NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Surya yang Baru

Kebencian Nadia menyala terang, menunggu kesempatan berikutnya untuk membakar apa pun yang tersisa.

Surya tidak menunggu api itu datang lagi.

Begitu mediasi dinyatakan gagal, ia bergerak lebih cepat. Semua bukti disusun ulang. CCTV kompleks. Rekaman smart home. Bukti perubahan penerima manfaat asuransi. Salinan surat donor. Dokumen Mega Awan. BAP awal Benny Halim. Pengakuan Bu Wati. Foto pembakaran Alphard dan kos.

Ia tidak menulis cerita sedih.

Ia menulis kronologi.

Di ruang sidang berikutnya, Nadia datang bersama seorang pengacara yang wajahnya percaya diri. Namun, matanya terlalu sering turun ke map bukti Surya. Nadia duduk dengan dagu terangkat, masih mencoba memakai gengsi keluarga Kusuma sebagai tameng.

Hakim memeriksa berkas, mendengar keterangan singkat, lalu menatap kedua pihak.

"Perjanjian pranikah ini membatasi klaim Saudara Surya atas harta keluarga Kusuma," kata hakim. "Namun bukti yang diajukan juga menunjukkan adanya perselingkuhan, tekanan ekonomi, serta penggunaan dokumen keuangan yang merugikan pihak pemohon."

Nadia langsung menegang.

Surya duduk diam.

"Majelis tidak memutus pidana di sini," lanjut hakim. "Dalam perkara perceraian, pola perilaku dan bukti-bukti tersebut cukup untuk menilai rumah tangga ini tidak dapat dipertahankan."

Pengacara Nadia berusaha bicara. "Yang Mulia, klien kami juga mengalami kerugian emosional atas kematian ayahnya..."

Hakim mengangkat tangan. "Kematian orang tua tidak membenarkan perselingkuhan atau penyalahgunaan dokumen."

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Untuk pertama kalinya, Nadia menunduk di ruang sidang.

Putusan belum menjadi akta cerai hari itu. Namun, arahnya sudah jelas. Perceraian dikabulkan. Nadia tidak mendapat tuntutan harta dari Surya. Utang palsu tidak diakui sebagai kewajiban Surya. Barang-barang pribadi Surya wajib dikembalikan. Sebagai bagian dari penyelesaian perdata dan untuk menghindari perkara ganti rugi lanjutan, pihak Nadia menyetujui kompensasi terbatas yang dicatat resmi.

Bukan kemenangan penuh atas seluruh dosa Nadia.

Tetapi cukup untuk memotong rantai.

Di lorong pengadilan, seorang perempuan tua yang menunggu sidang lain berbisik kepada suaminya, cukup keras untuk terdengar.

"Siapa menabur angin, akan menuai badai."

Nadia mendengarnya. Wajahnya memerah sampai telinganya.

Dulu, kata-kata seperti itu selalu diarahkan kepada Surya. Menantu miskin. Pria numpang hidup. Suami yang tidak punya harga diri. Hari ini, kalimat itu mendarat di punggung Nadia sendiri.

Surya tidak perlu menambahkan apa pun. Pengadilan, berkas, dan tatapan orang asing sudah melakukan pekerjaan yang dulu tidak pernah bisa ia lakukan di ruang makan keluarga Kusuma.

Di luar ruang sidang, Nadia berdiri kaku.

"Kamu pikir beberapa ratus juta itu membuatmu menang?" katanya.

"Tidak." Surya merapikan map. "Yang membuatku menang adalah aku tidak lagi harus pulang ke rumahmu."

Nadia seperti ingin menamparnya. Namun, pengacaranya menahan sikunya.

Surya berjalan melewatinya.

Siang itu, ia pergi ke bank. Bukan sebagai pria yang memohon batas kartu kredit istrinya. Bukan sebagai menantu yang menunggu uang belanja. Ia duduk di depan petugas prioritas dengan dokumen putusan, bukti kompensasi, hasil likuidasi awal Mega Awan yang legal, dan rekening yang untuk pertama kalinya benar-benar memakai namanya sendiri.

Petugas bank tersenyum sopan. "Pak Surya ingin membuka rekening terpisah untuk dana tempat tinggal?"

"Ya. Dan saya ingin pembayaran dilakukan langsung ke notaris properti."

Sebelum menandatangani apa pun, Surya meminta staf bank memisahkan semua aliran dana yang masih berkaitan dengan PT Mega Awan. Rekening perusahaan tetap rekening perusahaan. Dana penampungan tetap menunggu audit dan likuidator. Ia tidak akan memberi Kevin satu celah untuk berteriak di media bahwa Surya mencuri uang perusahaan.

"Yang saya pakai hanya dana pribadi yang sudah bebas sengketa," katanya.

