Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Tamu Tak Diundang dari Keluarga Sanjaya
Karina membalas pesan Tuti malam itu juga.
Nggak jadi. Kembali lewat jalan terang dan kabari setelah sampai.
Tuti mengirim foto pintu layanan dua puluh menit kemudian. Ia sudah kembali ke kamarnya dengan aman. Setelah itu, persoalan koper tidak dibicarakan lagi selama beberapa hari.
Pada Sabtu pagi sekitar pukul sepuluh, bel depan Kediaman Wijaya berbunyi.
Karina sedang membantu Lucas menyusun balok di lantai atas ketika Bi Asih datang memberi tahu bahwa keluarga Sanjaya menunggu di ruang tamu.
"Mereka tidak membuat janji, Nyonya," kata Bi Asih. "Tapi Nyonya Meilani bilang beliau tante Nyonya."
Karina segera berdiri. "Tolong siapkan teh. Nathan dan Lucas tetap di atas dulu."
"Baik."
Sebastian berada di kantor untuk rapat Sabtu. Susan juga tidak terlihat sejak sarapan. Karina turun sendirian.
Meilani Tanaya berdiri begitu melihatnya. Perempuan itu mengenakan blus sederhana dan membawa kotak kue dengan kedua tangan. Wajahnya tampak lebih kurus daripada ingatan yang tersisa di tubuh Karina, tetapi senyumnya hangat.
"Rina."
"Tante Mei."
Pelukan Meilani kaku pada detik pertama, lalu menguat. Dalam ingatan pemilik tubuh lama, perempuan inilah yang beberapa kali mengirim uang ketika keluarga lain berhenti peduli. Ia mungkin tidak selalu berani melawan suami atau anak-anak, tetapi tidak pernah sengaja menutup pintu bagi keponakannya.
"Tante dengar kamu sudah kembali ke Jakarta," katanya. "Tante mau datang dari kemarin, tapi takut mengganggu."
"Tante Mei nggak pernah mengganggu."
Meilani menyerahkan kotak yang dibawanya. Di dalamnya ada kue mentega buatan sendiri, dibungkus satu per satu dengan kertas tipis.
"Buat Nathan dan Lucas," katanya. "Tante nggak tahu mereka sukanya apa, jadi gulanya sedikit. Mereka sehat? Tante dengar dulu mereka tinggal jauh sekali."
"Sekarang jauh lebih baik. Mereka di atas bersama Bi Asih. Nanti saya kenalkan kalau suasananya tenang."
Meilani menyentuh pipi Karina. "Kamu sendiri makan cukup? Kurus. Waktu kabar kamu hilang-hilang, Tante berkali-kali telepon nomor lama, tapi nggak aktif."
Perhatian itu jatuh pada hal-hal kecil: makanan, berat badan, nomor yang tidak tersambung. Tidak satu pun pertanyaannya menyentuh harga rumah atau rekening Sebastian.
"Maaf bikin Tante khawatir."
"Yang penting sekarang kamu ada di depan Tante." Meilani mengembuskan napas lega. "Kalau butuh apa-apa, jangan malu bilang. Rumah Tante memang kecil, tapi pintunya masih sama."
Karina menggenggam kotak kue sedikit lebih erat. Ia tahu janji itu mungkin tidak mudah diwujudkan dengan keadaan keluarga Meilani sendiri. Justru karena itulah ketulusannya terasa lebih mahal.
Herry Sanjaya berdiri di belakang istrinya. "Sehat, Rina?"
"Sehat, Om Herry. Silakan duduk."
Dua orang lain tidak menunggu dipersilakan. Jessica sudah berjalan ke tengah ruang tamu, menengadah melihat lampu kristal dan menyentuh sandaran sofa. Kevin memilih kursi paling besar dan meletakkan HP di meja.
"Pantas Rina langsung jadi nyonya besar," kata Jessica. "Rumahnya saja begini. Sofa ini impor, ya?"
"Saya nggak tahu," jawab Karina. "Saya baru tinggal di sini."
"Masa nggak tahu? Kalau aku punya rumah begini, satu hari juga sudah hafal semua mereknya."
Meilani menarik lengan putrinya. "Jessica, duduk dulu. Kita datang mau lihat Rina, bukan periksa barang."
Jessica melepaskan tangan ibunya. "Aku cuma kagum, Ma."
Bi Asih membawa teh dan kue. Setelah ia pergi, percakapan baru berlangsung beberapa kalimat sebelum Kevin condong ke depan.
