Jangan bicara sembarangan! Ini bukan medan perang perbatasan!"
"Aku hanya ingin menyapa para 'mertuaku' dengan cara yang sopan, Julian," balas Kael tanpa beban.
Julian ingin sekali berteriak frustrasi ke langit malam. Ia membuka mulutnya, menutupnya kembali, lalu menggelengkan kepalanya putus asa.
"Astaga ... majikan saya ini dan istrinya benar-benar sama-sama gila," keluh Julian.
Mendengar pujian tak langsung itu, Virelia justru tersenyum lebar. Ia menatap Julian dengan mata berbinar-binar.
"Terima kasih atas pujiannya, Julian. Pujian itu kuterima sebagai sebuah kehormatan tertinggi," sahut Kael santai.
Julian merosotkan bahunya. Di dalam hati kecilnya, ia berteriak histeris: Kenapa takdir mempertemukan saya dengan dua orang iblis paling tidak waras di seluruh benua ini?!
Melihat ekspresi Julian yang sudah berada di ambang stres berat, Kael memutuskan untuk menyudahi candaan tersebut. Ia menoleh ke arah istrinya.
"Virelia, sebaiknya kau masuk ke kamar sekarang. Ganti gaun pestamu dengan pakaian yang lebih nyaman, dan istirahatlah. Aku masih harus membahas beberapa urusan penting dengan Julian di ruang kerja," perintah Kael lembut, menyentuh pipi istrinya penuh kasih.
Virelia mengangguk patuh. "Baiklah. Jangan terlalu malam menyusul ke kamar, Kael."
"Tentu saja," balas Kael tersenyum hangat.
Virelia berbalik badan, melangkah anggun meninggalkan halaman menuju pintu masuk puri, ditemani oleh Elaine yang langsung berlari kecil menyusul dari belakang.
Begitu mereka masuk ke dalam lobi utama, suara cerewet Elaine langsung terdengar samar di telinga Virelia.
"Ya ampun, Yang Mulia! Tadi saat Anda melempar patung bebek di istana, apakah Anda tidak merusak gaun mahal ini? Dan tadi saya dengar dari Philip dan Baron yanh jadi pengawal malam ini, Anda hampir membuat Raja pingsan! Sungguh luar biasa ..." oceh Elaine heboh tanpa henti sepanjang koridor, membuat Virelia hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli menghadapi pelayannya yang overprotektif itu.
Di halaman depan puri, begitu bayangan Virelia dan Elaine menghilang di balik pintu utama, atmosfer di sekitar Kael dan Julian berubah 180 derajat. Sisa-sisa canda tawa di wajah sang panglima perang lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata yang tajam, dingin, dan penuh perhitungan militer.
Kael berbalik badan, menatap Julian dengan saksama.
"Julian?" panggil Kael dengan suara berat dan berwibawa.
Julian langsung merapikan postur tubuhnya, kembali bersikap profesional dalam hitungan detik.
"Siap, Yang Mulia. Ada instruksi apa?"
"Meskipun pesta dansa tadi malam tampak seperti sirkus politik yang kacau, ada satu hal penting yang berhasil kutangkap dari lingkaran tamu agung Raja Lucien," ujar Kael serius, berjalan perlahan memasuki area lobi yang lebih privat, diikuti oleh Julian di belakangnya.
"Hal penting apa, Yang Mulia?" tanya Julian, alisnya berkerut.
"Apakah kau ingat pria paruh baya berjas wol putih dengan lencana permata safir selatan yang berdiri di dekat meja anggur? Di pesta tiga tahun lalu?" tanya Kael menguji ingatan kepala stafnya.
Julian berpikir sejenak, lalu matanya membelalak. "Ah! Maksud Anda Lord Malakor? Utusan khusus dari Kerajaan Maridia di wilayah selatan?"
"Tepat sekali. Dari laporan intelijen bayangan yang masuk ke mejaku beberapa hari lalu, dan diperkuat oleh gelagatnya di pesta malam ini, pria itu bukanlah sekadar pedagang rempah atau utusan diplomatik biasa," angguk Kael dingin.
Julian menajamkan pendengarannya. "Maksud Anda?"
"Maridia Selatan adalah pusat perdagangan gelap terbesar di benua ini. Dan Lord Malakor adalah salah satu petinggi sindikat gelap yang memonopoli perdagangan opium ilegal, senjata selundupan, dan perdagangan manusia lintas kerajaan. Raja Lucien secara diam-diam menjalin aliansi bisnis kotor dengan mereka untuk mendanai pasukan bayaran istana," papar Kael dengan suara berbisik tajam.
Julian terperanjat kaget. Meskipun ia tahu istana sudah sangat busuk, mengetahui bahwa Raja Lucien bekerja sama dengan sindikat opium internasional melampaui batas pengkhianatan negara.
"Sialan, Raja benar-benar menggadaikan masa depan kerajaan demi kepentingan pribadi!" geram Julian tertahan, rahangnya mengeras.
"Karena itulah, tugasmu mulai malam ini, Julian. Kerah petugas intelijen bayangan terbaik kita. Awasi setiap gerak-gerik Lord Malakor selama dia masih berada di ibu kota. Cari tahu di mana gudang penyimpanan opium mereka, siapa saja pejabat istana yang menerima suap darinya, dan kumpulkan seluruh bukti transaksi tertulisnya." perintah Kael mutlak, menatap lurus ke mata ajudannya.
Julian menegakkan tubuhnya, memberi hormat militer dengan penuh kepatuhan mutlak.
"Paham, Yang Mulia! Saya akan mengerahkan unit pengintai paling senyap yang kita miliki. Tidak ada satu pun dokumen atau jalur penyelundupan mereka yang akan luput dari pengawasan kita," jawab Julian mantap.
Kael mengangguk puas. Ia menepuk pundak Julian sekali, lalu memandang ke arah jendela lantai dua di mana lampu kamar utamanya menyala temaram.
"Bagus,"Raja Lucien berpikir dia bisa mempermainkan kita di istananya sendiri. Tapi perlahan tapi pasti, kita sedang menarik setiap batu bata yang menyangga singgasananya," ucap Kael dingin.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