Petugas itu mengangguk lebih serius. "Baik, Pak. Kami catat sumber dana sesuai dokumen."

Surya menatap tanda terima di meja. Tiga tahun lalu, ia bahkan harus menjelaskan kepada kasir minimarket kenapa kartu tambahan Nadia ditolak. Sekarang ia duduk di ruangan dingin, membicarakan sumber dana, notaris, dan jadwal balik nama.

Bukan karena ia tiba-tiba menjadi kaya raya.

Tetapi karena akhirnya, hidupnya tidak lagi dipinjamkan oleh orang yang membencinya.

Apartemen itu tidak besar. Unit dua kamar di Tebet, gedung menengah, bukan hunian mewah. Tetapi jendelanya menghadap ke jalan kecil yang hidup, bukan ke ruang tamu keluarga Kusuma. Tidak ada sepatu asing di depan pintu. Tidak ada suara Nadia dari lantai atas.

Ketika Surya menandatangani akta jual beli di hadapan notaris, tangannya tidak gemetar.

Setelah itu, ia membeli Honda Brio hitam.

Mobil itu jauh dari Alphard. Kecil, sederhana, dan tidak membuat orang menoleh di lampu merah. Namun ketika Surya duduk di balik kemudinya, ia tersenyum lebih tulus daripada saat melihat mobil mewah yang akhirnya terbakar.

Ini miliknya.

Bukan aset jebakan.

Bukan bukti perang.

Miliknya.

Sore menjelang malam, Meilu datang ke apartemen baru itu membawa satu kotak makanan. Ia tidak memakai seragam, caranya berdiri tetap seperti orang yang terbiasa memberi perintah.

"Dewi sudah saya hubungkan dengan pabrik komponen di Bekasi," katanya. "Pemiliknya pernah jadi saksi kasus ekonomi. Orangnya bersih. Posisi administrasi gudang, gajinya tidak besar, aman."

Surya menerima kotak makanan itu. "Anda banyak membantu."

"Saya tidak memberi fasilitas khusus. Saya hanya memberi nomor kontak. Dewi tetap wawancara sendiri."

"Itu sudah cukup."

Meilu memandang apartemen kosong itu. Hanya ada kasur lipat, meja kecil, dua kardus buku hukum yang rusak, dan satu kompor listrik.

"Mulai dari nol?"

"Dari minus," jawab Surya.

Meilu hampir tersenyum.

Lalu ia menyerahkan satu kartu nama.

Kantor Hukum Sentana & Rekan.

"Ferdy Susanto butuh anak magang yang paham dokumen korporat dan cukup keras kepala untuk tidak kabur saat ditekan. Saya tidak bisa memerintah kantor hukum menerima Anda, saya mengirimkan rekomendasi berdasarkan kerja sama Anda dalam kasus Mega Awan."

Surya membaca nama itu.

Sentana.

"Apa syaratnya?"

"Anda magang sesuai aturan. Tidak menerima kuasa sendiri. Semua pekerjaan di bawah advokat pembimbing. Dan kalau ada kasus ekonomi mencurigakan yang bersinggungan dengan penyidikan, Anda memberi tahu saya."

"Jadi saya magang sekaligus mata dan telinga?"

"Saya lebih suka menyebutnya warga negara kooperatif."

Kali ini Surya tertawa pendek.

Meilu menatapnya, lalu suaranya melembut sedikit. "Anda sudah keluar dari rumah itu, Surya. Jangan bawa semua apinya ke tempat baru."

Surya menatap kardus bukunya.

"Saya akan bawa apinya secukupnya."

Keesokan paginya, Surya memakai setelan baru. Meski tidak mahal, pas di tubuh. Di lehernya masih ada bekas goresan tipis dari kuku Nadia, hampir hilang. Ia memasukkan buku hukum yang tersisa ke tas, mengunci apartemen Tebet, lalu turun ke parkiran.

Honda Brio hitam menunggu di bawah cahaya pagi.

Surya menyentuh kap mobil sebentar.

Tidak ada sopir. Tidak ada keluarga yang memerintah. Tidak ada Nadia.

Ia menyalakan mesin dan melaju menuju Mega Kuningan, tempat Kantor Hukum Sentana berdiri di salah satu gedung perkantoran.

Saat mobil kecilnya masuk ke jalan utama, layar ponsel menyala. Pesan dari Meilu.

Jangan terlambat di hari pertama.

Surya membalas singkat.

Tidak akan, Bu AKP.

Di depan gedung Sentana, ia memarkir Brio di antara mobil-mobil yang jauh lebih mahal. Ia keluar, merapikan jas, dan menatap papan nama kantor hukum itu.

Kantor Hukum Sentana & Rekan.

Ia belum tahu, di balik pintu itu, ada tangan lain yang sudah lama mengatur jalannya.

Dan tangan itu milik perempuan yang mengendarai Maserati perak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!