"Rin," katanya dengan senyum lebar, "kamu sekarang enak. Bisa bantu aku pinjam modal usaha, nggak? Dikit saja, dua ratus juta."
Karina mengira salah dengar. "Dua ratus juta rupiah?"
"Iya. Buat usaha. Nanti balik cepat."
"Usaha apa?"
"Macam-macam. Barang elektronik, penjualan online, mungkin juga ekspor kalau jalannya bagus."
"Sudah ada rencana usaha, pemasok, izin, hitungan biaya, dan proyeksi penjualan?"
Kevin terdiam. "Belum lengkap. Kalau modalnya ada, baru semuanya jalan."
"Berarti Anda meminta dua ratus juta untuk rencana yang belum ada."
"Jangan formal begitu, dong. Kita keluarga."
Jessica ikut duduk. "Buat keluarga Wijaya, dua ratus juta itu kecil. Anggap saja bantu saudara sendiri. Nanti kalau bisnis Kevin besar, nama Rina juga ikut bagus."
Karina menatapnya. "Ini bukan uang saya hanya karena saya tinggal di rumah besar."
"Tapi kamu istrinya Sebastian." Jessica menurunkan suara, seolah sedang memberi nasihat cerdas. "Masa akses sedikit saja nggak punya? Kalau begini, orang bisa pikir kamu cuma dipajang."
Meilani tampak semakin gelisah. "Sudah. Tante nggak tahu mereka mau bicara soal uang. Kalau tahu, Tante nggak akan bawa."
"Mama jangan bikin suasana jadi aneh," kata Kevin. "Aku cuma pinjam."
"Kalian janji mau mengunjungi Rina baik-baik."
"Kami memang mengunjungi," sahut Jessica. Matanya kembali menyapu ruangan. "Sekalian bicara peluang. Koneksi keluarga begini sayang kalau nggak dipakai. Aku juga mungkin bisa dikenalkan ke orang-orang yang kerja di grup. Bukan untuk minta apa-apa, cuma memperluas pergaulan."
Meilani menarik ujung lengan putrinya lagi. "Jessica, cukup."
Jessica mengibaskan tangan itu lebih keras. "Mama diam saja, deh. Kami lagi bicara sama Rina."
Tangan Meilani jatuh ke pangkuan.
Matanya langsung merah.
Herry menggeser tubuh di kursi, tetapi tidak menegur anak-anaknya. Sikap diamnya justru membuat wajah Meilani semakin menunduk.
Karina merasakan kemarahan naik perlahan. Bukan karena uang. Bukan pula karena Jessica menilai gaun atau rumah. Ia marah karena dua anak dewasa memperlakukan perempuan yang membesarkan mereka seolah suaranya gangguan.
"Jangan bicara begitu kepada Tante Mei di depan saya," katanya.
Jessica berkedip. "Aku bicara sama Mama sendiri."
"Itu tidak membuatnya boleh. Tante Mei membesarkan kalian dengan susah payah. Kalian datang memakai namanya agar bisa masuk, lalu menyuruhnya diam ketika dia mengingatkan sopan santun."
Kevin bersandar, wajahnya mulai keras. "Nggak usah menggurui kami. Jawab saja bisa pinjam atau nggak."
"Untuk usaha yang benar, dengan rencana jelas dan tanggung jawab, saya bisa mempertimbangkan bantuan yang memang berasal dari uang saya sendiri." Karina menatapnya lurus. "Bukan dua ratus juta untuk usaha abal-abal yang bahkan jenisnya belum Anda putuskan. Apalagi diminta dengan cara menekan Tante Mei."
"Tekan apa? Mama memang suka ikut campur."
"Kalau begitu jawabannya tidak."
Jessica tersenyum miring. "Rina berubah sekali setelah jadi Nyonya Wijaya. Dulu waktu butuh bantuan, datangnya ke rumah Mama juga. Sekarang baru duduk di sofa mahal sudah bicara soal proposal."
Meilani menggeleng cepat. "Tante membantu karena kamu keluarga, Rina. Kamu nggak utang apa-apa."
Karina menggenggam tangannya. "Saya tahu, Tante Mei. Justru karena itu saya nggak mau mereka memakai kebaikan Tante untuk memaksa saya."
Kevin mendengus. "Kebaikan? Aku tahu, kok. Kamu cuma menumpang nama di sini. Mana mungkin benar-benar disayang."
Wajah Karina mendingin.
Sebelum ia menjawab, bel pintu berbunyi.
Jessica melirik HP-nya dan tersenyum sangat tipis.
Orang yang diam-diam ia panggil akhirnya datang.